NovelToon NovelToon
Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Eksistensi Terlarang: Kenzi Sang Bodyguard

Status: sedang berlangsung
Genre:Action / Balas Dendam
Popularitas:911
Nilai: 5
Nama Author: Cut founna

"Aku bukan di sini untuk menyelamatkan nyawamu. Aku di sini untuk memastikan kematianmu tidak jatuh ke tangan yang salah."

Kenzi hanyalah pengawal misterius dengan tatapan sedingin es yang disewa untuk melindungi Alana, pewaris tunggal yang penuh musuh. Namun, di balik seragamnya, Kenzi adalah "eksistensi terlarang" ---seorang pembunuh bayaran tingkat tinggi dengan misi rahasia untuk menghancurkan keluarga Alana..

Saat konspirasi mulai terkuak, Kenzi terjebak dalam pilihan sulit: Menyelesaikan misi mautya atau mengkhianati takdir demi melindungi wanita yang mulai dicintainya.

Ketika pelindungmu adalah ancaman terbesarmu, masihkah ada jalan keluar?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Cut founna, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 8. Teror Pesan Singkat

Bab 8: Teror Pesan Singkat

Sinar bulan purnama menembus jendela kaca kamar Alana, menciptakan bayangan aneh di atas karpet Persia yang mahal. Namun, kemewahan kamar itu tidak mampu memberikan ketenangan. Alana duduk meringkuk di sudut tempat tidurnya, memeluk lututnya erat-erat. Wajahnya yang cantik tampak pucat pasi, matanya sembab karena menangis.

Layar ponselnya berkedip-kedip, menampilkan satu per satu pesan singkat dari nomor tak dikenal.

"Kau pikir kau aman dengan 'anjing penjaga' baru itu? Dia hanya mesin yang Ayahmu sewa. Dia tidak akan mengerti penderitaanmu yang sebenarnya."

"Phoenix akan terbang, Alana. Dan saat itu terjadi, kau akan menjadi orang pertama yang terbakar."

Dan yang terakhir, yang paling mengerikan: Sebuah foto pribadi Alana yang diambil dari sudut yang tidak mungkin diketahui orang lain, menampilkan dirinya sedang melukis di taman belakang dengan ekspresi yang sangat rapuh. Foto itu disertai teks singkat: "Aku selalu mengawasimu, Nona Muda."

Terror mental. Ini adalah serangan baru, bukan fisik, tapi jauh lebih merusak. Alana merasa seolah-olah ada mata yang tak terlihat yang terus menempel padanya, bahkan di dalam benteng ayahnya sendiri. Skeptisisme yang sempat runtuh saat Kenzi menyelamatkannya di Hotel Mulia kini berganti menjadi rasa takut yang melumpuhkan.

Kenzi berdiri di ruang monitor keamanan, menatap layar monitor yang menampilkan barisan kode taktis. Ia sedang melakukan rutinitas kalibrasi taktis harian.

Denyut nadi: 60 bpm. Saturasi oksigen: 99%. Efisiensi sistem deteksi: 99,8%.

Sebuah notifikasi merah muncul di sudut layar monitor.

Peringatan: Upaya akses ilegal pada ponsel pribadi Nona Alana terdeteksi. Sumber: Tidak diketahui. Jenis serangan: Intrusi spyware.

Kenzi menyipitkan mata. Serangan baru telah dimulai. Bukan fisik, melainkan siber.

Ia bergerak cepat ke kamar Alana. Ia tidak mengetuk pintu; itu hanya akan membuang waktu satu koma dua detik yang krusial.

Alana terkejut melihat Kenzi yang mendadak muncul di depan pintunya. Ia mencoba menyembunyikan ponselnya di balik bantal.

"Nona, serahkan ponsel Anda," perintah Kenzi. Suaranya tidak lagi dingin, melainkan tajam, penuh dengan nada otoritas taktis.

"Apa yang kau lakukan? Pergi!" teriak Alana, rasa takutnya berubah menjadi kemarahan defensif.

"Ponsel Anda sedang diakses secara ilegal. Setiap detik Anda menahan ponsel ini, penyerang mendapatkan lebih banyak data pribadi Anda. Serahkan."

Refleks taktis Kenzi tidak membiarkan Alana berargumen lebih lama. Ia menjangkau ke depan, jarinya dengan lihai menyentuh bagian dasar ponsel Alana yang tadi sempat ia sembunyikan, menahannya agar tidak terangkat lebih tinggi.

Alana menatap Kenzi dengan bingung, lalu menatap gelas di tangannya. "Apa yang kau lakukan, Kenzi? Kau mempermalukanku di depan Tuan Baron!"

Kenzi tidak menjawab. Matanya tetap terkunci pada pelayan yang kini tampak pucat pasi. "Nona, gelas Anda baru saja mengalami kontak dengan sumber kontaminan potensial. Silakan letakkan kembali."

Pelayan itu panik. Ia mencoba berbalik dan berlari menuju pintu keluar layanan. Namun, Kenzi telah mengantisipasi gerakan ini. Dengan satu gerakan halus namun bertenaga, Kenzi menggunakan kaki kanannya untuk menahan kaki pelayan tersebut, menyebabkan pria itu jatuh tersungkur. Nampan dan gelas-gelas champagne di atasnya tumpah berserakan, menciptakan suara pecahan kaca yang mengerikan di tengah jamuan.

"Penjaga! Amankan area!" perintah Tuan Wijaya. Suaranya menggelegar di atas musik latar yang mendadak berhenti.

Beberapa pengawal Wijaya yang lain segera berdatangan dan melumpuhkan pelayan tersebut.

Kenzi kembali ke posisi semula di belakang Alana. Ia mengambil serbet linen bersih dan dengan hati-hati mengambil gelas champagne Alana yang tadi sempat ia tahan. Ia tidak memecahkannya.

"Nona Alana, silakan ikut saya keluar dari ruangan ini sekarang," ujar Kenzi.

Alana, yang kini gemetar ketakutan, berdiri tanpa perlawanan. Tuan Wijaya mengangguk setuju, matanya memancarkan rasa terima kasih yang mendalam pada Kenzi.

Di luar ballroom, di area lounge yang lebih sepi, Kenzi meletakkan gelas itu di atas meja marmer. Ia mengeluarkan pemindai kimia portabel seukuran pena dari saku tuksedonya.

"Apa yang sebenarnya terjadi, Kenzi?" tanya Alana dengan suara bergetar. "Kenapa kau harus melakukan itu di depan semua orang?"

Kenzi menempelkan ujung pemindai pada sisa cairan champagne di dalam gelas. Layar pada pemindai itu berkedip-kedip, lalu menampilkan barisan kode merah.

"Kandungan sianida hidrogen," ujar Kenzi datar. "Jumlah yang cukup untuk menghentikan fungsi jantung Anda dalam waktu kurang dari satu menit. Sianida jenis ini memiliki sifat tak berwarna dan tak berbau, namun di bawah frekuensi cahaya contacts taktis saya, dia memberikan sedikit fluoresensi yang tidak konsisten dengan cairan champagne standar. Warna fluoresensi ini hampir tidak terlihat oleh mata telanjang, hanya perubahan warna mikro pada cairan."

Alana ternganga. Wajahnya pucat pasi. Ia nyaris meminum racun yang akan membunuhnya di tengah jamuan perayaan Proyek Phoenix.

"Siapa..." gumam Alana lirih. "Who... who wants me dead?"

Kenzi mematikan pemindai kimianya. "Detail dari pelayan yang menyamar tadi menunjukkan bahwa ia kemungkinan besar disewa oleh faksi bisnis luar. Denyut nadinya saat mendekati Anda menunjukkan bahwa dia tahu persis apa isi gelas itu."

Kenzi menatap gelas tersebut. Monolog internalnya kembali berputar. Musuh-musuh Wijaya semakin putus asa. Proyek Phoenix adalah ancaman yang terlalu besar bagi mereka. Mereka tidak ingin menunda sabotase ekonomi, mereka ingin mengeliminasi target biologis.

"Nona Alana," Kenzi menatap gadis itu. "Malam ini, tingkat ancaman Anda naik ke level oranye. Mulai besok, protokol keamanan di kediaman Wijaya harus ditingkatkan. Area taman belakang adalah celah terbesar kita."

Alana menatap Kenzi. Ia tidak lagi melihat Kenzi sebagai pengawal yang mengganggunya. Ia melihat seorang pria yang baru saja menyelamatkan nyawanya dari ancaman yang tak terlihat. Untuk pertama kalinya, rasa skeptis Alana pada Kenzi mulai retak.

Tuan Wijaya muncul dari pintu masuk lounge, napasnya memburu. Ia segera memeluk Alana dengan erat. "Alana! Are you okay?"

Wijaya melepaskan pelukan putrinya dan menatap Kenzi. "Kenzi. Kau... kau menyelamatkannya. Sekali lagi. Bagaimana kau bisa tahu pelayan itu berbohong?"

"Insting taktis dan data analisis kru pelayan hotel, Tuan," jawab Kenzi kaku. Ia tidak menyebutkan kemampuannya mendeteksi fluoresensi sianida dengan lensa taktisnya. "Protokol keamanan di jamuan ini gagal mendeteksi infiltrasi di lini pelayanan. Saya harus segera melakukan pemetaan ulang pada seluruh staf internal Anda."

"Lakukan apa pun yang diperlukan, Kenzi. Apa pun," Wijaya mengangguk dengan tegas. "Aku tidak akan membiarkan siapa pun menyentuh Alana."

Kenzi hanya mengangguk tipis. Baginya, menyelamatkan Alana malam ini hanyalah langkah taktis untuk menjaga aset biologisnya tetap hidup. Jika organisasinya ingin Kenzi yang menghancurkan Wijaya, maka dia tidak bisa membiarkan faksi bisnis amatir merusak rencana tersebut.

"Bram," Tuan Wijaya memanggil Kepala Keamanan lama yang baru saja tiba di area lounge dengan wajah kesal. "Mulai besok, Kenzi akan bertanggung jawab penuh atas protokol keamanan di lini internal kediaman. Aku tidak ingin ada kesalahan lagi."

Bram menatap Wijaya dengan tidak percaya, lalu melirik ke arah Kenzi. Ada kilat kemarahan dan kecemburuan di matanya. "Tapi, Tuan, protokol saya selalu—"

"Gagal mendeteksi infiltrasi malam ini," Wijaya memotong Bram dengan dingin. "Keputusan saya final."

Bram terdiam, namun tatapannya pada Kenzi semakin penuh dendam.

Kenzi mengamati Bram. Ancaman internal nomor satu: Bram. Skeptisisme rekan kerja akan menjadi hambatan. Aku harus melumpuhkan ego Bram minggu depan sebelum dia menjadi variabel pengganggu yang fatal bagi miku.

Malam itu, jamuan mewah yang seharusnya menjadi perayaan kemenangan Wijaya Group berakhir sebagai peringatan berdarah. Dan di sudut ruangan yang strategic, Kenzi terus berjaga, monolog internalnya kini mulai merancang rencana duel di ruang latihan untuk melumpuhkan Bram, memastikan bahwa di kediaman Wijaya, satu-satunya "eksistensi terlarang" yang tersisa hanyalah dia.

1
Cut Founna
terimakasih😍
Dewa Naga 🐲🐉
awal yg menarik.....👍
Dewa Naga 🐲🐉
cerita yg menarik.....
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!