Seorang siswa SMA miskin yang baru saja ditinggalkan oleh kekasihnya secara tak sengaja memperoleh sebuah kitab pusaka milik Santo Cinta—sebuah buku misterius yang menyimpan tak terhitung kemampuan luar biasa, khusus digunakan untuk menaklukkan hati para gadis. Sejak saat itu, hidupnya pun berubah drastis.
Tak hanya meraih keberhasilan dalam urusan asmara, ia juga mulai menapaki jalan kesuksesan dalam dunia bisnis. Dalam perjalanannya, ia bertemu dengan beragam perempuan menawan: teman sekelas yang cantik, putri seorang tokoh dunia bawah tanah, gadis super imut yang menggemaskan, hingga selebritas terkenal dengan pesona memikat.
Di antara cinta, kekuatan rahasia, dan perubahan nasib, kisahnya berkembang menjadi perjalanan penuh romansa, peluang, dan godaan yang tak terduga.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sastra Aksara, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 26
“Romantic Angel, kenapa kamu tidak menerima panggilan videoku? Kita sudah saling kenal setahun. Aku sungguh ingin bertemu dan berteman lebih dekat!” tulis salah satu pesan.
“Tidak ada waktu,” balas sang gadis singkat.
Di wajahnya terukir senyum puas. Ia bergumam pelan, “Tidak semudah itu membodohiku.”
Zhang Yuze terdiam.
Jika ia tidak berada dalam kondisi kekuatan mental seperti ini, mungkin ia sudah pingsan karena terkejut.
Dalam hati, ia merasa kasihan pada pria yang mengejar gadis itu selama setahun penuh. Jika pria itu tahu kenyataannya… entah bagaimana perasaannya.
Namun sebelum ia sempat berpikir lebih jauh, kepalanya tiba-tiba terasa berputar. Pandangannya kabur.
Dalam sekejap, ia kembali ke kamar.
“Kenapa aku terlempar keluar?” tanyanya heran.
“Kekuatan mentalmu telah habis digunakan. Karena itu, kamu otomatis dikeluarkan dari dunia jaringan,” jawab Roh Kitab.
Zhang Yuze terduduk di kursi, jantungnya masih berdegup kencang.
Dunia jaringan… kekuatan mental… pengendalian server…
Semua ini jauh melampaui bayangannya.
Jika ia bisa menguasai kemampuan ini sepenuhnya, masa depannya—baik dalam percintaan maupun dalam kehidupan—mungkin akan berubah sepenuhnya.
Dan untuk pertama kalinya malam itu, ia menyadari satu hal dengan sangat jelas.
Kehidupannya tidak akan pernah lagi sama seperti sebelumnya.
Sensasi yang baru saja ia rasakan benar-benar luar biasa.
Ia benar-benar dapat memasuki dunia jaringan.
Zhang Yuze masih duduk di depan komputernya, jantungnya berdegup cepat ketika mengingat pengalaman tadi. Ruang maya yang dipenuhi partikel cahaya dan jalur-jalur koneksi itu terasa begitu nyata, seolah ia benar-benar telah melintasi batas antara dunia fisik dan dunia digital.
Potensi yang terkandung di dalamnya… sungguh tak terbayangkan.
Jika ia mampu menguasai kemampuan itu, manfaatnya bisa sangat besar. Sekadar memata-matai privasi orang lain saja sudah merupakan keuntungan yang mencengangkan. Ia dapat mengetahui rahasia yang tersembunyi di balik layar, melihat apa yang tak bisa dilihat orang lain.
Adapun kegunaan yang lebih dalam dan kompleks—seperti mengendalikan sistem, menembus keamanan jaringan, atau bahkan memanipulasi data—ia belum sempat memikirkannya. Namun satu hal jelas: kemampuan ini bukan sesuatu yang sepele.
“Roh Kitab,” gumam Zhang Yuze sambil mengernyit, “kenapa aku keluar begitu cepat? Tidak bisakah ada cara agar aku bisa tinggal lebih lama di dalam sana?”
Suara Roh Kitab terdengar tenang di dalam benaknya.
“Untuk sementara belum ada metode lain. Kecuali jika engkau dapat menaikkan tingkat Seni Naga Tersembunyi ke level berikutnya. Saat itu, kekuatan mentalmu akan berkembang lebih jauh.”
Jawaban itu membuat Zhang Yuze terdiam sejenak.
Jadi kuncinya tetap pada kultivasi.
Ia kini semakin memahami bahwa setiap peningkatan dalam Seni Naga Tersembunyi tidak hanya memperkuat tubuhnya, tetapi juga membuka potensi tersembunyi yang sebelumnya tak pernah ia bayangkan. Jika kekuatan mental saja sudah bisa membawanya ke dunia jaringan, maka peningkatan berikutnya mungkin akan menghadirkan kemampuan yang lebih mencengangkan lagi.
Tekadnya pun semakin bulat.
Ia harus berlatih lebih giat.
Ia harus menggali potensi yang terpendam di dalam tubuhnya.
Namun, Zhang Yuze sama sekali tidak menyadari bahwa tanpa ia ketahui, sebuah badai kecil tengah terbentuk akibat perbuatannya beberapa hari lalu.
Perkelahian di Bus Nomor 9 telah menimbulkan reaksi yang cukup besar di masyarakat. Sopir bus tersebut telah melaporkan kejadian itu kepada pihak berwenang saat insiden berlangsung. Meski para penumpang yang dipukuli memilih bungkam dan tidak mau menjelaskan apa yang sebenarnya terjadi, pihak kepolisian tetap bersikeras melakukan penyelidikan. Ini adalah tugas yang diberikan langsung oleh atasan mereka.
Lin Xiangyang, Kepala Kantor Polisi Xinqiao, merasa heran.
Ia memanggil para penumpang yang terlibat untuk dimintai keterangan. Anehnya, meski wajah mereka memar, hidung berdarah, dan pipi bengkak, tak seorang pun mengaku sebagai korban. Semua berkata bahwa mereka hanya penonton, bahwa peristiwa itu tidak ada hubungannya dengan mereka.
Mereka berbicara terbata-bata, penuh keraguan.
Baru setelah satu-satunya gadis yang berada di lokasi datang untuk dimintai keterangan, Lin Xiangyang perlahan memahami situasinya.
Sekelompok pria dewasa—tua maupun muda—dipukuli hingga wajah mereka membengkak seperti kepala babi oleh seorang pemuda.
Bagaimana mungkin mereka berani mengakuinya?
Harga diri mereka sudah hancur. Jika cerita itu tersebar, mereka benar-benar akan kehilangan muka.
Sementara itu, Zhang Yuze sama sekali tidak mengetahui bahwa ia telah menimbulkan keributan sebesar itu.
Keesokan paginya, ia tetap berangkat sekolah seperti biasa dengan sepeda tuanya.
Meski sepeda itu bisa dikatakan sebagai “produk berisiko tinggi”, Zhang Yuze tetap mengayuhnya dengan prinsip pemanfaatan barang sebaik mungkin. Selama masih bisa digunakan, mengapa harus dibuang?
Pukul tujuh pagi, ia sudah keluar rumah.
Sepeda merek Phoenix itu kembali mengeluarkan suara berderit yang membuat kulit kepala merinding. Namun entah mengapa, Zhang Yuze justru merasa suasana hatinya sangat baik.
Ketika ia melewati sebuah halte bus, pandangannya tiba-tiba tertumbuk pada sosok yang sangat dikenalnya.
“Liu Mengting!”
Matanya berbinar.
Di sana, berdiri Liu Mengting—menunggu bus dengan wajah cemas. Ia sesekali melihat jam, jelas khawatir akan terlambat masuk sekolah.
Kesempatan emas!
Tanpa membuang waktu, Zhang Yuze segera mengayuh sepeda mendekat.
“Mengting!” panggilnya dengan nada akrab.
Panggilan itu jelas bukan kebetulan. Dahulu ia selalu menyebut nama lengkapnya, Liu Mengting. Namun kali ini ia sengaja menghilangkan marganya—sebuah langkah kecil, tetapi penuh makna.
“Oh! Zhang Yuze, kamu juga terlambat?” Liu Mengting menoleh, lalu tatapannya tertuju pada sepeda tua yang ia kendarai. Ekspresinya menunjukkan sedikit keterkejutan.
Melihat Liu Mengting tidak memprotes panggilan barunya, hati Zhang Yuze berbunga-bunga. Ia tahu, hubungan tidak bisa melompat jauh sekaligus. Selama ia maju perlahan dan konsisten, suatu hari nanti akan ada terobosan yang nyata.
“Mengting, sepertinya tidak ada bus lagi. Bagaimana kalau aku mengantarmu?” katanya sambil berusaha terdengar santai, meski dalam hati ia gugup.
Liu Mengting tampak ragu.
Wajahnya sedikit memerah, seolah teringat sesuatu. Ia jelas khawatir akan pandangan orang-orang di sekolah.
Zhang Yuze segera tersenyum. “Kita kan teman sebangku. Aku saja tidak keberatan. Kamu takut apa?”
Ucapan itu mungkin terdengar ringan bagi seorang pria. Namun bagi seorang gadis, reputasi dan citra diri bukan perkara kecil.
Liu Mengting tampak semakin malu.
Tepat saat ia hampir mengangguk, sebuah Bus Nomor 22 melaju mendekat.
Wajahnya langsung berseri. Bus itu kebetulan melewati Sekolah Menengah Qizhong.
“Ah, sial! Bahkan Tuhan pun menentangku!” keluh Zhang Yuze dalam hati.
Namun kegagalannya belum sepenuhnya terjadi.
Bus tersebut ternyata penuh sesak. Penumpang berdesakan hingga hampir tak ada ruang berdiri. Liu Mengting yang hendak melangkah maju pun terhenti.
“Mengting, jangan naik,” kata Zhang Yuze cepat. “Kamu lupa kejadian beberapa hari lalu?”
Mendengar itu, wajah Liu Mengting berubah. Ia teringat insiden mengerikan di bus sebelumnya. Rasa takut kembali muncul, membuatnya mengurungkan niat.
Ia hanya bisa menatap bus itu pergi.
“Mengting, kalau kita terus menunggu, kita bisa terlambat. Naik saja sepedaku,” ujar Zhang Yuze, kali ini dengan nada serius.
Dalam hati ia bersorak kegirangan, tetapi di wajahnya tetap tenang.