Marni gadis desa yang mencoba peruntungannya di kota namun karena ditipu oleh temannya sendiri membuatnya terpaksa menjadi seorang LC disebuah karaoke, saat bulan ramadhan tiba karaoke tempatnya bekerja harus ditutup dan terpaksa membuatnya pulang kampung untuk sementara waktu.
Namun siapa sangka pekerjaannya yang sudah ia tutup rapat-rapat itu tak sengaja terbongkar oleh warga desa hingga membuatnya hampir diusir dari kampungnya jika saja Firman anak pak lurah seorang pemuda sholeh menolongnya, saat pria itu berkeinginan melamarnya tiba-tiba ditolak mentah-mentah oleh keluarganya sendiri karena pekerjaan gadis itu yang tidak pantas dan juga mereka telah menyiapkan seorang calon istri yang jauh lebih sholeha.
Lalu bagaimana nasib hubungan Marni dan Firman selanjutnya, akankah mereka akan direstui saat di hari kemenangan tiba atau justru kandas begitu saja sebelum hari raya? yuk kepoin di cerita Marni, LC sholeha (cerita edisi ramadhan)
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Qinan, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab~01
Disebuah ruangan dengan lampu berwarna warni terlihat beberapa wanita dengan pakaian seksi nampak sedang melayani para tamu yang sedang menikmati malam panjang untuk berkaraoke ria, ada yang membantu menuangkan minuman, sekedar mengobrol ringan diselingi beberapa gombalan palsu demi tips lebih atau menyanyikan lagu dengan suara falsnya bahkan ada yang terlihat lebih intim duduk diatas pangkuan pelanggannya dengan tangan seorang pria meraba kemana-mana.
"Maria, kemarilah!" panggil seorang pria ketika melihat seorang wanita bernama Maria itu baru selesai menuangkan minuman berakohol kedalam 8 gelas diatas meja.
Dengan manja Maria pun mendekat namun sebuah tangan besar dihadapannya itu langsung menariknya hingga membuatnya mau tak mau jatuh keatas pangkuannya.
"Jangan terburu-buru mas." ucap wanita itu ketika pria tersebut hendak meraba salah satu asetnya yang kata orang sangat besar dan padat itu, meskipun pakaiannya tak seterbuka dari rekannya yang lain namun miliknya itu tercetak jelas dari balik baju ketat yang dikenakannya.
"Lebih baik mas minum saja dulu." wanita itu pun langsung mengambil dua gelas minuman lalu salah satunya diberikan kepada pria itu, karena semakin banyak minuman yang ia jual maka akan semakin banyak juga keuntungan yang akan ia dapatkan.
Bekerja seperti ini bukanlah keinginan wanita yang memiliki nama asli Marni itu namun ia sudah terlanjur jatuh ke dalamnya jadi mau tidak mau tetap ia lakukan karena mencari pekerjaan halal bagi wanita putus sekolah sepertinya sangatlah susah. Di kampungnya ayahnya hanya seorang buruh tani miskin sembari mengajar ngaji disore hari dan ia ingin sekali mengubah nasib keluarganya agar jauh lebih baik karena sungguh menjadi orang miskin itu sangat menderita, tidak hanya dipandang sebelah mata namun cacian dan dikucilkan sudah ia rasakan sejak kecil.
"Mar, apa rencanamu saat karaoke tutup nanti?" ucap sang sahabat saat mereka baru bangun tengah hari itu, setiap menjelang subuh mereka baru pulang dengan keadaan mabuk dan langsung tidur hingga siang atau sore hari.
Begitulah rutinitas yang Marni dan kawan-kawannya lakukan setiap hari demi mencari uang, wanita yang sedang duduk bersila sambil merokok itu pun terdiam beberapa saat.
Masih teringat jelas satu tahun yang lalu dimana ia dibawa oleh temannya yang terlihat sukses saat pulang kampung, karena keinginannya mengubah nasib keluarganya tanpa rasa curiga wanita itu pun ikut pergi ke kota. Ia pikir ia akan bekerja di toko, restoran atau sebagai asisten rumah tangga namun saat temannya mengajaknya melakukan perawatan tubuh dengan harga yang tak murah membuatnya bertanya-tanya.
"Apa menjadi pelayan harus berpenampilan secantik dan seseksi ini?" ucapnya dengan polos ketika melihat penampilannya dari pantulan cermin depannya, sedikit pangling karena biasanya ia yang setiap pergi kemana pun selalu berhijab dengan pakaian longgar dan juga wajah polos kini ia hanya mengenakan rok span dan atasan ketat serta dandanan menor.
"Sudah jangan banyak protes, kamu mau banyak uang sepertiku tidak? nanti kalau sudah kaya kamu bisa berhijab lagi." ucapan sesat sang kawan yang membuat iman di hati Marni mulai goyah, selama ini tak jarang ia menyalahkan Tuhan karena hidup miskin dan mungkinkah ini kesempatan baginya untuk merubah nasib?
Ya, temannya itu benar nanti saat ia sudah kaya ia akan kembali berpakaian tertutup toh ia hanya menjadi pelayan bukan jual diri pikirnya yang mulai terpedaya oleh setan, lagipula bukankah ini memang penampilan orang kota yang sering ia lihat di TV tetangganya itu?
Saat pertama kali mendatangi tempat kerjanya Marni sedikit syok karena rupanya ia akan bekerja sebagai pelayan ditempat karaoke bukan di restoran atau toko yang dijanjikan oleh temannya itu.
"Temanmu sudah pergi lagipula dia sudah menerima banyak imbalan dariku dan semua yang kamu kenakan saat ini dari pakaian, sepatu dan perawatan tubuhmu itu akan menjadi hutang yang harus kamu lunasi nanti." tegas seorang wanita paruh baya dengan dandanan menor yang memintanya untuk memanggilnya 'mami'.
"Imbalan? a-apa aku sedang dijual?" ucap Marni tak percaya, bagaimana tega kawannya sejak kecil itu tega menjualnya.
"Tidak seperti yang kamu pikirkan tempat ini resmi berizin dan tugasmu hanya melayani para tamu, jika kamu bisa membuatnya senang maka akan banyak tips yang akan kamu dapatkan." terang mami Shela menjelaskan pekerjaan wanita itu nanti.
"Mem-membuat se-senang seperti apa?" Marni nampak tak mengerti, karena sebelumnya ia hanya wanita kampung yang polos.
Mami Shela menatapnya dari ujung kaki hingga rambut, kulit wanita itu nampak putih alami, hidungnya mancung, bibirnya tipis dan memiliki buah da da diatas rata-rata. Benar-benar barang paten yang pasti akan sangat laku di tempat karaoke miliknya nanti.
Sejak saat itu Marni yang awalnya terpaksa menjadi seorang LC atau pemandu lagu disebuah tempat karaoke kini setelah satu tahun bekerja mulai menikmati pekerjaannya itu, sudah jutaan uang ia kirim untuk keluarganya berharap mereka bisa hidup lebih layak tanpa tahu apa pekerjaannya di kota.
"Marni, kamu dengar tidak aku bicara." ulang Wulan teman kostnya tersebut.
Marni yang sedang melamun pun nampak menggaruk dahinya sendiri. "Ya pulang mau kemana lagi," sahutnya menanggapi.
Malam ini adalah malam terakhir ia bekerja karena besok tempat karaokenya harus tutup karena bulan ramadhan telah tiba yang mengharuskan seluruh tempat hiburan malam ditutup oleh pemerintah daerah jika tidak maka akan dikenakan sanksi seperti di copot izin usahanya.
"Tapi kamu akan kembali kan?" tanya Wulan lagi dengan wajah penasarannya, masih teringat jelas bagaimana kakunya wanita itu saat baru bergabung di tempat mereka bekerja dan sebagai pekerja senior ia banyak membantunya hingga kini menjadi salah satu ladies yang paling laris manis.
Marni kembali terdiam, sebenarnya ia sudah tak ingin bekerja seperti ini tapi ia ingin memperbaiki rumahnya di kampung. "Aku tidak tahu." sahutnya karena ia memang belum membuat keputusan, selama ini setengah dari gajinya ia kirim ke kampung dan sisanya ia gunakan untuk membayar kost, membeli pakaian dan juga perawatan tubuhnya hingga tak banyak tabungan yang bisa ia simpan.
Apa karena uang haram jadi mudah habis begitu saja?
Malam harinya mereka pun kembali bekerja dan tempat karaokenya lumayan ramai karena mungkin hari terakhir sebelum tutup, seperti biasa dalam satu ruangan selalu ada beberapa pelanggan pria yang meminta ditemani oleh beberapa LC sekaligus.
Deg!
"Mas Joko?" gumamnya ketika melihat salah satu dari kumpulan pria itu adalah tetangganya sendiri dimana istrinya sering menghina keluarganya, pria bernama Joko itu bekerja sebagai seorang sopir di kota dan seminggu sekali pulang ke kampung.
Pandangan keduanya pun nampak bertemu namun Marni yang sudah sangat berpengalaman menghadapi para tamu langsung bersikap biasa seolah-olah mereka tidak saling mengenal, semoga saja pria itu tak mengenalnya karena bisa-bisa kampungnya seketika akan heboh saat mengetahui pekerjaannya.
Ngereog mulu 🤦...
aku juga orang kampung Lo bang qinan .aku anak ke 11 dari 18 bersaudara..tapi ga terlalu susah walaupun bapakku seorang petani . sekaligus pegawai pemerintah . karena walaupun petani tapi lahan punya sendiri
Penggemarmu gentayangan di mana -mana 😣...
sabar Marni fokus ibadah jangan dengarkan omongan seyton" di sekitar mu