Dulu mereka saling mencintai. Lalu berpisah.
Kini, karena perjodohan, mereka dipaksa bersatu kembali sebagai suami istri.
Ia (pria) masih mencintainya, namun memilih menyembunyikan perasaan di balik sikap percaya diri dan ejekan.
Sedangkan istrinya yang lembut namun mudah kesal, berusaha bersikap biasa—meski hatinya tak pernah benar-benar lupa.
Pernikahan mereka lebih terlihat seperti hubungan kakak dan adik yang gemar bertengkar kecil, daripada pasangan yang saling mencinta.
Tapi di balik cincin dan candaan sinis itu… cinta lama ternyata belum pernah benar-benar pergi.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon VYI_syi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Dinding yang Tak Terlihat
Pagi itu, apartemen terasa sangat sunyi, lebih sunyi daripada saat mereka pertama kali pindah. Luna sudah bangun sejak fajar, namun ia tidak lagi melempar bantal atau mengomel karena Isaac menghabiskan stok susu di kulkas. Ia duduk di ruang tamu, sudah berpakaian rapi dengan blus putih dan rok span hitam, sedang membaca laporan keuangan dengan tenang.
Isaac keluar dari kamar, matanya sembab karena kurang tidur. Ia memerhatikan Luna yang tampak sangat tenang—terlalu tenang.
"Kau sudah sarapan?" tanya Isaac hati-hati. Ia sengaja mendekat, mencoba memancing interaksi seperti biasanya.
"Sudah. Aku membuatkanmu roti selai kacang. Ada di atas meja," jawab Luna tanpa mengalihkan pandangan dari kertas di tangannya. Suaranya lembut, namun datar, seolah ia sedang berbicara dengan asisten kantor yang baru dikenalnya.
Isaac menghela napas, ia duduk di samping Luna. "Luna, soal semalam di rumah Ayah... aku minta maaf. Aku seharusnya tidak membiarkan Clara duduk di sana. Aku sudah bicara dengan Ayah, dan aku tidak akan melibatkan dia dalam proyekmu."
Luna hanya mengangguk kecil. "Tidak apa-apa, Isaac. Jika kehadirannya memang menguntungkan perusahaan, aku tidak keberatan. Aku hanya akan fokus pada bagian desainku saja."
"Kau tidak keberatan?" ulang Isaac dengan nada tak percaya. "Kemarin kau sangat marah, Luna. Kau bisa memaki aku, kau bisa berteriak, tapi tolong... jangan bersikap seolah kau tidak peduli."
Luna akhirnya menoleh. Ia menatap Isaac dengan tatapan yang jernih namun kosong. Sebuah senyum tipis—yang sangat formal—terukir di bibirnya. "Kenapa aku harus marah? Kita adalah orang dewasa yang sedang menjalankan komitmen bisnis dan keluarga. Emosi hanya akan menghambat pekerjaan, bukan? Aku menyadari bahwa bersikap biasa saja jauh lebih menenangkan daripada terus-menerus merasa kesal."
Isaac merasa seolah ada tangan yang meremas jantungnya. Ia lebih suka Luna melemparkan vas bunga ke arahnya daripada melihat Luna yang kehilangan jiwanya seperti ini. Ia mencoba meraih tangan Luna, namun Luna dengan halus menarik tangannya untuk membalik halaman laporan.
"Aku berangkat lebih dulu dengan taksi, Isaac. Ada beberapa material yang harus aku cek di lapangan sebelum rapat siang nanti," ujar Luna sembari berdiri dan menyampirkan tasnya di bahu.
"Aku bisa mengantarmu, Luna! Kita pergi bersama," seru Isaac ikut berdiri.
"Tidak perlu repot. Kau pasti punya banyak jadwal dengan klien barumu—atau mungkin dengan Clara," ucap Luna tenang. Tidak ada nada sindiran dalam suaranya, hanya pernyataan fakta yang dingin. "Sampai jumpa di kantor, Isaac."
Pintu apartemen tertutup dengan pelan. Isaac berdiri mematung di tengah ruangan. Ia menyadari bahwa Luna tidak sedang marah padanya; Luna sedang membangun dinding yang jauh lebih tinggi dan lebih kuat dari sebelumnya. Dan kali ini, Isaac tidak tahu apakah ia masih punya kunci untuk membukanya.
Suasana di kantor Waren Group terasa mencekam bagi siapa pun yang berpapasan dengan Isaac. Pria itu membatalkan dua pertemuan penting hanya untuk mengawasi pergerakan Luna melalui laporan stafnya. Namun, Luna benar-benar menjalankan perannya sebagai profesional sejati. Ia hadir di setiap rapat, memberikan instruksi yang jelas, dan menjawab pertanyaan dengan efisiensi yang mematikan—tanpa sedikit pun emosi yang tersisa.
Puncaknya terjadi saat makan siang. Isaac melihat Clara mencoba mencegat Luna di koridor depan lift. Isaac segera melangkah mendekat, bersiap untuk menengahi jika terjadi pertengkaran. Namun, langkahnya terhenti saat ia melihat reaksi Luna.
"Kau pikir dengan bersikap sombong seperti ini kau akan menang, Luna?" Clara mendesis, wajahnya memerah karena merasa diabaikan. "Isaac hanya kasihan padamu karena perjodohan ini."
Luna berhenti melangkah, namun ia tidak menatap Clara dengan api kemarahan. Ia justru menatap wanita itu dengan rasa kasihan yang dingin. "Jika kau merasa pendapatmu begitu penting bagi hidupku, Clara, maka kau salah besar. Aku tidak punya energi untuk membencimu, apalagi bersaing denganmu. Jika kau ingin Isaac, ambillah jika kau bisa. Aku tidak akan menghalangimu."
Luna kemudian melangkah masuk ke dalam lift yang terbuka, meninggalkan Clara yang termangu karena tidak mendapatkan reaksi "drama" yang ia harapkan.
Isaac segera menyusul Luna ke dalam lift sebelum pintunya tertutup. Ia menatap Luna yang sedang menatap angka lantai yang bergerak turun. "Apa maksud perkataanmu tadi, Luna? 'Ambillah jika kau bisa'? Kau menganggapku sebagai barang yang bisa kau lepaskan begitu saja?"
Luna menghela napas pendek, masih tanpa ekspresi. "Aku hanya bicara jujur, Isaac. Aku lelah memperebutkan sesuatu yang seharusnya tidak perlu diperebutkan jika memang milikku. Jika kau ingin bersamanya, lakukanlah. Aku tidak akan menangis lagi."
"Tatap aku, Luna!" perintah Isaac, suaranya parau. Ia mencengkeram lembut kedua bahu Luna, memaksa wanita itu menghadapnya. "Aku bukan barang. Aku suamimu, dan aku mencintaimu! Berhenti bersikap seolah kau sudah mati rasa!"
Luna mendongak, matanya bertemu dengan mata Isaac yang memerah karena menahan emosi. Untuk sedetik, ada keretakan di topeng ketenangan Luna, namun ia segera menguasai dirinya kembali. "Cinta tidak seharusnya sesakit ini, Isaac. Dan aku memilih untuk tidak merasakannya lagi agar aku bisa bertahan hidup di sampingmu. Bukankah ini yang kau inginkan? Istri yang patuh dan tidak banyak menuntut?"
"Tidak! Aku ingin Luna-ku yang pemarah! Aku ingin kau yang cemburu! Aku ingin kau yang hidup!" seru Isaac tepat saat pintu lift terbuka di lantai lobi.
Luna melepaskan tangan Isaac dari bahunya dengan perlahan. "Luna yang itu sudah lelah, Isaac. Dia butuh istirahat panjang. Sekarang, aku harus kembali ke lapangan. Permisi."
Luna melangkah keluar dari gedung dengan langkah tenang, meninggalkan Isaac yang bersandar di dinding lift dengan tangan terkepal. Ia menyadari bahwa memenangkan kembali cinta Luna kali ini tidak akan cukup dengan kata-kata atau pelukan; ia harus membuktikan bahwa ia layak mendapatkan kembali "nyawa" yang telah hilang dari mata wanita yang ia cintai itu.