Shafiya tidak pernah membayangkan hidupnya akan diputuskan oleh orang-orang yang bahkan tidak mengenalnya.
Satu kejadian membawanya masuk ke lingkaran keluarga Adinata--sebuah dunia di mana keputusan tidak dibuat berdasarkan benar atau salah,
melainkan berdasarkan kepentingan.
Ia hamil. Tanpa suami.
Dan itu cukup untuk menjadikannya bagian dari permainan.
Sagara Deva Adinata tidak mencari cinta. Apalagi ikatan. Ia hanya butuh pewaris
agar posisinya tetap tak tergoyahkan.
Dan Shafiya… adalah variabel yang terlalu berharga untuk dilepaskan.
Di balik kesepakatan yang terlihat seperti solusi,
tersimpan kendali, tekanan, dan rahasia yang tidak pernah benar-benar dijelaskan.
Karena di dunia mereka,
yang dipertaruhkan bukan hanya perasaan--melainkan batas antara dosa… dan pahala.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon najwa aini, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Jangan Dekati Shafiya
"Gegabah." Suara agam datar. Tatapannya tajam.
Kaluna memejamkan mata sesaat, membukanya lagi seraya mengembus napas berat. "Aku sudah mempertimbangkan."
"Dan hasilnya... tetap keputusan konyol."
Agam sangat menyayangkan tindakan Kaluna yang menemui Shafiya di ruang kerja Sagara.
"Aku hanya ingin memastikan sendiri, perempuan itu siapa."
"Yang ingin kau pastikan sudah dapat?"
Kaluna diam. Sepasang matanya langsung berembun. "Sagara tidak menjelaskan dengan kata. Tapi sikap." Suara itu lirih, mengiringi retakan terakhir yang tersisa. Dan di sana air matanya jatuh.
Agam hanya menatap saja kali ini. Tatapan iba. Detik berikutnya tarikan napasnya keluar pelan. Samar.
"Sagara belum membicarakan tindakanmu." Suara Agam kemudian terdengar lebih rendah.
"Ia belum memutuskan. Tapi kamu menambah kesalahan."
Kaluna ingin menjawab. Tapi dadanya terasa sakit. Ia mengangkat wajah sejenak, menatap Agam, lalu kembali menunduk dan menangis.
Tak lama kemudian.
Sagara keluar dari ruangannya seorang diri. Langkahnya kembali terukur.
Seolah gangguan tadi… tidak pernah ada.
Koridor itu sunyi seketika.
Namun tidak sepenuhnya kosong.
Agam masih berdiri di sana.
Tidak jauh dari meja kerja Kaluna.
Dan Kaluna--masih di tempatnya.
Duduk. Diam. Dengan sisa air mata.
Bukan karena memilih diam
Tapi karena belum benar-benar bisa bergerak.
Sagara tidak langsung bicara.
Tatapannya jatuh padanya.
Singkat. Dingin.
Cukup untuk membuat Agam menegakkan tubuhnya.
“Sagara--"
Agam hendak bicara.
“Tidak sekarang.”
Potongnya cepat. Tegas.
Hening kembali turun.
Sagara melangkah mendekat.
Tidak terlalu dekat.
Tapi cukup… untuk memastikan setiap kata terdengar jelas.
“Malam ini. Aku tunggu kalian."
Kaluna tidak mengangkat wajahnya.
“Di tempat biasa.”
“Ajak Raka," tambahnya.
Baru saat itu ada sedikit reaksi.
Jemari Kaluna bergerak.
Pelan. Lalu kepalanya terdongak. Tepat saat tatapannya bertemu Sagara.
“Datang.”
Bukan ajakan. Tapi itu perintah.
Dan Sagara tidak menunggu jawaban.
Juga tidak memberi penjelasan.
Ia berbalik. Langkahnya kembali menyusuri koridor. Menuju ruang rapat.
Seolah tidak ada yang terjadi.
Namun--yang tertinggal di belakangnya…
bukan lagi sekadar luka.
Tapi sesuatu yang akan diselesaikan.
Agam menatap Kaluna. Ia tahu pasti, pertemuan itu untuk apa. Dan kali ini ia tidak lagi punya cara untuk menyelamatkan perempuan itu.
"Pergi. Sagara akan marah jika kau terlambat." Kaluna paham arti tatapan itu. Ia tidak mau dikasihani--kendati oleh temannya sendiri.
..
....
Malam harinya. Seperti yang sudah ditetapkan oleh Sagara.
Tempat biasa mereka berkumpul.
Kaluna datang. Sedikit lambat dari yang lain. Pandangannya memindai tempat itu. Tak ada yang berubah sejak lima tahun lalu--saat terakhir mereka berkumpul di tempat ini.
Lima tahun.
Waktu yang dulu ia tunggu…
kini benar-benar datang.
Berkumpul kembali.
Namun Kaluna tahu--pertemuan ini tidak sedang mengulang apa pun.
Tidak ada yang bisa kembali seperti dulu.
Dan malam ini…
akan memastikan itu.
Sagara sudah duduk santai di kursinya.
Agam bersandar di meja.
Raka berdiri dekat jendela, map di tangan.
Tidak ada sapaan hangat.
Tapi juga tidak sepenuhnya asing.
“Duduk, Kaluna." Raka yang menyilakan.
Kaluna diam sebentar… lalu duduk.
Sunyi.
Sagara menyandarkan punggungnya.
Menatap Kaluna beberapa detik.
“Kamu bikin kerjaanku jadi panjang.”
Nada datar. Bukan marah.
Kaluna tertawa kecil. Nada kering.
“Harusnya dari dulu aja ya, kamu berhenti percaya padaku."
Agam menghela napas pelan mendengarnya.
“Kaluna."
Nada itu beda.
Lebih lunak.
“Tapi kamu tahu, ini gak bisa dibiarkan."
Kaluna tidak melihat Agam.
Tatapannya tetap ke Sagara.
“Seberapa jauh kamu tahu?”
Sagara tak menjawab. Ia hanya mengangguk sedikit ke Raka.
Raka maju.
Map itu diletakkan di depan Kaluna.
“Cukup buat bikin kamu gak bisa berkilah."
Kaluna menatap map itu. Lama.
Lalu dibuka.
Halaman pertama saja yang dibaca--sudah cukup.
Napasnya tertahan.
Ia tertawa lagi. Pelan.
“Gila… akhirnya ketahuan."
"Kemana aja kalian? Baru tahu itu sekarang?" Kaluna tetap dengan tawanya--seolah bangga berhasil memperdaya tiga lelaki hebat di depannya.
Tidak ada yang ikut tertawa.
Agam justru mengalihkan pandangan.
“Lun,” ucap Raka singkat. Dan berikutnya lebih serius.
“ini udah masuk ranah yang… kamu sendiri tahu... itu terlarang."
Kaluna menutup map itu perlahan.
“Terus?”
ia menatap Sagara,
“kamu mau apa?”
Sagara tidak langsung jawab. Tatapannya masih datar. Cara duduknya tetap tenang. Tapi apa yang diucapkannya tak bisa ditanggapi dengan santai.
“Aku bisa hancurin kamu sekarang.”
"Sagara." Kaluna tersenyum. Tak ada ketakutan di wajahnya. "Kamu pikir aku takut mati?" Dia tertawa. Tapi bukan senang, justru terdengar miris.
"Aku kena kanker darah, stadium 4. Mati itu hanya perkara waktu. Aku--"
"Mati, itu hukuman yang terlalu mudah." Sagara memotong dengan cepat.
Kaluna diam.
"Dan aku tidak pernah menghukum penggangguku dengan mudah."
Nada tetap santai.
Tapi justru itu yang bikin berat.
"Dan..." Sagara memajukan tubuhnya sedikit. "Jangan jual drama murahan denganku."
"A-apa maksudmu?"
Sagara tersenyum miring. Singkat.
"Yang kanker itu bukan kamu." Ia menatap wajah Kaluna lurus--seolah memastikan kalimatnya akan jatuh tepat. "Tapi anakmu."
"Anak?" Raka dan Agam saling pandang.
"Kaluna punya anak?" Keterkejutan itu datang dari Agam. Ia menatap Kaluna, menuntut penjelasan.
"Tidak." Kaluna menggeleng tegas. "Sagara hanya--" Dan ucapan itu terpotong begitu saja, saat Sagara meletakkan sebuah foto di depannya.
Gadis kecil, usia 7 tahun. Cantik, mewarisi kecantikan Kaluna yang semasa kuliah dinobatkan sebagai primadona kampus.
Kaluna menegang. Wajahnya pucat. Tatapannya nanar membentur wajah Sagara.
"Diagnosa dokter, tidak lama lagi kan?"
Sagara masih berucap santai, meski mengandung ancaman yang tajam.
"Sagara. Jangan ganggu Kalila."
Kaluna bukan memohon. Bukan meminta. Tapi mengancam. Layaknya seorang ibu yang ingin melindungi anaknya dengan taruhan apapun.
"Ya." Sagara mengangguk. "Aku dengar namanya memang Kalila."
"Sagara." Napas Kaluna naik turun tak teratur. Ia marah.
"Aku tidak mengusik, jika tidak diusik duluan. Kaluna."
Kaluna mengangguk. "Iya. Aku salah. Sagara."
"Cukup?" Tatapan itu meremehkan.
"A-apa yang kamu mau, aku akan lakukan." Kaluna akhirnya menyerah.
"Cukup pintar." Sagara mengangguk. Cukup puas.
"Sidang keluarga Adinata, dua hari lagi. Kamu ikut."
"Aku ikut, sebagai apa?"
“Saksi.” Satu kata.
Kaluna menunduk sebentar.
Lalu mengangguk kecil.
Sagara maju sedikit.
“Jangan salah paham ya, Kaluna."
Nada masih tenang.
“Ini bukan kesempatan kedua. Ini cuma… penundaan.”
Sunyi. Setelah ucapan itu jatuh.
Dan lalu--
“Satu lagi.”
Tatapan Sagara berubah lebih dingin.
“Jangan dekati Shafiya!"
Kaluna menegang.
“Dengan cara apa pun.”
Agam menatap sekilas ke Kaluna.
Seolah ingin bilang sesuatu--tapi tidak.
“Kalau aku lihat kamu mendekat lagi--" Jeda sesaat.
“aku akan atur… supaya semua yang kamu perjuangkan untuk Kalila… berhenti di situ.”
Diam.
Kaluna tidak menjawab.
Kali ini--benar-benar tidak ada yang bisa ia pakai untuk melawan.
“…iya.”
Akhirnya menjawab pelan.
Agam menutup mata sebentar.
Bukan setuju.
Tapi… menerima situasinya.
Dan malam itu--pertemanan lama mereka…
tidak benar-benar hilang.
Tapi juga tidak akan pernah sama lagi.
Alhamdulillah, final baca bab-bab yg tertinggal. Lanjut, Kak Naj. Sambil ngopi & nongkrong ☕
Keren, Kak Naj...