"Satu kesempatan lagi... dan kali ini, aku tidak akan membiarkan mereka menyentuh apa yang menjadi milikku."
Yuuichi Shiro tahu persis bagaimana bau kematian. Sebagai korban eksperimen ilegal yang selamat hanya untuk melihat dunia hancur oleh virus Chimera, ia mati dengan penyesalan di ujung pedangnya. Namun, takdir berkata lain. Yuuichi terbangun enam hari sebelum hari kiamat dimulai—di ruang kelas yang tenang, dengan guru kesehatan yang cantik dan teman-teman yang seharusnya sudah mati di depan matanya.
Dengan bantuan Apocalypse Ascension System dan kesadaran Miu yang sarkastik, Yuuichi memulai langkahnya. Bukan untuk menjadi pahlawan bagi dunia yang sudah busuk, melainkan untuk membangun singgasananya sendiri di atas puing-puing peradaban.
Di tengah erangan mayat hidup dan pengkhianatan manusia, Yuuichi berdiri dengan elemen es di tangan dan barisan wanita luar biasa di belakangnya. Kiamat bukan lagi sebuah akhir, melainkan taman bermain bagi sang Regressor untuk membalas dendam
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon RavMoon, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Kabut dan Kecepatan, Jalan Menjauh dari Kematian
Udara terbuka di luar gedung olahraga menusuk lebih dalam dari yang diperkirakan – seolah jarum es menusuk langsung ke dalam tulang rusuk, membuat setiap napas terasa seperti menghirup serpihan es. Kabut tipis mengambang melayang di atas area parkir belakang, menyebarkan aroma aspal basah dari genangan air hujan yang belum kering, bercampur dengan bau tengik khas mayat yang mulai membusuk di balik reruntuhan kendaraan yang tertinggal.
Di kejauhan, sekitar lima puluh meter dari pintu keluar, bus sekolah berwarna kuning yang dulunya ceria kini terlihat kusam dan kotor, terparkir miring di atas jalan aspal yang retak-retak. Belasan sosok berkeliaran di sekelilingnya, langkah kaki mereka terseret dan tidak beraturan, tangan terulur ke depan seolah mencari sesuatu untuk dijangkau.
Yuuichi tidak bergerak seribu langkah. Ia berdiri di ambang pintu, membiarkan angin dingin menerbangkan helai rambut hitam panjangnya yang mengikat dengan tali kulit di bagian belakang kepala. Matanya melintas ke sekeliling area parkir, tapi pikirannya terfokus pada getaran yang ia rasakan dari arah gedung yang baru saja mereka tinggalkan.
"Shido tidak akan membiarkan kita pergi begitu saja," bisiknya, napasnya membentuk awan putih tipis di udara dingin tanpa perlu menoleh ke arah teman-temannya yang berdiri di belakang.
"Maksudmu, dia akan mengikuti dan menyerang dari belakang?" Sakura mendekat ke sisinya, suaranya rendah namun jelas terdengar di tengah keheningan yang menusuk. Jari jemari tangannya menyesuaikan genggaman pada bokken kayu yang selalu ia bawa, mata tajamnya sesekali melirik ke arah pintu gedung yang sudah mereka kencangkan dari luar.
"Tidak untuk saat ini." Rina mengangkat tangan untuk membenarkan posisi kacamata bundarnya, lensanya memantulkan cahaya dari sinar matahari yang terpojok di balik awan tebal. "Orang seperti Shido bekerja dengan melihat peluang. Dia akan membiarkan kita membersihkan jalan di area parkir dulu, menghabiskan energi untuk menghadapi zombie. Kemudian saat kita merasa sudah aman di dalam bus, dia akan muncul dengan alasan 'berbagi keselamatan' atau mengambil alih dengan membawa orang banyaknya."
"Analisis psikologis sesuai dengan data yang tersimpan. Deteksi aktivitas kehidupan di balik jendela lantai dua gedung olahraga: Shido dan sepuluh siswa sedang mengawasi gerakan kita dari balik tirai kain yang kusut. Mereka memang sedang menunggu kita membersihkan jalan untuk mereka, Kakak."
Yuuichi mengangkat sudut bibirnya sedikit, bentuk senyum yang tidak terlihat oleh orang lain. "Miu, aktifkan pemindaian area parkir. Tandai semua target yang ada di sekitar bus dan yang bersembunyi di bawah kendaraan lain."
[ RADAR AREA AKTIF ]
[ TARGET TERDETEKSI: 18 ZOMBIE BIASA, 2 ZOMBIE TIPE PELARI ]
"Tipe pelari?" Pikiran Yuuichi bergerak cepat. Ia mengendus udara sekali lagi, mata melirik ke sekeliling area parkir hingga akhirnya berhenti pada dua sosok yang tidak seperti zombie lainnya. Mereka berjongkok di atas atap bus, tubuh membungkuk seperti kucing yang siap menyerang. Otot kaki mereka tampak lebih panjang dan lebih padat dari zombie biasa, ujung jari mereka menonjol seperti cakar tajam.
"Chika-sensei," panggil Yuuichi tanpa melihat ke belakang, "tetaplah berada di tengah kelompok kita. Jangan pernah melepaskan tas medis dari genggamanmu – kita akan membutuhkannya nanti."
Chika mengangguk dengan cepat, wajahnya masih pucat namun ia sudah bisa mengatur napasnya dengan lebih tenang, mengikuti teknik pernapasan dasar yang diajarkan Yuuichi saat mereka masih bersembunyi di dalam gedung. Ia menekuk badan sedikit, menyembunyikan wajahnya di balik bahu Sakura yang lebih tinggi.
Tanpa berlama-lama, Yuuichi melangkah maju ke atas aspal terbuka. Setiap langkahnya ia buat dengan sengaja lebih berat dari biasanya, membuat suara hentakan yang jelas terdengar di tengah keheningan. Seperti yang diharapkan, dua sosok di atas atap bus mengangkat kepala secara bersamaan – matanya kosong namun penuh hasrat untuk menyerang. Mereka mengeluarkan suara lengkingan yang menusuk telinga, lalu melompat turun dengan gerakan cepat, berlari dengan empat kaki seperti binatang buas yang kehilangan akal.
"Sakura, jaga sisi kiri! Jangan biarkan mereka mendekat ke arah Chika-sensei!" teriak Yuuichi sambil melesat ke depan. "Rina, siapkan molotovmu jika ada kerumunan yang mulai menyebarkan diri ke arah kita!"
Yuuichi tidak menarik katananya segera. Ia menyelinap ke bawah lompatan zombie pelari pertama, yang sudah membuka rahang lebar dengan gigi yang menggerogoti. Saat tubuh monster itu melintas di atas kepalanya, Yuuichi memutar tubuhnya dengan cepat dan memberikan tendangan putar yang kuat ke arah telinga lawan – teknik Hwechook dari gaya Taekwondo yang ia kuasai dengan baik.
Suara dentuman keras terdengar saat tumitnya menghantam tulang tengkorak. Zombie itu terpental ke belakang dengan keras, menghantam pilar beton yang menyangga kanopi parkir hingga pecah dan menghancurkan sebagian tubuhnya.
Sebelum debu dari benturan itu hilang, zombie pelari kedua muncul dari sisi kanan dengan kecepatan yang jauh lebih tinggi. Yuuichi hanya mengerutkan kening sebentar, kemudian memutar tubuhnya dengan tenang, tangan kanannya perlahan-lahan meraih gagang pedang Nichirin yang selalu tergantung di pinggangnya.
Sring!
Satu gerakan memotong horizontal yang sangat cepat, membuat bilah pedang berwarna es biru itu menyilang udara dengan lancar. Jejak embun beku terbentuk di belakangnya, indah namun penuh ancaman mematikan. Kepala zombie pelari itu terlepas dari lehernya sebelum tubuhnya sempat menyentuh tanah, kemudian jatuh dengan keras ke aspal sambil tetap melayang sedikit akibat momentum yang sudah terbentuk. Tubuhnya yang masih bergerak langsung membeku saat menyentuh permukaan jalan.
"Poin Pengalaman Bertambah. Progres Tingkat Pernapasan Matahari: 65/100."
Di sisi lain area parkir, Sakura menghadapi tiga zombie biasa yang mulai mengelilinginya. Ia bergerak dengan keanggunan yang seperti penari balet, setiap gerakan bokken kayu di tangannya presisi dan tepat sasaran. Ia menghantam bagian lutut dan pergelangan kaki lawan untuk melumpuhkan mereka sebelum memberikan pukulan akhir ke bagian kepala. Chika berdiri erat di belakangnya, tangan gemetar namun tetap waspada, sesekali memberikan peringatan jika ada zombie yang mencoba mendekat dari arah belakang.
"Cukup menarik." Rina berdiri di sisi kanan kelompok, tangan kanannya masih memegang buku catatannya sambil mengamati pergerakan setiap zombie. Saat sekelompok sekitar lima zombie mulai Bergerak bersama ke arah pintu bus, ia dengan tenang mengambil satu botol molotov biru dari kantong jasnya dan melemparkannya dengan akurasi sempurna ke tengah kelompok itu.
BOOM!
Ledakan putih menyala terang, membentuk awan es yang menyebar dengan cepat. Kaki-kaki zombie yang terkena ledakan langsung membeku ke aspal, menjadikan mereka target yang tidak bisa bergerak dan mudah dihancurkan oleh pukulan Sakura yang datang tepat waktu.
Setelah sekitar lima menit pertempuran yang intens namun terkontrol dengan baik, area parkir kembali sunyi kecuali suara napas berat dari mereka berempat dan nyala api kecil yang masih menyala dari sisa ledakan molotov. Yuuichi berdiri tepat di depan pintu bus, darah hitam pekat menetes perlahan dari ujung bilah pedangnya sebelum ia dengan hati-hati menyarungkannya kembali ke sarungnya.
"Cepat masuk," perintahnya dengan suara yang tetap tenang, meskipun sedikit kelelahan mulai terlihat dari mata merahnya yang biasanya cerah.
Sakura membantu Chika untuk naik ke dalam bus, sementara Rina sudah masuk terlebih dahulu untuk memeriksa kondisi dalam bus. Yuuichi tetap berdiri di luar, pandangannya kembali tertuju ke arah gedung olahraga – tepat pada jendela lantai dua yang menjadi tempat persembunyian Shido dan kelompoknya.
Betul sekali, pintu gedung olahraga terbuka lagi dengan cepat. Shido keluar bersama sekitar dua belas siswa, sebagian dari mereka membawa senjata improvisasi yang sama seperti sebelumnya. Kali ini wajah mereka dibuat-buat penuh kepanikan, seolah mereka sedang dalam bahaya yang sangat besar.
"Shiro-kun! Tunggu sebentar!" Shido berlari ke arah bus dengan tangan di depan dada, seolah sedang memohon bantuan. "Kita harus bekerja sama! Bus ini adalah milik sekolah – hak kita semua untuk menggunakan dan membawanya bersama-sama!"
Yuuichi hanya menggelengkan kepala perlahan sebelum masuk ke dalam bus dan duduk di kursi pengemudi. Ia mengambil kunci dari saku dalam jaketnya – kunci yang ia temukan di ruang guru saat mereka sedang bersembunyi tadi pagi. Dengan lembut ia memasukkannya ke dalam kontak mesin, lalu memutarnya perlahan.
Mesin bus meraung dengan keras, suara yang sudah lama tidak terdengar di area sekolah itu memecah keheningan yang menyelimuti tempat kejadian kiamat.
Shido dan kelompoknya berhasil sampai tepat di depan bumper depan bus, mereka mulai menggedor-gedor pintu kaca dengan tangan dan senjata mereka. "Buka pintunya, Yuuichi! Kau tidak bisa meninggalkan guru dan teman-temanmu di sini sendirian! Itu adalah pelanggaran terhadap aturan moral dan peraturan sekolah!"
Yuuichi menurunkan kaca jendela di samping kursinya, udara dingin kembali masuk ke dalam bus yang sedikit lebih hangat. Ia menatap Shido dengan tatapan yang sangat dingin, seperti salju yang tidak pernah mencair di puncak gunung – membuat sang guru yang sedang berteriak tiba-tiba terdiam dan mundur satu langkah.
"Aturan yang kamu maksud sudah lenyap bersama orang-orang yang kamu biarkan terbunuh di dalam sana, Shido," ucapnya dengan suara yang tenang namun penuh kekuatan. "Aku sudah membersihkan jalan untukmu dan kelompokmu. Jika ingin selamat, cari kendaraan lain atau lari secepat mungkin menuju tempat yang aman. Tapi bus ini..." ia menginjak pedal kopling dengan perlahan, "...sudah penuh dengan orang-orang yang layak untuk hidup."
"Kau bajingan egois!" Shido kembali berteriak, wajahnya memerah karena amarah dan rasa terhina yang membara. "Kau akan menyesali apa yang telah kamu lakukan! Nanti saat kamu membutuhkan bantuan, tidak akan ada seorang pun yang mau menolongmu!"
Yuuichi tidak memberikan tanggapan apapun. Ia hanya menginjak pedal gas perlahan, membuat bus bergerak maju dengan lambat namun pasti. Roda ban menghancurkan beberapa ranting dan puing-puing kecil di jalan, meninggalkan Shido dan kelompoknya yang tertinggal di area parkir. Di kaca spion sisi kanan, Yuuichi melihat Shido yang masih berdiri dengan wajah marah, sementara beberapa siswa di belakangnya mulai menunjukkan ekspresi ragu pada kepemimpinan sang guru.
Di dalam bus, suasana menjadi sedikit lebih lega setelah mereka menjauh dari sekolah. Chika duduk di kursi tepat di belakang Yuuichi, ia meluruskan napas sebelum secara perlahan meletakkan tangannya di bahu pemuda itu – tangan yang masih sedikit gemetar namun penuh rasa syukur.
"Terima kasih, Yuuichi-kun..." bisiknya dengan suara yang lembut, mata sudah mulai berkaca-kaca. "...Kau benar-benar menyelamatkan kami dari situasi yang sangat mengerikan."
Yuuichi melihat ke arah spion tengah, bisa melihat tiga wanita yang kini menggantungkan seluruh harapan hidup mereka padanya. Sakura sedang memeriksa kondisi bokken-nya dengan cermat, Rina sudah kembali mencatat sesuatu di buku kecilnya, dan Chika yang masih melihatnya dengan ekspresi penuh rasa hormat.
"Jangan terburu-buru untuk berterima kasih," ucapnya dengan nada yang sedikit lebih hangat. "Kita baru saja keluar dari kandang singa yang terkunci. Dan sekarang..." ia memutar kemudi untuk mengarahkan bus ke jalan raya utama, "...kita akan memasuki hutan rimba yang sebenarnya – di mana bahayanya jauh lebih besar dari yang kita bayangkan."
"Target berikutnya: Kediaman Keluarga Hoshino. Jarak tempuh sekitar 5 kilometer. Peringatan tambahan: Jalan tol utama sudah tersumbat oleh ribuan kendaraan yang macet saat kejadian awal terjadi. Siap-siap untuk menghadapi sedikit 'keramaian' di jalan, Kakak."
Yuuichi mengangkat sudut bibirnya lagi, kali ini dengan senyum yang lebih jelas. Ia menekan pedal gas lebih dalam, membuat bus melaju lebih cepat di jalan yang sepi namun penuh dengan reruntuhan. Di kejauhan, asap hitam membubung tinggi ke langit, menandakan bahwa bahaya tidak hanya ada di belakang mereka – melainkan juga ada di mana-mana di dunia yang sudah berubah ini.