Lima sahabat mendaki Gunung Ciremai untuk merayakan kelulusan, namun terjebak di tengah wabah mayat hidup yang muncul dari balik kabut. Di jalur Linggarjati yang ekstrem, perjalanan perpisahan ini berubah menjadi ujian survival yang brutal. Mereka harus memeras logika, naluri, dan kesetiaan demi bertahan hidup dari kepungan monster sekaligus tipisnya oksigen di puncak tertinggi Jawa Barat.
Mereka bergabung bersama Satria seorang tentara, dan Shakira seorang dokter untuk Bertahan Hidup dari serangan Mayat Hidup.
Jika kalian diposisi mereka apa yang akan kalian lakukan?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Heynura9, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 31
Selasa, 21 Mei Jam 23:47 WIB
Kilas balik Sambungan telpon Sakira dan Seseorang.
Nada sambung. Sekali. Dua kali. Tiga kali.
"Ya?"
Suara di seberang tenang tapi waspada. Suara orang yang sudah terbiasa menerima telepon di tengah malam dan tidak pernah kaget dengan isinya.
"Ini Dr. Sakira dari RSUD Cidugal," kata Sakira. "Ada kasus baru. Gigitan. Guratan putih kekuningan di pembuluh darah, menyebar lebih cepat dari yang pernah saya lihat sebelumnya."
Hening sebentar di seberang.
"Seberapa cepat?"
"Pasien baru beberapa jam terkena. Tapi penyebarannya sudah seperti kasus yang butuh berhari-hari."
"Isolasi penuh," kata suara itu Dr. Wahyu, peneliti yang kartunya diberikan oleh dokter IGD yang pensiun tiga bulan lalu dengan pesan: semoga kamu nggak perlu pakai ini. "APD lengkap. Jangan ada kontak langsung tanpa prosedur. Dan Sakira awasi matanya. Kalau pupilnya mulai melebar, jangan tunggu. Lakukan apapun yang perlu dilakukan."
"Apa yang akan terjadi?"
Dr. Wahyu tidak langsung menjawab. Dan jeda itu sendiri sudah jadi jawaban yang cukup untuk membuat dada Sakira berdegup tidak karuan.
"Hubungi saya kalau ada perubahan," kata Wahyu akhirnya. "Apapun perubahannya."
Sakira tutup telepon.
Dia duduk sebentar di ruangan sempit itu, mengatur napas, lalu berdiri dan kembali bekerja.
Rabu, 22 Mei 17.15 WIB
Lorong Bangsal, Lantai Satu
Pak Rudi sudah stabil cukup untuk dipindah ke ruang isolasi.
Sakira yang kasih instruksi langsung sebelum naik ke lab lantai dua isolasi penuh, APD lengkap, pantau setiap perubahan sekecil apapun. Dinda yang pegang kendali di bawah, dibantu Afuz, perawat malam yang sudah tiga tahun kerja di sini dan tidak banyak bicara kecuali perlu.
Mereka dorong bed Pak Rudi pelan-pelan menyusuri lorong menuju ruang isolasi di ujung sayap kiri.
Pak Rudi diam di atas bed. Matanya tertutup. Napasnya teratur.
Dinda jalan di sisi kiri bed, tangan di tiang infus. Afuz di sisi kanan, matanya sesekali lirik ke kondisi pasien.
Lorong sepi. Lampu neon di atas kepala mereka berdenging pelan suara yang biasanya tidak terdengar, tapi malam ini terasa terlalu keras.
Mereka sudah hampir sampai di ruang isolasi waktu Pak Rudi mulai bergerak.
Pelan dulu jari-jarinya mengepal. Lalu tangannya. Lalu seluruh tubuhnya menegang sekaligus, punggungnya melengkung ke atas, dan suara dari tenggorokannya keluar bukan teriakan, bukan rintihan, tapi sesuatu di antaranya yang tidak punya nama.
"Pak Rudi" Dinda pegang bahunya.
Kejang.
Tubuh Pak Rudi kejang dengan keras bed berguncang, tiang infus hampir roboh, kepala Pak Rudi terbentur sandaran berkali-kali. Dinda refleks tahan kepala Pak Rudi dengan tangan, sementara Afuz langsung rem bed dan cegah Pak Rudi jatuh.
"Afuz miringkan badannya! Jangan ada yang pegang rahangnya!"Kata dinda
Afuz gerak cepat. Tapi kejangnya kuat lebih kuat dari yang Dinda pernah tangani sebelumnya. Seperti tubuh itu bukan sedang sakit tapi sedang bertempur melawan sesuatu dari dalam.
Satu menit.
Satu menit yang terasa jauh lebih panjang dari itu.
Dinda ambil ponsel dengan satu tangan, satu tangan masih bantu stabilkan posisi Pak Rudi. Pencet nomor Sakira.
Nada sambung. Satu. Dua.
"Dinda?"
"Dok, Pak Rudi kejang. Kita lagi di lorong, belum sampai isolasi. Sudah satu menit lebih"
"Kasih diazepam, saya turun sekarang"Jawab Dokter Sakira yang tengah meneliti sebuah darah, sambil ia bereskan perlahan.
Afuz mencolek lengan Dinda.
Pelan. Tapi tekanannya bilang: lihat.
Dinda masih pegang ponsel di telinga. Matanya ikut arah pandang Afuz.
Pak Rudi berhenti kejang.
Tiba-tiba. Total.
Tubuhnya rebahan kembali terlalu tenang, terlalu mendadak untuk orang yang baru saja kejang keras. Tangannya jatuh lemas di sisi bed.
Lalu kepalanya pelan-pelan berpaling ke arah mereka.
Dan matanya terbuka.
Dinda tidak bisa gerak.
Matanya bukan mata manusia lagi. Pupil yang melebar sampai tidak ada warna tersisa. Hitam pekat dari ujung ke ujung, seperti sesuatu yang jauh lebih tua dari Pak Rudi sedang menatap keluar dari balik wajahnya.
"Din" Afuz berbisik dalam bahasa Jawa, suaranya tidak lebih dari hembusan napas. "Ayo minggat. Saiki."
Dinda masih mematung.
Ponsel di tangannya masih tersambung. Dari speaker kecil itu, suara Sakira terdengar "Dinda? Dinda kamu di mana?" tapi suara itu terasa sangat jauh sekarang.
"Dinda." Afuz tarik lengannya. "Ayo."
Pak Rudi duduk tegak di bed.
Gerakannya mulus. Terlalu mulus. Seperti tubuh yang dikendalikan sesuatu yang tidak punya rasa sakit, tidak punya ragu, tidak punya alasan untuk berhenti.
Afuz tarik Dinda mundur selangkah.
Dinda akhirnya bergerak tapi setengah detik terlambat.
Tangan Pak Rudi meraih pergelangan tangannya. Cengkeramannya dingin dan terlalu kuat. Dinda menarik, mencoba lepas, tapi seperti tangannya terperangkap di sesuatu yang tidak punya batas kekuatan.
Pak Rudi menariknya ke depan.
Dan menggigit lehernya.
Dinda menjerit.
Kulitnya terlepas. Darah langsung mengalir. Afuz pukul lengan Pak Rudi keras sekali, dua kali sampai cengkeramannya lepas, lalu dia tarik Dinda mundur jauh dari bed itu.
"Dinda! Dinda lihat saya!"
Dinda lihat Afuz. Matanya masih fokus. Tangannya menekan luka di lehernya.
Lalu fokus itu mulai redup.
Tiga detik. Lima detik.
Dinda roboh ke lutut. Afuz tangkap tubuhnya sebelum jatuh ke lantai tapi sudah terlambat untuk hal yang lebih penting dari itu. Di leher Dinda, di sekitar luka gigitan, guratan putih kekuningan sudah mulai merayap mengikuti alur pembuluh darahnya.
Terlalu cepat.
Jauh terlalu cepat.
"Dinda" suara Afuz pecah.
Dinda mendongak ke arahnya. Dan di mata Dinda yang tadinya masih Dinda, sesuatu mulai berubah pelan, seperti cahaya yang dimatikan dari dalam.
Afuz lepaskan Dinda dan mundur.
Dinda berdiri sendiri.
Gerakannya sudah berbeda.
Afuz lari.
Tidak ada pilihan lain. Dia lari ke arah tangga sambil teriak sekeras yang dia bisa "Tolong! Semua orang keluar! Keluar sekarang!"
Pintu-pintu kamar pasien mulai terbuka. Kepala-kepala muncul bingung, mengantuk, tidak mengerti.
Dari ujung lorong, Dinda melangkah keluar dari kerumunan cahaya lampu neon. Di belakangnya, bed Pak Rudi kosong.
Pak Rudi tidak ada di sana lagi.
18.31 WIB Lantai Dua
Sakira turun tangga dengan langkah cepat.
Ponselnya sudah tidak tersambung sejak teriakan Dinda tadi. Dia sudah coba balik nelpon tiga kali tidak diangkat. Perutnya tidak enak dengan cara yang melewati intuisi klinis biasa.
Dia sampai di lantai satu.
Dan berhenti.
Lorong di depannya kacau kursi roda terbalik, tiang infus jatuh, pintu kamar pasien terbuka semua. Di ujung lorong, ada seseorang yang berdiri membelakanginya.
Tubuhnya Dinda.
Tapi cara berdirinya bukan Dinda.
Dari salah satu kamar, suara pasien berteriak lalu berhenti mendadak dengan cara yang lebih buruk dari teriakan itu sendiri.
Sakira melihat sekeliling dengan cepat. Tiga pasien di lorong seorang bapak tua berpegangan di dinding, seorang ibu setengah baya yang baru keluar dari kamarnya dengan wajah panik, seorang remaja yang terduduk di lantai karena kakinya diinfus dan trolley infusnya tersangkut pintu.
"Hei!" Sakira panggil mereka. Tidak keras, tapi cukup. "Sini. Ikut saya. Sekarang."
Bapak tua itu lirik ke arah ujung lorong. "Tapi perawatnya"
"Ikut saya."
Sakira tidak tunggu lebih lama. Dia jalan cepat ke arah remaja dengan trolley infus, cabut jarum infusnya dengan cepat "Maaf, ini perlu" bantu dia berdiri, lalu gerakkan semua tiga orang itu ke arah tangga.
Dari ujung lorong, Dinda berbalik.
Sakira tidak menatap matanya lebih dari satu detik. Cukup untuk konfirmasi. Tidak cukup untuk membiarkan apa yang dia lihat di sana memperlambat langkahnya.
"Tangga. Cepat."
Di lantai dua, Afuz sudah di sana napasnya tersengal, tangannya gemetar, tapi matanya masih jernih.
"Dok" Afuz lihat Sakira dan tiga orang di belakangnya. "Dinda dia"
"Saya tau." Sakira potong pelan. "Kamu nggak apa-apa?"
Afuz angguk.
"Ada berapa orang lagi di lantai satu?"
"Masih ada dua pasien di kamar ujung, Dok. Dan satpam yang tadi saya lihat di lobi"
Sakira sudah balik ke tangga sebelum Afuz selesai bicara.
"Dok!"
"Jaga mereka di sini."
Dua pasien di kamar ujung seorang perempuan paruh baya dan seorang pria muda yang kakinya digips Sakira keluarkan keduanya dalam waktu kurang dari dua menit. Tangannya pegang bahu, tuntun cepat, tidak beri ruang untuk panik berkembang jadi kelumpuhan.
Di lorong, bayangan-bayangan bergerak.
Bukan hanya Dinda sekarang.
Ada dua lagi pasien yang tadi teriak dari kamarnya dan berhenti mendadak, sekarang berdiri di lorong dengan cara yang sama. Guratan gelap di leher. Mata yang tidak punya cahaya.
Satpam lobi Pak Samsul, lima puluh tahun, yang Sakira kenal karena selalu sapa dia tiap pagi muncul dari ujung lorong sambil pegang tongkat. Masih manusia, masih sadar, tapi wajahnya sudah putih pucat.
"Dok! Dok mereka"
"Pak Samsul ikut saya."
Salah satu bayangan di lorong bergerak ke arah mereka.
Sakira ambil tiang infus yang jatuh di lantai besi panjang, cukup berat dan pukul bayangan itu keras di bagian dada waktu jaraknya sudah terlalu dekat.
Tubuh itu terhuyung ke belakang.
Tidak jatuh. Tidak kesakitan. Tapi terhuyung dan itu cukup.
"Lari."
21.47 WIB Lobi RSUD Cidugal
Mereka sampai di lobi dalam satu kelompok berantakan Sakira, Afuz, Pak Samsul, dan lima pasien yang berhasil dikumpulkan. Delapan orang selamat, termasuk Sakira sendiri.
Lobi kosong. Pintu kaca utama masih tertutup.
Dari arah tangga dan koridor, suara langkah kaki mulai turun.
"Pintu!" Sakira tunjuk pintu kaca utama. "Buka dan keluar! Semua orang!"
Mereka keluar ke parkiran. Udara malam yang dingin menghantam wajah Sakira tapi dia tidak berhenti.
"Pak Samsul pintu bisa dikunci dari luar?"
"Ada gembok cadangan di pos satpam, Dok tapi posnya di dalam"
"Rantai. Kabel. Apapun yang bisa ikat pegangan pintu itu."
Afuz sudah bergerak dia ambil kabel jumper dari mobil ambulans yang parkir di depan, lilitkan di dua pegangan pintu utama dan ikat sekencang yang dia bisa.
Dari balik kaca pintu itu, bayangan-bayangan mulai terlihat bergerak ke arah lobi, ke arah pintu, ke arah mereka.
Pintu terdorong dari dalam.
Kabel itu menahan tapi bergetar.
"Lebih kencang!" kata Sakira.
Pak Samsul bantu Afuz. Dua orang pasien yang masih cukup kuat ikut pegang. Mereka tahan pintu itu dari luar kabel yang melilit pegangan meregang, pintu terdorong berulang kali dari dalam, tapi tidak terbuka.
Sakira mundur selangkah. Lihat situasi.
Tujuh orang di parkiran RSUD Cidugal jam hampir tengah malam. Rumah sakit di belakang mereka penuh dengan sesuatu yang bukan lagi pasien atau staf. Kota Kuningan masih tidur di sekitar mereka, tidak tahu apa yang baru saja dimulai di dalam gedung ini.
Ponselnya bergetar.
Dr. Wahyu.
Sakira angkat. "Saya di luar. Ada tujuh orang selamat."
"Saya lima menit lagi," kata Wahyu. "Jangan masuk kembali ke dalam. Apapun alasannya."
Sakira lirik ke pintu kaca yang masih bergetar dari dalam. "Saya Tidak ada rencana untuk itu."
Di balik kaca itu, dalam cahaya lobi yang remang, wajah Dinda menatap keluar kosong, gelap, bukan Dinda lagi.
Sakira tidak memalingkan muka.
Dia tetap lihat ke sana, karena ada bagian kecil dalam dirinya yang merasa itu adalah satu-satunya hal yang masih bisa dia lakukan untuk Dinda malam ini.
Menjadi saksi.
sabar, yakin pasti byk yg mampir
💪💪💪
ambil yg bisa kau bawa, ingat temen"mu😂lari butuh tenaga💪
melirik, melihat dll, klu hrs ditambah awalan/akhiran tambahkan thor, spy bahasa'a enak dibaca
lanjuuuut👉👉👉
wlu cm baca, tp deg"an jg 💪
lanjut lagii
mrk blm saling kenal mosok manggil'a lu gue, yg pasti satria jg lbh tua✌
saran ajaa spy karyamu lbh sempurna💪