Bagi Naralla Maheswari Putri, laki-laki adalah sinonim dari pengkhianatan. Luka yang ditinggalkan ayahnya serta trauma masa SMP membuat Nara membangun benteng es yang begitu tinggi di hatinya. Ia meyakini satu hal: semua laki-laki akan pergi saat mereka mulai bosan.
Namun, takdir mempertemukannya dengan Arkana Pradipta Mahendra di gerbang sekolah saat ia menunggu Kak Pandu, sepupu sekaligus pelindung satu-satunya di rumah. Arkan bukan sekadar orang asing; ia adalah sahabat Pandu yang memiliki senyum sehangat mentari. Selama dua tahun, Arkan dengan sabar menghadapi sikap dingin Nara. Ia tidak pernah menyerah, selalu mengusahakan bahagia Nara, dan menjadi satu-satunya orang yang mampu membuat jantung Nara berdebar meski Nara selalu berusaha menepisnya.
Saat hubungan mereka menginjak tahun kedua, berkat dorongan Kak Pandu yang meyakinkannya bahwa Arkan berbeda, Nara akhirnya menyerah pada egonya. Ia memutuskan untuk membuka pintu hatinya lebar-lebar, membiarkan Arkan masuk, dan mencoba
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon byyyycaaaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1
Matahari sore itu terasa sangat menyengat, membakar aspal gerbang SMA Garuda yang mulai sepi. Aku menyandarkan bahu di pilar beton, sesekali melirik jam tangan perakku. Sudah tiga puluh menit, dan Kak Pandu belum juga menampakkan batang hidungnya.
"Eskul basket emang selalu telat ya?" gumamku kesal.
Aku merapatkan tas ranselku. Sebenarnya, aku benci menunggu. Menunggu membuatku merasa tidak berdaya, mengingatkanku pada sore-sore panjang di teras rumah saat menunggu Ayah pulang, yang ternyata malah pergi ke pelukan perempuan lain.
Sejak saat itu, aku membenci perpisahan, tapi aku lebih membenci pengharapan.
"Nunggu Pandu, ya?"
Sebuah suara berat namun lembut membuyarkan lamunanku. Aku menoleh perlahan. Seorang laki-laki berdiri di sampingku, masih mengenakan jersei basket yang basah oleh keringat. Handuk kecil tersampir di bahunya, dan ia memegang dua botol minuman dingin.
Aku hanya mengangguk singkat, lalu kembali membuang muka. Dingin. Itu adalah pertahanan terbaikku.
"Gue Arkan. Sahabatnya Pandu," ia mengulurkan tangan yang memegang botol minum. "Pandu masih kena 'sidang' pelatih di dalam. Dia minta gue buat nemenin lo bentar biar nggak diculik katanya."
Aku tidak membalas ulurannya. "Gue bisa jaga diri sendiri."
Arkan tertawa kecil, suara tawanya terdengar renyah, tidak tersinggung sama sekali dengan sikap ketusku. Ia justru duduk di pembatas jalan, persis di sebelahku, lalu menyodorkan salah satu botol minuman dingin itu ke pipiku.
"Aww! Dingin!" aku berjengit kaget.
"Nah, akhirnya ada ekspresi selain muka datar," Arkan nyengir tanpa dosa. "Minum aja, Ra. Muka lo udah kayak es krim yang mau meleleh saking panasnya."
Aku menatap botol itu, lalu menatap matanya. Arkana Pradipta Mahendra. Aku baru pertama kali melihatnya, tapi sorot matanya punya binar yang... berbeda. Ada kehangatan yang asing, yang selama ini selalu coba kuhindari.
"Kenapa lo tahu nama gue?" tanyaku sambil menerima botol itu dengan enggan.
"Pandu nggak berhenti cerita soal adek sepupunya yang 'paling galak tapi cantik'. Ternyata bener," godanya sambil mengedipkan sebelah mata.
Aku merasakan semburat panas di pipiku, bukan karena matahari, tapi karena kalimatnya. Sial. Kenapa jantungku berulah hanya karena gombalan receh seperti itu?
"Nara!" teriakan Kak Pandu dari kejauhan memutus suasana canggung itu. Kak Pandu berlari menghampiri kami dengan napas terengah-engah. "Sori, Ra. Pelatih tadi ngoceh mulu. Eh, udah kenalan sama Arkan?"
"Baru aja," jawab Arkan sambil bangkit berdiri. Ia menepuk bahu Kak Pandu, lalu beralih menatapku lagi. "Gue duluan ya, Ra. Jangan terlalu dingin sama es batunya, nanti dia minder."
Arkan berlalu sambil melambaikan tangan tanpa menoleh lagi. Aku terpaku di tempat, menggenggam botol minuman yang kini sudah tidak sedingin tadi karena suhu tubuhku yang mendadak naik.
"Hati-hati, Ra," celetuk Kak Pandu sambil mulai menyalakan motornya. "Arkan itu orangnya terlalu baik. Kadang gue ngerasa dia itu matahari, siapa pun yang deket dia pasti bakal ngerasa hangat."
Aku naik ke boncengan motor Kak Pandu tanpa menyahut. Matahari, ya?
Aku menoleh sekali lagi ke arah gerbang sekolah yang mulai menjauh. Di sana, aku melihat Arkan masih berjalan santai sambil bersiul. Aku tidak tahu bahwa di gerbang itulah, cerita yang akan menghancurkanku tiga tahun kemudian baru saja dimulai.
Perjalanan pulang di atas motor Kak Pandu hanya diisi oleh deru mesin dan angin sore yang menerpa wajah. Aku menyandarkan kepala di bahu Kak Pandu, satu-satunya tempat aman yang kumiliki sejak Mama lebih sering menghabiskan waktu di kantor untuk menafkahi kami, sementara Ayah... entahlah, laki-laki itu mungkin sedang menertawakan kehancuran keluarga kami di suatu tempat.
"Ra," panggil Kak Pandu di balik helmnya. "Malam ini Arkan mau main ke rumah. Mau ngerjain tugas kelompok bareng gue. Lo jangan ketus-ketus banget ya sama dia?"
Aku mendengus. "Kenapa harus di rumah kita? Kan bisa di rumah dia atau di kafe."
"Mama belum pulang, kan? Arkan janji mau bawain martabak manis kesukaan lo sebagai sogokan biar nggak lo usir," Kak Pandu terkekeh.
Aku terdiam. Bagaimana bisa laki-laki yang baru kutemui sepuluh menit di gerbang sekolah sudah tahu martabak manis adalah kelemahanku? Pasti Kak Pandu yang bermulut ember.
Malam harinya, suara motor berhenti di depan pagar. Aku yang sedang membaca novel di ruang tamu mencoba tetap fokus, meski telingaku dengan khianat menangkap suara tawa renyah yang tadi sore kudengar.
"Permisi, paket martabak spesial untuk Tuan Putri yang sedang cemberut!"
Suara itu muncul bersamaan dengan bau mentega martabak yang harum. Arkan berdiri di ambang pintu, masih mengenakan kaus polos hitam yang membuatnya terlihat lebih santai dibanding sore tadi. Ia mengangkat kantong plastik putih dengan senyum lebar.
"Gue nggak pesen," jawabku tanpa mengalihkan pandangan dari buku.
"Tapi martabaknya yang pesen mau dimakan sama lo, Ra," Arkan masuk begitu saja, meletakkan bungkusan itu di meja tepat di depanku. Ia duduk di kursi seberang, memperhatikanku dengan intens.
Aku merasa risih. "Ngapain lihat-lihat?"
"Cuma mau mastiin," jawabnya pelan, suaranya mendadak serius. "Pandu bilang lo itu 'dingin'. Tapi menurut gue, lo nggak dingin. Lo cuma lagi berusaha ngelindungi diri sendiri dari sesuatu, kan?"
Pertanyaan itu telak menghujam jantungku. Aku menutup buku dengan keras, menatapnya tajam. "Sok tahu. Lo cuma orang asing yang kebetulan temen sepupu gue. Jangan berlagak kayak psikolog."
Bukannya marah, Arkan justru tersenyum tipis. "Orang asing hari ini, siapa tahu jadi orang paling penting besok? Siapa yang tahu takdir, Ra?"
"Gue nggak percaya takdir. Gue cuma percaya kalau semua laki-laki punya cara yang sama buat bikin perempuan percaya, lalu menghancurkannya di akhir," ucapku dengan nada getir yang tak bisa kusembunyikan.
Arkan terdiam sejenak. Sorot matanya yang semula jenaka berubah menjadi teduh dan penuh empati. Ia tidak membantah, tidak juga membela diri.
"Gue nggak akan minta lo buat percaya sekarang," Arkan menggeser kotak martabaknya lebih dekat ke arahku. "Gue cuma mau minta satu hal. Makan martabaknya sebelum dingin. Soalnya kalau martabak dingin itu nggak enak, beda sama lo yang tetep cantik walau dingin."
Ia lalu bangkit dan berjalan menuju kamar Kak Pandu sambil bersiul kecil, meninggalkanku yang mematung dengan perasaan campur aduk.
Aku menatap kotak martabak itu lama. Ada secuil rasa hangat yang mulai merayap di dadaku, rasa yang sangat ingin kutolak, namun nyatanya terlalu nyaman untuk diabaikan. Untuk pertama kalinya dalam waktu yang lama, pertahananku sedikit goyah.
"Dasar aneh," gumamku pelan, namun tanganku mulai membuka kotak martabak itu.
Aku tidak sadar, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Arkan sedang tersenyum menatapku. Ia baru saja memulai sebuah misi panjang: mencairkan hati Naralla Maheswari Putri, meski ia harus terbakar berkali-kali.