Qiara adalah anak yatim piatu yang selalu dimanfaatkan oleh pamannya. Hidupnya begitu menderita. Bahkan dirinya juga disuruh bekerja menjadi pelayan tiga badboy kembar yang akhirnya menjamah dirinya. Hidupnya penuh penderitaan, sejak ke dua orang tuanya meninggal. Dia harus bekerja mencukupi kebutuhannya. Namun akhirnya, ketiga kembar kaya raya itu jatuh cinta pada Qiara. Bahkan saling berebut untuk mendapatkan cintanya? Siapakah dari pada kembar yang bisa bersama dengan Qiara? Apakah Nolan? Apakah Natan? Apakah Noah?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Fitria callista, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 12.
Baik Nolan maupun Noah langsung menatap saudaranya itu dengan memutarkan bola mata ke atas, sebagai tanda jika ke duanya sudah jengah dengan tingkah laku Natan.
Bahkan Natan terlihat begitu konyol, saat dirinya merespon beberapa orang yang memuji ketampanannya dengan kedipan mata.
"Lebih baik lo itu jaga dulu Natan, gue mau ke bagian informasi untuk menanyakan dimana keberadaan Qiara," ujar Nolan pada Noah, dia takut kalau sampai Natan itu membuat masalah.
"Baik Kak," sahut Noah sembari menganggukkan kepala nya. Lalu tangannya nampak memegangi tangan Kakak kembarnya yang lain.
"Dih apaan lo itu pegang pegang tangan gue! Gue itu jijik bersentuhan sama lo," ujar Natan dengan wajah jijik.
"Kalau Kak Natan gak pengen aku itu berbuat lebih, tolong jangan mencari masalah!"
"Astaga Adik kecil, siapa sih yang suka bikin masalah. Bukanya lo yang selama ini suka bikin masalah!" Natan malah merangkul bahu adiknya dengan tangganya yang lain, bahkan ia terlihat bersiap siap untuk menjitak kepala adiknya itu.
Akhirnya tangan Natan berhasil menyakiti kepala Noah, hal itu membuat Noah murka. Dan ke duanya pun terlibat dalam sebuah perdebatan sengit.
"Astaga. Kenapa sih kalian berdua selalu saja bertengkar?" bentak Nolan dengan wajah marah.
"Dia duluan ... "
"Dia duluan."
Ke dua adik kembar Nolan sekarang ini memang benar benar terlihat seperti anak kecil.
"Udahlah!" kata Nolan kesal. Kala melihat ke dua adik kembarnya yang masih saja sibuk untuk beradu argumen.
"Gue udah tahu dimana ruangan Qiara, kata mereka Qiara sampai sekarang ini belum sadarkan diri," ucap Nolan lagi dengan nada kecewa.
Ucapan nya yang langsung membuat Noah dan juga Natan berhenti untuk berdebat.
***
Ruangan kelas 3 C di rumah sakit Ken Saras.
"Di sini ada lima tirai yang tertutup. Terus tirai milik Qiara yang mana? Kalau belum sadarkan diri, kenapa dia di rawat di ruang inap?" Beberapa pertanyaan keluar begitu saja dari bibir Noah.
Karena seingat nya untuk pasien yang masih dalam keadaan gawat darurat dan belum stabil, pasti akan di rawat di UGD.
"Iya mungkin karena memang belum ada DP. Kan rumah sakit ini terkenal elite dan juga lumayan mahal," sahut Natan tanpa diminta.
"Gue sendiri juga tidak tahu, brangkar Qiara yang mana. Karena tadi di lobi begitu ramai. Gue gak begitu kedengaran suara penjaga lobi perihal Qiara berada di brangkar sebelah mana," celetuk Nolan seakan menjawab pertanyaan adik-adik nya.
"Mungkin brangkar Qiara di pojok paling ujung deket jendela," kata Natan sembari menunjuk ke arah brangkar yang berada di paling ujung. Ia nampak berbicara dengan ekspresi wajah yang terlihat begitu menyakinkan.
"Kenapa lo bisa seyakin itu?" tanya Noah memastikan. Karena di ruang ini terlihat begitu sepi dan tidak terdengar tanda tanda manusia di dalamnya, dengan brangkar yang tertutup rapat oleh tirai.
"Apa lo itu tidak lihat? Bagian bawah tirai, buat brangkar yang paling ujung. Terlihat banyak sekali kaki yang berdiri mengelilingi brangkar itu," sahut Natan.
Seketika Nolan dan juga Noah nampak melihat ke arah brangkar bagian bawah dimana tadi di tunjukkan oleh Natan.
"Iya benar apa yang lo katakan. Ayo kita coba ke berangkat paling ujung!" pinta Nolan.
Baik Natan maupun Noah pun reflek mengangguk, sebagai jawaban jika mereka itu menyetujui apa yang barusan di katakan oleh Nolan.
Saat langkah mereka hampir sampai di brangkar paling ujung, akhirnya mereka pun mendengar kebisingan orang orang yang nampak berbisik bisik satu sama lain.
"Kok tadi di dekat pintu kita gak mendengar suara orang yang sedang bisik bisik."
"Stt, sudahlah Noah, gak usah banyak bicara!" tegur Natan dengan nada berbisik.
Noah terlihat memutar bola matanya itu ke atas.
"Tumben lo itu bener!" Noah berbicara dengan nada sarkas.
"Diamlah! Kenapa kalian berdua itu selalu saja brisik?" Nolan nampak menegur ke dua adik kembarnya.
Langkah kaki mereka bertiga pun akhirnya sampai di dekat tirai.
Nolan dengan gagah berani nampak menyingkapkan tirai itu.
"Astaga, siapa yang meninggal? Apakah Qiara," celetuk Natan tanpa bisa di rem. Kala melihat seseorang yang terbaring di atas brangkar dengan tubuh yang tertutup selimut.
Membuat para tenaga kesehatan yang mengerubungi brangkar itu nampak melihat ke arah Natan termasuk Nolan dan juga Noah.
"Astaga mana masih muda! Belum ngerasain indahnya bercinta," imbuh Natan yang mana langsung mendapatkan pukulan jidat sang adik.
"Kak diamlah!"
Sementara Nolan yang mendengar kata bercinta, tiba tiba ekspresi wajah terlihat langsung berubah.
"Bolehkah kami melihat siapa pasien yang meninggal ini?" tanya Noah, karena sekarang ini dia yang paling waras. Sedangkan Natan malah berbicara sendiri dengan nada sedih.
"Silahkan!"
Noah pun memberanikan diri untuk membuka tirai. Namun, dirinya yang memang phobia dengan yang namanya darah pun akhirnya memilih menutup penutup pasien itu kembali setelah membukanya sedikit.
"Beneran Qiara?" tanya Natan.
"Gue gak tau kak! Kan kakak sendiri tahu, kalau gue itu ada phobia darah," sahut Noah.
"Ya elah. Gitu doang sok sokan." Natan terlihat seperti seorang pahlawan kesiangan. Ia terlihat melewati adiknya dan berjalan menuju brangkar itu.
Sementara para tenaga medis yang lain yang berbisik melihat tingkah laku abnormal yang di tunjukkan oleh para kembar.
Dengan gerakan yang tampak gagah berani, Natan berjalan ke arah brangkar itu dan juga berniat untuk membuka nya.
Setelah membuka denga lebar, Natan buru buru menutupnya. Bahkan dia langsung berlari ke arah kamar mandi untuk memuntahkan isi yang ada di dalam perutnya.
Sementara Nolan, masih diam mematung. Ia terlihat seperti orang yang memiliki banyak masalah dan juga banyak pikiran.
Noah yang melihat Kakak pertama nya Nolan itu mematung, memilih untuk menghampiri Natan dan menanyakan yang sebenarnya terjadi dan juga siapa pasien yang ada di atas brangkar itu.
"Kok kak Natan malah muntah sih!" tegur Noah.
"Wajahnya jenazah itu hancur. Gue bener benar mual." Jawab Natan.
"Terus itu Qiara bukan?" tanya Noah.
''Gue gak tau lah! Kan tadi gue itu udah bilang, kalau wajahnya itu hancur bukan?" sahut Natan dengan nada suara nyolot.
"Kenapa lo itu gak bertanya saja sama para tenaga kesehatan tadi? Tentang siapa pasien itu?"
"Oh iya ... Iya ... Kenapa tidak terpikirkan sejak tadi," sahut Noah. Ia nampak membenarkan apa yang barusan di katakan oleh Kakak nya Natan.
Saat Noah kembali, para tenaga kesehatan itu ternyata sudah membawa brangkar itu keluar bersama dengan mereka.
"Kalau memang lo itu sudah tiada! Semoga lo itu tenang disana Qiara, maafin kalau gue punya salah," kata Nolan dengan nada lirih yang mana di dengar oleh ke dua adik kembarnya.