"Ambil, ambillah dia! Aku ikhlaskan dia untukmu."
Suara seorang wanita terdengar begitu nyaring ketika berada di depan rumah wanita yang menjadi selingkuhan suaminya.
Didepan keluarga besar sang pelakor dia tak gentar meski pun sendirian.
Hancur hati Arundari saat mengetahui bahwa gadis yang sudah dia anggap sebagai adiknya sendiri itu tega menjadi duri dalam daging pada biduk rumahtangganya.
Tampilannya yang religius sungguh tidak berjalan lurus dengan perbuatannya.
Tak ingin sakit hati terlalu lama, Arundari memutuskan untuk mengakhiri pernikahannya dengan Heri.
Apakah Arundari bisa kembali merasakan cinta setelah dirinya disakiti?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon IAS, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Nah 10
Jelita malam itu juga mengabarkan tentang niat Heri kepada kedua orangtuanya. Bapak dan ibu dari Jelita nampak senang. Entah apa yang dipikirkan oleh kedua orang tua itu.
Seharunya sebagai orang tua yang normal, mereka akan menghalangi putrinya menikah dengan pria yang masih berstatus sebagai suami orang. Tapi mereka tampaknya tidak berpikir demikian.
"Terus maharnya gimana?Udah di sebutin belum sama Heri?" tanya sang bapak kepada Jelita.
"Belum tapi Bapak tenang aja. Mas Heri pasti bakalan ngasih mahar terbaiknya ke aku. Yang peting Bapak cari penghulunya aja dulu. Dua hari lagi Mas Heri akan datang dan kami akan langsung menikah,"jawab Jelita. Raut kegembiraan memenuhi wajahnya. Wanita itu benar-benar senang dan puas akhirnya apa yang diinginkan akan segera terlaksana.
Jelita kemudian kembali ke kamar. Dia lalu mengambil ponselnya dan membuat sebuah status di aplikasi perpesanan.
"Finally, the journey begin."
Begitulah ungkapan rasa senang yang dicurahkannya di status perpesanan. Dan hebatnya lagi, Jelita tidak menyembunyikan status itu dari semua orang. Dimana artinya Arundari yang memiliki nomor handphone milik Jelita juga bisa melihat.
Tapi Arundari yang saat ini tengah menenangkan diri di rumah kedua orang tuanya tidak sedikit pun melihat Handphone. Dia baru saja berbincang dengan Fikri. Perbincangan yang awalanya membuat Arundari was-was karena dipikirnya akan membahas tentang Heri, ternyata tidak seperti yang dipikirkannya. Fikri hanya bertanya seputar kegiatan sang anak ketika berada di kota.
"Kamu nggak pengen apa Neng mengelola perkebunan punya Abah?"
Ya itulah pokok bahasan Fikri kepada Arundari yakni terkait dengan perkebunan yang mereka miliki.
Fikir memang dikenal sebagai juragan karena memiliki perkebunan yang lumayan luas. Belum lagi ditambah dengan milik Lintang yang mana didapat dari warisan keluarganya. Sehingga semakin besar saja perkebunan milik mereka.
Fikri dan Lintang yang hanya memiliki satu anak perempuan akhirnya merasa kebingungan tentang keberlangsungan perkebunan yang mereka punya itu.
"Nanti Arun pikirin ya, Bah."
Hanya seperti itu jawaban Arundari tadi ketika berbincang dengan Fikri. Saat ini dia masih belum bisa memberi jawaban karena pikirannya tengah kacau memikirkan nasib kehidupan rumah tangganya yang diambang kehancuran.
Bahkan sekarang, jam sudah menunjukkan pukul 02.00 dini hari pun Arundari belum bisa memejamkan matanya. Semua kenangan pahit tentang pengkhianatan Heri dan Jelita terus membayang-bayanginya.
"Sampai sekarang pun, aku beneran masih nggak habis pikir. Gimana mereka berdua bisa melakukan ini ke aku. Mas Heri, Jelita, apa kalian sama sekali nggak punya hati nurani."
Air mata Arundari kembali luruh. Mau bagaimanapun tangisnya keluar ketika rasa sakit itu kembali terasa.
"Haah sudah lah,"ucapnya sambil mengusap kedua matanya yang basah. Ia pun mencoba memejamkan matanya, namun ternyata tetap tidak bisa.
Alhasil Arundari memilih untuk bangun lalu duduk di depan meja belajarnya yang masih rapi. Meja belajar semasa dirinya sekolah hingga kuliah itu tak berubah.
"Bener-bener masih awet ya. Nggak kayak pernikahanku," ucapnya sendu.
Arundari mengambil buku yang ada di rak, ia lalu membukanya dan membacanya. Sudah lama dia tidak menyentuh buku seperti ini, dan siapa duga rasanya cukup menyenangkan.
Waktu bergulir tak terasa. Adzan subuh berkumandang, menandakan pagi akan menjelang.
Arundari yang sedang dalam keadaan haid tentu tidak menjalankan kewajiban ibadah sholat. Tapi dia tetap pergi ke kamar mandi untuk mandi.
Keluar dari kamar mandi, Arundari merasa begitu segar. Ia menutup buku yang dibacanya dan mengembalikan ke rak. Lalu hal selanjutnya yang dia lakukan adalah membuka handphone.
Tak ada pesan dari Heri, tapi Arundari juga tidak mengharapkannya. Yang dia lakukan dengan handphonenya adalah meng-scroll media sosial.
Arundari berhenti ketika dia melihat status milik Jelita. Matanya memicing, dan mencoba mengartikan apa kalimat itu.
"Apa ini? Apa maksud kalimat yang dia tulis?"
Arundari terdiam, dia menangkap layar tulisan tersebut. Hampir lima menit ia menatap kalimat itu dan nalurinya sebagai seorang istri pun muncul.
"Halo Fit, aku boleh minta bantuan kamu nggak. Ah sorry karena nelpon kamu pagi-pagi kayak gini."
Ya, Arundari langsung menghubungi Fitri, temannya. Fitri bagi Arundari adalah teman yang sangat baik. Bahkan Fitri juga yang membuka tabir tentang pemikiran Arundari terkait hubungan Heri dan Jelita.
"Nggak masalah Run, aku juga udah bangun dari tadi kok. Kan nyiapin anak-anak sekolah. Ada apa?" jawab Fitri di seberang sana.
"Aku mau minta tolong sama kamu. Tadi aku baca status whatsapp Jelita. Dia bilangnya begini. Aku ... aku ngerasa akan ada sesuatu yang besar. Tapi, aku belum bisa pulang saat ini juga. Jadi aku minta tolong buat kamu nyari tahu apa yang terjadi di sana,"pinta Arundari dengan sangat.
Fitri bisa mendengar permohonan sang teman itu. Dan bagi Fitri tentu saja bukan hal yang sulit.
Saat ini Fitri hanya ingin Arundari menemukan kebenaran yang nyata terkait suami dan wanita yang telah dianggap adik itu. Sebagai teman, Fitri tidak ingin Arundari terlalu lama dikhianati dan sakit hatinya.
Maka dari itu, Fitri dengan senang hati menerima permintaan Arundari.
"Oke, aku bakalan cari tahu. Tenang aja, kamu nggak perlu khawatir, Run,"jawab Fitri.
"Aaah makasih banyak ya, Fit. Aku bakalan balik kalau nggak sore ini yang besok pagi. Tapi yang jelas, Mas Heri nggak ada ngubungin aku dari kemarin. Aku nggak ngarep sih, hanya saja kayaknya dia bener-bener udah nggak peduli. Ini mungkin lebih gampang buat aku lepasin dia,"ucap Arundari.
Fitri tak langsung menanggapi ucapan sang teman. Pasalnya Arundari memang belum bercerita banyak. Dia hanya masih sebatas potongan-potongan saja dalam bercerita. Tapi yang pasti Arundari sudah memberitahunya bahwa Heri benar-benar berselingkuh dengan Jelita.
"Aku doain yang terbaik buat kamu, Run. Yang pasti aku cuma pengen kamu tahu fakta yang ada dan bisa menyelesaikannya. Aku nggak ingin kamu sakit terlalu lama,"jawab Fitri setelah sejenak terdiam.
"Iya Fit, makasih ya. Berkat kamu mata aku jadi terbuka. Kalau kamu nggak ngomong gitu,mungkin aku akan selamanya jadi wanita yang dibodohi oleh suaminya. Sekali lagi terimakasih dan tolong."
Arundari terdiam setelah menutup pembicaraannya kepada Fitri. Dadanya terus saja berdebar hebat. Meski belum mendapat kabar apa-apa tapi Arundari merasa akan ada hal besar yang terjadi di depannya.
"Ya Allah, kuatkan hati, pikir dan juga tubuhku. Teguhkan semua yang ada dalam tubuhku untuk menghadapi cobaan dari mu. Jika memang perjalanan jodoh kami cuma sampai di sini, maka aku akan lepaskan itu semua."
Air mata Arundari menggenang. Ya dia sengaja menumpahkan semuanya sekarang. Dia meluapkan semua itu agar nanti, jika kemungkinan terburuk memang terjadi, maka air mata itu sudah tak lagi akan luruh.
TBC
Ada maksud tersembunyi nih dari Adyaksa😄
Apakah Anis nanti nya akan berjodoh sama Beni yaa..? hhmmm... 🤣🤣