Pernikahan Amel yang sudah di depan mata itu mendadak batal karena calon suaminya terjebak cinta satu malam dengan perempuan lain. Demi untuk menutupi rasa malunya akhirnya Amel bersedia dinikahi oleh pria yang baru dikenalnya di acara pernikahannya tersebut. Revan yang bekerja sebagai hacker itu akhirnya menjadi suami Amel. Serba-serbi unik dua manusia asing yang terikat dalam hubungan pernikahan itu membuat warna tersendiri pada kehidupan keduanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Rens16, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 : Sebuah kisah masa lalu
"Bel, tuh si Bibik dateng buat beberesin rumah, coba lo korek siapa tahu kita dapet informasi penting dari dia, mumpung Amel juga lagi pergi!" perintah Revan kepada Abel.
Abel langsung berdiri dan berjalan ke depan. "Bibik! Ada kopi nggak, Bi?!"
"Eh, Mas Abel! Ada, Mas, bentar Bibik bikinin dulu!" Bibik pun meletakkan kain lapnya dan mulai memasak air di tungku.
"Udah lama banget Abel nggak ke sini ya, Bik!" Abel bergumam sendiri tapi Bibik mendengarnya.
"Iya, sejak Bapak sama Ibu meninggal, Mas Abel jarang banget main ke sini!"
"He em, nggak nyangka banget Om Derry sama Tante Tami meninggal secepat itu!" Abel mengangguk.
"Namanya juga sudah takdir Gusti Allah, Mas!" ucap Bibik sambil menyerahkan secangkir kopi untuk Abel.
"Iya, mana meninggalnya dengan cara begitu lagi! Heran deh kok Om Derry itu nggak ngerawat mobilnya sampai remnya blong!" ucap Abel setelahnya menyeruput kopi itu.
"Dirawat kok, Mas! Malah beberapa hari sebelum kejadian, mobil itu habis dibenerin sama Mas Tatang!"
"Mas Tatang?"
"Iya, montir langganannya Bapak!' Bibik mengangguk.
"Oh. Itu mobil dipakai sendiri ya harusnya terus dirawat sih!"
"Nggak, Mas! Kadang temennya ibu, siapa ya namanya, Bibik lupa, suka pinjem juga!"
Ucapan Bibik tadi membuat Abel langsung siaga. Teman siapa yang dimaksud oleh si Bibik.
"Siapa yang suka minjem? Kok bisa seenaknya gitu?"
"Bibik lupa orangnya, cuman itu orang emang temen sekolahnya Ibu sih!" jawab Bibik semakin membuat Abel yakin ada keterlibatan orang dalam insiden itu.
"Oke deh, Bik, Abel mau kerja lagi, makasih buat kopinya!"
Abel pun keluar dari rumah itu dan kembali ke paviliun. "Gimana?" tanya Revan begitu Abel menginjakkan kaki di lantai paviliun itu.
"Perasaan gue nggak enak nih, Van!" jawab Abel.
"Apa yang Bibik omongin?"
"Katanya tuh mobil baru aja diservis dan suka dipinjem sama temen sekolahnya Tante Tami, kok gue jadi kepikiran si Wewe Gombel ya, Van!"
Revan menyimak penuturan Abel itu lalu otaknya langsung bekerja mencari benang merah dalam kejadian itu.
Revan mengotak-atik komputernya dan mulai masuk ke nomor kontak papanya yang sudah lama dia blokir itu untuk mencari nomor kontak Dewi.
Abel pun memilih menunggu instruksi selanjutnya dari Revan. Karena tak ada yang bisa dikerjakan untuk sementara waktu, Abel memilih memainkan game.
Beberapa jam lamanya Revan tetap berselancar mencari celah agar dia bisa masuk ke sistem ponsel milik Feri tersebut.
"Gotcha!" Revan berseru saat dia bisa masuk ke nomor kontak papanya.
Rentetan obrolan terpampang di layar komputer miliknya.
"Bel, masuk!" perintah Revan meminta Abel untuk bergabung dengannya.
Mereka mengotak-atik nomor kedua orang itu dan berselancar mencari petunjuk yang bisa dijadikan bukti kecurigaan mereka.
Tapi yang namanya kejadian itu sudah lama berlalu, hingga Revan juga mengalami kesulitan untuk menemukan bukti yang dia cari.
"Anjjingg! Pantesan bokap gue klepek-klepek kayak burung terlempar dalam air, ternyata si Wewe semanis itu rayuannya!"
Revan memaki dengan kasarnya karena mendapati kenyataan yang menyakitkan itu.
"Lo kudu kuat-kuat mental, atau rencana kita bakal berantakan!" tegur Abel sambil menyusuri beberapa pesan dan panggilan yang masuk ke dalam kontak Feri.
"Lo coba kirim chat ke si Wewe Gombel itu! Dapat salam dari Tami, Utami Sudrajat nama Tante gue!" Abel berkata lagi.
Revan mengangguk lalu mengirimkan pesan ke nomor ponsel Dewi untuk memancing si ular itu keluar tanduknya.
Revan menunggu cukup lama, rasanya tak sabar untuk mendapat jawaban dari teka-teki itu.
Sementara di tempat lain Dewi bergetar menerima pesan dari nomor yang tak dikenalnya itu.
"Ini kenapa si Tami bangkit dari matinya sih?!" tanya Dewi sambil menggigiti kukunya dengan gelisah.
Kenangan Dewi kembali ke beberapa tahun yang lalu. Utami Putri, teman masa kecilnya yang dijumpai Dewi ketika dia hijrah dari kampungnya untuk mengadu nasib di Jakarta.
Pertemuan mereka terjadi tanpa disengaja, waktu itu Dewi sedang bekerja di sebuah toko kecil dan Tami berbelanja di sana.
Tami yang sejak dulu begitu cantik dan tak ada perubahan yang mencolok pada wajahnya hingga Dewi bisa langsung mengenalinya.
Dewi menyapa Tami, meski pun awalnya Tami tak mengenalinya tapi akhirnya dia pun bisa mengingat jelas teman sekolah dasarnya yang bernama Dewi itu.
Mereka menjalin hubungan baik dan Tami begitu baik tulus membantu Dewi hingga Dewi bisa menyelesaikan studinya yang sempat berhenti di tengah jalan.
Dewi mengantongi ijazah diplomanya hingga dia bisa bekerja pada salah satu perusahaan yang cukup terkenal di kota itu.
Dari sanalah Dewi mengenal Feri Setiawan Difta, seorang petinggi perusahaan yang juga merupakan suami pemilik perusahaan PT. Gemilang Maju Pertiwi.
Dewi begitu terpesona dengan sosok Feri yang tampan, royal dan begitu memujanya itu.
Segala nasihat Tami hanya masuk telinga kiri dan keluar juga lewat telinga kiri yang intinya nasihat itu tak masuk ke otak Dewi sama sekali.
Dewi tetap melanjutkan hubungan itu meski pun status Feri adalah suami orang dan memiliki seorang anak laki-laki bernama Revano Difta tapi Dewi tak peduli.
Sampai akhirnya perselingkuhan mereka terendus oleh Veronika istri sahnya Feri.
Meski pun Vero acapkali menemui dan memohon bahkan akan memberikan imbalan yang cukup besar kepada Dewi andai Dewi meninggalkan Feri, Dewi tetap tak bergeming, dia nekat melanjutkan hubungan itu sambil mencari cara agar dia bisa mengikat Feri dengan status yang jelas.
Sampai akhirnya sebuah kejadian di malam itu menjadi satu-satunya alat untuk Dewi bisa meminta statusnya diperjelas dan dia bisa mendepak istri sah Feri dan mengusirnya dari rumah itu.
Dewi tak peduli omongan siapapun yang membujuknya untuk mundur, termasuk Tami yang terus merangsek Dewi untuk tak mengganggu ketenangan keluarga Feri dan Vero.
Dewi tak peduli yang ada di kepalanya hanya bagaimana menjadi Nyonya Feri Setiawan Difta.
Dewi tak peduli meski pun dia harus menyingkirkan Vero, Tami bahkan Derry Sudrajat suami Tami.
Tuhan saja tak bisa menghentikan keinginannya apalagi hanya sekelas manusia-manusia ingusan yang tak memiliki pengalaman hebat seperti dirinya.
Dewi adalah Dewi yang sejak dulu selalu ambisus dan serakah, segala hal akan dia lakukan termasuk kalau dia harus membunuh Vero, Tami dan Derry.