Tittle : EXPIREDENS
Author : Karamellatee Clandestories
VOL. 1 : Keturunan tanah darah Kutukan
Cerita tentang bagaimana para mahasiswa yang membangun akar dari masalah menghubungkan timbal balik antara masa lalu dan masa depan, terciptanya gelombang tanpa ampunan bagi mereka sang pendosa harus diselesaikan oleh kelima mahasiswa ini. Terjebak antar ruang dan waktu merajalela nyawa satu per satu, nyawa adalah taruhan dan mereka adalah detak jantung dari setiap tragedi yang akan memutarbalikkan fakta.
Pada kenyataannya mereka adalah manusia biasa yang menjadi tokoh utama dari setiap kelam nya masa lalu?
Menyusun harmoni yang ada dalam monarki, disaat semua orang memiliki pemahaman komunisme, fanatisme, dan liberalisme. Sungguh, tekad yang membawa mereka dalam angan-angan kematian. Diiringi kisah pilu, dalam nestapa berdiam diri, goyah oleh setiap godaan ingatan terukir, takkan pernah terkikis oleh waktu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Karamellatee, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
#Bab 02: Teror Awal Asrama [1]
...●◉◎◈◎◉●...
...#1 Original story [@clandestories]...
...#2 No Plagiatrism...
...#3 Polite and non-discriminatory comments...
...•...
...•...
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...
Saka hari ini tidak memiliki kegiatan apapun, dikarenakan mata kuliah nya libur hari minggu membuat nya kosong jadwal dan ditugaskan untuk membangunkan Rakes seperti biasa, menurut dia bangunin Rakes ini cuman masalah iman dan takwa kalo dia kalah sama alasan Rakes berarti dia belum cukup mumpuni untuk mengambilalih tugas.
"Bismillah, semoga rayuan setan dan marabahaya segera pergi atas perlindungan Tuhan. " di depan pintu Saka berdoa dengan khusyuk nya.
Lalu genggaman tangan yang membuka pintu mulai terbuka, bukan pemandangan Rakes yang masih mati suri tapi nyatanya seonggok pemuda yang membuat Saka berdoa itu sedang duduk di kursi menghadap meja belajar nya.
"Loh sak, tumben banget kesini apa jangan-jangan yang lain udah pada pergi?. "
"Iya, yang lain udah pergi duluan tadi. Kata bang Hamu nyuruh bangunin lo dulu soalnya dia ada kerja kelompok. "
"Oh yaudah sebentar turun bareng aja, udah sarapan?" tanya Rakes sekali lagi.
"Belum, ini sekalian aja. "
Disini Saka melihat kalau Rakes sedang membereskan beberapa kertas, tetapi yang membuat nya sedikit heran ada dua kertas lagi dengan sketsa asrama juga seorang perempuan di dalam nya, menurut Saka sendiri sketsa itu terlampau detail padahal Rakes aja disuruh gambar sketsa mobil malah ngga kebentuk sama sekali, hancur banget gambaran nya.
Tapi yang nama nya privasi Saka juga ngga bisa nanya. Dari penglihatannya sendiri perempuan itu terlihat cantik dan anggun, walaupun berbentuk sketsa hitam putih. Selang waktu terperangah hasil sketsa ia termangu dalam kediaman nya sendiri karena Rakes sudah memasukkan seluruh kertas ke dalam laci meja nya, tidak hanya itu ia mengunci dan memberi gembok kecil.
Apa perlu se rahasia itu?.
Rakes mendengar gumaman Saka yang pelan, menyadari ucapan nya terdengar oleh Rakes ia tertegun kembali saat tawa dari Rakes mengalun.
"Oh ini ya? Perlu aja sih..." Rakes memasukkan kunci ke dalam dompet nya, lalu menghampiri Saka. "Soalnya gua pernah kecolongan. "
"Hah, disini ada maling?. " tanya Saka.
Dia agak takut juga kalo beneran ada maling, misalkan yang hilang barang-barang dia bisa di marahin bunda nya.
Tapi rasa waspada nya tidak diperlukan sebab melihat Rakes membuat gestur tangan silang, menandakan tidak ada maling.
"Maksud gua bukan maling juga. Namun, lupain aja keburu sarapan nya dingin. " ucapan Rakes baru saja membuat Saka sadar dengan sarapan di meja dapur.
Tidak ada penolakan apapun, Saka lebih dahulu keluar bersama Rakes yang menghampiri nya. Mereka berdua beberapa kali membahas topik yang ada di sekitar kampus, apalagi Saka pernah bilang kalo dia berminat masuk Himpunan Mahasiswa berhubung Rakes pernah masuk HIMA tapi diangkat jadi BEM kerap kali dia memberi bahan ajaran atau spoiler apa saja yang harus dilakukan para anggota Himpunan di kampus.
Asrama besar itu terlihat damai, di lantai bawah ada dapur serta ruang tamu dan dua kamar milik Kale dengan Saka, sedangkan diatas ada kamar Rakes sebelah kanan, ditengah kamar nya Huma, sebelah kiri kamar milik Zack. Sebelum itu ada satu gudang di belakang rumah, dan satu kamar yang tidak akan pernah disentuh oleh satu orang pun di Asrama karena pemilik tidak mengizinkan mereka mengeceknya.
Overthinking? Jelas, mereka semua pernah membahas seputar kamar itu letak nya agak jauh juga di pojokan berbeda dengan kamar Saka dan Kale yang pintu nya jika dibuka menghadap ruang tamu, kalau kamar ini berada dibawah tangga.
Topik ini tidak dibahas lagi karena kamar itu sama sekali tidak mencurigakan, sampai pada titik Saka menatap dari arah meja makan.
"Rak, " panggil nya mengecilkan suara.
Rakes bingung, ini anak kenapa pelan bener suara nya padahal mereka cuman berdua aja.
"Kunaon?. "
"Kamar itu ngga pernah kita bahas karena memang ngga ada yang mencurigakan, tapi akhir-akhir ini gua ngerasa ada suara orang yang mau dobrak itu kamar. "
"Dobrak?. "
"Iya, kayak ada orang yang ke kunci disana terus mau nge dobrak tuh pintu. "
Ceritanya itu dua hari yang lalu Saka lagi begadang karena project nya, ngga tau kenapa dia denger suara gedebak gedebuk gitu awalnya dia mau ngecek tapi dalam hati ada rasa ngga bener karena ini yang di dobrak bukan dari arah kanan pintu utama, sebaliknya dari arah kiri. Jadi dia deketin telinga nya di pintu, tiap kali suara itu dateng persis kayak orang mau keluar dari kamar tapi ke kunci, berulang sebanyak tiga kali setelah itu hening.
Waktu hening nya itu pas Saka sadar kalo adzan subuh udah berkumandang, karena area Asrama mereka agak jauh dari Masjid jadi Rakes pernah beli alat yang bakalan adzan pas jam nya dan itu bisa satu asrama kedengeran. Buat orang yang bukan islam kayak Zack sama Kale mereka biasa aja, toh adzan malah bikin mereka jadi adem suasananya.
Karena suara adzan dari alat yang dibeliin Rakes suara dobrakan pintu nya berhenti, adzan bergema dalam Asrama. Bukan cuman satu doang yang dibeli Rakes, tapi ada dua alarm adzan yang dia beli.
Kata Zack misalkan Rakes akhlak nya ngga bajingan aja dia bakalan masuk boyfriend material banget, tapi kita belum tau aja kalo Rakes material nya udah bocor dari pabrik.
Saka cerita tentang kejadiannya itu ngebuat Rakes yang tadi nya makan langsung diem, langka juga itu manusia dengerin sampai pasang muka serius begitu biasanya ketawa kayak orang gila.
"Cuman suara dobrakan pintu doang kan? Pokoknya ngga ada embel-embel nangis, nyanyi, sama suara barang pecah. " pernyataan dari Rakes agak bikin Saka bingung tapi dia langsung gelengin kepala kalo cuman denger dobrakan pintu.
"Pintu bawah tangga lagi ya.. "
Saka memperhatikan gerak-gerik senior nya yang cuman beda setahun, sungkan dia tuh kalo cerita sama Zack atau Kale karena berbeda dua tahun apalagi dua orang itu sisi dewasa nya natural banget. Mau cerita ke Hamu tapi malah ngga ada solusi nya, alias Hamu tipe orang pasrah sama keadaan. Satu-satunya jawaban dari segala pertanyaan nya cuman Rakes, namun ngga segampang itu ketemu manusia tak kasat mata kayak dia yang kebanyakan ngga ada di Asrama nginep juga jarang dia punya apartemen sendiri.
Setau Saka, Rakes itu nyewa kamar Asrama cuman buat bantuin UMKM kecil-kecilan dia juga ngga mikirin banyak hal.
Kedua nya sama-sama masuk kedalam pikiran mereka masing-masing, sebelum ada ketukan pintu buru-buru ngebuat mereka berdua langsung ninggalin sarapan di meja dan buka pintu utama yang kehadiran Hamu dengan napas tersengal-sengal.
Dipikir kan itu manusia lagi kerja kelompok, kok cepet bener pulang nya.
Jangan ditanya lagi keadaan Hamu udah kayak orang diciduk polisi, alhasil Saka lari ke dapur buat ngambil segelas air terus lari lagi ke pintu ngasih Hamu minum.
"Pelan-pelan ham, jangan begitu nanti keselek. " Saka menepuk punggung Hamu pelan.
Sementara Hamu minum, Saka melihat Rakes yang masih tidak bergeming memandang lurus entah itu kemana Saka jadi pusing.
"Sak, cepet kunci pintu nya sama semua jendela tutup sekarang. "
Bukan candaan lagi, dari suara Rakes yang tergolong serius cukup membuat Saka tidak banyak bertanya untuk berlari menutup semua jendela jangan lupakan ia juga menarik tirai agar menutupi cahaya matahari.
Dirasa semua nya cukup dan mengecek kamar semua anggota asrama Saka balik lagi ke pintu utama, disana dia bisa mendengar keributan yang disebabkan Rakes beserta Hamu padahal beberapa menit lalu masih adem ayem.
"Mereka bakalan ngincer kita Rak!. "
Saka yang tadi nya mendekat tertegun mendengar suara Hamu, dia perlahan memelankan langkah nya.
"Lo tunggu sini aja, jagain Saka. " terdengar suara Rakes yang serius.
"Bukan begitu bego enak banget lo nyuruh sekarang, gua tanya deh lo mau bunuh mereka?. "
Bunuh? Siapa yang mau dibunuh? Pikiran Saka mulai kacau, di satu sisi dia juga merasakan sakit kepala hebat menyerang nya.
Rakes yang menyadari kedatangan Saka sekaligus perubahan ekspresi itu bergerak cepat memberi sebuah kalung yang ia keluarkan di saku kemeja nya.
"Ham, bukan lo yang mereka targetin.. "
Hamu jadi jengkel denger ucapan Rakes. "Maksud lo gua cuman jadi tumbal mereka?. "
"Mau gimana lagi, kayak nya bukan cuman lo yang jadi tumbal karena darah keturunan. "
"Bentar anjir Rak, lo ngomong ngang ngong ngang ngong begitu maksudnya apa?. "
Cape sebenernya Rakes tuh, mau jelasin tapi Hamu keburu panik pas ngeliat gelagat Saka yang mulai kesakitan.
"Gampang nya, lo dapet asrama yang epic comeback Ham. "
Setelah mengatakan itu Rakes bangkit meninggalkan mereka berdua di pintu, dia juga mengambil kunci Asrama dan mengatakan agar mereka tetap menunggu di dalam selagi dia bernegosiasi banyak hal.
"Keadaan nya Bang Zack sama Mas Kale gimana ya, semoga ngga ada bom jatoh di deket gereja. " gumam Rakes terpikirkan dua manusia itu.
Kalo Hamu denger ucapan Rakes, bisa dipukul pake galon kosong dia.
◉◎◈◎◉
Gereja pagi sudah selesai, tapi sebelum selesai sebagian orang masih ada di dalam gereja termasuk Zack sama Kale mereka lagi ngobrol ringan sama salah satu pastor disana. Kebiasaan juga mana akrab lagi, kadang kalo Zack mau praktek matkul minta doa dulu ke Pastor nya bolak-balik gereja paling rajin dia, maka nya satu gereja pada udah kenal banget manusia ganteng itu.
Kale tugas nya nemenin aja, tapi dia ngga terlalu sering buat ke gereja kalo bukan hari wajib.
Mau selesai ngobrol tiba-tiba aja ada suara bom dari luar ngebuat sebagian orang di Gereja langsung teriak histeris dan ada yang nangis, bukan cuman sekali tapi dua kali bom itu meledak.
Masalahnya kalo itu teroris harus nya yang di targetin bom kan gereja, ini yang meledak cuman di jalanan gereja nya.
Kale sama Zack saling tatap tatapan, abis itu lari mereka berdua kearah pintu. Pastor nya udah teriakin nama mereka, tapi dua orang itu kayak pura-pura budeg ngga dengerin.
Pas mau sampai di pintu utama yang terbuka, mereka bisa ngeliat banyak orang yang nasib nya harus mati karena bom teroris, beberapa bagian terpisah seumpama nya tubuh mereka meledak. Beberapa lagi kena luka berat dan ringan mesti segera ditangani kalo telat antara meninggal juga sama cacat seumur hidup.
"Telpon ambulans Kal, minta bawain tiga sama damkar juga telpon. " ucapan dari Zack menurut nya telat sih soalnya si Kale udah telpon pihak rumah sakit bawain empat ambulans.
Mereka tinggal nunggu damkar sama ambulans, buat polisi udah di telpon pihak gereja.
Pemandangan anti mainstream kayak gini bikin ngelus dada, lebih lucu nya lagi Kale sama Zack ngga ada takut takut nya ngeliat begituan padahal ini pengalaman pertama mereka ngeliat tubuh sama kepala kepisah di depan gereja.
"Bom nya bisa meledak di dua sisi yang berbeda, padahal dia bisa aja bikin meledak satu gereja di dalam sana. "
Zack menatap horor pernyataan Kale. "Kalo di gereja meledak nya kita udah mati goblok. "
Kale balik menatap sinis. "Ini cuman prasangka gua aja, bom meledak gitu juga nyata Zack sekarang gua jadi bisa denger suara Rakes yang berharap ada bom disini. "
Merasa ada yang salah dengan ucapan nya sendiri Kale tidak bisa, tidak mengontrol napas nya.
"Rakes.. Asrama.. Zack, kita mesti lari anjir. "
"Hah, lari kemana!? Ini ditinggalin aja gitu?. "
"Kelamaan udah gua takut yang lain di Asrama kena bom juga. "
Tadi nya Zack mau ngomong lagi tapi keburu ditarik buat lari ke parkiran motor mereka, pake helm sama sarung tangan terus motor langsung di gas si Kale bikin Zack syok sendiri. Bom tadi udah bikin trauma, sementara pikiran darimana Kale bisa berpendapat kalo Asrama mereka bakalan kena bom.
Orang gila kebut-kebutan kayak gini, Zack juga jadi ikutan gas motor nya di jalanan berharap polisi ngga ada sama sekali. Syukur mereka selamat udah jadi rekor hidup, tapi ngajak kebut motor pas siang hari dimana jalanan juga rame.
Belokan dari gang yang bisa diperhatikan Zack, kalo Kale mulai memelankan motor nya bukan pelan lagi dia kayak mau berhenti. Zack yang ikut belok juga jadi kena mental pas ngeliat apa yang dilihat Kale sampai motor nya berhenti gitu.
Konspirasi bom meledak aja bikin trauma?.
Masih kurang, bonus ngeliat Rakes yang lagi seret tubuh manusia dan kepala nya mau putus, udah gitu mau dia bakar deket rerumputan kering yang bisa ditebak itu udah disiapin terlebih dahulu.
Beruntunglah Rakes yang ngeliat Zack sama Kale, coba warga sekitar bisa langsung diamuk satu kampung terus dipukulin massa karena bunuh orang.
"Eh mas Kale sama bang Zack udah pulang gereja? Alhamdulillah ngga kenapa-napa, ayo masuk kunci Asrama nya gua pegang soalnya kalo ngga begitu yang mati jadi banyak. "
Kale emosi nya udah sampai ke ubun-ubun pas denger manusia setan kayak gitu lagi senyum ke mereka, terus ngapus darah di tangan nya pakai sapu tangan yang ngga tau dapet darimana.
"Bocah edan anjing. " umpat Kale pelan melihat Rakes yang masih tersenyum kearah jasad yang dia bakar.
Kali ini Zack setuju, selama ini dia tinggal sama psychopath gila dalam satu Asrama tapi itu bikin Zack jadi tau kalo prasangka dia dari awal ngeliat Rakes langsung to the point ngga ada alasan buat salah.
"Dia beneran setan atau dari setelan pabrik nya gini. "
...⪻ ⋅•⋅⊰∙∘☽༓☾∘∙⊱⋅•⋅ ⪼...