Satu malam di bawah langit Jakarta yang kelam, Alisha hanya ingin melupakan pengkhianatan yang menghancurkan hatinya. Di sebuah lounge mewah, ia bertemu dengan pria asing yang memiliki tatapan sedalam samudra. Damian Sagara. Tanpa nama, tanpa janji, hanya sebuah pelarian sesaat yang mereka kira akan berakhir saat fajar menyingsing. Namun, fajar itu membawa pergi Alisha bersama rahasia yang mulai tumbuh di rahimnya.
Lima tahun Alisha bersembunyi di kota kecil, membangun tembok tinggi demi melindungi Arka, putra kecilnya yang memiliki kecerdasan tajam dan garis wajah yang terlalu identik dengan sang konglomerat Sagara.
“Seorang Sagara tidak pernah meninggalkan darah dagingnya, Alisha. Dan kau... kau tidak akan pernah bisa lari dariku untuk kedua kalinya.”
Saat masa lalu menuntut pengakuan, apakah Alisha akan menjadi bagian dari keluarga Sagara, atau hanya sekedar ibu dari pewaris yang ingin Damian ambil alih?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon erma _roviko, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 25
“Simpan saja gaun mahalnya di lemari, karena malam ini bukan kau yang akan berdiri di samping Damian di hadapan seluruh petinggi negeri.”
Perkataan nyonya Raina Sagara membelah keheningan ruang sarapan yang biasanya hanya diisi oleh denting sendok perak. Cahaya matahari pagi masuk dengan berlimpah melalui jendela kristal, menyinari meja marmer yang penuh dengan hidangan mewah. Namun, kehangatan itu tidak sampai ke meja makan.
Alisha duduk mematung dengan cangkir teh yang masih mengepul di tangannya. Damian baru saja meletakkan sebuah amplop tebal berwarna hitam dengan segel lilin berwarna emas di tengah meja.
“Siapa yang mengirim ini, Bu?” tanya Damian dengan nada yang sangat datar.
“Grup Aditama,” sahut Raina sambil menyesap kopinya dengan anggun. "
“Undangan ulang tahun ke 50 perusahaan mereka. Ini bukan sekadar pesta. Ini adalah panggung politik bisnis terbesar tahun ini.”
Damian mengambil undangan itu dan membacanya perlahan. Matanya menyipit saat melihat baris penerima tamu yang tertera di sana.
Tuan Damian Sagara, Calon Istri, dan Putranya.
Undangan itu ditujukan secara spesifik, seolah-olah pihak Aditama ingin memastikan seluruh keluarga inti Sagara hadir tanpa terkecuali.
“Pihak Aditama tidak menyebutkan nama calon istri secara spesifik,” ujar Damian sambil menatap Alisha.
“Karena mereka tahu posisi itu sedang dalam perdebatan!” Raina memukul meja dengan pelan namun penuh penekanan.
“Damian, kau tidak bisa membawa wanita yang baru saja membuat skandal dengan keluarga Wirawan. Harga saham Sagara Group bisa anjlok dalam satu malam jika kau memamerkan Alisha sekarang.”
“Ini bukan tentang saham, Ibu. Ini tentang keluargaku,” balas Damian dengan suara yang mulai meninggi.
“Keluargamu adalah Sagara! Dan Sagara membutuhkan stabilitas.”
Raina menoleh ke arah Alisha dengan tatapan menghina. “Aku sudah menghubungi Clarissa. Dia akan menunggumu di lobi ballroom malam ini. Dia adalah pasangan yang pantas untuk citra kita.”
Alisha hanya bisa menunduk, menatap pantulan wajahnya di atas permukaan teh yang tenang. Luka di hatinya karena penemuan folder Mawar Jakarta semalam belum mengering. Kini, ia harus menghadapi kenyataan bahwa ia kembali dianggap sebagai beban bagi nama besar Sagara. Ia merasa seperti bidak catur yang sedang dipindahkan secara paksa oleh tangan-tangan kekuasaan.
“Kau memintaku membawa Clarissa sebagai pajangan?” Damian tertawa getir.
“Aku memintamu bersikap profesional!” seru Raina. “Alisha bisa tetap di rumah menjaga Arka. Itu posisi yang paling aman bagi semua orang.”
“Aku bukan narapidana yang harus disembunyikan setiap kali ada tamu penting datang.” Alisha akhirnya angkat bicara.
Suara Alisha terdengar bergetar namun tegas. Ia mendongak dan menatap Raina tepat di mata. Keheningan yang sangat pekat menyelimuti ruang sarapan itu selama beberapa detik. Arka, yang duduk di samping Alisha, menghentikan kegiatannya mengoles selai pada roti panggang. Bocah itu menatap ayahnya dengan sorot mata yang menuntut jawaban.
“Kau dengar itu, Damian? Dia mulai berani membantah.” Raina mendengus remeh.
Damian berdiri dari kursinya. Ia merapikan jasnya dengan gerakan yang sangat tenang namun penuh intimidasi. Ia berjalan mendekat ke arah Alisha dan meletakkan tangannya di atas bahu wanita itu. Alisha merasa tubuhnya sedikit menegang, teringat pada foto-foto spionase yang ia lihat semalam.
Namun, genggaman Damian terasa sangat kuat dan posesif.
“Alisha akan datang ke pesta itu,” ujar Damian dengan suara yang sangat berat dan menggema.
“Damian! Jangan gila!” Raina berdiri dengan wajah merah padam.
“Dia akan datang bersamaku dan Arka,” lanjut Damian, mengabaikan protes ibunya. “Dan dia tidak akan datang sebagai pengiring. Dia akan memakai kalung Blue Heart dan seluruh set berlian Sagara yang paling mahal dari brankas utama.”
Alisha tersentak hingga hampir menjatuhkan cangkirnya. Berlian Sagara adalah warisan turun-temurun yang hanya boleh dipakai oleh nyonya besar keluarga itu. Dengan memerintahkan Alisha memakainya, Damian sedang mendeklarasikan secara terbuka siapa pemegang takhta di rumah ini.
“Kau akan memakaikan perhiasan leluhur pada wanita ini?” Raina berteriak histeris. “Itu adalah penghinaan bagi sejarah kita!”
“Sejarah kita dibangun di atas keberanian untuk mengambil keputusan, Ibu.” Damian menatap ibunya dengan sorot mata yang tak tergoyahkan.
“Pihak Aditama ingin melihat calon istriku. Dan Alisha adalah satu-satunya wanita yang menyandang gelar itu di hatiku.”
“Kau akan menyesali ini, Damian,” ancam Raina sambil menghentakkan kakinya pergi meninggalkan ruang sarapan.
Suasana kembali menjadi sunyi, namun ketegangan masih terasa seperti listrik di udara. Damian menunduk ke arah Alisha. Ia mencoba menyentuh pipi Alisha, namun Alisha sedikit menghindar. Rasa sakit hati karena dikhianati selama enam tahun masih terlalu nyata bagi Alisha.
“Kenapa kau melakukan ini, Damian?” bisik Alisha. “Setelah semua rahasia yang terbongkar, kau pikir perhiasan mahal bisa memperbaiki semuanya?”
“Aku melakukan ini agar dunia tahu bahwa kau tidak tersentuh,” jawab Damian. “Dan agar kau tahu bahwa aku tidak akan pernah membiarkan orang lain menggantikan posisimu.”
“Kau melakukannya untuk egomu sendiri.” Alisha berdiri dan menarik tangan Arka.
Alisha berjalan meninggalkan Damian yang masih berdiri mematung di samping meja makan. Ia membawa Arka kembali ke lantai atas, merasa sesak oleh perhatian yang diberikan Damian. Baginya, berlian itu hanyalah rantai lain yang lebih berkilau. Ia merasa Damian sedang mencoba membeli maafnya dengan kemewahan yang tidak pernah ia minta.
Sesampainya di kamar, Alisha duduk di tepi tempat tidur dengan perasaan yang sangat hancur. Ponselnya yang terletak di atas meja rias bergetar singkat. Ada sebuah pesan masuk dari nomor yang tidak dikenal. Alisha mengerutkan kening dan membuka pesan tersebut.
“Datanglah ke pesta malam ini, Alisha. Jangan biarkan Damian membungkammu dengan berlian itu.”
Alisha membaca baris pertama dengan nafas yang tertahan.
“Aku punya rekaman video malam itu di Jakarta. Malam saat semuanya dimulai. Malam yang Damian sembunyikan darimu selama enam tahun ini. Kau tidak akan ingin melihatnya bersama Damian di depan umum, bukan? Datanglah dan temui aku di taman belakang ballroom pukul sembilan malam.”
Pesan itu diakhiri dengan sebuah nama yang membuat jantung Alisha seolah berhenti berdetak.
Clarissa.
Alisha meremas ponselnya dengan tangan yang gemetar. Video malam itu? Malam di Jakarta enam tahun lalu adalah kepingan puzzle yang paling buram dalam ingatan Alisha. Namun, pesan Clarissa menyiratkan sesuatu yang jauh lebih gelap.
“Ibu, apa Ibu baik-baik saja?” tanya Arka yang sedang memperhatikan ibunya dari ambang pintu kamar.
Alisha segera menyembunyikan ponselnya di balik bantal. Ia mencoba memaksakan sebuah senyuman, namun matanya tidak bisa berbohong.
“Ibu baik-baik saja, Sayang. Hanya sedikit lelah.”
“Ibu sedang takut pada nenek atau pada ayah?” Arka mendekat dan menggenggam tangan Alisha.
“Ibu tidak tahu, Arka. Dunia ini terasa semakin rumit,” desah Alisha.
Arka diam sejenak, lalu menatap layar tabletnya yang masih menyala.
“Ayah sudah memerintahkan tim keamanan untuk menyiapkan lima mobil lapis baja untuk malam ini. Dia sangat serius ingin melindungimu. Tapi Ibu benar, dinding ini tetap terasa seperti penjara.”
Alisha memeluk Arka dengan sangat erat. Ia menyadari bahwa undangan ke pesta Aditama Group ini bukan sekadar acara sosial. Ini adalah sebuah jebakan yang sudah disiapkan dari berbagai sisi.
Damian ingin memamerkannya, Raina ingin menjatuhkannya, dan Clarissa memegang kunci rahasia yang bisa menghancurkan sisa-sisa kepercayaannya pada Damian.
Sore harinya, dua pelayan masuk ke kamar Alisha dengan membawa sebuah kotak beludru besar berwarna merah tua. Saat kotak itu dibuka, cahaya dari berlian Blue Heart seolah membutakan mata. Kalung itu memiliki permata biru raksasa di tengahnya yang dikelilingi oleh ratusan berlian putih kecil. Keindahannya sangat luar biasa, namun bagi Alisha, benda itu tampak seperti seutas tali gantung yang terbuat dari batu mulia.
“Tuan Damian meminta Anda untuk mulai bersiap, Nyonya,” ujar salah satu pelayan dengan hormat.
Alisha menatap pantulan dirinya di cermin besar. Ia mengenakan gaun sutra hitam tanpa lengan yang sangat elegan, kontras dengan kilauan berlian di lehernya. Ia tampak seperti seorang permaisuri, namun di dalam hatinya, ia merasa seperti seorang mata-mata yang sedang bersiap masuk ke dalam sarang musuh.
Pukul tujuh malam, rombongan Sagara mulai bergerak menuju hotel bintang lima tempat acara berlangsung. Damian duduk di samping Alisha dalam mobil limusin yang kedap suara. Ia terus menggenggam tangan Alisha, seolah takut Alisha akan menghilang begitu pintu mobil dibuka.
“Kau sangat cantik malam ini,” bisik Damian.
“Kecantikan ini hanya topeng, Damian. Kita berdua tahu itu,” sahut Alisha tanpa menoleh.
“Aku akan memastikan tidak ada seorang pun yang menyentuhmu malam ini.” Damian mengabaikan sindiran Alisha.
Mobil berhenti di depan lobi hotel yang sudah dipenuhi oleh jurnalis dan lampu kilat kamera. Saat Damian keluar dan membukakan pintu untuk Alisha, suara riuh rendah langsung terdengar dari kerumunan.
Alisha melangkah keluar dengan kepala tegak, namun tangannya meraba ponsel di dalam tas kecilnya. Video yang dijanjikan Clarissa terus membayangi pikirannya.