"Ayah, kenapa Nin dipakaikan baju pengantin? Nin kan besok mau ujian matematika..."
Kalimat polos Anindya (10 tahun) menjadi pisau yang menyayat hati Rahardian. Demi melunasi hutang nyawa dan harta pada keluarga kaya di kota, Rahardian terpaksa menjual masa depan putri tunggalnya.
Anindya dibawa pergi, meninggalkan bangku sekolah demi sebuah pernikahan dini yang tidak ia pahami.
Di rumah mewah Tuan Wijaya, Anindya bukanlah seorang menantu. Ia adalah pelayan, samsak kemarahan ibu mertua, dan mainan bagi suaminya yang sombong, Satria.
Namun, di balik tangisnya setiap malam, Anindya menyimpan sebuah janji. Ia akan terus belajar meski tanpa buku, dan ia akan bangkit meski kakinya dirantai tradisi.
Ini adalah kisah tentang seorang bocah yang dipaksa dewasa oleh keadaan, dan perjuangannya untuk kembali menjemput martabat yang telah digadaikan ayahnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Mbak Ainun, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 27: Belati di Balik Berkas
Bab 27: Belati di Balik Berkas
Lantai basement dua PT Mega Konstruksi terasa lebih dingin dari biasanya pagi itu. Anindya duduk mematung di meja kerjanya yang dikelilingi oleh benteng tumpukan map cokelat. Di kepalanya, suara Herman Prasetyo yang mengancamnya kemarin sore masih terngiang jelas. Herman pikir ia bisa menakuti gadis yang menghabiskan delapan tahun hidupnya di bawah intimidasi Nyonya Lastri. Namun, Herman melakukan satu kesalahan fatal: ia meremehkan daya ingat Anindya terhadap angka.
Selama semalam suntuk di apartemen, Anindya tidak tidur. Ia menggunakan akses awal yang diberikan Meta untuk membedah data digital perusahaan. Dengan ketelitian yang nyaris tidak manusiawi, ia mencocokkan setiap tanggal kekalahan tender PT Mega Konstruksi dengan catatan kunjungan tamu di kantor pusat Wijaya Group—data yang sempat ia curi dari komputer Satria bulan lalu.
"Ditemukan," bisik Anindya.
Setiap kali PT Mega Konstruksi kalah tender, Herman Prasetyo tercatat melakukan "pertemuan luar kota" yang tidak pernah dilaporkan rincian biayanya secara jelas. Dan di saat yang sama, sebuah rekening anonim di bank luar negeri menerima transfer dalam jumlah kecil namun rutin dari perusahaan cangkang milik Tuan Wijaya.
Anindya tahu ia tidak bisa langsung melaporkan ini ke Pak Arman hanya dengan kata-kata. Ia butuh bukti fisik. Ia tahu Herman menyimpan salinan kontrak "bawah tangan" itu di suatu tempat di kantor ini. Orang seperti Herman biasanya terlalu sombong untuk memusnahkan bukti keberhasilannya; mereka suka menyimpannya sebagai "asuransi" jika suatu saat Tuan Wijaya mengkhianati mereka.
Pukul sepuluh pagi, Anindya melihat Herman keluar dari lift dan berjalan menuju ruang direksi di lantai atas. Ini adalah kesempatannya. Anindya bangkit, membawa setumpuk folder kosong sebagai kedok, dan menuju lantai lima—wilayah kekuasaan Herman.
Ia tahu Meta sedang sibuk di gudang arsip belakang, jadi tidak ada yang mengawasi gerak-geriknya. Di lantai lima, suasana jauh lebih mewah. Karpet tebal meredam langkah kakinya. Ia berjalan menuju ruang kerja Herman dengan wajah yang sangat datar, seolah-olah ia hanya staf pengantar dokumen biasa.
"Maaf, Pak Herman sedang rapat?" tanya Anindya pada sekretaris Herman, seorang wanita muda yang tampak lebih sibuk dengan ponselnya daripada tumpukan berkas di meja.
"Iya, rapat direksi. Ada apa?" jawab sekretaris itu tanpa menoleh..
"Pak Arman minta saya mengambil berkas Proyek Sukasari tahun 2013 yang katanya ada di meja Pak Herman. Beliau butuh segera untuk bahan rapat," ucap Anindya dengan nada yang sangat meyakinkan. Menggunakan nama Pak Arman adalah kunci; tidak ada yang berani membantah perintah manajer operasional bertangan besi itu.
Sekretaris itu mendesah malas. "Ya sudah, masuk saja. Cari sendiri di meja kerjanya. Tapi jangan lama-lama."
Anindya masuk ke dalam ruangan Herman yang beraroma cerutu dan parfum mahal. Ia tidak punya banyak waktu. Ia segera menuju meja kerja kayu jati yang besar itu. Ia tidak mencari di laci utama yang terlihat jelas. Matanya mencari sesuatu yang tidak simetris. Di bawah meja, ia menemukan sebuah brankas kecil portabel yang disembunyikan di balik panel kayu.
Sial, pakai kode digital, batin Anindya.
Ia mencoba berpikir cepat. Apa kode yang digunakan pria narsistik seperti Herman? Tanggal lahir? Terlalu umum. Nomor pegawainya? Mungkin.
Anindya mencoba memasukkan tanggal kemenangan tender terbesar Wijaya Group yang melibatkan Herman: 15-08-13.
Klik.
Pintu brankas terbuka. Anindya merasakan gelombang kemenangan menyapu dirinya. Di dalamnya, ia menemukan sebuah buku agenda hitam kecil. Ia membukanya dengan cepat dan menemukan daftar aliran dana keluar-masuk yang ditulis tangan dengan sangat rapi—lengkap dengan stempel perusahaan bayangan Tuan Wijaya.
Anindya mengeluarkan ponselnya dan mulai memotret setiap halaman dengan kecepatan tinggi. Tangannya sedikit gemetar, bukan karena takut, tapi karena adrenalin yang memuncak. Begitu selesai, ia mengembalikan buku itu tepat di posisi semula dan menutup brankasnya.
Tepat saat ia hendak melangkah keluar, gagang pintu berputar.
Herman Prasetyo masuk ke dalam ruangan. Ia tertegun melihat Anindya berdiri di depan mejanya. Wajah Herman seketika berubah menjadi merah padam.
"Apa yang kau lakukan di ruanganku, Pelayan Kecil?!" bentak Herman. Suaranya menggelegar, membuat sekretaris di luar tersentak.
Anindya tidak bergerak. Ia memegang folder kosong di tangannya dengan tenang. "Pak Arman meminta dokumen Sukasari 2013, Pak. Sekretaris Bapak mengizinkan saya masuk."
Herman mendekat, matanya menatap tajam ke arah brankas di bawah mejanya, lalu kembali ke arah Anindya. "Kau pikir aku bodoh? Aku tahu siapa kau sebenarnya. Kau adalah tikus yang dikirim Satria untuk mengendus urusanku, kan?"
Herman mencengkeram kerah kemeja Anindya, mengangkatnya sedikit hingga kaki Anindya berjinjit.
"Dengar, Nduk. Aku sudah menyingkirkan orang-orang yang jauh lebih hebat darimu. Kalau kau berani membocorkan apa pun yang kau pikir kau temukan, aku akan memastikan bapakmu yang lumpuh itu berakhir di dasar sungai."
Anindya menatap mata Herman tanpa rasa takut sedikit pun. "Anda tahu, Pak Herman... orang yang mengancam biasanya adalah orang yang paling takut. Dan saat ini, detak jantung Anda terdengar sangat cepat di telinga saya."
Herman hendak melayangkan tamparan, namun sebuah suara berat dari pintu menghentikannya.
"Herman! Apa-apaan ini?!"
Pak Arman berdiri di sana dengan wajah sangat keras. Di belakangnya, Meta tampak pucat.
"Gadis ini mencoba mencuri dokumen rahasia di ruanganku, Arman! Dia mata-mata!" teriak Herman sambil melepaskan cengkeramannya.
Anindya terbatuk sejenak, merapikan kemejanya, lalu menatap Pak Arman. "Saya tidak mencuri, Pak. Saya justru menemukan apa yang Bapak cari selama ini. Penyebab kenapa PT Mega Konstruksi selalu gagal dalam tender besar."
Anindya menyerahkan ponselnya yang sudah menampilkan foto-foto buku agenda hitam Herman kepada Pak Arman.
Ruangan itu seketika menjadi sunyi senyap. Pak Arman mengambil ponsel itu, menggeser layarnya satu per satu. Wajahnya yang semula marah berubah menjadi sangat dingin. Ia menatap Herman dengan tatapan yang bisa membekukan air.
"Jadi ini alasan kenapa kau selalu meminta libur saat pengumuman tender, Herman?" tanya Pak Arman dengan suara rendah yang mematikan. "Kau menjual strategi perusahaan kita kepada Wijaya hanya untuk komisi dua persen?"
Herman tergagap. "Arman, itu... itu fitnah! Dia memanipulasi foto itu!"
"Buku aslinya ada di brankas di bawah meja Anda, Pak," sela Anindya dengan tenang. "Kodenya adalah tanggal kemenangan Wijaya di proyek jembatan layang."
Pak Arman tidak butuh penjelasan lebih lanjut. Ia memanggil petugas keamanan. "Bawa Herman ke ruang rapat tertutup. Jangan biarkan dia membawa apa pun. Dan panggil pengacara perusahaan. Kita akan melakukan audit forensik sekarang juga."
Herman diseret keluar sambil terus memaki Anindya, namun Anindya hanya berdiri diam. Ia melihat sosok Herman yang hancur, dan ia menyadari bahwa ini baru satu bidak kecil yang tumbang. Masih ada raja dan ratu di rumah mewah sana yang harus ia hadapi.
Sore harinya, setelah badai di kantor mereda, Pak Arman memanggil Anindya kembali ke ruangannya.
"Kau punya keberanian yang gila, Anindya. Tapi kau juga punya bakat yang menakutkan," ucap Pak Arman sambil memberikan kembali ponsel Anindya.
"Herman sudah 'selesai'. Dia akan menandatangani pengunduran diri dan penyerahan aset jika dia tidak mau kasus ini masuk ke kepolisian. Tapi kau tahu kan, ini berarti kau sudah resmi menyatakan perang pada Wijaya Group?"
"Saya sudah berperang dengan mereka selama delapan tahun, Pak. Hari ini saya hanya baru mulai mencetak angka," jawab Anindya.
"Bagus. Mulai besok, kau pindah dari lantai basement. Kau akan duduk di lantai lima, tepat di samping ruanganku. Aku butuh mata seperti matamu untuk membersihkan sisa-sisa pengikut Herman di sini."
Anindya keluar dari ruangan Pak Arman dengan perasaan lega yang asing. Untuk pertama kalinya dalam hidupnya, ia merasa memiliki kekuatan. Ia tidak lagi hanya menghitung piring yang pecah atau menyapu lantai yang kotor. Ia sedang menghitung hari-hari kejayaan keluarga Wijaya.
Namun, saat ia sampai di lobi gedung, sebuah mobil sedan hitam sudah menunggunya. Kaca jendela turun, menampilkan wajah Nyonya Lastri yang tampak sangat murka di balik kacamata hitamnya.
"Naik, Anindya. Atau kau ingin aku menunjukkan pada semua orang di gedung ini siapa kau sebenarnya?"
Anindya menatap mobil itu. Ia tahu, langkahnya menjatuhkan Herman telah sampai ke telinga Sang Ratu Iblis. Pertempuran di dalam kantor mungkin selesai, tapi pertempuran di jalanan baru saja dimulai.
"Babak baru, Nyonya," gumam Anindya sambil melangkah masuk ke dalam mobil musuhnya tanpa ragu.