Liora merasa dunianya runtuh dalam semalam. Baginya, Raka adalah pelabuhan terakhir, dan Salsa adalah rumah tempatnya bercerita. Namun kini, kenyataan pahit menghantamnya tanpa ampun; dua orang yang paling ia percayai justru menusuknya dari belakang dengan cara yang paling hina. Kepercayaan yang ia jaga setinggi langit, kini hancur berkeping-keping di bawah kaki tunangan dan sahabatnya sendiri.
Liora tidak pernah menyangka bahwa prinsip yang ia pegang teguh untuk menjaga kehormatan di depan Raka, justru menjadi celah bagi Salsa untuk masuk dan mengambil alih segalanya. Bagai sebuah ironi, Liora memberikan kasih sayang yang tulus, namun dibalas dengan perselingkuhan yang dilakukan tepat di belakang punggungnya.
Apakah Liora akan tetap diam dan pura-pura tidak tau atau ia akan membalaskan dendamnya kepada kedua manusia yang telah mengkhianatinya...
Penasaran ayok ikuti kisah selanjutnya!
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Jing_Jing22, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 35 Kerja sama tim
Salsa bergegas bersiap untuk menemui ibu tirinya. Meski hatinya dipenuhi kekesalan, ia tahu tidak punya pilihan selain patuh. Sebelum pergi, ia menatap Raka sejenak dengan tatapan manjanya.
"Sayang, sepertinya aku harus pulang sekarang. Ada hal penting yang ingin Mama bicarakan padaku." ucap Salsa, lalu mendaratkan kecupan singkat di pipi Raka.
Raka memberikan anggukan kecil dan senyum tipis. "Baiklah, hati-hati di jalan ya, Sayang."
Namun, begitu Salsa melangkah keluar dan pintu apartemen tertutup rapat, senyum di wajah Raka menghilang seketika. Ia menatap kosong ke arah Salsa pergi.
"Aku merindukanmu Li." batin Raka, lalu mengusap wajahnya dengan kasar.
Di sisi lain kini Salsa dengan langkah berat, ia meninggalkan apartemen Raka—satu-satunya tempat di mana ia merasa bisa menjadi dirinya sendiri.
Ia berjalan menyusuri koridor yang sunyi hingga tiba di basement tempat mobilnya terparkir. Tanpa membuang waktu, Salsa langsung masuk ke dalam mobil, menghidupkan mesin, dan melesat pergi meninggalkan area gedung tersebut.
Selama perjalanan, ia tidak henti-hentinya menggerutu. Cengkeraman tangannya pada kemudi semakin erat, menyalurkan rasa frustrasi yang memuncak.
"Sampai kapan aku harus terus menuruti perintahnya?!" teriak Salsa frustrasi.
Setelah lima belas menit berlalu, Salsa akhirnya sampai di kediaman ayahnya, Bisma. Ia turun dari mobil dengan tergesa, melangkah cepat masuk ke dalam rumah untuk menghampiri ibu tirinya.
Sesampainya di ruang tamu, ia disambut oleh pemandangan yang selalu membuatnya muak. Siska duduk di sana, menyesap wine dengan tenang sembari menyilangkan kakinya dengan angkuh. Tatapannya tajam, seolah sedang menyusun rencana besar di kepalanya.
Salsa perlahan melangkah mendekat, namun sebelum ia sempat membuka suara, Siska sudah mendahuluinya.
"Nggak perlu basa-basi." ucap Siska dengan suara dingin yang menusuk. Ia meletakkan gelasnya perlahan, lalu menatap Salsa lurus. "Hari ini Prayudha ada di rumah sakit. Cari cara untuk membuatnya menjauh dari anak dan istrinya."
Siska mengatakannya dengan nada perintah dan tegas, tanpa memberikan ruang sedikit pun bagi Salsa untuk membantah.
Diam-diam Salsa meremas gaun di samping tubuhnya, ia menetap Siska dengan tajam. Jika ia menuruti perintah Siska, itu artinya ia harus berhadapan langsung dengan keluarga Liora—orang-orang yang sangat membencinya atas pengkhianatan yang telah ia lakukan.
"Tapi... bagaimana caranya aku membuat mereka menjauh?"
"Bodoh! Hal sekecil itu saja masih kamu tanyakan?" cibir Siska dengan nada menghina.
Ia bangkit dari tempat duduknya, melangkah perlahan mendekat ke arah Salsa. "Gunakan apa yang kamu punya, Salsa. Air mata buayamu, atau kalau perlu, buat sebuah kekacauan kecil yang memaksa anak dan istrinya harus menjauh darinya. Aku tidak peduli bagaimana caranya, yang aku mau adalah hasilnya."
Salsa hanya bisa menunduk dalam, menyembunyikan kilatan kemarahan di matanya.
"Sial! Selalu saja seperti ini. Ingin sekali aku menjambak rambutnya sampai habis." batin Salsa geram, memaki ibu tirinya di dalam hati.
Ia menarik napas panjang, mencoba meredam gejolak emosi yang nyaris meluap. Meski hatinya menjerit ingin melawan, Salsa sadar bahwa saat ini ia belum cukup kuat untuk menentang wanita di hadapannya itu.
"Baik, aku mengerti." putus Salsa akhirnya dengan nada pasrah.
"Bagus. Kenapa tidak dari tadi? Kamu terlalu banyak berpikir." cibir Siska sambil menyunggingkan senyum kemenangan. Ia melangkah semakin mendekat, menatap Salsa dengan tatapan merendahkan.
"Anggap saja ini bayaran karena aku sudah membantumu meredam awak media atas skandal perselingkuhanmu itu. Tanpa bantuanku, namamu sudah hancur di luar sana, Salsa." bisik Siska tanpa perasaan dengan penuh penekanan.
Jika di kediaman Bisma, Salsa dan Siska tengah menyusun rencana licik untuk memecah belah keluarga Liora.
Sementara di tempat lain suasana tampak jauh berbeda.
Liora dan Kevandra kini berada di tengah perjalanan. Waktu sudah menunjukkan siang hari, dengan matahari yang mulai terik. Kevandra mengendarai mobilnya dengan kecepatan sedang, menyusuri jalanan yang membelah daerah pemukiman warga menuju lokasi proyek yang bermasalah.
Di dalam mobil keheningan kembali menyelimuti mereka. Liora menghadap pandangannya ke luar jendela, memperhatikan deretan rumah dan aktivitas warga yang mereka lewati, sementara pikirannya masih dipenuhi oleh kesepakatan "hancur bersama" yang baru saja ia setujui.
Kini mereka telah sampai di lokasi proyek tersebut. Kevandra menghentikan mobilnya beberapa meter dari gerbang lokasi proyek. Di hadapan mereka, suasana tampak kacau. Beberapa warga masih bertahan, melakukan aksi unjuk rasa di bawah terik matahari demi mempertahankan bangunan yang selama ini mereka sebut rumah.
Liora menatap kerumunan itu dari balik kaca mobil dengan perasaan campur aduk. "Sepertinya mereka menolak untuk di pindahkan Kevan." bisik Liora pelan, pada dirinya sendiri.
Kevandra yang mendengar apa yang Liora katakan tidak langsung menjawab. Ia hanya menatap dingin ke arah kerumunan itu, jemarinya masih memegang kemudi mobil dengan erat. "Itulah alasan kita di sini. Untuk memberikan mereka penjelasan dan pengertian, bahwa lahan itu bukan milik mereka."
Kini mereka turun dari mobil dan beberapa warga langsung menghampiri Liora dan Kevandra.
"Maaf, Tuan dan Nona. Kami tetap pada pendirian kami. Kami menolak untuk dipindahkan dari sini!" seru salah seorang pria paruh baya yang tampak sebagai perwakilan warga. Suaranya bergetar antara amarah dan permohonan.
Warga yang lain mulai mengikuti dan mengerumuni Liora dan Kevandra.
Kevandra tetap berdiri tegak dengan ekspresi datar yang sulit dibaca ia menatap para warga yang kini mendekat ke arahnya.
Liora yang berada di samping Kevandra tetap tenang sambil mengamati para warga namun tatapannya tertuju pada satu arah, perlahan ia mendekati kerumunan ibu-ibu yang tengah menggendong anak kecil di bawah terik matahari. Dengan gerakan lembut, ia menuntun mereka menuju tempat yang lebih teduh dan layak. Setelah memastikan mereka nyaman, Liora membalikkan badannya kembali menghadapi para warga dengan tatapan tenang namun penuh empati.
"Saya mengerti alasan kalian menolak." suara Liora terdengar sedikit lebih keras, mencoba meredam kebisingan para warga. "Untuk itu, saya di sini ingin meluruskan bahwa perusahaan kami tidak akan semena-mena memindahkan kalian begitu saja. Kami telah menyiapkan kompensasi yang layak untuk masa depan kalian." lanjutnya dengan nada meyakinkan.
"Tidak! Kami tidak butuh itu!" sahut salah seorang warga dengan nada tinggi, memotong ucapan Liora. "Kalian para orang kaya hanya tahu cara menyelesaikan masalah dengan uang! Ini bukan soal angka, ini soal tempat tinggal kami!"
Suasana kembali memanas. Penolakan itu terdengar lebih keras dari sebelumnya, membuat Liora terdiam sejenak, kemudian ia menatap Kevandra.
Seolah mengerti dari tatapan tersebut, Kevandra memberikan anggukan kecil dan melangkah maju ke samping Liora, memberikan aura kepemimpinan yang kuat.