Seorang gadis bernama bifolla queen zealia atau biasa dipanggil dengan zea, ia jatuh cinta pada pandangan pertama dengan cowok tampan dan populer di sekolahnya, saka zyzenio leonardo atau kerap dipanggil dengan leo. Meskipun leo adalah kakak kelasnya, zea tidak bisa menolak perasaannya. Namun, leo cuek dan tidak peduli dengan keberadaan zea. Zea pun memutuskan untuk mengejar leo dan mencoba mendapatkan perhatiannya. Tapi, apakah leo akan tetap cuek atau mulai menyadari perasaan zea?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Marsanda Marsanda, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Cinta itu buta dan tuli
Zea, chacha dan angel mulai memakan bakso yang telah berada diatas meja, dengan uap tipis mengepul dari kuahnya yang gurih, bercampur aroma bawang goreng dan seledri. Mereka mulai menyuap bakso dan mie perlahan, menikmati setiap rasa yang menghangatkan tubuh.
Tak butuh waktu lama hingga isi mangkuknya berkurang. Zea menghabiskan bakso terakhir dan meneguk sisa kuah sampai tandas. Setelah itu, ia meletakkan sendok dan garpu di dalam mangkuk, menyeka bibirnya dengan tisu, menandakan ia telah selesai makan.
"Jadi gue harus apa sama kak leo?" tanya zea.
Chacha menghela napas pelan. "Justru sekarang lo jangan ngapa-ngapain dulu."
"Kok gitu?" tanya zea.
Chacha langsung menyeringai jahil.
"Pertama, jangan terlalu keliatan nempel terus, cowok itu kadang suka penasaran kalo kita agak susah ditebak."
Angel mengangguk setuju. "Iya, jangan terlalu agresif, coba lebih kalem.”
"Intinya coba deh, lo menjauh dulu dari kak leo." kata chacha.
"WHAT? gue harus jauhin kak leo?" ujar zea dengan kaget ketika mendengar ucapan chacha.
"Iya ze, cuman ini satu-satunya cara." balas angel.
"No no no! gue nggak mau!"
"Nggak lama zea, paling cuma dua minggu atau satu bulan doang." ujar chacha.
"Apa? dua minggu? satu bulan? nggak, nggak! gue nggak mau!"
"Lo mau jadi tumbal cinta terus-terusan kayak gini?" tanya angel.
"Tapi kan kak leo cinta pertama gue, dan gue harus lebih giat lagi berusaha buat dapatin hatinya, bukan malah ngejauhin dia."
"Ze, justru ini kesempatan kita buat tau, dia itu suka atau nggak sama lo!" kata chacha.
"Tapi gue nggak bisa lakuin cara ini, gue bakal ambil jalan gue sendiri."
"Ze lo-
"Ussttt....gue tau jalan yang harus gue ambil dan gue tau apa yang harus gue lakuin." potong zea.
"Dasar keras kepala." kata chacha dengan nada kesal.
"Kita cuman mau bantu lo, ze!" kata angel.
"Gue nggak butuh bantuan oke! gue bisa sendiri." ujar zea dengan tersenyum tipis.
"Lo nggak percaya sama kita ze?"
"Gue percaya sama lo berdua! tapi gue bisa buat keputusan sendiri, dan gue tau apa yang harus gue lakuin."
Zea berjalan menjauh keluar dari kantin, meninggalkan chacha dan angel sambil melambaikan tangan.
"Zae, lo emang keras kepala banget." teriak chacha namun masih terkesan pelan.
"Menurut lagu al-ghazali, cinta itu buta dan tuli! jadi, secapek apapun kita kasih tau nggak bakal didengarin sama dia, malah yang ada masuk kuping kanan keluar kuping kiri!" ujar angel.
****
Zea berjalan menuju lapangan basket di belakang rumahnya sambil membawa kucing kesayangannya, bernama mia. Mia adalah kucing peranakan anggora dengan bulu putih yang lembut dan mata biru yang indah.
Zea duduk dikursi pinggir lapangan basket, lalu mencomot cemilan di atas meja tersebut dengan santai, sesekali ia mengelus mia yang ada dipangkuannya, sambil melirik ke arah raka yang sedang bermain basket bersama temannya.
"Wait, kayaknya gue pernah liat dia deh, tapi dimana ya?" gumam zea sambil menyipitkan mata menatap cowok yang sedang bermain bersama kakaknya.
"Dipasar? nggak mungkin, dia nggak mungkin jualan sayur, hmm....disekolah? bisa jadi sih, mungkin murid kelas sebelah."
Zea terus berpikir tanpa sadar raka sudah berdiri dihadapannya, dengan bola basket ditangannya.
"Lagi mikirin apa?" tanya raka penasaran.
"Ah, nggak papa kok, kak." jawab zea dengan cepat, kaget karena tiba-tiba raka sudah berdiri dihadapannya.
Raka duduk dikursi depan zea.
"Duduk sini, bro!" raka menepuk kursi di sampingnya.
Zea memperhatikan teman kakaknya itu terang-terangan.
"Kenapa dek? lo ngeliat teman kakak kayak ngeliat alien aja." ujar raka.
"Dia teman kakak?" tanya zea.
"Iyalah, siapa lagi?"
"Kayak nya gue pernah liat deh, mukanya familiar banget, tapi dimana ya?" tanya zea.
"Dirumah gua." jawab cowok tersebut.
Raka menatap teman nya lalu kembali menatap zea.
"Ngapain lo kerumah dia?" tanya raka penasaran.
"Dia teman adek gua, angel!" jawab cowok tersebut.
"Lo....lo kakaknya angel?" tanya zea terkejut.
"Iya."
"Oh iya, gue baru ingat, kak romi kan? pantesan nggak asing."
Romi menganggukkan kecil sambil tersenyum.
Zea bergegas menuju kamarnya, ia langsung mengambil ponsel yang sedang di-charger dan menghubungi seseorang.
"Ayo angkat dong!" gumam nya sambil mengetuk meja.
Setelah beberapa kali dering, panggilan tersebut tersambung.
"Halo, kenapa ze?"
"Ngel, gue-
"Ze, kalo lo mau bahas kak leo nanti aja ya, gue mau nelpon kakak gue dulu, soalnya dia belum pulang."
"Siapa juga yang mau bahas kak leo."
"Tumben? kesambet apa lo?"
"Aduh angel, kali ini nggak ada sangkut pautnya sama kak leo."
"Terus? biasanya lo nelpon gue cuma mau ngomongin batu granit itu."
"Kali ini absen dulu."
"Yaudah, jadi lo nelpon gue mau ngomongin apa?"
"Gue cuman mau kasih tau lo, kakak lo ada dirumah gue."
"Hah? kok bisa?"
"Bisalah, kakak gue temannya kakak lo."
"Serius?"
"Iya angel.....ngapain juga gue bohong, emang lo bakal kasih gue helikopter?"
"Helikopter? mobil dorong aja mau?"
"Itu mah gue juga bisa beli."
"Hahaha, dikasih mobil dorong aja udah syukur tau."
"Udah deh gue mau mandi dulu."
"Oke, thanks ya udah info."
"Iya, gue tutup dulu."
"Iya, bye."
Zea menekan tombol berwarna merah untuk menutup panggilan tersebut, dan layar ponselnya kembali ke home screen.
"Astaga, gue lupa." ujar zea, ia menghubungi angel kembali.
Setelah beberapa detik, panggilan tersebut terhubung kembali.
"Halo, ze?"
"Ngel, kirim nomor kak leo dong."
"Tuh kan tadi katanya absen."
"Cepetan ngel."
"Mau ngapain sih?"
"Ya mau nelpon dia lah, mau ngapain lagi."
"Emang lo nggak capek apa?"
"Nggak, gue nggak bakal pernah capek buat dapetin dia."
"Iya lo nya nggak! tapi kita yang capek liatin lo tiap hari ngejer tuh kulkas."
"Namanya juga berjuang! udah kirim sini nomornya."
"Ck, iya."
Ting
Suara notifikasi masuk.
"Udah."
"Makasih ngel."
Zea langsung nenekan ikon merah untuk memutuskan sambungan.
****
Leo duduk di belakang meja yang terbuat dari kaca bening dan besar dengan laptop terbuka didepannya, dia mengetik dengan cepat dan fokus, tatapannya terpaku pada layar sementara jari-jarinya bergerak lincah dikeyboard. Secangkir kopi hitam menemaninya yang diletakkan disamping laptop, aroma kopi yang kuat memenuhi udara diruang tersebut. Dalam keheningan ruangan, hanya ada suara ketukkan keyboard yang terdengar.
Suara dering ponselnya memecahkan keheningan ruangan, intro piano lagu easy on me oleh adele, mengalun lembut dan memikat, tentunya itu menarik perhatian leo dari laptopnya. Ia melihat layar ponselnya dan disana tertera nomor yang tidak dikenal.
Leo mengabaikan panggilan itu, ia kembali fokus mengetik di keyboard laptopnya, membiarkan lagu easy on me terus mengalun berulang kali, namun semakin ia mengabaikan panggilan tersebut semakin nada dering tersebut memecahkan konsentrasinya.
Leo menghela nafas frustasi, tangannya berhenti mengetik sementara ia memandang ponsel yang terus berdering.
"Berapa kali harus nangkring disini?" gumamnya kesal.
Akhirnya setelah beberapa kali berdering, leo mengangkat telepon dengan kesal.
"Siapa?" tanya leo dengan tegas.
Disebrang sana ada keheningan sejenak sebelum suara yang tidak terduga menjawab.
"Pangeran tampan lagi sibuk ya?"
Leo terkejut mendengar suara itu, matanya melebar sedikit, ia memandang ponselnya lebih dekat untuk memastikan nomor yang tertera di layar. Nomor yang tidak dikenal namun suara itu tidak mungkin salah.
"Lo?" ujar leo kesal dengan nada tidak percaya.
"Jangan marah-marah dulu kak! zea kan belum ngomong apa-apa."
"Dapat dari mana nomor gua?"
"Dari angel."
"Nggak usah ganggu gua."
"Zea cuman minta kak leo simpan nomor zea."
"Gua nggak suka ngoleksi nomor orang yang nggak penting"
Angel! sepupunya itu berani sekali membagikan nomor ponselnya dengan orang asing, apa lagi dikirim ke cegil setres kayak zea.
"Tapi kak leo penting buat zea! disimpan ya kak nomor zea! jangan dibuang."
"Nggak penting."
"Kak le-
"Stop! bisa nggak sih nggak usah ganggu gua terus."
"Nggak bis-
Tutt
Tanpa basa-basi lagi, leo menutup panggilan telepon tersebut dengan cepat.
"Cewek setres!!" ujar leo.
Leo meletakkan ponselnya disamping laptop dan kembali fokus pada pekerjaannya.
Setelah sambungan telepon terputus secara sepihak, zea sangat kesal dan geram mendapat perlakuan tersebut namun dirinya tidak kehabisan ide, ia membuka aplikasi instagram di ponselnya lalu mengetik nama cowok tersebut di kolom pencarian di pengikut angel dan profil leo muncul di layar. Zea tersenyum sedikit, lalu menekan tombol "Ikuti".
Dengan sabar zea menunggu notifikasi dari aplikasi tersebut, memantau! apakah akun tadi telah mengikuti dia balik atau belum.
Bersambung