Di dunia ini, semua gedung tinggi secara hukum tidak boleh memiliki lantai 13 atau 4. Namun, seorang pemuda bernama Genta , seorang tukang servis lift yang punya insting tajam, menemukan bahwa lantai-lantai yang "hilang" itu sebenarnya ada secara fisik, tapi hanya bisa diakses dengan kode lift tertentu.
Lantai-lantai tersembunyi ini (Lantai 4.1, 4.2, dst.) adalah kantor pusat "Konsorsium Semesta "organisasi yang mengatur segala hal "kebetulan" di dunia. Mulai dari kenapa sandal jepit selalu hilang sebelah, sampai kenapa harga cabai naik tiba-tiba. Genta tidak sengaja terjebak di Lantai 4.5 dan membawa kabur sebuah "Remote Pengatur Sial".
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon saytama, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Memori
Terowongan MRT yang gelap itu perlahan-lahan berubah. Dinding beton yang tadinya dipenuhi kabel fiber optik kini berganti menjadi dinding bata kusam yang ditumbuhi lumut. Cahaya lampu neon yang berkedip digantikan oleh cahaya temaram lampu jalanan yang kuning dan berbau minyak tanah. Genta dan Sarah keluar dari ujung terowongan, namun mereka tidak lagi berada di stasiun bawah tanah. Mereka berdiri di sebuah gang sempit yang sangat familiar bagi Genta.
"Ini... ini gang rumah saya yang dulu," bisik Genta dengan suara bergetar. Ia menatap deretan rumah petak dengan jemuran yang melambai ditiup angin sepoi-sepoi. "Kenapa kita bisa ada di sini? Sarah, apa sistemnya mengirim kita pulang?"
Sarah memeriksa visor digitalnya yang kini menampilkan banyak peringatan berwarna merah. "Tidak, Genta. Jangan tertipu. Ini adalah Sektor Nostalgia. Karena sistem The Nexus tidak mampu memproses data masa depan yang kamu hancurkan, ia menarik data memori terdalam dari para penggunanya untuk membangun lingkungan. Tempat ini adalah kumpulan memori kolektif orang-orang Jakarta tentang tahun 90-an."
Genta berjalan perlahan, menyentuh tiang listrik besi yang dingin. Semuanya terasa sangat nyata. Ia mendengar suara radio transistor yang memutar lagu lama, suara anak-anak bermain kelereng, dan aroma tumisan bawang dari dapur salah satu rumah. Namun, jika ia memperhatikan lebih dekat, ada bagian-bagian dari rumah itu yang bergetar dan memperlihatkan kode biner di baliknya.
"Aki ada di sini?" tanya Genta.
"Sinyal energinya terdeteksi di sekitar sini. Memori Aki sangat kuat dan kuno, dia seperti mercusuar bagi sektor ini," jawab Sarah sambil berjalan waspada. "Tapi hati-hati, Genta. Di sektor memori, emosi adalah bahan bakar. Jika kamu terlalu larut dalam kesedihan atau kerinduan, datamu akan terserap dan kamu akan menjadi bagian dari dekorasi gang ini selamanya."
Tiba-tiba, dari ujung gang, muncul seorang pria tua yang sedang duduk santai di depan sebuah bengkel radio kecil. Pria itu memakai kaos singlet putih dan sedang asyik memperbaiki sebuah televisi tabung yang layarnya hanya menampilkan semut statis.
"Aki!" teriak Genta kegirangan.
Pria tua itu mendongak, namun matanya kosong. Ia tersenyum, tapi senyum itu terasa kaku, seperti gambar yang diputar berulang-ulang. "Oh, Genta... sudah pulang sekolah? Sini, bantu Aki benerin antena ini. Gambarnya buram, kayak masa depan."
Genta hendak mendekat, tapi Sarah menahan lengannya. "Genta, tunggu! Lihat kakinya!"
Genta menatap ke arah bawah. Kaki Aki tidak menyentuh tanah; kakinya menyatu dengan lantai semen dalam bentuk aliran kode biner yang terus berputar. Aki bukan lagi seorang manusia, dia sedang diproses menjadi 'Data Core' untuk menstabilkan sektor ini.
"Aki, ini saya, Genta! Kita harus pergi dari sini! Dunia ini tidak nyata!" Genta mencoba menyadarkan pria tua itu.
Aki tertawa kecil, suara tawanya terdengar seperti rekaman kaset yang sudah usang. "Nyata? Apa itu nyata, Genta? Di sini tidak ada Konsorsium, tidak ada tagihan listrik, tidak ada lift macet. Di sini kita bisa memperbaiki segalanya selamanya."
Tiba-tiba, langit di atas gang itu retak. Beberapa sosok Debugger muncul, namun kali ini mereka berbentuk seperti petugas ketertiban dengan seragam cokelat tua yang wajahnya tertutup masker gas. Mereka membawa tongkat listrik yang mengeluarkan percikan api biru.
"Sistem mendeteksi anomali emosi yang berlebihan," suara dingin terdengar dari langit. "Sektor Nostalgia harus dibersihkan dari elemen luar."
"Sarah, mereka mengejar kita lagi!" Genta menghunuskan obeng cahayanya.
"Genta, satu-satunya cara menyelamatkan Aki adalah dengan memutus koneksi memorinya dari server ini!" teriak Sarah sambil melemparkan bola energi kecil ke arah para petugas itu. "Kamu harus menghancurkan televisi tabung itu! Itu adalah jangkar data bagi kesadaran Aki!"
Genta ragu sejenak. Televisi itu adalah benda kesayangan Aki dalam memori masa kecilnya. Namun, ia tahu tidak ada pilihan lain. Saat para petugas itu mulai mengepung mereka, Genta berlari menerobos kerumunan. Ia melompat melewati meja bengkel, menghindari pukulan tongkat listrik yang hampir mengenai kepalanya.
"Maaf, Aki! Saya harus benerin ini dengan cara kasar!" Genta mengangkat obeng cahayanya yang kini memanjang menjadi sebilah pedang digital.
"TIDAK! JANGAN AMBIL KETENANGAN INI!" teriak sosok Aki, suaranya berubah menjadi geraman elektronik yang berat.
Genta menghantamkan pedangnya tepat ke tengah layar televisi tabung itu.
*BOOM!*
Ledakan data terjadi. Cahaya putih menyilaukan meledak dari layar televisi, menghancurkan ilusi gang sempit itu. Genta merasa dirinya terlempar ke udara. Suara anak-anak bermain, aroma bawang, dan tiang listrik besi semuanya lenyap seperti debu yang tertiup angin.
Saat cahaya itu meredup, Genta menemukan dirinya berada di sebuah ruang hampa yang luas. Di depannya, Aki berdiri dengan wujud aslinya, tidak lagi terikat pada lantai. Aki tampak lemas, namun matanya sudah kembali fokus.
"Terima kasih, Genta..." bisik Aki sambil terbatuk. "Memori memang penjara yang paling indah. Aku hampir lupa bahwa kita punya tugas yang belum selesai."
Sarah muncul di samping mereka, napasnya tersengal. "Kita berhasil memutus jangkar pertama. Tapi Kenji sudah tahu posisi kita. Lihat ke atas."
Di kegelapan ruang hampa itu, ribuan layar monitor raksasa muncul, menampilkan wajah Kenji yang sedang tertawa. "Selamat, kalian sudah menghancurkan masa lalu kalian sendiri. Sekarang, selamat datang di masa depan yang aku bangun. Sektor selanjutnya: Megalopolis Neo-Jakarta. Tempat di mana manusia hanyalah baterai bagi kemajuanku!"
Genta berdiri tegak, memegang tangan Aki dan Sarah. "Kita sudah melewati selokan, dasar laut, dan sekarang dunia digital. Kenji, tidak peduli berapa banyak sektor yang kamu buat, seorang teknisi akan selalu menemukan cara untuk membongkar mesinmu."
Pintu portal baru terbuka di bawah kaki mereka, menarik mereka masuk ke dalam cahaya neon yang sangat terang. Perjalanan menuju Bab 40 masih sangat jauh, dan tantangan di Neo-Jakarta baru saja akan dimulai.