"Meiji....!" Teriaknya memeluk jenazah putranya.
Pada akhir hidupnya Lily menyadari, semua orang yang ada di sekitarnya adalah pengkhianat. Cinta mereka palsu!
Berakhir dengan kematian tragis.
Karena itu kala mengulangi waktu, dendam seorang ibu yang kehilangan putranya, membuatnya tertawa arogan dan berucap...
"Bukan kamu, tapi aku yang membuangmu."
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon KOHAPU, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Karakter
"Dilan meninggalkan pekerjaannya lagi?" Itulah yang diucapkan oleh seorang pemuda yang telah membawa tas kerjanya.
"Iya... dan harus aku yang mengerjakannya. Jika tidak bisa mengemban jabatan sebagai wakil CEO, Aku tidak mengerti kenapa ibu harus memaksakan adik untuk melakukannya." Neiji menghela nafas kasar.
"Nah, itulah yang ajaib dari ibumu. Jika menyayangi adik maka harus memberikan semua yang terbaik untuk adikmu, sedangkan kamu hanya kebagian hikmahnya saja." Toni (rekan kerja Neiji) menepuk pundaknya."Harus sabar, jadi putra sulung memang begitu." Lanjutnya menertawakan Neiji kemudian melangkah meninggalkan pemuda itu seorang diri di kantor.
Pemuda berkacamata yang kembali fokus pada pekerjaannya. Ini sudah biasa, dirinya terbiasa dengan segalanya. Tangannya bergerak cepat di atas keyboard.
Ada banyak isu tentang kehidupan pribadinya. Pemuda yang terlihat memiliki bekas luka di pipi kanannya ini menghela napas. Begitu banyak isu, entah siapa yang menyebarkannya.
Tapi, ibunya selalu berkata dirinya harus bersabar. Hanya fokus membantu adiknya memperoleh jabatan yang lebih tinggi.
Mungkin satu hal yang tidak dimengerti olehnya. Bukankah hak waris akan dimulai anak laki-laki tertua? Sedangkan adiknya adalah putra ketiga dari ayahnya. Putra kedua berasal dari wanita simpanan.
Ada banyak hal yang ada dalam pikirannya. Tapi satu yang pasti, keluarganya tidak akan mungkin mengkhianatinya bukan?
Tepat pukul 11 malam barulah pekerjaannya selesai. Pekerjaan sebagai direktur rangkap wakil CEO, mengingat bagaimana adiknya yang sering menghilang entah kemana.
Setiap hari hanya bulak balik antara kantor dan rumah. Dirinya bahkan tidak memiliki waktu untuk diri sendiri. Bagaimana bisa terdapat begitu banyak gosip tentangnya?
Sudahlah, lagipula hari ini tidak begitu buruk.
Pemuda yang menipiskan bibir menahan tawanya. Masih mengendarai mobil murah miliknya.
Pada awalnya dirinya hanya iseng membuka salah satu komunitas. Tapi tidak disangka calon adik iparnya ada disana. Terlebih memberikan komentar aneh.
Karena itu, jujur saja, dirinya yang membalas.
'Harus menjadi wanita genit gila-gilaan, menempel padanya seperti hewan musim kawin.'
Pemuda yang jarang tertawa itu pada akhirnya tertawa, mengingat obrolan Lily di komunitas membahas tentangnya.
"Dilan menjalin hubungan diam-diam dengan Silvia (cinta pertama Dilan). Sedangkan tunangannya ingin menggodaku naik ke ranjangnya? Sebaiknya bagaimana ya?" Pemuda yang menyipitkan matanya.
Dirinya membenci adiknya. Tapi sekaligus menyukai tunangan adiknya. Suka dalam artian...
Menghela napas, sama sekali tidak boleh. Ibunya mengatakan untuk selalu mengutamakan adiknya dalam segala hal.
Melangkah turun dari mobilnya kala baru saja sampai di tempat parkir. Hingga rumah besar itu terlihat.
"Aku tidak mau menikah dengan wanita yang bahkan tidak selevel denganku!" Tegas Dilan masih berlutut di hadapan kakeknya.
"Keluarga kita memiliki hutang budi pada keluarga mereka. Kakek sudah berjanji untuk menikahkan kalian suatu hari nanti." Ucap Braja (Kakek Dilan dari pihak ayah).
"Kalau begitu nikahkan saja aku dengan Rini. Walaupun anak angkat dia memiliki karakter yang lembut, begitu baik, tidak seperti Lily yang..." Pemuda yang menghela napas berucap penuh kesungguhan.
Braja menghela napas masih memegang tongkat miliknya. Pria tua yang terlihat begitu berkharisma itu menghela napas seperti memendam sesuatu yang tidak dapat dikatakan olehnya.
"Jika ingin menikah kamu hanya dapat menikah dengan Lily! Rini itu berbeda. Kalau kamu masih ingin warisan dari kakek, nikahi dia!" Tegasnya.
Sedangkan Neiji melangkah masuk tidak peduli. Ini adalah hal yang benar-benar sering terjadi. Hingga...
"Neiji, kakek dengar kamu berhasil membawa Bram untuk bekerjasama?" Tanyanya membuat langkah Neiji terhenti.
"Ya, hanya kebetulan dia mau." Jawab Neiji datar, menghentikan langkahnya sejenak. Tapi hanya sejenak kala pemuda itu hendak kembali melangkah.
"Kakek mempertimbangkanmu untuk menjadi salah satu dari kandidat penerus kakek. Diluar rumor yang beredar kamu cukup memiliki kemampuan." Puji Braja pada cucu sulungnya.
Neiji menghela napas berucap dengan nada sopan sedikit menunduk. Seperti kata ibunya, dirinya harus mementingkan karier adiknya.
"Ini semua tidak lepas dari jasa Dilan. Dia yang ikut berangkat denganku membujuk tuan Bram. Karena itu, mohon kakek mengukuhkan posisi adikku. Itu cukup untukku." Itulah yang diucapkannya, dengan nada pelan dan tenang. Seperti seekor naga yang tertidur, tapi jika suatu hari terbangun mungkin akan dapat melahap apapun.
Braja menyadarinya, dibalik wajahnya yang rusak, Neiji memiliki kharisma yang bahkan terkadang melebihinya. Pemikiran yang matang, juga strategi menjatuhkan lawan. Karena itulah dirinya meletakkan Neiji di bagian marketing. Bagaikan paling inti, dan sulit menurutnya walaupun perusahaan bagaikan suatu tubuh manusia.
Tapi entah mengapa Lisa, menantunya menahan potensi Neiji, untuk selalu melindungi Dilan. Dirinya kesulitan menentukan sikap untuk ini. Karena Neiji tipikal putra yang berbakti pada ibunya.
"Neiji, Kakek akan membelikan mobil baru untukmu. Dan kamu Dilan, kakek harap kamu memikirkan semuanya baik-baik---" Kalimat dari Braja disela.
"Benar kan!? Kakek pilih kasih! Kakek hanya berpihak pada kakak!" Teriak Dilan memendam rasa kesalnya.
"Kakek, aku tidak menyukai mobil baru. Dilan lebih cocok menggunakannya. Mobil keluaran terbaru pajaknya juga akan besar. Aku mulai hari ini mungkin harus menabung. Jadi tidak bisa..." Ucap Neiji menghela napas hendak menaiki tangga menuju lantai dua.
"Menabung!? Menabung untuk apa? Kenapa tiba-tiba!?" Teriak sang kakek pada cucunya.
"Mungkin aku akan menikah?" Neiji berucap pelan, hampir tidak terdengar. Berjalan cepat ke lantai dua.
Tapi Braja mendengarnya, begitu juga dengan Dilan.
Pria yang membulatkan matanya."Kakak akan menikah?" Tanyanya hampir tidak percaya. Tidak mungkin kutu buku sekeras batu itu mengatakan tiba-tiba mungkin akan menikah. Mungkin... Mungkin? Ini gila!
"I...iya...itu yang dia katakan." Gumam sang kakek, meminum sebutir obat penenang.
***
Sementara itu di lantai dua, pemuda yang mulai menarik sisa mengering dari collondion di pipinya. Semacam alat tata rias efek khusus dimana jika mengering seperti efek bekas luka cekung.
Kala terlepas dirinya kembali menatap ke arah cermin. Menghela napas, kala seseorang memasuki kamarnya.
Lisa sang ibu berada di sana.
"Dilan mengatakan kamu akan menikah? Dengan siapa?" Tanya sang ibu pada putranya.
"Dia hanya orang biasa." Jawaban dari Neiji penuh senyuman. Tidak dapat dipungkiri wajah anak ini melebihi Dilan. Sang ibu yang tersenyum memendam amarah.
"Baguslah kalau orang biasa. Ingat satu hal, apapun yang adikmu inginkan harus kamu berikan." Itulah kalimat yang diucapkan oleh Lisa."Karena itulah tugas seorang kakak, jika kamu melakukannya ibu akan tetap menyayangimu."
"Karena itulah tugas seorang kakak, jika kamu melakukannya ibu akan tetap menyayangimu." Neiji berucap hampir bersamaan dengan ibunya. Seolah-olah sudah menghafal nasehat dari wanita ini.
"Bagus, ingat! Tetap pakai kacamatamu, gunakan Collondion untuk membuat bekas luka. Jangan tunjukkan wajah aslimu di hadapan orang lain. Ibu tidak ingin kamu dimanfaatkan orang lain karena wajahmu. Tidak ingin kamu ada dalam bahaya. Karena kamu adalah anak kesayangan ibu..." Lisa memeluk putranya.
Tapi Neiji hanya terdiam tidak membantah. Dirinya tau ini aneh. Kenapa harus seperti ini? Tapi perlahan pantulan wajah tenang itu terlihat menyeringai di cermin. Menyeringai saking senangnya, untuk pertama kalinya dirinya memiliki keinginan, obsesi dan tujuan.
ga mungkin otak nya ketinggalan di selakangan
Lisa...bisa jadi . kakeknya meninggal perebutan kekuasaan
apa Rio? si kelinci manis itu ternyata menyimpan taring.
apa mungkin malah keluarga nya,Rini yg ga puas berebut sama Silvia 😜
ternyata ipar nya😜
kaget donk
sama... reader juga
es batu ternyata bisa meleleh di suhu yg tepat🤣🤣🤣