NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.8k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Suara yang Tak Asing

Siang ini, suara klakson singkat terdengar dari depan rumah. Amira yang sejak tadi berdiri di depan cermin kamar, memeriksa penampilannya untuk kesekian kali, langsung tersentak.

Amira mengenakan dress sederhana warna pastel yang baru saja dia setrika. Rambutnya dibiarkan tergerai rapi, make up tipis nyaris tak terlihat.

Napasnya ditarik dalam, lalu dia melangkah keluar. Mobil Dirga sudah terparkir di depan pagar. Kaca jendela pengemudi terbuka sedikit. Dirga pun melirik ketika Amira mendekat.

“Masuk,” ujarnya singkat.

Amira membuka pintu dengan hati-hati dan duduk di kursi penumpang. Tangannya langsung meremas ujung tas kecil di pangkuannya.

Mobil melaju perlahan meninggalkan rumah. Beberapa menit pertama dipenuhi keheningan. Hanya suara mesin dan lalu lintas siang hari.

Amira terlihat begitu gugup. Punggungnya tegak kaku. Dia menatap lurus ke depan, sesekali mencuri pandang ke arah Dirga, lalu cepat-cepat mengalihkan lagi.

Dirga menyadari itu.

“Kamu tegang?” tanyanya tiba-tiba tanpa menoleh.

Amira tersentak kecil. “Eh nggak, Mas. Aku cuma penasaran Mas mau ajak aku ke mana.”

“Kita cuma makan siang. Bukan mau sidang.”

Amira menunduk malu. “Saya belum pernah, maksudnya, jarang keluar kaya ini.”

Dirga melirik sekilas.

“Sekarang kamu istriku, jadi biasakan.”

Kata itu membuat jantung Amira kembali berdetak tak karuan. Status itu masih terasa seperti pakaian yang kebesaran baginya.

Mobil terus melaju menuju pusat kota. Dirga menggenggam setir dengan lebih santai dibanding pagi tadi.

Sementara di dalam benaknya, rencana tentang tiket ke Tokyo kembali berputar. Dia menoleh sebentar ke arah Amira yang masih duduk canggung di sampingnya.

Tak berapa lama, mobil Dirga berbelok memasuki area parkir basement sebuah mal besar di pusat kota.

Lampu-lampu neon memantul di kap mobil yang mengilap. Dirga memarkir dengan tenang, lalu mematikan mesin.

Amira menatap sekeliling dengan mata sedikit membesar. Dia jarang datang ke tempat seperti ini, apalagi masuk bersama Dirga dalam posisi seperti sekarang.

“Turun!"

Amira mengangguk, lalu mengikuti langkahnya. Mal itu cukup ramai. Aroma parfum, kopi, dan pendingin ruangan bercampur menjadi satu. Orang-orang berlalu-lalang dengan pakaian modis dan langkah percaya diri.

Amira berjalan sedikit di belakang Dirga secara refleks. Dirga menyadarinya, lalu melambat.

“Jangan jalan di belakang terus, sejajar aja.”

Amira tersipu dan mempercepat langkahnya agar sejajar dengannya. Dirga kemudian membawanya masuk ke sebuah restoran yang cukup elegan di dalam mal. Interiornya hangat dengan lampu gantung temaram dan meja-meja kayu tertata rapi. Seorang pelayan menyambut mereka.

“Untuk dua orang,” ucap Dirga tegas.

Mereka dipersilakan duduk di dekat jendela kaca besar yang menghadap ke area atrium. Amira duduk hati-hati, punggungnya kembali tegak dan kaku.

Dirga mengambil menu dan menyerahkannya pada Amira.

“Pilih yang kamu mau.”

Amira menerima buku menu itu dengan tangan sedikit gemetar. Harganya membuat matanya sempat terdiam beberapa detik.

“Mas, ini mahal,” bisiknya pelan.

Dirga menatapnya datar. “Nggak usah dipikirin.”

Amira akhirnya memilih dengan ragu, sedangkan Dirga memesan beberapa menu tambahan tanpa banyak pertimbangan.

Setelah pelayan pergi, keheningan kembali menyelimuti meja mereka. Dirga menyandarkan punggungnya.

“Ada satu hal yang mau aku bicarakan,” katanya tiba-tiba.

Amira langsung menegakkan duduknya.

“Masalah apa?” tanyanya hati-hati.

Dirga menatapnya beberapa detik, sebelum akhirnya berbicara.

“Besok aku mau ajak kamu ke Tokyo.”

Amira yang sedang memegang gelas air langsung terdiam.

“Ke-ke mana, Mas?”

Suaranya nyaris tak terdengar.

“Ke Tokyo, besok pagi.”

Wajah Amira pucat seketika. Bukan karena takut, melainkan karena tak percaya.

Dirga lalu melanjutkan, “Itu sebenarnya tiket bulan madu. Mama yang belikan. Harusnya buat aku dan Celine.”

Nama itu membuat udara di antara mereka berubah.

“Tapi Celine pergi ke Cambridge, dan kalau aku nggak berangkat, Mama pasti curiga.”

Dia berhenti sejenak.

“Aku nggak mau Mama tahu kondisi rumah tangga kami yang sebenarnya.”

Amira menunduk pelan. Sekarang dia paham alasan Dirga mengajaknya pergi.

Dirga mengajak Amira pergi bukan karena keinginannya sendiri. Bukan karena perasaan, tapi karena keadaan.

“Aku tahu ini mendadak, tapi secara status kamu istriku. Jadi wajar kalau kamu yang pergi.”

Wajar, kata yang logis. Namun hati Amira tetap bergetar. Di satu sisi, ada kebahagiaan yang tak bisa dia sembunyikan.

Dia belum pernah ke luar negeri. Apalagi pergi berdua dengan Dirga. Seminggu bersama, di negeri orang, tanpa Celine. Namun di sisi lain, dia sadar. Dia hanya pengganti situasi. Bukan pilihan utama.

Di saat itulah, makanan datang satu per satu. Aroma hangat memenuhi meja mereka. Awalnya suasana masih canggung. Namun perlahan, percakapan kecil mulai mengalir tentang hal sederhana, tentang rasa makanan, tentang betapa Amira belum pernah mencoba menu seperti ini sebelumnya.

Dirga yang biasanya kaku, kali ini terlihat lebih santai. Entah karena keputusan sudah dibuat. Atau karena untuk pertama kalinya dia duduk dengan seseorang yang menatapnya tanpa tuntutan.

Saat sedang makan, Amira tak sadar ada sedikit saus yang menempel di sudut bibirnya. Dirga memperhatikannya beberapa detik.

Tanpa banyak bicara, dia meraih tisu dan secara refleks menyentuh sudut wajah Amira.

“Diam,” katanya pelan.

Amira membeku. Sentuhan itu lembut, dan sangat singkat. Namun cukup membuat napasnya tertahan.

Dirga membersihkan noda kecil itu, lalu menarik tangannya kembali seolah tak terjadi apa-apa.

“Kalau makan jangan terburu-buru,” ujarnya datar.

Namun nada suaranya tidak lagi dingin. Amira hanya bisa mengangguk, wajahnya memerah. Untuk sesaat, makan siang itu terasa seperti kencan sungguhan.

Setelah selesai, Dirga berdiri.

“Kita ke atas,” katanya.

Mereka berjalan menuju salah satu toko pakaian di lantai atas yang menjual koleksi musim dingin. Jaket tebal, coat panjang, sweater rajut, sepatu boots berjajar rapi di etalase.

Amira berhenti di depan mannequin yang mengenakan coat krem panjang.

“Mas, ini mahal banget,” bisiknya pelan saat melihat label harga.

Dirga tidak banyak komentar. Dia mengambil satu coat berwarna soft beige dan menyerahkannya pada Amira.

“Coba.”

Amira ragu. Namun akhirnya dia masuk ke fitting room.

Beberapa menit kemudian Amira keluar dengan coat yang sudah melingkari tubuhnya. Panjangnya pas, warnanya membuat kulitnya terlihat lebih cerah.

Dirga menatapnya cukup lama. Bukan sebatas istri siri, tapi juga sebagai wanita muda yang anggun dan lembut.

“Ambil,” katanya singkat pada pegawai toko.

Amira menatapnya kaget. “Mas, satu saja cukup."

“Kita ke Jepang musim dingin, kamu butuh lebih dari satu.”

Amira akhirnya mengangguk. Dirga kemudian ke arah depan rak coat pria, jemarinya menyentuh bahan wol tebal berwarna gelap. Pikirannya setengah fokus pada pakaian, setengah lagi pada rencana keberangkatan besok pagi.

Sedangkan Amira masih berada di depan cermin besar, mencoba memadukan scarf dengan coat yang tadi dipilihkan Dirga. Lalu, tiba-tiba sebuah suara terdengar memanggil.

“Dirga?”

Tubuh Dirga langsung menegang. Perlahan dia menoleh.

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!