Rayyan sangat risih saat gadis yang mengejarnya mengaku sebagai sahabat masa kecilnya di taman kanak-kanak, oh my god mimpi buruk apalagi di kampus yang elit ini sampai-sampai bertemu dengan gadis yang tak jelas itu.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon mommy ha, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
3)BATASAN YANG HARUS DITETAPKAN
GANGGUAN YANG TIDAK TERKENDALI
Suara tawa dan desisan mahasiswa memenuhi halaman utama gedung Fakultas Ilmu Komunikasi. Rayyan Pratama berdiri di teras gedung, sedang membicarakan persiapan acara Dies Natalis dengan beberapa anggota BEM. Wajahnya yang biasanya tenang dan gagah kini sedikit mengerut karena melihat sosok perempuan yang sedang mendekat dengan langkah yang penuh semangat melewati kerumunan mahasiswa.
Sea Clarissa Putri – mahasiswi tahun kedua yang sejak tiga bulan lalu terus menerus mendekatinya. Ia membawa sebuah wadah kotak berwarna merah muda dengan senyum lebar yang membuat beberapa mahasiswa di sekitarnya menoleh ke arah mereka.
"Kak Rayyan! Aku bawa makanan yang aku masak sendiri lho – ayam bakar dengan bumbu rujak favorit kamu!" ucap Sea dengan suara yang cukup keras, membuat beberapa anggota BEM yang sedang berbincang dengan Rayyan menahan tawa.
Rayyan hanya mengangguk singkat dengan wajah yang tidak menunjukkan emosi apa-apa. "Terima kasih, Sea. Tapi aku sedang sibuk dengan pekerjaan BEM. Kamu bisa memberikan itu pada salah satu anggota saja atau membawanya pulang."
Namun Sea tidak mau menyerah. Ia mendekat lebih jauh, bahkan hampir menyentuh lengan Rayyan yang mengenakan jas hitam. "Tapi aku memasaknya khusus untuk kamu, Kak Rayyan. Sudah lama aku tidak bisa memberimu makanan yang aku masak lho."
Di belakang Rayyan, salah satu anggota BEM yang bernama Rizky mendekat dengan suara rendah yang penuh candaan. "Kak Rayyan, pacarmu lagi datang nih. Kali ini bawa makanan lagi ya?"
"Tidak dia bukan pacarku!" bisik Rayyan dengan nada sedikit marah, membuat Rizky segera mundur dengan menahan tawa. Namun suara mereka cukup terdengar oleh Sea, yang langsung memberikan tatapan sinis pada Rizky.
"Aku bukan pacarnya Kak Rayyan, tapi aku adalah orang yang paling pantas untuknya!" ucap Sea dengan suara yang cukup jelas, membuat beberapa mahasiswa yang sedang lewat berhenti sejenak untuk melihatnya.
Rayyan merasa wajahnya menjadi panas karena rasa malu yang melanda. Sebagai ketua BEM, ia selalu berusaha menjaga citra yang baik dan profesional di depan mahasiswa lain. Namun dengan sikap Sea yang terus menerus menggencarinya di depan umum, ia merasa seperti kehilangan kontrol dan bahkan harga diri nya sebagai pemimpin.
Setelah berhasil meminta Sea untuk kembali dengan cara yang sopan namun tegas, Rayyan kembali ke ruang kerja BEM dengan wajah yang menegang. Anggota-anggota BEM lainnya sudah mulai berkumpul dan tidak bisa menyembunyikan senyum candaan di wajah mereka.
"Kak Rayyan, kamu harus segera menangani masalahnya ya," ucap Dinda – sekretaris BEM dengan senyum licik. "Kalau terus seperti ini, seluruh kampus akan berpikir kamu punya pacar yang terlalu protektif."
"Kalau aku melihatnya, bukan hanya protektif aja Kak," tambah Fahmi – bendahara BEM. "Kemarin aku melihat dia melabrak mahasiswi tahun pertama yang hanya mau bertanya tentang jadwal rapat BEM sama Kak Rayyan. Katanya 'jangan terlalu dekat dengan Rayyan, dia milikku!'"
Rayyan menjatuhkan buku yang sedang dipegangnya ke atas meja dengan suara cukup keras, membuat semua orang menjadi sunyi. "Aku sudah berusaha menghindarinya dan mengatakan dengan jelas bahwa aku tidak punya perasaan padanya! Tapi dia tidak mau mendengarkan dan terus melakukan hal-hal yang membuatku merasa tidak nyaman!"
Ia menghela napas dalam-dalam, merasa sangat tertekan dengan situasi yang sedang terjadi. Ia tidak bisa memahami mengapa Sea begitu gigih mendekatinya, padahal ia sudah berkali-kali menyatakan bahwa ia tidak memiliki perasaan lebih pada gadis itu. Belum lagi sikapnya yang suka menyerang mahasiswi lain yang hanya sekadar ingin berinteraksi dengannya sebagai ketua BEM – hal itu membuat citra nya sebagai pemimpin menjadi tercoreng.
KESALAHAN YANG MEMBURUK
Hari berikutnya, Rayyan sedang berada di perpustakaan kampus untuk mencari referensi buku untuk penyusunan proposal acara BEM. Ia memilih tempat duduk di sudut paling dalam agar tidak diganggu oleh siapapun. Namun hanya beberapa menit kemudian, Sea muncul dengan membawa dua gelas jus buah dan sebuah buku yang sama dengan yang sedang ia baca.
"Kak Rayyan, aku tahu kamu suka jus mangga lho," ucap Sea dengan senyum manis, meletakkan gelas jus di atas meja tanpa menghiraukan bahwa Rayyan sedang fokus membaca. "Aku juga sedang membaca buku itu untuk tugas kuliah. Bisa kita diskusikan bersama ya?"
Rayyan menutup buku nya dengan perlahan namun dengan kekuatan yang cukup untuk menunjukkan bahwa ia sedang kesal. "Sea, aku sudah bilang berkali-kali bahwa aku butuh waktu untuk fokus pada pekerjaan BEM dan studi. Kamu tidak boleh terus menggangguku seperti ini!"
Namun Sea hanya mengangguk dengan tidak jelas dan tetap duduk di kursi di hadapannya. "Tapi aku hanya ingin membantu kamu, Kak Rayyan. Aku bisa membantu kamu menyusun proposal atau apapun yang kamu butuhkan. Aku juga bisa membantu menjaga jarak kamu dari cewek-cewek lain yang tidak baik untukmu."
Kalimat terakhir itu membuat Rayyan merasa darahnya mulai mendidih. "Apa yang kamu maksud dengan cewek-cewek lain? Kamu tidak punya hak untuk menghakimi atau bahkan melarang orang lain untuk berinteraksi denganku!"
"Kan aku tahu mereka hanya ingin mendapatkan perhatian dari kamu karena kamu adalah ketua BEM yang tampan dan sukses!" ucap Sea dengan nada yang sedikit meninggi, membuat beberapa mahasiswa di sekitar mereka menoleh ke arah mereka. "Aku hanya ingin melindungimu dari orang-orang yang tidak tulus padamu!"
Sebelum Rayyan bisa menjawab, seorang mahasiswi tahun pertama yang bernama Lita mendekat dengan ragu-ragu. "Maaf Kak Rayyan, bolehkah aku bertanya tentang jadwal pendaftaran anggota baru BEM? Aku sudah mencoba mencari informasi di situs resmi tapi tidak menemukan yang jelas."
Rayyan segera memberikan senyum ramah dan mulai menjawab pertanyaan Lita dengan sabar. Namun Sea yang berada di sisi lain langsung berdiri dengan wajah yang memerah karena marah.
"Sudahlah! Jangan mengganggu Kak Rayyan dengan pertanyaan yang tidak penting!" ucap Sea dengan suara yang cukup keras, bahkan sedikit mendorong bahu Lita membuat gadis itu terkejut dan hampir jatuh. "Kamu hanya ingin mendapatkan perhatiannya bukan? Sudah bilang kan dia milikku!"
Lita langsung menangis dan berlari keluar dari perpustakaan dengan wajah yang memerah karena malu. Rayyan merasa darahnya mendidih karena kemarahan yang melanda. Ia berdiri dengan cepat dan menarik lengan Sea dengan cukup kuat untuk membawanya keluar dari perpustakaan.
"Kamu sudah terlalu jauh, Sea!" seru Rayyan dengan suara yang penuh kemarahan ketika mereka berada di koridor yang sepi. "Kamu tidak punya hak untuk melakukan itu pada orang lain! Kamu telah membuat aku merasa tidak nyaman, membuat teman-temanku meledekku, dan sekarang kamu bahkan menyerang mahasiswi lain yang hanya ingin bertanya padaku!"
Sea melihatnya dengan mata yang berkaca-kaca, seolah tidak menyadari bahwa apa yang telah dilakukannya salah. "Aku hanya mencintaimu, Kak Rayyan! Aku tidak bisa melihatmu bersama orang lain!"
"Tidak, Sea! Ini bukan cinta!" ucap Rayyan dengan suara yang semakin tinggi. "Ini adalah obsesi yang sudah mulai menyakitkan orang lain dan juga membuatku merasa seperti tidak punya harga diri sebagai ketua BEM! Setiap hari aku harus menghadapi candaan teman-temanku dan pandangan orang lain yang mengira aku tidak bisa mengendalikan diriku sendiri!"
Ia menarik napas dalam-dalam untuk menenangkan diri sebelum melanjutkan dengan nada yang lebih tenang namun tetap tegas. "Kamu harus berhenti melakukan semua ini, Sea. Jika tidak, aku akan terpaksa melaporkan sikapmu ke pihak kampus. Kamu tidak boleh terus melukai orang lain dan merusak nama baikku sebagai ketua BEM!"