Kirana Yudhoyono, aktris kelas bawah yang hampir kehilangan segalanya, tak sengaja menyelamatkan seorang anak trauma bernama Kael dari insiden berbahaya di sebuah gudang bar. Tindakannya menarik perhatian ayah Kael—Bryan Santoso, CEO SantoPrime yang dingin dan berkuasa. Terpesona oleh kedekatan Kirana dengan putranya, Bryan menawarkan balas budi yang tak masuk akal: pernikahan kontrak.
"Aku menyelamatkan putramu bukan untuk menikahimu, Tuan Bryan!"
"Tapi Kael membutuhkanmu, dan aku... hanya menerima hubungan dengan pernikahan sebagai syaratnya."
*saya baru mencoba untuk menulis genre seperti ini, semoga anda sekalian menyukainya ☺️
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Demene156, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 33 Kael Kecil Menilai Hidupku: Kerja Keras Itu Haram?
Sementara itu, di kediaman mewah keluarga Santoso.
Kael masih belum tidur meskipun waktu sudah hampir tengah malam. Begitu melihat ayahnya membawa pulang Tante Kirana dalam keadaan tak sadar seperti orang mabuk, wajah mungilnya langsung dipenuhi rasa bersalah—diiringi tatapan menuduh yang tajam ke arah sang ayah.
Bryan dengan sangat hati-hati membaringkan tubuh Kirana di tempat tidur kamar tamu.
Ia lalu menoleh pada putranya, satu alis terangkat, berusaha memberi penjelasan jujur.
"Apa pun yang sedang kamu pikirkan di kepala kecilmu itu, semuanya salah. Bukan aku penyebab dia jadi seperti ini."
"Tante kesayanganmu ini hanya kelelahan karena aktivitasnya hari ini terlalu padat," lanjutnya pelan.
Namun penjelasan itu tidak banyak membantu. Kael tetap menatapnya dengan sorot mata penuh tuduhan, seolah yakin ayahnya pasti telah melakukan sesuatu yang membuat Kirana kelelahan.
Melihat keras kepalanya sang putra, Bryan akhirnya menghela napas panjang.
"Baiklah. Anggap saja ini memang salahku. Aku akui aku tidak merawatnya dengan cukup baik hari ini."
Nada tulus dalam suara itu membuat ekspresi Kael perlahan melunak. Amarah dan sedih yang bercampur di wajahnya mulai memudar.
Tanpa berkata apa-apa, bocah kecil itu berlari kecil menuju kamar mandi, sedikit terbatuk di tengah langkah.
Tak lama kemudian ia kembali membawa handuk hangat yang sudah diperas rapi.
Dengan gerakan hati-hati, ia melepas sepatu Kirana, naik ke ranjang, lalu duduk bersimpuh di sampingnya. Dengan kesungguhan luar biasa, Kael mulai membersihkan wajah dan tangan Kirana, seolah itu adalah tugas paling penting di dunia.
Bryan memandangi pemandangan itu dalam diam.
Di satu sisi, hatinya hangat. Di sisi lain… ia tidak bisa menahan napas panjang.
Sebagai ayah kandung, ia sadar satu fakta pahit:
Ia sendiri belum pernah menerima perlakuan selembut itu dari putranya.
"Ugh… kepalaku sakit sekali…" gumam Kirana tiba-tiba dalam tidurnya.
Hati kecil Kael langsung terasa perih. Ia segera membungkuk dan meniup lembut dahi Kirana, seakan tiupannya bisa mengusir rasa sakit itu.
Sinar aneh berkilat di mata Bryan saat ia melihat adegan itu.
"Masalah kelelahan adalah bagian dari risiko pekerjaan Tante Kirana. Bahkan aku sebagai orang luar tidak bisa ikut campur terlalu jauh," ujarnya pelan, nada suaranya menyimpan maksud tertentu.
"Tapi kalau kamu yang bicara, mungkin dia mau mendengarkan. Aku yakin kata-katamu akan lebih dia patuhi daripada kata-kataku."
Si Kelinci Kecil tampak berpikir serius.
Beberapa detik kemudian, ia mengangguk mantap.
Wajahnya berubah tegas—seperti seorang ksatria kecil yang baru menerima misi penting: menjaga kesehatan Kirana mulai sekarang.
Pagi hari.
Sinar matahari pagi menyusup melalui celah tirai kamar.
Saat Kirana perlahan membuka mata, hal pertama yang ia lihat adalah Kael yang sudah duduk rapi di tepi ranjang. Punggung bocah itu tegak lurus, tetapi wajah mungilnya muram—seperti langit mendung yang menahan hujan.
Kirana terkejut. Ia bangun setengah duduk sambil mengumpulkan kesadarannya yang masih berserakan.
"Eh, ada apa, sayang? Kok pagi-pagi sudah cemberut begitu? Siapa yang berani bikin kamu kesal? Wajahmu sekarang mirip banget sama papamu kalau lagi marah," ucap Kirana, mencoba mencairkan suasana.
Ia tertawa pelan, lalu mengulurkan tangan mencubit pipi lembut Kael dengan gemas.
Namun Kael tidak merespons.
Tanpa suara, ia mengeluarkan buku gambar kecil dari belakang punggungnya. Ia membuka halaman demi halaman dengan gerakan serius tepat di depan mata Kirana.
Isinya adalah komik sederhana buatannya sendiri.
Gambarnya memang tidak artistik, tetapi rapi dan penuh makna. Tokoh di dalamnya terus bekerja tanpa istirahat—mata panda, tubuh kurus, jantung berdetak kacau, lambung berteriak protes, tulang-tulang pegal—hingga akhirnya tumbang seperti robot kehabisan baterai.
Di setiap panel terdapat tulisan kecil yang jelas dibuat dengan kesungguhan oleh jari-jari mungilnya.
Saat sampai halaman terakhir, Kael mengangkat wajah dan menatap lurus ke mata Kirana.
Tatapan itu tajam. Menuntut jawaban.
Pesannya jelas: jangan bekerja sampai lupa bahwa kamu masih harus hidup.
Kirana berdeham pelan, menutupi rasa canggung.
"Uhuk… sebenarnya tidak separah itu kok, sayang. Kerja keras itu punya banyak manfaat."
"Bisa bikin otak tetap aktif, karier naik lebih cepat, tabungan masa depan aman, dan… ya… orang lain juga jadi melihat kita profesional," lanjutnya, menghitung poin dengan jari seperti sedang presentasi di depan direksi.
Sebenarnya Kirana tahu bocah itu hanya khawatir pada kesehatannya.
Namun ia juga sadar dirinya masih di fase awal merintis karier di industri hiburan yang kejam. Janji untuk tidak kerja berlebihan terdengar seperti janji diet di depan etalase toko kue penuh krim—niatnya ada, realisasinya urusan nanti.
Sorot mata hitam Kael berubah.
Bukan sekadar kesal. Itu tatapan kecewa yang ditahan keras.
Tanpa suara, ia menutup buku gambarnya dengan bunyi "plak" yang cukup keras, lalu berbalik dan berlari keluar kamar.
"Haah— Kael! Tunggu dulu…" seru Kirana, menjambak rambut sendiri karena malu sekaligus bersalah.
Pintu sudah tertutup pelan.
Kirana terdiam di atas ranjang, menatap ke arah pintu dengan ekspresi setengah bersalah, setengah tak berdaya.
"…Duh," gumamnya lirih. "Sepertinya aku baru saja dimarahi habis-habisan oleh bocah yang bahkan belum genap enam tahun."
Di luar, suara langkah kaki kecil itu makin menjauh di sepanjang koridor rumah mewah yang entah mengapa terasa jauh lebih sunyi pagi itu.
Beberapa saat kemudian, setelah mandi dan berganti pakaian, Kirana turun ke ruang makan.
"Hai sayang, selamat pagi!" sapanya ceria.
Kael mengabaikannya.
Ia malah sengaja memalingkan wajah saat Kirana mendekat, jelas sedang melakukan aksi mogok bicara tingkat profesional.
"Eh…" gumam Kirana canggung.
Di meja makan, Bryan Santoso duduk tenang membaca koran bisnis. Melihat situasi langka itu, ia mengangkat alis tipis.
"Apakah kalian baru saja berdebat pagi ini?" tanyanya santai, meski jelas penasaran.
Situasi Kael merajuk pada Kirana termasuk fenomena langka di rumah itu.
Kirana mengusap ujung hidungnya.
"Barusan Bun Kecil nyuruh aku jangan kerja terlalu keras lagi. Tapi aku cuma bilang kerja keras itu ada manfaatnya. Terus dia marah…"
"Begitu." Bryan mengangguk pelan.
Merasa terpojok, Kirana mendapat ide. Ia langsung menoleh cepat ke arahnya.
"Bryan, coba kamu bilang sendiri. Orang rajin bekerja itu pasti punya banyak keuntungan masa depan, kan?"
Dalam pikiran Kirana, pria ini sekutu sempurna. Siapa pun yang masih membuka berkas perusahaan tengah malam jelas bukan tipe penikmat hidup santai dari dividen.
Bryan menatap Kirana yang menunggu jawaban dengan mata berbinar di kanan.
Lalu ia menoleh ke kiri.
Kael sedang menatapnya dengan ekspresi serius—seperti hakim kecil memimpin sidang etik.
Bryan berdeham.
"Bekerja keras memang memiliki banyak manfaat."
Wajah Kirana langsung berseri. Ia bahkan menepuk paha pelan.
"Nah, dengar sendiri kan, Bun Kecil? Tante benar!"
Kael memandang ayahnya datar. Tatapan itu penuh penilaian dingin.
Jelas sekali ia merasa dikhianati.
Padahal tadi malam ayahnya paling vokal menentang kebiasaan kerja berlebihan Kirana. Sekarang malah terdengar membela pihak lawan.
'Papa benar-benar tidak konsisten,' batin Kael kesal.
Melihat wajah putranya, sudut bibir Bryan sedikit terangkat menahan tawa. Ia melanjutkan tenang,
"Namun, segala sesuatu yang berlebihan dampaknya lebih banyak buruknya daripada baiknya. Tubuh manusia punya batas. Kerja keras itu baik, tapi bekerja tanpa jeda bukan prestasi—itu kelalaian terhadap diri sendiri."
Ia berhenti sejenak agar kalimatnya meresap.
"Bahkan belakangan ini aku juga mulai mengurangi jam kerja malam supaya bisa istirahat lebih awal."
Bahu Kirana langsung merosot. Ia menjatuhkan dagu ke meja dengan ekspresi kalah telak.
"Tuan Bos… harusnya kita satu tim…"
Akhirnya ia menghela napas panjang dan mengangkat kedua tangan tanda menyerah.
"Baiklah, aku kalah. Mulai sekarang aku janji akan mengatur jadwal kerja lebih manusiawi. Tidak ambil lembur sembarangan, dan wajib istirahat kalau sudah capek. Puas sekarang, sayang?"
Kael menatapnya beberapa detik dengan sorot menyelidik—seperti manajer artis veteran menilai kontrak.
Setelah yakin ekspresi Kirana tulus, ia mengangguk kecil.
Lalu ia mengangkat tangan mungilnya dan mengusap pelan puncak kepala Kirana, meniru kebiasaan Kirana saat menenangkannya.
Kirana tertawa lirih.
Ia tak tahu harus terharu atau terhibur.
Ia langsung menarik Kael ke pelukan erat dan mencium pipinya.
"Sayang, kamu ini… bahkan waktu marah pun tetap menggemaskan. Tante bisa makin sayang tiap hari kalau kamu begini."
Mata hitam si Kelinci Kecil langsung berbinar terang—secepat lampu studio yang baru dinyalakan.
Suasana ruang makan yang tadi tegang seketika berubah hangat dan bahagia. Pemandangan itu terlihat seperti adegan keluarga sempurna yang mungkin bisa membuat penonton drama mana pun iri.
Namun bagi Bryan Santoso…
"..."
Ia hanya diam.
Untuk mendapatkan perhatian yang sama seperti putranya dapatkan dengan mudah hanya karena bersikap imut, ia merasa harus merancang strategi matang seperti menyusun akuisisi perusahaan.
Sedangkan Kael?
Bocah itu melakukannya secara alami—cukup dengan satu gerakan kecil tak terduga.
Sementara itu, di tempat lain—tepatnya di ruang kantor CEO Gedung Halim Grup Company.
Wajah Gunawan Halim yang biasanya garang kini bergetar hebat menahan amarah. Ia menggebrak meja kerjanya keras hingga suara dentumannya menggema di ruangan, lalu berdiri dari kursinya.
"Ini tidak mungkin!" bentaknya. "Kita sudah melakukan hal seperti ini berkali-kali, dan selama ini perusahaan keluarga Santoso tidak pernah melayangkan keluhan sedikit pun."
"Lalu kenapa sekarang tiba-tiba muncul masalah sebesar ini?"
Manajer yang berdiri di depannya tampak pucat. Keringat dingin merembes di pelipisnya.
"Mungkin ini karena perubahan kebijakan baru di manajemen SantoPrime, Tuan. Sepertinya mereka sekarang jauh lebih ketat dalam pengendalian mutu produk," jawabnya hati-hati.
Ia menelan ludah sebelum melanjutkan.
"Masalah ini sepenuhnya bergantung pada sikap SantoPrime di depan publik. Jika mereka memilih diam, kita masih bisa lolos. Tapi jika mereka menyelidikinya secara serius… maka kelemahan sistem kontrol kualitas kita akan terbongkar. Dan kita yang akan dianggap melanggar kontrak secara fatal."
Rahang Halim menegang.
Ia bangkit dari kursi empuknya dan mulai mondar-mandir gelisah di belakang meja.
Di balik jendela kaca besar, jalan utama pusat bisnis Jakarta terlihat sibuk oleh lalu lintas kendaraan. Gedung-gedung pencakar langit berdiri angkuh, seolah menjadi saksi bisu krisis yang sedang menjeratnya.
"Lalu apa yang harus kita lakukan sekarang untuk menyelamatkan reputasi perusahaan ini?" tanyanya, suaranya mulai kehilangan kestabilan.
Manajer itu ragu sejenak sebelum menjawab.
"Ada kabar bahwa Bryan Santoso sendiri yang memberi perintah langsung untuk menolak kerja sama itu. Jadi… satu-satunya cara mungkin hanya dengan menghubungi dia secara pribadi."
Ekspresi Halim langsung mengeras.
"Bryan Santoso…" gumamnya pelan, namun penuh tekanan. "Orang itu tidak bisa dibujuk. Tidak bisa dipaksa. Uang sebesar apa pun tidak akan menggoyahkannya. Bahkan wanita tercantik pun tidak akan membuatnya menoleh."
Ia berhenti berjalan.
Tatapannya perlahan berubah licik.
"Mendekatinya langsung memang sia-sia… tapi… tunggu."
Nada suaranya merendah.
"Soal wanita… mungkin ada seseorang yang bisa kita jadikan pintu masuk."
Keheningan turun di ruangan itu.
Di balik tatapan tajamnya, roda strategi mulai berputar cepat. Sebuah rencana kotor—jebakan madu yang licik—perlahan terbentuk di kepalanya.
Apa pun caranya, ia harus menjatuhkan Bryan Santoso.
Atau perusahaannya yang akan lebih dulu runtuh.
Sementara itu, waktu terus bergulir cepat.
Saat Kirana Yudhoyono akhirnya tiba di lokasi syuting hari ini, tim produksi langsung memberitahunya bahwa seluruh jadwal pengambilan gambar—hari ini dan beberapa hari ke depan—telah berubah total. Penyebabnya: Yono Barsa, aktor pemeran kedua utama pria, mendadak cuti panjang karena urusan darurat keluarga.
Kirana menganggukkan kepala perlahan, memahami situasinya. Tapi di dalam hati, rasa kesal sedikit muncul.
'Biasanya pria itu selalu bercerita panjang lebar, bahkan tentang hal-hal kecil, tapi kenapa kali ini, saat terjadi hal besar hingga harus cuti, dia sama sekali tidak memberitahuku?' batinnya.
Karena tenda ruang persiapan aktris sepi, Kirana segera mengeluarkan ponsel untuk menelepon Yono. Ia ingin menanyakan alasannya sekaligus menggerutu tentang perubahan mendadak itu.
Begitu sambungan tersambung, suara Yono terdengar kesal dan emosional.
"Kenapa aku harus memberitahumu soal masalah pribadiku? Bukankah selama ini kau selalu bilang benci jika aku merepotkanmu? Bukankah kau sendiri yang ingin aku menjauh darimu? Nah, sekarang keinginanmu terkabul, kan!" bentaknya.
Kirana tidak mau kalah. Suaranya meninggi.
"Hei! Kenapa kau jadi gampang sekali marah padaku?"
Di ujung telepon, Yono sesungguhnya hancur.
'Aku marah pada diriku sendiri… terlalu bodoh!' batinnya, mengingat kejadian paman tertuanya menciumi Kirana saat tidur.
Dengan usaha keras, Yono mencoba menenangkan diri.
"Saat ini aku di kantor ayahku. Hari ini aku benar-benar dipaksa bekerja seperti kuda. Jadi jelas aku tidak bisa ke lokasi syuting. Kalau malam ini kau sempat, masuklah ke NexWorlds—aku sudah kirim sesuatu yang spesial. Oh ya… selamat ulang tahun!"
"Selain itu, beberapa hal penting sudah kukirim ke kotak masukmu. Mau percaya atau tidak terserah kamu!" tambahnya.
"Sudah, itu saja. Sampai jumpa!" Yono menutup panggilan tanpa menunggu balasan.
Kirana menatap layar ponselnya, tidak berdaya.
"Pria ini benar-benar ya…" gumamnya.
Tepat saat itu, sutradara Galang muncul.
"Kirana, kau mungkin sudah dengar tentang cuti mendadak Yono. Rencana awal kita mau melanjutkan adegan ciumanmu kemarin, tapi karena jadwal berubah mendadak, kita mulai dulu dengan adegan perkelahianmu dengan Aruna Yudhoyono."
"Aku akan kirim lembaran jadwal terbaru sebentar lagi!" tambah Galang.
Kirana mengangguk mantap.
"Baik, Sutradara! Saya siap!"
Ia segera membuka buku naskah, mendalami adegan perkelahian. Saat fokus, terdengar langkah seseorang masuk.
Dari sudut mata, muncul sosok yang membuatnya jijik: Aditya Pratama.
Aditya datang untuk mengantar Aruna ke lokasi. Karena hari ini ulang tahun Aruna, ia sengaja cuti sehari penuh agar bisa bersama. Hampir semua gadis tim produksi merasa iri melihat kemesraan mereka.
Kirana sudah tak sabar. Ia hanya menatap Aditya dingin, menanyakan maksud kedatangannya.
Aditya menawarkan sebotol minuman dingin.
"Kirana, kau rencananya akan datang ke pesta ulang tahun Aruna malam ini?" tanyanya hati-hati.
Kirana menatapnya penuh sarkasme.
"Kau yakin ingin menanyakan pertanyaan bodoh itu padaku?"
Aditya menambahkan bujukan lembut.
"Perlu diingat, hari ini juga ulang tahunmu. Kalau mau pulang, kita bisa merayakannya bersama. Aku bahkan sudah bicara dengan Om Hendrawan dan Tante Arini, mereka setuju."
Kirana memutar mata, jengah. Ia tak ingin kembali ke rumah keluarga Yudhoyono, penuh kenangan pahit. Sosok ayah baginya sudah mati, dan keluarga itu bukan bagian hidupnya lagi.
"Terima kasih, tapi itu tidak perlu," ujar Kirana tegas.
Aditya mengerutkan kening, kecewa.
"Jujur, aku hampir tidak mengenalimu lagi. Kapan kau bisa kembali seperti Kirana yang dulu, baik dan perhatian… aku sadar itu kesalahanku. Jika bukan karena aku dulu, Aruna tidak akan berbuat jahat padamu. Jadi, kalau mau menyalahkan, salahkan aku saja. Dia tidak bersalah."
"Aku berharap kau mau datang malam ini," pinta Aditya.
Kirana menatapnya sinis.
"'Rasa bersalah'? Kau serius? Kau merasa bersalah karena merebut identitasku sebagai putri sah? Karena mencuri perhatian orang tuaku? Atau karena tidur dengan mantan pacarku?"
"Ada banyak alasan bagi dirimu untuk merasa bersalah. Tapi jangan sekali-kali menyebut 'baik' padaku lagi. Dulu aku bodoh dan polos, mudah dibodohi kemunafikan kalian!"
Wajah Aditya muram.
"Asalkan kau memaafkan Aruna, aku akan lakukan apa pun—kecuali bersaksi di pengadilan."
Kirana menaikkan satu alis.
"Kau yakin?"
"Aku berjanji," jawab Aditya mantap.
Kirana meletakkan naskahnya, menatap Aditya tajam.
"Keinginanku sederhana: buang Aruna Yudhoyono tepat di depan semua orang saat pesta malam ini!"
Wajah Aditya pucat.
"Kirana… permintaanmu ini…"
"Kenapa? Bukankah dibandingkan rasa sakitku dulu, ini hanya diminta mencampakkannya saja. Masih terdengar baik kan?"
Tiba-tiba, Aruna muncul berlinang air mata.
"Kirana Yudhoyono! Bagaimana bisa kau sejahat ini!"
Kirana menyilangkan tangan santai.
"Aku bisa apa? Pria di sampingmu tadi bilang dia lakukan apa pun keinginanku, aku cuma minta yang paling mudah—dan tetap tak bisa dilakukan. Bukti nyata pria munafik!"
Aruna menatap Kirana campur marah dan pura-pura iba.
"Kau membenciku karena tak bisa melupakan Bang Adit, dan merasa aku merebutnya darimu! Tapi bagaimana bisa egois begitu untuk memisahkan kami?"
"Bang Adit tak mencintaimu lagi, jadi apa gunanya semua ini?" tanya Aruna.
Aditya menepuk punggung Aruna menenangkan.
"Tenang… Kirana pasti tidak bermaksud apa-apa."
Kirana tersenyum sinis.
"Aku tak bicara sembarangan. Itu janji atau cuma omong kosongmu?"
Aruna menatap Aditya panik.
"Kau tak akan setuju, kan?"
Aditya menepuk kepala Aruna.
"Gadis bodoh… tentu tidak. Maaf, Kirana, aku tak bisa menyetujui permintaanmu ini."
Kirana mencibir, mata tajam menghanyutkan.
"Ya, apa lagi yang bisa diharapkan dari pria munafik? Sekarang sebaiknya kalian berdua segera pergi! Kehadiran kalian merusak hariku!"
Aruna membela.
"Kirana, sikapmu kasar. Kalau ada kesalahan, itu sepenuhnya kesalahanku, bukan Bang Adit!"
Kirana bertepuk tangan mengejek.
"Wow, cinta kalian begitu menyentuh, sampai-sampai membuat orang ingin menangis!"
"Jadi, Aruna, kau bilang mau menebus kesalahan dan membela pria munafik ini, kan?" tanya Kirana sinis.
Aruna mengerutkan kening curiga.
'Siapa tahu jebakan apa lagi yang sudah disiapkan wanita ini?' batinnya.
Tapi meski begitu, Aruna merasa ia hanya punya satu cara untuk menjawab pancingan ini demi menjaga citranya di depan Aditya.
"Tentu saja aku bersedia! Sekarang, katakan saja apa yang kakak inginkan dariku," tanyanya.
Kirana sengaja terdiam sejenak, berpura-pura berpikir lama. Di bawah tatapan tajam Aruna, ia akhirnya bersuara santai.
"Kalau semua yang kau katakan itu benar, Aditya sebenarnya tidak perlu meninggalkanmu."
"Kau hanya perlu segera melepaskan identitasmu sebagai Nona Besar keluarga Yudhoyono di ibu kota, dan kembali ke Desa Tanjaya di Kota Cendrapura—menjadi Aruna Tanadi yang miskin seperti dulu," pinta Kirana dengan senyum tipis.
"Dengan begitu, semua hutang di antara kita bertiga dianggap lunas. Bagaimana menurutmu tawaranku ini?" lanjutnya, senyum kemenangan jelas terlihat.
Aruna membelalakkan mata, seolah mendengar hal paling mengerikan. Ia menggeleng liar.
"Tidak mungkin… kau tak bisa minta itu dariku! Kak Kirana, bagaimana bisa kau sekejam ini!" seru Aruna histeris.
"Bagaimana bisa kau memaksaku meninggalkan ayah dan ibuku sendiri, meninggalkan tempat di mana aku dibesarkan lebih dari dua puluh tahun… Aku…" suaranya melemah.
Kirana segera melambaikan tangan, tak sabar.
"Cukup! Hentikan omong kosong itu. Akting kalian buruk dan memuakkan. Sudah cukup!"
"Sejak awal aku sudah menyuruh kalian menjauh dariku!" tegas Kirana.
"Tapi nyatanya kalian terus datang, minta maaf berulang-ulang, bersumpah melakukan apa pun yang aku inginkan. Dan ketika aku akhirnya jujur, kalian masih memberi tatapan seolah aku kejam, tak tahu malu, dan tak masuk akal!" Ujar Kirana semakin membara.
"Kalian benar-benar sepasang orang munafik!" tegasnya.
Akhirnya, Aruna dan Aditya memutuskan pergi, menyadari tak ada lagi yang bisa dibicarakan baik-baik.
Kirana menatap punggung mereka pergi, dongkol. Dua orang pembawa sial itu telah merusak hari spesialnya.
"Heh, mau memberi ganti rugi apa sebenarnya? Kau membuatnya terdengar mulia, tapi nyatanya kau hanya mau melakukannya kalau tak merugikanmu sendiri," gumam Kirana sinis.
"Fakta bahwa kau bahkan tak sadar bersikap munafik… menjijikkan! Aku hanya bisa bilang satu hal: Pergi. Jauh dari hidupku selamanya!" lanjutnya penuh kebencian.
Aditya dan Aruna masih bisa mendengar gumaman pedas Kirana. Aruna sempat ingin membalas, tapi Aditya sigap menahan, memberi gelengan kepala: lebih baik pergi.
Keduanya berjalan frustrasi menuju tenda khusus yang disiapkan Aditya untuk kenyamanan Aruna.
Di samping Aditya, Aruna bermain sebagai korban, air mata membasahi pipinya.
"Bang Adit, kau diam-diam menyalahkanku, kan? Karena aku tak sanggup setuju permintaan gila kak Kirana?"
Aditya mengulurkan tangan, menyeka air matanya.
"Bagaimana mungkin aku menyalahkanmu?"
Aruna melompat ke pelukan hangat Aditya, merasa ‘diselamatkan’.
"Bang Adit, terima kasih. Kau selalu memahami kondisiku," ujarnya manja.
"Sebenarnya bukan masalah harta atau status Yudhoyono, tapi aku tak akan bisa tinggalkan ayah dan ibu yang kucintai," ujar Aruna, kebohongan tersusun rapi agar terlihat nyata di mata Aditya.
"Hanya memikirkan meninggalkan mereka, takkan pernah melihat mereka lagi… aku benar-benar…" lanjutnya, air mata kembali menetes.
"Ssst, sudah, jangan menangis. Aku mengerti," ujar Aditya, menepuk punggungnya lembut.
"Dulu aku terlalu naif berpikir dia masih sama seperti dulu," batin Aditya, menoleh ke tenda Kirana.
"Aruna, aku berjanji, mulai sekarang aku tak akan biarkan dia menyakitimu lagi!" ungkap Aditya, tatapannya penuh janji perlindungan.
"Bang Adit…" Aruna menatap kagum, melingkarkan lengan di leher Aditya, lalu mencium bibirnya penuh gairah.
"Tunggu, ini lokasi syuting… khawatir kalau ada yang lihat," ujar Aditya, sedikit malu, tapi tak menolak.
"Lalu kenapa kalau ada yang lihat? Kau kan pacarku!" seru Aruna cemberut main-main, menarik tangan Aditya masuk ke tenda khusus.
Di tenda tertutup, Aruna mendudukkan Aditya di kursi lipat nyaman, lalu duduk di pangkuannya, menyamping. Ia mulai membuka kancing kemeja Aditya perlahan.
'Heh, Kirana Yudhoyono… lihat saja, aku akan tidur dengan mantan pacarmu, rasakan sakit hatinya nanti…' batin Aruna penuh kemenangan jahat.
Hanya selang beberapa saat kemudian, suara desahan-desahan mesra yang sangat menggoda pun mulai terdengar dari balik dinding tenda tersebut.
"Hmm… ah! Bang Adit, kau benar-benar terasa sangat luar biasa! Keras! Ayo! lakukan sedikit lebih keras lagi… ahhh!" desah Aruna dengan nada suara bisikan yang sangat provokatif.
Bagaimanapun juga, mereka sadar bahwa tenda tempat mereka berada sama sekali tidak kedap suara.
"Bang Adit, coba katakan padaku… menurutmu...ah! Hmm! siapa... yang lebih baik... ukhh! antara aku dan kak Kirana? Hmm? Ahhh! Yeah! Ayo jawab, siapa yang... uhmm! jauh lebih baik?" tanya Aruna sambil menggoda di tengah aktivitas panas mereka.
"Tentu saja kamu yang jauh lebih baik!" seru Aditya, napasnya terengah-engah.
'Kalau dilihat dari fisik, Kirana memang menarik. Tapi dia terlalu pemalu, terlalu penakut,' batin Aditya.
Terutama, Kirana tak punya pengalaman soal urusan seks. Ia bahkan tak terpikir untuk aktif membuat pasangannya bahagia di ranjang.
Awalnya, Aditya menyukai kesederhanaan Kirana, tapi lama-lama itu membosankan.
'Sekarang, sosok Kirana berbeda. Kehadirannya saja bisa membuat gairahku menegang dan napasku tak beraturan…' pikir Aditya.
Meskipun kepribadiannya kini berubah buruk dan tak masuk akal, 'Entah mengapa aku tak bisa mengalihkan pandangan darinya…' batinnya jujur.
Napas Aditya terdengar semakin berat. Menjelang puncak, bayangan senyum setengah acuh Kirana tiba-tiba muncul di benaknya.
"Kak Aruna, pengambilan gambar akan segera dimulai. Boleh saya panggil penata rias untuk mulai meriasmu?" tanya manajer Aruna, wajahnya memerah saat berdiri di luar tenda, jelas mendengar desahan dari balik dinding tenda tipis.
Dia sebenarnya sudah terbiasa dengan hal-hal seperti itu setelah lama mendampingi Aruna.
'Betapa segar dan murninya citra gadis itu di depan kamera… padahal jelas dia penggila seks,' batinnya.
Manajer ini masih mendengar desahan mesra yang samar-samar di dalam tenda itu, seperti kedua orang itu tidak peduli dengan keberadaannya.
'Orang-orang di luar seharusnya tahu betapa bejatnya perilakunya saat di ranjang…' lanjutnya, menahan rasa jijik.
Beberapa menit kemudian, sesi panas selesai. Kirana sudah siap di set dengan kostum lengkap, tapi harus menunggu hampir setengah jam sebelum Aruna muncul.
"Maaf membuat kalian menunggu. Kondisi kulit wajahku kurang bagus hari ini, jadi aku butuh waktu penata rias merapikan semuanya," jelas Aruna, suara sedikit serak dan tampak lesu.
Ia menatap Kirana dengan sikap angkuh dan nada menggoda. Saat berjalan melewati Kirana, Aruna sengaja menarik kerah bajunya sedikit, memperlihatkan kissmark baru di lehernya.
Wajah Aruna memerah, matanya berbinar sisa gairah, dan aroma manis tubuhnya menguar—seolah ingin semua orang tahu apa yang baru saja terjadi di tenda.
Melihat itu, urat-urat di dahi Kirana menonjol menahan amarah dan jijik.
'Kalau bukan karena kontrak syuting, aku tak mau menghirup udara di ruangan yang sama dengannya. Dia membuatku sangat jijik,' batin Kirana.
Sutradara Galang, tampak tak menyadari ketegangan antara kedua aktris utama, bertepuk tangan keras.
"Baiklah, semuanya sudah di posisi masing-masing. Mari mulai pengambilan gambarnya! ACTION!"
Bersambung...
semangat 💪💪