Karina rela melepaskan identitas dan membuang kemewahan yang dimilikinya sebagai putri tunggal keluarga Wijaya hanya untuk bersama Agus, ia jatuh cinta pada Agus karena kebaikan dan kejujurannya.
Pernikahannya tampak begitu sempurna dan bahagia, hingga Agus pun sudah menjadi pria sukses berkat dukungan dan bantuan Karina. Sayangnya dengan kesuksesannya, Agus justru terlena dan mengkhianati pernikahan yang sudah terjalin selama bertahun-tahun itu.
Bagaimana kisah selanjutnya? Apa yang akan terjadi pada pernikahan Karina dan Agus? Apa yang akan dilakukan Karina?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon elaretaa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jangan Menangis
Suara jam dinding di ruang tamu kediaman mewah itu berdetak seperti palu yang menghantam paku, setiap detiknya terasa menyiksa di telinga Karina.
Sudah pukul dua pagi dan di meja makan yang luas dan dingin, nasi goreng favorit Agus sudah mengeras, permukaannya ditutupi tudung saji yang mulai berembun.
Karina memijat pangkal hidungnya yang berdenyut, tubuhnya terasa remuk. Seharian ini dia tidak hanya mengurus rumah tangga seluas seribu meter persegi itu sendirian karena asisten rumah tangga sedang pulang kampung, tapi dia juga harus melayani amarah ibu mertuanya yang mengeluh karena kakinya pegal.
Karina telah menghabiskan dua jam memijat kaki wanita tua itu sampai jemarinya kaku, hanya untuk mendengar sindiran bahwa masakan makan malamnya kurang enak.
Suara pintu depan terbuka, Karina tersentak dan berdiri mencoba merapikan daster batiknya yang sedikit kusam dan mengulas senyum terbaik yang dia punya.
Agus melangkah masuk, jas mahalnya tersampir sembarangan di lengan, dasinya sudah longgar dan wajahnya tampak memerah karena pengaruh alkohol, dia tidak menoleh sedikit pun pada Karina yang menyambutnya di depan ruang tengah.
"Mas, sudah pulang? Mau makan? Aku buatkan nasi goreng kesukaanmu, aku panaskan sebentar ya?" suara Karina lembut dan berusaha menekan rasa lelahnya.
Agus mendengus, melempar tas kulitnya ke atas sofa beludru dengan kasar. "Nasi goreng lagi? Kamu pikir lidahku ini lidah kuli? Di luar aku makan kobe beef, Karina. Masuk ke rumah malah disuguhi minyak dan nasi sisa," ucap Agus kesal.
Hati Karina mencelos, tapi dia tetap mendekat dan ia mencoba meraih jas Agus untuk digantung. Namun, saat tangannya menyentuh kain wol mahal itu, sebuah aroma menusuk indra penciumannya. Bukan aroma cerutu atau alkohol yang biasa, melainkan aroma manis yang tajam, aroma yang sangat feminin, sangat muda dan sangat bukan milik Karina.
Di kerah kemeja putih Agus yang terbuka, ada noda tipis berwarna merah jambu, yakni noda lipstik dan tentu saja itu bukan milik Karina.
"Mas... ini aroma apa?" tanya Karina pelan dengan suaranya yang mulai bergetar, namun ia mencoba menghilangkan pikiran negatifnya pada sang suami.
Agus menarik jasnya dengan kasar hingga Karina hampir terjatuh, "Apa-apaan sih? Curigaan terus! Itu aroma klien bisnis. Biasa di dunia kelas atas, kita bersalaman, cipika-cipiki. Kamu mana paham? Dunia kamu cuma sebatas dapur, pasar dan daster bolong itu," ucap Agus.
Agus menatap istrinya dari ujung kepala sampai ujung kaki dengan tatapan merendahkan, tatapan yang sama yang diberikan seseorang saat melihat barang rongsokan.
"Lihat dirimu, Karina. Kulitmu kasar, rambutmu berantakan dan baumu... bau bawang putih. Pantas saja aku lebih betah di kantor daripada melihat wajahmu yang membosankan ini," lanjut Agus ketus.
"Aku begini karena mengurus ibumu, Mas. Karena mengurus anak-anak kita, karena memastikan setiap sen yang kamu hasilkan tidak terbuang sia-sia untuk biaya rumah tangga yang membengkak," ucap Karina yang membela diri bahkan air mata mulai menggenang di pelupuk matanya.
"Halah! Alasan klasik!" bentak Agus dan membuat suasana rumah yang sunyi menjadi mencekam.
"Dulu aku memang butuh kamu untuk mengatur pembukuan bengkel kecilku, tapi sekarang? Perusahaanku sudah go public. Aku punya direktur keuangan lulusan luar negeri, kamu itu sudah tidak berguna di sisi bisnisku. Kamu cuma beban yang memalukan kalau diajak ke pesta," ucap Agus.
Agus melangkah pergi menuju kamar utama, meninggalkan Karina yang terpaku di ruang tengah yang luas.
Dua puluh tahun, Karina menatap telapak tangannya yang kapalan. Dia teringat saat dia meninggalkan mansion keluarganya, meninggalkan nama besar Wijaya dan memilih tinggal di kontrakan petak demi pria ini.
Dia teringat saat dia harus meminjam uang ke teman-teman lamanya dengan dalih keperluan mendesak agar Agus punya modal untuk membeli mesin bubut pertama, dia yang mengetik proposal bisnis itu hingga jemarinya berdarah, dia yang menyuap oknum dinas agar izin usaha Agus keluar saat pria itu hampir menyerah.
Karina tidak percaya jika Agus bisa sekasar ini, selama dua puluh tahun menikah, Agus begitu baik dan perhatian pada Karina. Namun, akhir-akhir ini Karina menyadari perubahan pada Agus, di mana ia lebih sering pulang malam, bahkan tidak ada kata-kata romantis saat pulang kerja, hanya ada kata-kata yang merendahkan Karina saja.
'Mas, apa yang sebenarnya terjadi? Kalau kamu punya masalah di kantor, kamu bisa cerita sama aku. Aku pasti akan membantu, jangan kayak gini, aku nggak bisa lihat kamu kasar kayak gini. Pernikahan kita sudah dua puluh tahun, harusnya kita lebih dewasa menyelesaikan masalah yang ada,' batin Karina.
Tanpa sadar, air mata Karina menetes dan ia segera mengusapnya. Baginya, air mata adalah sebuah kehancuran dan jika ia menangis, artinya perjuangannya selama ini sia-sia dan itu artinya pilihannya juga salah.
Ditengah lamunannya, tiba-tiba sebuah suara lembut memecah keheningan. "Mama?" panggil seorang perempuan.
Karina menoleh, di puncak tangga itu berdiri dua gadis remaja dengan wajah yang sangat mirip, dia adalah Ella dan Aisha. Mereka mengenakan piyama dan mata mereka sembap, jelas sekali mereka mendengar semuanya.
Aisha berlari turun dan langsung memeluk pinggang ibunya, "Ma, jangan menangis. Papa jahat, Papa tidak tahu kalau tanpa Mama, dia masih jadi tukang bengkel di pinggir jalan," ucap Aisha.
Ella yang lebih pendiam namun tajam, menatap ke arah pintu kamar Ayahnya dengan tatapan penuh kebencian. "Sabar, Ma. Suatu saat, Papa akan menyesal sudah jahat sama Mama," ucap Ella.
Karina memeluk kedua putrinya erat-erat, di tengah kehancuran hatinya, dia menyadari satu hal, Karina telah memberikan dua puluh tahun hidupnya untuk membangun sebuah istana dan ia tidak akan menyerah begitu saja, karena jika ia menyerah maka istana yang sudah ia bangun akan hancur.
"Ayo masuk kamar, sayang," bisik Karina pada kedua putrinya.
"Mama nggak apa-apa?" tanya Aisha yang terlihat jelas khawatir dengan keadaan Mamanya.
"Mama baik-baik saja," ucap Karina.
"Mama jangan nangis lagi ya," ucap Aisha.
"Iya, sayang. Ayo masuk ke kamar," ucap Karina.
Karina menatap kedua anak gadisnya dan ia merasa bersyukur karena ditengah masalah yang dihadapinya, baik Ella atau Aisha selalu pengertian pada Karina hingga membuat Karina merasa bersalah karena mereka seolah mengetahui apa yang sebenarnya terjadi pada kedua orangtuanya.
Karina sendiri takut jika renggangnya hubungannya dengan Agus mempengaruhi Ella dan Aisha karena mereka saat ini berada di fase remaja, Karina takut jika mereka melampiaskan amarah mereka pada hal-hal negatif.
'Mama akan memperbaiki semuanya sayang, percaya sama Mama ya,' batin Karina.
.
.
.
Bersambung.....