NovelToon NovelToon
Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Istri Pelampiasan Tuan Dirga

Status: sedang berlangsung
Genre:Obsesi / Poligami / Cinta Seiring Waktu
Popularitas:5.7k
Nilai: 5
Nama Author: Weny Hida

Amira yang membutuhkan uang untuk operasi ibunya, terpaksa menyetujui permintaan Celine, untuk menjadi istri kedua suaminya, Dirga.

Celine memang lebih terobsesi dengan pekerjaan, dibandingkan rumah tangganya, dan ingin sepenuhnya melepas peran sebagai seorang istri demi mencapai puncak karir. Celine pun menjebak Dirga, agar mau menikahi Amira.

Seiring berjalannya waktu, Dirga dan Amira mulai timbul benih-benih cinta. Namun, di saat itu juga, Dirga mengetahui jika pernikahan tersebut hanyalah sebatas jebakan. Lantas, bagaimana kelanjutan hubungan mereka bertiga? Bisakah Amira meyakinkan Dirga jika perasaannya benar-benar tulus? Lalu, bagaimana dengan Celine? Apakah dia rela melepaskan Dirga sepenuhnya untuk Amira?

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Weny Hida, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Pergi Sekarang

Satu bulan berlalu.

Rumah kecil itu masih sama. Namun, bagi Amira, pagi ini, semuanya terasa berbeda.

Amira berdiri di depan koper yang sudah tertutup rapat. Di sampingnya ada tas kecil berisi barang-barang penting, dompet, ponsel, barang pribadi lainnya.

Dia menghela napas pelan. Lalu menatap seisi kamar. Kamar yang jadi saksi bagaimana dia pernah hidup tanpa beban sebesar ini.

Di meja belajar masih ada buku catatan lama, beberapa kertas slip gaji, dan foto kecil dirinya bersama ibu, waktu ibu masih terlihat sehat, tersenyum lebar.

Amira menatap foto itu lama. Matanya menghangat.

“Bu ....”

Suaranya nyaris tak terdengar. Dari luar kamar terdengar suara langkah pelan. Seorang wanita paruh baya muncul di ambang pintu, dia pembantu yang mulai tinggal di rumah itu sejak satu minggu terakhir. Namanya Bu Sari.

Bu Sari dibayar oleh Celine, untuk menemani, dan merawat Ibu Amira.

“Mbak Amira, Ibu udah sarapan, dan juga minum obat."

Amira mengangguk pelan. “Iya, Bu. Makasih.”

Bu Sari menatap Amira, ragu sejenak, lalu bertanya hati-hati.

“Mbak mau pergi sekarang?”

Amira menelan ludah. Dia tidak langsung menjawab. Karena jujur, dia masih enggan.

Akhirnya Amira hanya mengangguk kecil.

“Iya, Bu.”

Bu Sari menghela napas, seperti ikut berat melepas Amira.

“Kalau ada waktu, Mba Amira pulang ke rumah ya. Nemenin Ibu."

“Iya Bu Sari, Bu Celine juga bilang semua kebutuhan ibu bakal ditanggung, jadi kalau ada apa-apa, Bu Sari bisa hubungi saya, atau Bu Celine.”

Bu Sari mengangguk, tapi wajahnya tetap tidak tenang. Amira menunduk.

“Bu Sari!” panggil Amira pelan.

“Iya, Mbak?”

“Tolong jaga ibu saya ya ....”

Suara Amira pecah sedikit di ujung kalimat. Bu Sari buru-buru mengangguk.

“Iya, Mbak. InsyaAllah. Saya jagain. Jangan khawatir.”

Amira mengangguk, menahan air mata. Di saat itulah ponselnya bergetar. Satu notifikasi masuk.

Celine: Aku otw. 15 menit lagi sampai.

Amira menatap layar itu lama. Jantungnya berdetak lebih cepat. Dia menutup ponsel, lalu meraih koper.

Menatap kamar sekali lagi, bukan untuk mengejar mimpi. Namun, untuk memenuhi janji, juga mungkin masuk ke dalam hidup orang lain, yang bahkan tak pernah dia inginkan.

Amira kemudian melangkah ke kamar ibunya dengan koper masih berdiri di belakangnya.

Di dalam, ibunya sedang duduk bersandar di bantal, tubuhnya terlihat lebih segar dibanding sebulan lalu, meski wajahnya masih tampak lelah. Selang infus sudah lama dilepas, tapi obat-obatan masih teratur dikonsumsi, dan Bu Sari selalu memastikan semuanya tepat waktu.

Amira memaksakan senyum saat masuk.

“Ibu .…”

Ibunya menoleh, lalu tersenyum pelan.

“Mau berangkat, Nak?”

Amira mengangguk.

“Iya, Bu.”

Ibunya menepuk sisi ranjang, menyuruh Amira duduk. Amira pun menurut. Meskipun, tangannya dingin, dan jantungnya terasa berat, seperti ada batu yang menekan dari dalam.

Ibunya menatapnya dengan mata yang lembut, lalu meraih tangan Amira.

“Kamu kerja yang baik ya. Jangan bikin Bu Celine kecewa.”

Amira mengangguk cepat. “Iya, Bu.”

Ibunya melanjutkan, “Ibu nggak ngerti gimana caranya, tapi ibu tahu biaya operasi itu nggak kecil. Kalau bukan karena Bu Celine, ibu mungkin .…”

Kalimat itu tidak selesai. Ibunya menelan napas, dan Amira seketika menunduk. Hatinya seperti diiris.

Karena ibunya bicara dengan penuh rasa syukur. Sementara Amira justru membawa rahasia yang membuat dadanya seperti mau pecah.

Ibunya menggenggam tangan Amira lebih erat.

“Kamu bersyukur ya, Nak. Pekerjaan kamu sekarang, jauh lebih baik dibanding pekerjaan kamu sebelumnya. Tolong, kamu balas kebaikan itu dengan kerja yang baik. Karena Bu Celine udah nolong keluarga kita.”

Amira mengangguk lagi, kali ini lebih pelan.

“Iya, Bu.”

Ibu Amira mengusap punggung tangan Amira.

“Kalau capek istirahat. Kalau ada waktu, pulang ke rumah ya."

“Iya, Bu.”

Amira tersenyum manis. Padahal di dalam dirinya, Amira ingin sekali berkata, "Bu aku nggak kerja. Aku disuruh jadi istri orang."

Namun, kata-kata itu tertahan di tenggorokan, seperti duri. Amira tidak sanggup. Dia tidak tega berkata jujur, Ibunya baru saja selamat. Ibunya baru saja punya harapan hidup lagi.

Amira tidak mau harapan itu runtuh hanya karena kebenaran yang terlalu kejam. Amira kemudian memeluk ibunya pelan.

“Ibu jaga kesehatan ya,” bisiknya.

Ibunya membalas pelukan itu, menepuk punggung Amira lembut.

“Ibu doain kerjaan kamu lancar. Biar rezeki kamu bagus, biar masa depan kamu ke depan juga bagus.”

Amira menutup mata. Air matanya hampir jatuh, tapi dia menahannya. Karena Amira tahu, mulai hari ini, ia harus pandai berpura-pura agar ibunya tetap tenang.

Di saat itulah, suara klakson mobil terdengar dari depan rumah.

Satu kali.

Lalu dua kali.

Amira langsung berdiri, mengusap cepat sudut matanya yang tadi hampir basah.

“Ibu, aku berangkat ya.”

Ibunya mengangguk, masih menggenggam tangan Amira sebentar sebelum akhirnya melepas.

“Hati-hati.”

Amira mengangguk, lalu bergegas keluar. Di ruang tengah, Bu Sari sudah berdiri menunggu.

“Mbak kopernya saya yang bawa ya,” ucap Bu Sari.

Amira menggeleng cepat. “Nggak usah, Bu. Saya bisa.”

Namun Bu Sari tetap membantu sampai ke depan. Di halaman, sebuah mobil berwarna gelap sudah terparkir. Kacanya sedikit terbuka.

Celine duduk di balik kemudi, tampak rapi seperti biasa. Rambutnya terikat, kemejanya bersih, auranya tenang, tapi selalu terasa seperti seseorang yang memegang kendali penuh atas hidupnya.

Begitu Amira mendekat, Celine membuka pintu dari dalam.

“Masuk,” ucapnya singkat.

Amira mengangguk. Dia memasukkan koper ke bagasi, lalu duduk di kursi samping.

Begitu pintu tertutup, Celine menatap Amira dari atas ke bawah, cukup lama.

Amira jadi salah tingkah, tangannya otomatis menggenggam tali tasnya.

Namun Celine justru tersenyum kecil.

“Bagus,” gumamnya.

Amira menelan ludah. “Bagus apa, Bu?”

Celine tidak menjawab langsung. Dia menyalakan mobil, lalu melaju perlahan.

“Nanti kamu ngerti. Kamu udah siap kan?” tanya Celine.

Amira hanya mengangguk ragu. Mobil mulai melaju, sepanjang perjalanan, Celine tidak banyak bicara.

Hanya sesekali mengecek ponselnya. Sementara Amira duduk diam, jantungnya terus berdebar, menebak-nebak apa yang akan terjadi.

Hingga mobil akhirnya berhenti di depan sebuah tempat yang dari luar saja sudah terlihat mewah.

Lampunya terlihat hangat, dengan kaca besar, dan papan nama elegan.

"Salon?"

Amira menatapnya, bingung.

“Bu, kita ke sini?” tanya Amira pelan.

Celine mematikan mesin, lalu menoleh.

“Iya.”

Amira menelan ludah. “Untuk apa?”

Celine membuka sabuk pengaman, lalu berkata santai.

“Biar kamu keliatan fresh, dan good looking”

Amira terdiam. Dadanya makin sesak. Celine seolah mulai membentuk dirinya menjadi seperti yang diinginkan Celine, atau mungkin diinginkan suaminya.

1
falea sezi
siap siap. gigit jari lu celine. saumi. di. kasih ke madu siap2 gigit jari. lu
Airene Roseanne
yp
falea sezi
honeymoon ma amira aja Dirga biar cpet dapetin bayi tp awas lu nyakitin amira
falea sezi
awas aja klo. suami. mu oleng km. ngamuk dih
falea sezi
bini kayak celine di cerai aja aneh bgt malah fokus krja g fokus suami jangan jangan dia mandul
falea sezi
celine egois lu g mau layanin suami malah nyalahin Amira istri. tolol ya elu ini nanti suami lebih cinta istri muda kapok deh lu gigit jari
falea sezi
kasian amat amira
Susi Ermayana
kamu waras celine..?
kalau sakit ya pergi kedokter.
atau minum obat lah.
lakik di kasih orang...
kalau lakik mu dah nyaman sama yg lain. nanti kamu yang merasa paling tersakiti..
padahal kamu sendiri yang main api.
paling nanti celine bakal nyesel....trus dia balik nyalakan mira.. yang bilang pelakor lah.
awas jangan sampek kamu masok lubang yang kau galih sendiri...
..
Aniza
lanjut thooor,klo lebih mntingin karir tuk apa kmu nikah celin?
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!