Tiga tahun lalu, Caliandra Adiyaksa memilih pergi.
Bukan karena ia tak lagi mencintai Arka Wiryamanta,
tapi karena cinta mereka berdiri di atas luka dan darah masa lalu.
Kini ia kembali, bukan sebagai gadis yang rapuh.
Ia hadir sebagai wanita mandiri dengan kerajaan bisnisnya sendiri.
Arka mengira waktu akan menghapus namanya.
Nyatanya, tidak ada satu hari pun ia berhenti mencintainya.
Ketika takdir mempertemukan mereka kembali dalam dunia bisnis,
gengsi, dendam lama, dan seorang pria bernama Kenzy Maheswara
berdiri di antara mereka.
Arka hanya tahu satu hal,
dari semua perempuan yang datang dan pergi,
hanya satu yang mampu mengacaukan hatinya.
Still you.
Tapi kali ini…
apakah Caliandra masih memilihnya?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Agustin Hariyani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Retak di Antara Dua Sahabat
Hujan turun deras malam itu, mengguyur kota tanpa ampun.
Di lantai tertinggi gedung megah bertuliskan Wiryamanta Group, dua pria berdiri saling berhadapan dalam diam yang menyesakkan. Kilatan petir sesekali menerangi ruangan, memperjelas garis-garis keras di wajah mereka yang tak lagi muda.
Dua puluh tahun lalu, mereka berdiri berdampingan menghadapi dunia.
Kini, mereka berdiri berseberangan—seolah musuh bebuyutan.
Tuan Wiryamanta menatap sahabat lamanya dengan tatapan yang sulit diartikan. “Apa maksud kedatanganmu malam-malam begini, Adi?”
Tuan Adiyaksa tertawa pelan. Tawa yang tak mengandung sedikit pun kehangatan.
“Masih bisa pura-pura tidak tahu?” suaranya berat, parau oleh amarah yang ditahan terlalu lama.
“Perusahaanku hancur. Semua asetku dibekukan. Investor mundur. Dan kau bertanya apa maksudku?”
Wiryamanta mengerutkan kening. “Kebangkrutanmu bukan salahku.”
“Bukan?” Adiyaksa melangkah mendekat. “Siapa yang paling diuntungkan dari kejatuhanku, kalau bukan kau?”
Hening.
Hanya suara hujan yang terdengar menghantam kaca.
Flashback
Dua puluh tahun sebelumnya, mereka hanyalah dua pemuda dengan mimpi besar dan kantong hampir kosong.
Wiryamanta yang visioner.
Adiyaksa yang berani mengambil risiko.
Mereka membangun bisnis dari nol. Saling mendukung. Saling percaya. Bahkan ketika akhirnya memutuskan membangun perusahaan masing-masing, persahabatan mereka tak pernah retak.
Keluarga mereka pun tumbuh bersama.
Anak-anak mereka bermain Bersama seperti kakak beradik.
Istri-istri mereka saling berbagi cerita dan tawa.
Hingga keserakahan menyusup diam-diam.
Semua bermula ketika saudara Nyonya Merry—istri Adiyaksa—datang membawa proposal emas.
Ekspansi internasional.
Kerja sama investor luar negeri.
Janji keuntungan berlipat ganda.
“Ini kesempatan besar, Kak,” ucap pria itu dengan senyum meyakinkan. “Aku tidak akan menipumu. Kita keluarga bukan?.”
Adiyaksa percaya. Terlalu percaya.
Dalam waktu tiga bulan, dana besar mengalir. Dokumen ditandatangani. Aset diagunkan.
Dan saat ia menyadari ada yang janggal—semuanya sudah terlambat.
Investor asing itu tidak pernah ada.
Perusahaan cangkang menghilang.
Rekening kosong.
Perusahaannya runtuh seperti bangunan tanpa pondasi.
Merry menangis histeris ketika tahu kebenarannya. Ia tak menyangka saudaranya sendiri menghancurkan bisnis suaminya.
Namun kehancuran itu belum cukup.
Di tengah keterpurukan, seorang pria datang membawa api.
Surya Pradana. Rival lama Wiryamanta yang tak pernah benar-benar menghilang dari peta persaingan bisnis.
Ia duduk di ruang kerja Adiyaksa yang kini terasa seperti ruang duka.
“Lucu sekali,” ucap Surya santai sambil menyilangkan kaki. “Semua kontrak investor yang kau incar… tiba-tiba beralih ke Wiryamanta Group.”
Adiyaksa terdiam.
“Itu bukan kebetulan.”
“Jangan memfitnah,” geram Adiyaksa.
Surya tersenyum tipis. “Aku hanya menunjukkan fakta. Kau pikir sahabatmu itu suci? Dalam bisnis, tidak ada teman. Hanya pemenang dan pecundang.”
Kalimat itu menancap seperti paku.
Hari demi hari, kecurigaan tumbuh.
Telepon Wiryamanta yang tak segera dijawab.
Pertemuan yang tertunda.
Kontrak besar yang tiba-tiba dimenangkan oleh perusahaan sahabatnya.
Semua terasa seperti potongan puzzle yang membentuk satu kesimpulan kejam.
Pengkhianatan.
Back
“Kau menghancurkanku.” Suara Adiyaksa kembali terdengar di ruangan mewah itu.
Wiryamanta menggeleng tegas. “Aku tidak pernah menyentuh bisnismu.”
“Bohong!”
“Aku bahkan berencana membantumu sebelum kau menolak bertemu!”
Adiyaksa tertawa sinis. “Bantuan? Setelah semuanya habis?”
Tatapan mereka beradu. Dulu penuh kepercayaan. Kini hanya menyisakan bara.
“Persahabatan kita selesai malam ini,” ucap Adiyaksa lirih namun tegas. “Mulai sekarang, kita bukan siapa-siapa.”
Kalimat itu menggantung berat di udara.
Wiryamanta mengepalkan tangan. “Kau akan menyesal mempercayai orang yang salah.”
“Aku sudah menyesal. Karena pernah mempercayaimu.”
Adiyaksa berbalik pergi.
Pintu ruangan tertutup keras.
Dan bersama suara itu, runtuhlah ikatan yang telah dibangun puluhan tahun.
Namun di luar gedung, di balik kaca mobil hitam yang terparkir di seberang jalan, seseorang tersenyum puas.
Surya Pradana mematikan rokoknya perlahan.
“Api kecil sudah menyala,” gumamnya. “Tinggal menunggu mereka saling membakar.”
Ia tahu satu hal yang tidak diketahui kedua sahabat itu.
Kebangkrutan Adiyaksa bukan sekadar penipuan keluarga.
Dan keberhasilan Wiryamanta bukan kebetulan.
Semua sudah dirancang.
Dan permainan sebenarnya… baru saja dimulai.
Di rumah masing-masing, anak-anak mereka tak tahu apa pun.
Mereka masih tertawa.
Masih memanggil satu sama lain sebagai saudara.
Tanpa menyadari bahwa kebencian orang tua mereka kelak akan menjadi warisan paling berbahaya.
Warisan yang suatu hari nanti akan menuntut balas.
Dan saat hari itu tiba, bukan lagi sekadar bisnis yang dipertaruhkan.
Melainkan hati.
Cinta.
Dan nyawa.
😭😭😭