Suami Ishani telah pergi, meninggalkan satu janji yang tidak pernah sepenuhnya ia pahami.
Kini Ishani berada di bawah satu atap dengan Langit, pria yang memiliki wajah yang sama seperti mendiang suaminya, tetapi tidak dengan hatinya.
Tatapan Langit selalu dingin.
Sikapnya penuh jarak.
Seolah kehadiran Ishani dan bayi di rahimnya adalah pengingat akan sesuatu yang ingin ia lupakan.
Ishani hanya ingin melahirkan dengan tenang.
Namun semakin lama ia tinggal di rumah itu, semakin ia menyadari bahwa yang sedang ia hadapi bukan sekadar hubungan ipar.
Ada luka lama.
Ada pengorbanan yang tak pernah benar-benar diterima.
Dan ada kecemburuan yang tumbuh diam-diam sejak mereka masih kecil.
Di antara bayi yang tak bersalah dan masa lalu yang belum selesai…
Ishani terjebak di tengah dua saudara yang dipisahkan oleh takdir.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Shalema, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 1: Sosok yang sama
Ishani tidak menangis saat wajah Biru ditutup dengan kain putih transparan.
Bukan karena ia kuat. Bukan pula karena ia sudah siap.
Tangisnya seperti membeku. Tubuhnya seolah menolak kenyataan bahwa pria yang selama tujuh tahun ia perjuangkan, dan tiga tahun ia panggil suami, kini terbaring kaku
Namun semuanya runtuh ketika ia melihat seorang pria duduk di sudut ruangan.
Wajahnya sama.
Garis rahang tegas itu. Hidung lurusnya. Alis tebal yang menaungi mata gelapnya. Bahkan lekuk bibirnya pun serupa.
Bedanya hanya satu.
Pria itu hidup
Langit.
Saudara kembar Biru.
Sorot matanya tidak hangat seperti Biru. Tatapannya dingin. Tegas. Seolah tak tersentuh duka. Sungguh ironi, di saat Ishani membawa kehidupan baru di dalam perutnya, ia harus mengantarkan suaminya ke liang lahat… dengan wajah yang sama berdiri di hadapannya.
Mana yang lebih menyakitkan? Mengubur pria yang sangat ia cintai? Atau hidup berdampingan dengan wajah yang tak akan pernah bisa ia lupakan?
**********
Tiga hari yang lalu
Beep… beep… beep
Bunyi detak monitor di ruang ICU itu menjadi irama yang akrab di kuping Ishani. Dulu suara itu terasa menakutkan. Kini, ia justru merasa tenang setiap kali mendengarnya. Bunyi itu berarti jantung Biru masih berdetak. Biru masih berjuang.
Sudah tiga bulan mereka bolak-balik rumah sakit. Sejak kecil Biru memiliki kelainan jantung. Operasi demi operasi sudah dilalui. Kali ini, gagal jantung datang lebih parah dari sebelumnya.
Dokter bilang prosedurnya berhasil. Tinggal pemulihan. Namun tubuh Biru terlihat terlalu lelah untuk benar-benar kembali.
Ishani duduk di samping ranjang. Tangannya menggenggam jemari suaminya yang terasa dingin, kurus, dipenuhi selang dan kabel. Ia mengusap kening Biru pelan.
Kelopak mata pria itu bergerak.
“I-i… sha…” Suaranya parau, terhalang ventilator.
“Iya, Mas. Aku di sini.” Ishani menunduk, mendekatkan wajahnya.
Tendangan kecil terasa dari dalam perutnya. Refleks, Ishani tersenyum. “Mas, dia nyapa,” bisiknya lirih. Bayi itu selalu bergerak saat mendengar suara ayahnya, seolah tahu pria itu sedang berjuang.
“Ibu…?” suara Biru kembali terdengar, lemah.
“Ibu sedang dalam perjalanan ke sini, Mas. Sebentar lagi sampai.”
Biru mengangguk tipis, lalu memejamkan mata lagi. Seolah untuk membuka mata beberapa detik saja, menguras seluruh tenaganya.
Ishani menahan kantuk. Punggungnya pegal, kakinya membengkak. Di usia kandungan tujuh bulan, berdiri terlalu lama membuatnya sesak. Namun ia tak ingin pulang.
Saat menikah, Ishani tahu kalau Biru sakit. Ishani tidak pernah mundur. Malahan perjuangan Biru melawan penyakitnya, membuat cinta Ishani semakin besar. Dorongan untuk mendampingi Biru pun semakin kuat.
Menjelang siang, Bu Maura, ibunya Biru, datang. Wajah wanita itu pucat, lingkar hitam tercetak di bawah matanya. “Langit akan datang,” ucapnya pelan.
Ishani terdiam.
“Alhamdulillah, kalau kak Langit mau ke sini. Mas Biru sudah nunggu,” Ishani memberikan tatapan lega.
Langit. Nama yang jarang disebut dalam keluarga ini. Kakak kembar yang dipisahkan dari ibunya sejak kecil untuk diserahkan ke keluarga ayahnya, demi menyelamatkan Biru saat sakit kritis. Sejak itu, Langit dan Biru jarang berkumpul.
Ishani hanya satu kali bertemu dengan kakak iparnya itu. Yakni saat dirinya masih SMA, jauh sebelum ia dan Biru menikah. Bahkan, Langit tidak hadir saat Biru menikahi dirinya.
Namun beberapa hari terakhir, setiap kali sadar, Biru hanya menyebut satu nama, Langit. Dan hari ini… ia datang. Nama yang selalu ia hindari selama bertahun-tahun. Nama yang selalu membuatnya terdiam setiap kali ibunya menyinggung masa lalu.
Bu Maura, terduduk. Ia menatap ke depan, tapi seperti tidak melihat apapun. Matanya seolah menembus tempat dan waktu. “Ibu sudah makan?”
Bu Maura sedikit terperangah. Matanya berkedip. “Belum, tadi dari terminal, ibu langsung ke sini,” ucapnya lemah.
“Kita ke kantin yuk, Bu. Aku juga belum makan.”
Keduanya beriringan berjalan ke arah kantin di belakang rumah sakit. “Ibu mau makan apa?”
“Apa saja, Isha,” jawab Bu Maura. Pandangannya kembali kosong.
Pikiran ibu terbenam di mana? Apa ibu sedang mengingat masa lalu yang udah lewat? tanya Ishani dalam hati.
Ishani dan Bu Maura makan dalam diam. Sesudahnya, mereka kembali ke ruang ICU.
“Biru, ini ibu…” panggil Bu Maura lembut.
Biru membuka matanya, terlihat berat. “La-Lang-it?” napasnya tersenggal.
“Langit akan datang…” tangan Bu Maura terjulur mengusap kening dan rambut anak yang sangat dicintainya itu. “Tunggu ya…” senyumnya dengan mata yang dipenuhi bulir-bulir bening.
Sementara Bu Maura menunggui Biru di samping ranjang, Ishani duduk di ruang tunggu membuka ponselnya. Ia fokus menatap layar.
“Ishani.”
Suara itu membuat jantungnya melonjak. Ia mengenali suara itu. Sangat mengenalnya. Namun ada nada berbeda di dalamnya, lebih rendah, lebih tegas, lebih dingin, dan berat.
“Di mana Biru?”
Deg.
Ishani mengangkat kepala perlahan. Matanya membesar seketika. Di hadapannya berdiri pria dengan wajah yang sama persis dengan suaminya. Tingginya sama. Posturnya sama. Bahkan caranya berdiri pun nyaris serupa. Namun tidak ada kehangatan di sana.
Ishani pernah melihat fotonya di album lama. Tapi pria yang berdiri di depannya jauh lebih nyata dari yang bayangkan.
“K-kak Langit…?”
Pria itu mengangguk singkat.
Ada sesuatu yang membuat dada Ishani bergetar aneh. Bukan karena wajah itu mirip Biru. Tapi karena tatapan itu terasa seperti seseorang yang pernah dekat.
“T-tunggu sebentar,” Ishani bergerak memanggil Bu Maura.
“Langit… kamu disini…,” Bu Maura menatap Langit dengan perasaan lega, seolah tidak percaya jika Langit betul-betul datang.
Ia memandang Langit untuk beberapa saat, seperti ingin mengatakan sesuatu sejak lam… tapi tidak pernah menemukan keberanian yang cukup.
“Aku ke sini untuk Biru,” ucap Langit dingin.
Bu Maura tertunduk. Ishani melihat air mata jatuh di pipinya.
“Di dalam Kak, Mas Biru sudah nunggu kakak,” ucap Ishani mengambil alih.
Langit melangkah mantap saat memasuki ruang ICU. Para perawat saling menatap, jelas terkejut melihat dua wajah identik dalam satu waktu.
Langit membenci ruangan ini. Bau antiseptik selalu mengingatkannya pada hari ketika ia digandeng keluar dari rumah sakit, bukan sebagai anak yang sakit, tetapi sebagai anak yang tidak lagi dibutuhkan.
“Mas… Kak Langit di sini,” bisik Ishani di telinga suaminya.
Mata Biru masih tertutup.
Ishani mengalihkan pandangannya ke arah Langit. “Dipanggil saja, Kak. Mas Biru dengar, kok.”
Ia mundur memberikan ruang untuk Langit.
Langkah Langit terasa berat saat ia mendekati Biru. Di sana, berbaring adik yang sudah lama tidak dilihatnya. Tubuhnya dipasangi kabel dan selang yang terhubung dengan mesin. Wajahnya yang biasa ceria, hangat dan bersemangat, kini pucat, mata tertutup dengan napas yang lemah.
“Bi…,” panggilnya serak.
Mata Biru yang tertutup bergerak. Perlahan terbuka.
“La… Lang… it…” Tangannya terangkat lemah, seolah menggapai bayangan.
Langit mendekat. Untuk pertama kalinya, ketegasan di wajahnya pudar. Ia menggenggam tangan adiknya.
Selama sepersekian detik, pandangan mereka bertemu. Tidak ada pelukan. Tidak ada sapaan hangat. Hanya dua pasang mata yang sama-sama tahu bahwa satu di antara mereka pernah dipilih… dan satu lagi pernah dilepaskan.
“Gue di sini, Bi,” suaranya tercekat.
Biru tersenyum lemah. Senyum yang sama seperti malam ketika ia menangis diam-diam di kamar, mengatakan bahwa ia tidak pernah meminta semua pengorbanan itu.
“Jaga… Isha…,” napasnya terputus-putus. “Seperti dulu lo jaga gue … meski harus pergi.”
Langit membeku. Kalimat itu nyaris tidak terdengar. Ishani menegang.
“Apa?” tanya Langit pelan.
Biru mengerang pelan, kesulitan bernapas. Dadanya naik turun tidak beraturan.
Beep… beep… beep…
Suara monitor semakin cepat. Ishani mundur selangkah. “Suster!”
Para perawat berlari masuk. Dokter dipanggil. Tubuh Biru tersentak kecil di atas ranjang.
“Mas… tahan…” bisik Ishani, menahan napas.
Langit menggenggam tangan adiknya lebih erat. Matanya menatap Ishani, cemas dan frustrasi.
Akhirnya, denyut monitor stabil. Biru masih berjuang, masih hidup.
Dokter menarik napas lega. “Kondisinya membaik, tapi harus tetap diobservasi.”
Ishani menunduk, air matanya jatuh perlahan.
Langit berdiri di samping, tatapannya lembut sesaat.
Jaga… Isha…
Dan tanpa mereka sadari, satu kalimat itu akan mengikat hidup mereka jauh lebih dalam daripada yang pernah mereka bayangkan.
walaupun keras, langit orangnya bertanggung jawab, dan kayaknya dia beneran sayang sama kamu dan baby kamu ishanii /Slight/
Semangat!