Lily Rosamaria bukan siapa-siapa di rumah itu. Anak kandung yang diperlakukan seperti pembantu, sejak ibu tiri dan Nindi datang mengambil alih segalanya.
Tapi Lily punya Dimas Arya, kekasihnya yang membuatnya bahagia. Sampai malam sebelum pernikahan mereka, Lily memergoki Dimas dan Nindi di kamar belakang.
"Kami saling mencintai, Lily. Kamu yang seharusnya pergi."
Bukan Dimas yang bicara, tapi Nindi dengan perut yang mulai membesar.
Lily tidak menangis, dia berlari masuk ke gudang tua belakang rumah ketika ayahnya justru menginginkannya terkurung di sana.
Di balik dinding yang pengap itu, Lily menemukan pintu kecil berkarat. Dan di balik pintu itu, sebuah ruang yang tidak masuk akal. Ruang yang mendengarnya. Ruang yang menjawab amarahnya.
"Kamu mau apa?" bisik sesuatu dari sana.
Lily mengepalkan tangan. Dadanya penuh amarah, malu, trauma dan satu bara kecil yang belum padam.
"Aku mau mereka merasakan apa yang aku rasakan."
Ruang itu bersinar.
Dan Lily Rosamaria mulai bangkit.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Erchapram, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 6 - PENGUMUMAN TANPA MALU
Lily tidak membalas pesan itu. Bukan karena tidak mau, tapi karena ayahnya berdiri di ujung lorong dapur dengan ekspresi yang mengatakan jam tujuh kurang sepuluh menit dan meja makan masih kosong. Lily memasukkan ponsel ke kantong, mencuci tangan di wastafel dapur, dan mulai mengeluarkan piring dari lemari dengan gerakan yang sudah otomatis setelah bertahun-tahun.
Tangannya bergerak. Kepalanya di tempat lain.
Siapa yang tahu nama Mama? Bukan nama lengkapnya yang ada di akta, Wulan Dewi Paramita. Nama itu tidak pernah Lily sebut ke siapa pun. Tidak ke Dimas, tidak ke teman-teman sekolah yang dulu ada, tidak ke siapa pun yang masih ada di hidupnya sekarang.
Satu-satunya yang tahu adalah orang yang mengenal Mama langsung.
Lily meletakkan piring terakhir di meja dan mendengar langkah kaki dari tangga, Tante Sari turun dengan daster dan muka yang sudah dimakeup tipis meski belum jam tujuh. Di belakangnya, Nindi berjalan mengikuti.
Nindi yang perutnya, sekarang Lily perhatikan dengan mata yang berbeda ... memang sudah membesar. Tersamarkan oleh baju yang dipilih dengan rapi. Selama ini Lily tidak memperhatikan karena tidak ada alasan untuk curiga.
Sekarang semuanya kelihatan.
"Sudah siap sarapannya?" Tante Sari duduk tanpa melihat ke arah Lily.
"Sudah, Tante."
"Telur Nindi jangan terlalu matang."
"Iya."
Lily balik ke dapur. Diambilnya wajan, dituangnya minyak, dipecahnya telur ... semua dengan gerakan yang sama seperti setiap pagi selama tujuh tahun. Tapi pagi ini ada yang berbeda di caranya memegang wajan. Lebih erat. Lebih sadar.
Seperti orang yang sedang menghitung.
Sarapan berlangsung dengan keheningan yang tegang.
Ayahnya duduk di kepala meja dengan koran yang tidak dibuka. Tante Sari makan dengan pelan dan hati-hati, sesekali berbisik ke Nindi tentang hal-hal yang tidak perlu dibisikkan. Nindi makan dengan kepala agak menunduk, tidak seperti biasanya. Biasanya Nindi yang paling banyak bicara di meja makan.
Lily berdiri di dekat dapur, menunggu kalau-kalau ada yang perlu ditambah. Posisi yang sama seperti setiap pagi.
"Sore ini ada yang perlu kita bicarakan," kata ayahnya tiba-tiba. Tidak ke siapa-siapa secara khusus, ke meja pada umumnya. "Semua kumpul di ruang keluarga jam empat."
Tante Sari mengangguk seperti sudah tahu.
Nindi tidak bereaksi.
Lily juga tidak bereaksi... dari luar. Di dalamnya, ada sesuatu yang mulai waspada.
Jam empat kurang lima belas, Lily masih di dapur membereskan sisa persiapan makan malam yang belum selesai ketika Bibi Rah datang ke pintu dapur dengan wajah yang lebih tidak bisa dibaca dari biasanya.
"Kamu dipanggil juga," kata Bibi Rah.
Lily mengangkat wajah dari talenan.
"Pak Harto yang suruh?"
Bibi Rah mengangguk. Lalu pergi tanpa tambahan apa-apa. Lily menaruh pisau, mengelap tangannya di serbet, dan berjalan ke ruang keluarga.
Ruang keluarga adalah ruangan yang dulu paling Lily suka waktu kecil, sebelum Tante Sari datang, Mama sering duduk di sofa besar dekat jendela sambil membaca dan Lily tiduran di lantai di sebelahnya dengan buku gambar. Sekarang sofa itu sudah diganti model yang lebih baru yang Tante Sari pilih dan nuansa ruangannya berbeda ... lebih rapi, lebih formal, lebih tidak terasa seperti rumah.
Ayahnya sudah duduk di kursi yang selalu jadi posisinya. Tante Sari di sofa panjang, Nindi di sebelahnya.
Lily berdiri di dekat pintu. Tidak ada yang menawarkan tempat duduk.
"Duduk," kata ayahnya.
Lily mengambil kursi kecil di sudut yang memang tidak pernah ada yang pakai.
Ayahnya membuka suara. "Rencananya, pernikahan kemarin akan kita batalkan secara resmi. Pihak keluarga Dimas sudah dikabari tadi pagi."
Lily diam. Mengangguk sedikit.
"Nindi dan Dimas akan menikah bulan depan. Sederhana saja, tidak perlu besar-besaran."
Kalimat itu keluar dari mulut ayahnya seperti laporan keuangan. Datar. Teratur. Tanpa jeda untuk memberi ruang pada kenyataan bahwa dia sedang bicara tentang anak kandungnya di depan perempuan yang menggantikannya.
Tante Sari menyentuh lengan Nindi dengan gerakan yang harusnya terlihat seperti dukungan, tapi lebih kelihatan seperti konfirmasi.
Nindi akhirnya mengangkat kepalanya. Matanya bertemu dengan mata Lily.
"Aku harap kamu bisa ngerti, Lily," katanya. Nada suaranya sudah berbeda dari semalam, lebih terkontrol, lebih seperti persiapan. "Ini bukan sesuatu yang kita rencanain untuk menyakiti kamu."
Lily menatapnya tiga detik penuh.
"Oke," kata Lily.
Nindi berkedip. Sepertinya mengharapkan lebih dari itu.
"Oke?" ulang Tante Sari, nadanya sedikit tidak percaya.
"Iya," kata Lily. "Oke."
Ayahnya menggeser posisi duduknya. "Baik. Selama masa transisi ini, kamu tetap di sini dan bantu keperluan rumah seperti biasa. Setelah Nindi dan Dimas menikah, kita akan bicarakan soal---"
"Soal apa, Yah?"
Ayahnya berhenti.
Lily tidak pernah memotong kalimat ayahnya. Tidak pernah. Bahkan waktu ayahnya salah, waktu ayahnya tidak adil, waktu ayahnya pura-pura tidak melihat hal-hal yang sangat kelihatan. Lily selalu menunggu sampai dia selesai bicara sebelum menunduk dan pergi.
Tapi pagi ini ada sesuatu yang berbeda di kepalanya. Lebih jernih, lebih dingin, dan tidak sabar untuk berlama-lama dalam posisi menunduk.
"Soal apa?" ulang Lily. Lebih pelan. Bukan menantang, tapi bukan juga menarik kembali pertanyaannya.
"Soal ke depannya kamu mau bagaimana," jawab ayahnya akhirnya.
"Aku mau kuliah," kata Lily.
Ruangan hening.
Tante Sari dan Nindi saling tatap sebentar.
Ayahnya mengerutkan dahi. "Kita belum..."
"Nindi dikuliahkan," kata Lily. Masih pelan. Masih teratur. "Aku minta hal yang sama tiga tahun lalu dan jawabnya tidak ada dana. Aku minta lagi sekarang."
"Lily." Nada ayahnya turun satu not, jenis nada yang dulu selalu berhasil membuat Lily berhenti bicara.
Kali ini tidak.
"Aku tidak akan kemana-mana, Yah. Aku tetap bantu semua keperluan rumah. Tapi aku mau sekolah."
Tante Sari menyela dengan suara yang dimaniskan. "Sayang, situasinya sekarang lagi tidak..."
"Tante tidak perlu ikut jawab," kata Lily.
Hening lagi. Jenis hening yang berbeda... lebih berat, lebih hangat, lebih berbau terkejut.
Tante Sari menutup mulutnya tipis. Matanya mengecil sedikit.
Nindi meletakkan tangannya di atas perutnya, gerakan refleks yang mungkin tidak dia sadari, tapi Lily perhatikan.
Ayahnya berdiri dari kursinya. "Kita tidak membahas ini sekarang. Kamu keluar."
Lily berdiri juga. Lebih lambat dari ayahnya. Dan waktu dia berjalan ke pintu, punggungnya tegak bukan karena dibuat-buat, tapi karena pagi ini di gudang itu ada sesuatu yang berubah di caranya menggunakan tulang belakangnya sendiri.
Di ambang pintu, dia berhenti sebentar.
Tidak menoleh. Hanya bicara ke arah depan.
"Selamat ya buat Nindi dan Mas Dimas."
Lalu dia berjalan ke dapur, mengambil ponselnya dari meja, dan membuka pesan dari nomor tidak dikenal yang masih menunggu di sana.
Jarinya mengetik satu kalimat, [Iya, itu nama ibuku. Kamu siapa?]
Pesan itu ia kirim. Lalu menunggu.
Lima detik. Sepuluh.
Balasan masuk.
[Namaku Hendra. Aku adik kandung ibumu. Pamanmu. Dan aku sudah mencarimu sangat lama, Lily.]