NovelToon NovelToon
My Girl

My Girl

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / CEO
Popularitas:801
Nilai: 5
Nama Author: Helena Fox

Anindira Cewek yang dikenal “bar-bar”. Ceplas-ceplos, berani ribut kalau diremehin, dan gak pernah mau kalah. Di balik kerasnya, Dira cuma capek terus disalahpahami. Ia takut jadi lemah—padahal yang ia butuhin cuma dimengerti. Meskipun bar-bar dia juga memiliki sisi rasa penakut , terlebih pada hal - hal yang berbau horor

Elvan Bagaskara

CEO muda yang dingin di cap ceo dingin , rapi, dan perfeksionis. Hidupnya dikontrol logika. Emosi dianggap gangguan. Terlihat kuat, padahal ia memikul tanggung jawab terlalu berat di usia muda.

Albian Bagaskara
Adik Elvan Satu sekolah dengan Dira . Pendiam dingin, dan tertutup. Tidak suka konflik, tapi selalu ada di saat orang lain diserang. Cara pedulinya sunyi, itu yang membuat tidak terlihat .

Bagaimana jadinya .Dira cewek bar -bar bertemu Ceo dingin dan terjebak dalam kisah yang rumit antara Elvan dan Albian .

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Helena Fox, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Part 25

Pagi itu Dira akhirnya kembali ke sekolah setelah beberapa hari istirahat. Ia sudah beberapa hari istirahat di rumah dan membuatnya sangat bosan.

Kenzo sebenarnya masih ragu mengizinkannya pergi.

“Kamu yakin sudah kuat?” tanya Kenzo sambil menatap luka yang masih samar di pelipis adiknya.

Dira mengangkat bahu santai. “Kalau aku terus di rumah, aku bisa mati bosan bang.”

Kenzo menghela napas. “Baiklah. Ada orang yang jagain kamu di sekolah.”

Dira langsung mengerutkan kening. “Hah? Bodyguard?”

“Anggap saja begitu.”

Dira mendengus.“Bang Kenzo lebay.”

" Udah ayo berangkat "

Namun sebenarnya Kenzo tidak hanya menaruh orangnya. Elvan juga melakukan hal yang sama

Di Sekolah

Suasana sekolah ramai seperti biasa. Beberapa teman Dira langsung menghampirinya.

“Dir! Kamu beneran kecelakaan?” Tanya Bayu

“Iya, katanya sampai pingsan!” Timpal sinta

Dira tertawa kecil. “Udah lewat kok.”

" Kamu beneran sudah sembuh " sinta masih khawatir

" Iyaaa. Tenang aja , aku kuat " Merangkul bahu sinta

Namun tidak semua orang terlihat senang melihatnya kembali.

Di ujung koridor berdiri Vina bersama dua temannya.

Tatapan mereka sinis.

Vina menyilangkan tangan. “Oh… ternyata masih hidup.”

Dira menatap malas.

“Sayangnya iya.” Teman Vina tertawa mengejek.

“Kamu tuh drama banget deh. Katanya kecelakaan parah, tapi sekarang udah jalan-jalan lagi.”

Dira menghela napas. Selalu saja vina cari masalah dengannya.

“Kalau mau ngomong, langsung aja. Jangan muter.”

Vina mendekat.

“Kamu pikir karena dekat sama orang kaya, kamu jadi hebat?”

Dira langsung kesal. “Apaan sih kamu?”

Vina sengaja mendorong bahu Dira.

Tubuh Dira yang masih belum benar-benar pulih langsung sedikit goyah.

“Eh, jangan sentuh aku.”

" Eh kamu jangan kurang ajar ya." Bela sinta , Ia tak terima saat dira terdorong

" Gak usah ikut campur " Balas temannya vina

Tapi Vina malah semakin mengejek.

“Kamu lemah banget ternyata.”

Dira mencoba berdiri tegak, tapi kepalanya mulai terasa berat. Ia tak terima saat dikatain lemah . Penglihatannya sedikit berputar. Namun lagi- lagi vina maju mendekat ingin mendorong kembali.

“Dir?” Bayu mulai khawatir.

Vina masih belum berhenti.

“Baru disentuh dikit udah begitu lemah ” Vina mendorong kuat tubuh dira yang belum siap berdiri.

Vina mendekat dengan wajah sinis.

“Kamu kira setelah semua drama itu kamu bisa kembali sekolah seperti biasa?”

Dira menatapnya kesal.

“Aku nggak punya waktu buat drama kamu.”

Kalimat itu membuat Vina semakin kesal.

“Berani banget kamu!”

Hingga ia langsung mendorong Dira dengan keras.

Tubuh Dira membentur dinding lorong.

BRAK.

Tak sempat melawan dira terdorong .Hingga tubuhnya Dira tiba-tiba limbung.

BRUK.

Kepalanya yang masih sensitif kembali terbentur. Beberapa detik Dira mencoba berdiri tegak.

Namun pandangannya mulai berputar.

" Dira!!" sinta panik " Kamu baik-baik aja "

" Kamu keterlaluan vin. Lihat aja kalau sampai dira kenapa-kenapa kamu yang aku salahkan..." Ancam Bayu

“Eh… tunggu…”

Dunia terasa gelap. Tubuhnya perlahan jatuh ke lantai.

Dira pingsan.

Para siswa yang melihat langsung panik. Apalagi sinta dan Bayu.

“DIRA!” Sinta menangkap tubuh dira.

Di sisi lain , Elvan sedang berada di ruang meeting bersama Kenzo dan beberapa klien penting.

Suasana formal.

Presentasi berjalan. Namun ponsel Elvan tiba-tiba bergetar di atas meja.

Dia biasanya tidak pernah mengangkat telepon saat meeting.

Tapi ketika melihat nama yang muncul…

wajahnya langsung berubah serius. Anak buah yang ia ditugaskan menjaga Dira.

Elvan langsung berdiri dan menjawab telepon. “Iya?”

Suara di seberang terdengar panik.

“Bos… Dira pingsan di sekolah!”

Ruangan meeting langsung sunyi.

Elvan membeku beberapa detik. “Apa?”

“Dia didorong siswi. Kepalanya terbentur dinding—”

Kalimat itu belum selesai ketika kursi Elvan sudah terdorong mundur.

Ia langsung mengambil jasnya.

Kenzo menatapnya bingung. “Ada apa?”

Elvan menjawab cepat.

“Dira pingsan.”

Kenzo langsung berdiri juga. “Apa?!”

Elvan sudah berjalan keluar ruangan tanpa peduli klien yang masih duduk di sana.

“Meeting kita lanjut lain waktu,” katanya singkat.

Kenzo bahkan tidak sempat menjelaskan pada orang lain.

Ia langsung mengejar Elvan keluar.

***

Mobil Elvan melaju sangat cepat menuju sekolah.

Kenzo duduk di kursi penumpang sambil menahan napas.

“Kamu tahu siapa yang melakukannya?”

Elvan menggenggam setir kuat.

“Belum.”

Nada suaranya sangat dingin.

“Tapi kalau dia sampai kenapa-kenapa…”

Kalimat itu tidak selesai. Kenzo bisa merasakan kemarahan besar di baliknya.

Beberapa menit kemudian mobil berhenti keras di depan sekolah.

Elvan bahkan tidak mematikan mesin. Ia langsung keluar dan berjalan cepat ke dalam.

Di lorong sekolah…

Dira sudah terbaring di lantai dengan beberapa guru di sekitarnya. Wajahnya pucat.

Begitu melihat itu, langkah Elvan langsung berhenti sebentar.

Untuk pertama kalinya… ekspresinya benar-benar panik.

“Dir.”

Ia berlutut di sampingnya.

Tangannya langsung memeriksa nadi Dira.

Masih ada. Elvan menghela napas lega sedikit.

Namun matanya tetap tajam.

“Siapa yang melakukan ini?”

Seorang siswa menunjuk ke arah Vina dan temannya , Namun tidak ada . Sedangkan vina dan temannya saat ini berada di belakang sekolah .Saat setelah dira pingsan , mereka langsung pergi meninggalkan begitu saja.

Kenzo langsung menatap mereka dengan dingin.

" Kenapa dibiarkan saja , apa tugas kalian hanya menonton? hah!"

Sementara Elvan mengangkat Dira ke dalam pelukannya.

Dengan hati-hati. Seolah-olah gadis itu bisa pecah kapan saja.

“Kita ke rumah sakit sekarang ken.” kata Elvan.

Kenzo membuka jalan.

Para siswa hanya bisa menatap mereka dengan tegang.

Sementara di dalam pelukan Elvan…

Dira masih tidak sadarkan diri.

Dan Elvan benar-benar terlihat takut kehilangan seseorang. Sudah beberapa kali dira selalu dalam bahaya.

Mobil Elvan berhenti keras di depan pintu rumah sakit.

Beberapa perawat langsung datang ketika melihat seorang gadis dibawa dengan wajah pucat.

“Elvan, cepat!” kata Kenzo sambil membuka jalan.

Elvan membawa Dira dalam pelukannya masuk ke dalam ruang IGD. Wajahnya tegang, rahangnya mengeras. Ia bahkan tidak memedulikan tatapan orang-orang di sekitarnya.

“Dokter! Cepat!” panggil Kenzo.

Seorang dokter segera datang.

“Apa yang terjadi?”

“Kepalanya terbentur. Dia baru saja pulih dari kecelakaan sebelumnya,” jawab Elvan singkat.

Dira langsung dibaringkan di tempat tidur dan dibawa masuk ke ruang pemeriksaan.

Pintu ditutup.

Dan untuk pertama kalinya… Elvan tidak bisa melakukan apa-apa selain menunggu.

Lorong rumah sakit terasa sunyi.

Kenzo berdiri sambil menyilangkan tangan. Wajahnya jelas menahan emosi.

“Elvan.”

Elvan tidak menjawab. Matanya terus menatap pintu ruang perawatan.

“Siapa yang melakukan semua ini?” tanya Kenzo lagi.

Elvan akhirnya menjawab pelan. Ia sudah menerima informasi dari anak buahnya.

“Seorang siswi bernama Vina. Orang yang sama.”

Kenzo menghela napas panjang.

“Kalau sampai Dira kenapa-kenapa…”

Kalimat itu menggantung.

Elvan berkata dengan suara sangat dingin. “Tidak akan ada yang menyentuhnya lagi setelah ini.”

Nada itu membuat Kenzo tahu… Elvan benar-benar marah.

Bersambung.......

1
Teh Sopiah
Lumayan
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!