Seorang pemuda berusia 25 tahun, harus turun gunung setelah kepergian sang guru. Dia adalah adi saputra.. sosok oemuda yang memiliki masa lalu yang kelam, di tinggalkan oleh kedua orang tuanya ketika dirinya masih berusia lima tahun.
20 tahun yang lalu terjadi pembantaian oleh sekelompok orang tak di kenal yang menewaskan kedua orang tuanya berikut seluruh keluarga dari mendiang sang ibu menjadi korban.
Untung saja, adi yang saat itu masih berusia lima tahun di selamatkan okeh sosok misterius merawatnya dengan baik dari kecil hingga ia berusia 25 tahun. sosok misterius itu adalah guru sekaligus kakek bagi Adi saputra mengajarkan banyak hal termasuk keahliah medis dan menjadi kultivator dari jaman kuno.
lalu apa tujuan adi saputra turun gunung?
Jelasnya sebelum gurunya meninggal dunia, dia berpesan padanya untuk mencari jalan hidupnya sendiri.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sarif Hidayat, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 31 Setelah kepergian yosen
Setelah obrolan yang cukup panjang, Luhut akhirnya tidak tahan untuk bertanya. Matanya dan mata Darma sama-sama menunjukkan kebingungan karena mereka sama sekali tidak dapat mendeteksi tingkat bela diri pemuda di hadapan mereka.
"Tuan Ray... kalau boleh kami tahu, di tingkat mana tingkatan bela dirimu?" Luhut bertanya dengan nada yang tidak bisa menyembunyikan rasa penasaran.
Rayan terdiam sesaat, menimbang jawabannya. Kemudian, ia balik bertanya, "Apakah menurut Paman Luhut, saya adalah seorang Ahli Bela Diri?"
Pertanyaan tenang Rayan itu justru membuat Luhut dan Darma saling pandang dengan dahi berkerut.
Pemuda ini tidak hanya tidak menjawab, tetapi malah melemparkan pertanyaan balik yang terasa sangat ganjil. Mereka baru saja menyaksikan rayan mengalahkan pria berambut panjang itu—si Gunda—dengan begitu mudah. Meskipun jurus dan pergerakan rayan terasa asing, apa lagi sebutan yang pantas jika ia bukan seorang ahli bela diri?
"Sebenarnya saya memang menguasai sedikit gerakan untuk memukul orang. Hanya saja, saya memang tidak tahu apa yang disebut Ahli Bela Diri," jelas rayan, tersenyum tipis. "Sejujurnya, saya baru tinggal di kota ini beberapa hari. Sebelumnya, saya tinggal di sebuah desa yang cukup jauh. Ada sebuah alasan yang membuat saya harus pindah ke sini."
Rayan sedikit berbohong, meskipun ia memang berasal dari desa. Namun, waktu paling lama ia habiskan adalah di pedalaman hutan. Kebetulan Luhut mengangkat topik bela diri, dan rayan memang ingin mencari tahu lebih banyak tentang dunia pertarungan di kota.
Luhut dan Darma saling pandang sekilas lagi. Pantas saja pakaian yang dikenakan pemuda ini terlihat berbeda dari kebanyakan orang di kota. Ternyata ia memang berasal dari desa. Namun, pertanyaan yang mengganjal bagi mereka adalah: Bagaimana mungkin pemuda ini tidak mengetahui tentang Ahli Bela Diri, tetapi bisa bertarung sekuat itu?
"Jadi begitu. Pantas saja namamu sedikit berbeda dari kebanyakan orang di kota," sela Darma, mulai angkat bicara. "Tetapi saya agak bingung, Tuan. Bagaimana mungkin anda tidak tahu tentang bela diri, padahal Anda bisa mengalahkan pria berambut panjang itu—yang menurut saya—kekuatannya berada di Tingkat atas tahap pertama?"
"Apakah kalian tahu ada sebutan lain dari kata Ahli Bela Diri sebagai julukan bagi orang yang bisa bertarung?" rayan bertanya balik.
Ia ingat, Gurunya pernah mengatakan bahwa di dunia ini masih ada sebutan lain untuk para petarung selain Ahli Bela Diri dan Kultivator. Sayangnya, saat itu rayan sedang sakit perut parah karena salah memakan pil buatannya sendiri, alhasil ia tidak mendengar penjelasan Gurunya sampai tuntas.
Luhut terdiam mendengar pertanyaan itu, begitu pula Darma. Mereka tidak tahu harus menjawab apa. Setelah beberapa saat hening, Darma mulai menjelaskan dengan hati-hati.
"Begini, Tuan ray. Sebenarnya, Sebutan Ahli Bela Diri adalah dua kata yang mencakup semua seni pertarungan di seluruh dunia. Contohnya, Ahli Kungfu dari Tiongkok, Ahli Karate dari Jepang, Ahli Pencak Silat dari Indonesia, Taekwondo, Judo, Muay Thai, Capoeira, Kendo... dan lain-lain. Semua nama ahli yang saya sebutkan itu bisa disebut sebagai ahli seni bela diri di seluruh dunia."
"Jadi, bisa dibilang, Anda juga adalah seorang Ahli Bela Diri, Tuan ray. Karena Anda bisa bertarung dengan gerakan yang berseni," lanjut Darma. "Hanya saja, kami berdua tidak tahu seni bela diri apa yang Anda pelajari. Jujur saja, kami belum pernah melihatnya."
Darma menyimpulkan. Ia berpikir karena pemuda ini berasal dari desa, wajar jika ia tidak tahu arti sebenarnya dari bela diri.
Rayan terdiam mendengarnya. Cukup masuk akal, pikirnya. Jika memang begitu, lantas seni bela diri apa yang ia pelajari? Gurunya hanya mengatakan bahwa yang ia pelajari adalah Kultivasi Menelan Langit dari zaman kuno. Dan zaman kuno yang Gurunya bicarakan adalah era di mana orang kuat bisa menjadi Dewa. Ia tidak yakin apakah para ahli bela diri yang kuat di zaman ini juga bisa mencapai tingkatan Dewa, seperti yang Gurunya ceritakan.
"Jika memang saya termasuk seorang Ahli Bela Diri, itu cukup masuk akal karena kebetulan saya memiliki beberapa jurus untuk bertarung," ucap rayan. "Hanya saja, mengenai seni bela diri apa yang saya pelajari... saya sendiri tidak tahu namanya."
Rayan tidak mungkin menyebutkan "Kultivasi Menelan Langit" karena Darma tidak menyebutkannya.
Darma dan Luhut kembali mengerutkan kening. Jawaban pemuda ini semakin membingungkan. Namun, mereka memutuskan bahwa mungkin rayan sengaja tidak ingin memberitahu mereka, jadi mereka pun tidak lagi bertanya.
"Kalau begitu, boleh saya tahu, keahlian seni bela diri apa yang paman berdua pelajari?" tanya rayan, ganti penasaran.
"Seni bela diri yang kami pelajari disebut Seni Bela Diri Kebugaran," jelas Luhut, mengambil alih. "Begitu pula yang dikuasai oleh para ahli di negara ini. Seni Bela Diri Kebugaran sendiri terbagi menjadi 9 tingkatan utama:"
Tingkat Bawaan
Tingkat Menengah
Tingkat Atas
Tingkat Puncak
Tingkat Kelahiran jiwa awal
Tingkat Kelahiran jiwa Menengah
Tingkat Kelahiran jiwa atas
Tingkat Kelahiran jiwa murni
Tingkat Kelahiran jiwa agung
"Dan masing-masing dari tingkatan tersebut terbagi lagi menjadi sembilan tahap untuk naik ke tingkat selanjutnya," pungkas Luhut. Entah pemuda ini berpura-pura tidak tahu atau tidak, yang jelas mereka merasa rayan cukup menarik untuk didekati.
Rayan agak terkesiap saat mendengar nama tingkatan Tingkat kelahiran jiwa agung. Nama itu terdengar cukup menarik, dan lagi ternyata tingkatan utama dari para ahli beladiri ini sama dengan tingkatan para kultivator yang itu memiliki 9 tingkat,
"Apakah Tingkat kelahiran jiwa agung itu sangat kuat, ataukah seseorang yang sudah mencapai tingkat itu akan menjadi Dewa?" tanya rayan penuh rasa ingin tahu.
Luhut dan Darma yang mendengarnya merasakan sedikit pusing di kepala. Pertanyaan konyol macam apa ini? pikir mereka. Apakah pemuda ini hobi membaca novel fantasi?
Meskipun ada beberapa cerita yang mengatakan seseorang akan menjadi dewa jika sudah sangat kuat, itu hanyalah cerita belaka dan tidak terbukti. Selama Luhut dan Darma menjadi murid di salah satu perguruan, mereka belum pernah mendengar secara nyata ada Ahli Bela Diri yang telah menjadi Dewa. Kisah menjadi Dewa hanyalah dongeng semata di zaman ini.
"Ehm... begini, Tuan rayan," Luhut mencoba menjelaskan dengan sabar. "Sebenarnya nama tingkatan Tingkat suci itu hanyalah perumpamaan, atau bisa dibilang gambaran. Bagi siapapun Ahli Bela Diri Kebugaran yang sudah mencapai tingkat kelahiran jiwa agung, orang itu akan memiliki kekuatan yang sangat besar. Mungkin di negara ini, dialah satu-satunya Ahli Bela Diri Kebugaran yang terkuat."
Rayan tanpa sadar menggaruk kepalanya yang tidak gatal. Sepertinya ia terlalu tinggi memikirkan para Ahli Bela Diri di zaman ini. Pantas saja Gurunya pernah mengatakan bahwa dengan kekuatannya saat ini, para Ahli Bela Diri di negara ini tidak akan ada yang menjadi lawannya. Ini karena metode latihan dan peningkatan kekuatannya berbeda, dan tubuh rayan sendiri sudah ditempa dengan metode khusus oleh Gurunya.
"Lalu, apakah sudah ada orang yang sudah mencapai tingkat kelahiran jiwa agung itu itu?" tanya rayan lagi.
Kedua pria itu langsung mengembuskan napas berat. Sepertinya pemuda ini memang benar-benar tidak mengetahui tentang dunia bela diri, pikir mereka.
"Sayang sekali, Tuan rayan harus tahu, bahkan untuk menembus satu tingkat saja membutuhkan waktu dan usaha yang tinggi agar berhasil," jawab Darma. "Kecuali orang itu sangat berbakat, kecil kemungkinan seorang Ahli Bela Diri Kebugaran bisa mencapai tingkat itu sebelum ia meninggal."
"Tetapi," Darma melanjutkan, "Guru Sekte kami pernah berkata, bahwa jika seseorang bisa mencapai tingkat itu, akan ada nama tingkatan lainnya yang harus ia lewati jika ingin semakin kuat. Hanya saja, kebenarannya masih belum terbukti. Satu-satunya kitab kuno Seni Bela Diri Kebugaran sudah hilang sejak ratusan tahun yang lalu. Jadi, untuk membuktikan apakah masih ada tingkatan setelah Tingkat suci itu belum bisa dipastikan kebenarannya."
Tepat ketika rayan hendak bertanya lagi, Hana dan Maudy keluar dari dalam rumah.
"Pengawal!" seru Hana kepada Luhut dan Darma. "Kakek baru saja menelepon. Ada sesuatu yang ingin dia bicarakan dengan kalian."
Luhut dan Darma langsung berdiri tegak. Kakek Hana adalah sosok Kepala Keluarga Purnawan. Jika orang itu ingin berbicara dengan mereka, pastilah itu hal yang sangat penting.
"Kalau begitu, apakah Nona juga akan kembali?" tanya Luhut.
"Aku akan pergi berjalan-jalan sebentar dengan Maudy. Kalian kembalilah lebih dulu. Aku juga sudah memberitahu Kakek sebelumnya," jawab Hana.
Kedua pengawal itu sedikit ragu. Mereka ditugaskan menjadi pengawal pribadi Nona Muda. Ke mana pun Hana pergi, mereka harus mengikutinya sampai kembali. Jika mereka kembali tanpa Nona Muda, mereka khawatir akan mendapat masalah.
Hana kembali berkata, "Kakek sudah menunggu kalian, jadi cepatlah pergi. Jangan khawatirkan aku. Aku juga akan segera kembali sebelum sore hari."
Namun, Luhut dan Darma masih bergeming.
"Hais... kalian berdua tidak perlu khawatir! Aku dan Maudy akan pergi dengannya," ujar Hana, kali ini ia menunjuk ke arah rayan. "Paman harusnya sudah tahu bahwa dia juga seorang ahli bela diri yang kuat, dan pasti akan bisa menjaga kami berdua." Hana menggunakan pemuda itu sebagai alasan agar kedua pengawalnya segera pergi.
"Ini..."
Seketika Luhut dan Darma melihat ke arah rayan, yang mana rayan sendiri tengah melihat ke arah Hana, lalu beralih pada Maudy dan mendapati gadis itu malah menundukkan kepalanya dalam-dalam.
"Kalian pergilah. Mungkin memang ada sesuatu yang sangat penting," ucap rayan.
"Baiklah, tetapi jika ada sesuatu hal yang terjadi, Nona jangan lupa untuk segera mengabari kami," ujar Darma memperingatkan.
"Ya-ya, aku pasti akan mengabari kalian," kata Hana malas.
Setelah berpamitan kepada rayan, akhirnya Luhut dan Darma pun pergi dari sana, dengan mengendarai mobil khusus pengintaian mereka.
"Humph... akhirnya pergi juga," gumam Hana dengan suara sangat kecil.
Namun, karena pendengaran rayan sangat tajam, ia langsung menatap tajam ke arah gadis itu.
"Apakah kamu sedang membohongi mereka?" tanya rayan datar.
Hana sedikit terkejut. "Aku... a-apa maksudmu?" katanya dengan nada tidak senang, tetapi terdengar sedikit gugup.
Rayan menatap raut wajah gadis itu beberapa saat, kemudian beralih pada Maudy dan bertanya, "Memangnya kalian ingin pergi ke mana?"
"Ini... Aku...?" Maudy bingung harus menjawab apa, karena sebelumnya Hana juga tidak memberitahunya akan pergi ke mana.
"Sudahlah. Sebaiknya kamu segera pulang. Jangan pernah membohongi seseorang jika tak memiliki alasan untuk menyelamatkan nyawa orang," ucap rayan pada Hana. Ia sudah bisa menebak bahwa gadis itu telah berbohong mengenai Kakeknya yang menyuruh kedua pengawal itu untuk pulang.
Rayan segera masuk ke dalam rumah.
"Kamu...?" Hana hendak mengatakan sesuatu, tetapi pemuda itu telah masuk lebih dulu.
ditunggu kelanjutannya thor💪
ditunggu kelanjutannya thor
SEKIAN DAN TERIMA KASIH
Disini juga di sebut nama MCnya Rayan tapi di sinopsis di sebut Adi agak membingungkan thor apakah ada kesalahan di penamaan karakternya?
Itu saja kritik yang mau aku sampaikan kepadamu thor, Terima kasih