Tio Wirawan, seorang solo climber arogan, tersesat dan terluka parah di Gunung Slamet.
Terisolasi tanpa bantuan, ia berjuang melawan lapar, infeksi, dan dingin yang perlahan merenggut hidupnya.
Namun saat kematian semakin dekat, ia menemukan sesuatu yang mustahil: sebuah desa misterius yang tidak ada di dunia manusia.
Di sana, Tio dihadapkan pada sebuah kebenaran—ia tidak hanya tersesat di gunung, tetapi di antara dua alam.
Ketika ia akhirnya kembali, secara tak masuk akal muncul di kaki Gunung Ciremai, Arya sadar ia telah diberi kesempatan kedua. Tapi sebagian dari dirinya tertinggal di tempat itu—di Pasham, tempat di mana manusia harus tersesat untuk benar-benar menemukan jalan pulang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bp. Juenk, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Menanti Fajar
Malam terasa seperti tidak pernah berakhir.
Tio meringkuk di bawah pohon besar, memeluk lutut, dagu bertumpu di atasnya. Matanya terpejam rapat, tapi pikirannya terus berkecamuk. Setiap detik terasa seperti jam. Setiap menit terasa seperti hari. Ia hanya bisa berharap—berdoa, memohon—agar fajar segera tiba, agar matahari muncul dan mengusir semua kegelapan ini.
Tapi malam belum selesai dengan terornya.
Awalnya hanya suara jangkrik dan serangga malam yang biasa. Kemudian suara monyet menjerit dari kejauhan. Lalu tawa melengking yang membuat bulu kuduknya berdiri.
Tapi kemudian suara baru muncul. Suara yang membuat jantungnya hampir berhenti.
Geraman.
Bukan geraman biasa seperti suara macan tutul atau binatang buas lainnya. Geraman ini dalam, bergetar, seperti berasal dari sesuatu yang jauh lebih besar dari binatang apa pun yang ia kenal. Geraman itu datang dari berbagai arah—kadang dari kiri, kadang dari kanan, kadang terasa seperti dari atas pohon tempat ia bersandar. Bergantian, bersahutan, menciptakan simfoni horor yang hanya bisa didengar di alam mimpi buruk.
Tio membeku. Ia tidak berani membuka mata. Tidak berani bergerak. Hanya bisa duduk diam, berharap geraman itu tidak mendekat.
Tapi geraman itu semakin keras. Semakin dekat. Seperti ada sesuatu yang berjalan mengelilingi pohonnya, mengendus-endus, mencari celah untuk menerkam.
Jangan buka mata. Jangan buka mata.
Tio mengulang kalimat itu dalam hati, seperti mantra. Selama ia tidak membuka mata, selama ia tidak melihat apa pun, mungkin semuanya akan berlalu. Mungkin ini hanya mimpi buruk. Mungkin ini hanya halusinasi akibat stres dan kelaparan.
Lalu, hembusan napas.
Di samping telinga kirinya.
Tio merasakannya—hembusan napas hangat yang menyentuh daun telinganya, lehernya, pipinya. Bukan angin. Ini napas. Napas makhluk hidup yang berdiri tepat di sampingnya, begitu dekat hingga ia bisa merasakan kelembaban udaranya.
Napas itu teratur. Tarik... hembus. Tarik... hembus. Seperti seseorang yang sedang tidur di sampingnya. Tapi ini bukan tidur. Ini mengawasi. Ini mengintai.
Tio ingin berteriak. Ingin membuka mata. Ingin lari. Tapi tubuhnya lumpuh total. Tidak bisa bergerak. Hanya bisa duduk diam, merasakan napas itu terus membelai telinganya, seolah makhluk itu sedang menikmati ketakutannya.
Tio tidak tau harus berapa lama ia bertahan dalam keadaan itu. Mungkin detik, mungkin menit, mungkin jam. Waktu terasa berhenti. Yang ada hanya napas itu, terus-menerus, di samping telinganya.
---
Hingga akhirnya, Tio tidak tahan lagi.
Ia harus melakukan sesuatu. Apa pun. Lebih baik menghadapi apa pun yang ada di luar sana daripada terus-terusan berada dalam ketidakpastian ini.
Tangannya meraba-raba di sampingnya, mencari korek api gas yang tadi ia simpan di saku jaket. Jari-jarinya gemetar, sulit digerakkan. Tapi akhirnya ia menemukannya.
Ceklek.
Api kecil menyala. Tio membuka mata.
Kosong.
Tidak ada apa pun di sampingnya. Tidak ada makhluk, tidak ada bayangan, tidak ada apa-apa. Hanya pohon, semak, dan kegelapan di luar lingkaran cahaya kecil dari korek api.
Tapi napas itu masih terasa. Masih ada. Seperti sesuatu yang baru saja menghilang saat api menyala, tapi masih mengawasi dari kejauhan.
Api korek mulai melemah. Tio tahu ia harus cepat. Ia meraih jurnalnya, merobek satu halaman, bagian akhir yang masih kosong. Lalu ia mendekatkan kertas itu ke api korek.
Kertas terbakar. Nyala api merambat cepat, menerangi area lebih luas selama beberapa detik. Tio memanfaatkan detik-detik itu untuk melihat sekeliling. Masih kosong. Tidak ada apa pun.
Tapi di luar lingkaran cahaya, ia bisa melihat bayangan-bayangan. Banyak. Berdiri diam, membentuk setengah lingkaran di depannya. Menatap.
Kertas habis terbakar. Api padam. Gelap kembali.
Tio duduk terpana, jantung berdebar seperti ingin keluar dari dada. Ia melihat mereka. Ia melihat bayangan-bayangan itu. Mereka nyata. Bukan halusinasi. Bukan ilusi cahaya. Mereka ada di sana, mengelilinginya, menontonnya.
---
Untuk beberapa saat, Tio tidak bisa berpikir jernih. Pikirannya kacau balau. Tapi satu hal yang ia tahu: ia harus bersembunyi. Ia harus menciptakan penghalang antara dirinya dan mereka.
Sleeping bag.
Dengan gerakan cepat—melupakan sejenak rasa sakit di kakinya Ia menarik sleeping bag hingga menutupi seluruh tubuhnya, termasuk kepala. Kini ia berada dalam ruang sempit yang gelap dan pengap. Tapi setidaknya, ia tidak bisa melihat mereka. Dan mereka tidak bisa melihatnya?
Di dalam sleeping bag, udara cepat terasa panas dan pengap. Napasnya sendiri memenuhi ruang sempit itu, membuatnya sesak. Tapi ini lebih baik daripada harus melihat bayangan-bayangan itu lagi. Ini lebih baik daripada merasakan napas makhluk tak dikenal di samping telinga.
Tio meringkuk, memeluk lutut, memejamkan mata. Suara-suara di luar masih terdengar—geraman, tawa, desahan—tapi teredam oleh lapisan kain. Ia berusaha fokus pada napasnya sendiri, pada detak jantungnya, pada fakta bahwa ia masih hidup.
Besok pagi... besok pagi semuanya akan baik-baik saja.
Ia mengulang kalimat itu berulang-ulang, seperti mantra.
---
Tapi di balik mantra itu, sebuah pertanyaan mulai muncul. Pertanyaan yang mengganggu, yang tidak bisa ia singkirkan.
Apakah jalur sungai ini akan terus seperti ini tiap malam?
Jika setiap malam ia harus melalui teror yang sama, mampukah ia bertahan? Ia sudah kehilangan hitungan hari. Ia sudah 2 hari tersesat. Persediaan makanannya tinggal satu batang energi bar. Persediaan airnya masih ada—tapi makanan adalah masalah berbeda. Ia butuh energi untuk terus bergerak. Tapi bagaimana bisa ia bergerak kalau setiap malam ia tidak bisa tidur karena ketakutan?
Tio mulai meragukan keputusannya mengikuti sungai. Mungkin jalur ini justru membawanya ke area yang lebih angker. Mungkin sungai ini adalah milik mereka—milik makhluk-makhluk itu—dan ia sedang berjalan tepat ke sarang mereka.
Tapi tidak ada pilihan lain. Kembali ke atas berarti kembali ke area terbuka tanpa sumber air. Setidaknya di sini ada air. Setidaknya di sini ada harapan untuk menemukan lembah.
Atau... pikirnya tiba-tiba, mungkin mereka tidak akan menggangguku jika aku tidak menunjukkan ketakutan. Mungkin mereka hanya penasaran. Mungkin...
Ia tidak tahu. Tidak ada yang tahu. Yang ia tahu, malam ini masih panjang.
---
Berjam-jam berlalu. Di dalam sleeping bag yang pengap, Tio berjuang melawan dua musuh: ketakutan di luar dan kepanasan di dalam. Keringat membasahi seluruh tubuhnya, tapi ia tidak berani membuka sleeping bag. Tidak berani. Lebih baik kepanasan daripada harus berhadapan dengan mereka lagi.
Sesekali ia mendengar suara langkah di dekatnya. Suara dedaunan kering yang terinjak. Suara napas yang mendekat lalu menjauh. Suara bisikan-bisikan yang tidak bisa ia pahami. Semua terdengar samar, seperti dari dunia lain.
Tapi ia bertahan. Ia tetap di dalam sleeping bag, meringkuk, berdoa.
---
Hingga akhirnya, setelah waktu yang tidak terhitung, cahaya mulai menembus kain sleeping bag. Samar-samar, tapi ada. Tio merasakannya—perbedaan antara gelap total dan gelap yang sedikit terang.
Pagi.
Dengan hati-hati, ia membuka sedikit ritsleting sleeping bag. Udara segar masuk, menyambutnya. Ia mengintip keluar.
Langit timur mulai memutih. Kabut tipis masih menyelimuti, tapi tidak setebal kemarin. Pepohonan mulai terlihat jelas. Burung-burung pagi mulai berkicau, menyambut fajar.
Dan tidak ada bayangan. Tidak ada makhluk. Tidak ada apa pun kecuali hutan yang tenang.
Tio menghela napas panjang—napas lega yang paling dalam dalam hidupnya. Ia selamat. Malam itu berlalu. Ia masih hidup.
Perlahan, ia keluar dari sleeping bag. Tubuhnya pegal, kaku, dan berkeringat. Kaki kanannya masih bengkak, mungkin lebih bengkak karena semalaman tidak digerakkan. Tapi ia masih hidup. Itu yang penting.
Ia duduk bersandar di pohon, memandangi sungai kecil yang terus mengalir tenang. Air itu seolah tidak peduli dengan teror malam tadi. Air itu terus mengalir, seperti biasa, seperti tidak terjadi apa-apa.
Tio tersenyum getir. Air ini tidak tahu apa yang terjadi tadi malam. Atau mungkin dia tahu, tapi dia tidak peduli.
---
Dengan gemetar, Tio meraih jurnalnya. Ia membuka halaman baru dan mulai menulis dengan pensil patahnya.
"Pagi ke... entah. Aku sudah kehilangan hitungan.
Malam tadi adalah malam terburuk dalam hidupku. Geraman aneh. Napas di telinga. Bayangan-bayangan yang menonton. Aku melihat mereka saat membakar kertas. Mereka nyata. Mereka ada di sana.
Aku bersembunyi di sleeping bag sepanjang malam. Pengap, panas, tapi lebih aman. Setidaknya aku tidak melihat mereka lagi.
Sekarang pertanyaan besarku: apakah setiap malam akan seperti ini? Apakah aku bisa bertahan? Sungai ini mungkin membawaku ke lembah, tapi mungkin juga membawaku lebih dalam ke wilayah mereka.
Aku tidak tahu harus berbuat apa. Tapi aku tidak punya pilihan lain. Aku harus terus ke bawah. Aku harus menemukan manusia.
Tuhan, jika Engkau masih mendengarku... tolong beri aku kekuatan. Untuk satu malam lagi. Untuk satu hari lagi. Untuk satu langkah lagi.
Aku ingin pulang."
---
Tio menutup jurnal, menyimpannya. Lalu ia minum beberapa teguk air dari botol, makan sedikit dari energi bar kedua—hanya seperempat batang, untuk memberi energi memulai hari.
Mentari mulai naik di ufuk timur, mengusir sisa-sisa kabut malam. Hutan mulai hidup. Burung-burung bernyanyi riang, seolah tidak ada yang aneh semalam.
Tio berdiri, bertumpu pada tongkat bambunya. Kaki kanan berdenyut, tapi ia harus terus bergerak. Sungai di depannya mengalir tenang, mengundang.
Ke mana pun kau bawa aku, sungai, aku ikut. Tapi tolong... jangan bawa aku kembali ke malam seperti tadi.
Perlahan, Tio mulai berjalan. Satu langkah. Dua langkah. Tiga langkah. Meninggalkan pohon besar yang menjadi saksinya bertarung melawan malam.
Di belakangnya, tanpa ia sadari, di balik pepohonan yang mulai tersinari matahari, bayangan-bayangan masih setia menonton. Mereka tidak pergi. Mereka hanya menunggu.