Satu tabrakan mengubah segalanya.
Aluna Prasetya tidak pernah membayangkan kecelakaan kecil akan menjebaknya dalam kontrak 6 bulan dengan Arsen Mahendra, pengusaha kaya raya yang dingin, berkuasa, dan obsesif.
Aturan ketat. Kontrol total. Kepemilikan mutlak.
"Kamu milikku, Aluna. Hanya milikku."
Arsen bukan sekadar menginginkannya sebagai asisten. Ia menuntut kepemilikan penuh jiwa, raga, dan hati. Sentuhan possesifnya membakar, obsesinya mencekik, namun Aluna terjerat terlalu dalam untuk kabur.
Ketika masa lalu kelam Arsen terungkap dan ancaman datang menghampiri, Aluna menyadari satu hal, melarikan diri dari Arsen Mahendra adalah mustahil.
Tapi apakah ia masih ingin melarikan diri?
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Aurora_Minji, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Part 32: Pemberontakan Terakhir
Hari itu dimulai dengan biasa saja.
Terlalu biasa, sebenarnya. Seperti langit yang terlalu tenang sebelum hujan besar.
Aluna pergi ke kampus untuk mengurus berkas wisuda, sesuatu yang sudah lama tertunda di tengah semua drama yang memenuhi hidupnya belakangan ini. Arsen mengizinkan, tentu saja dengan Pak Dani sebagai pengantar, tentu saja dengan lokasi yang bisa dilihat real-time di ponselnya.
Aluna sudah tidak mempermasalahkan itu.
Atau lebih tepatnya, ia memilih pertempuran mana yang layak ia lawan hari ini.
Urusan berkas selesai lebih cepat dari perkiraan. Setengah jam, tidak lebih. Aluna berjalan keluar dari gedung administrasi dengan map cokelat di tangan, menghirup udara kampus yang berbeda dari udara rumah Arsen yang selalu terlalu terkontrol.
Di sini ia merasa seperti dirinya sendiri, versi lama yang masih ingat cara bernapas tanpa menghitung konsekuensi.
Ia sedang berjalan menuju tempat Pak Dani menunggu ketika seseorang memanggil namanya.
"Aluna?"
Ia berhenti.
Menoleh.
Dan jantungnya melakukan sesuatu yang aneh saat melihat siapa yang berdiri di sana.
Bagas.
Bagas Pratama. Mantan pacarnya dua tahun lalu. Pria yang pertama kali mengajarkan Aluna bahwa cinta tidak selalu cukup untuk membuat dua orang bisa bersama.
Mereka berpisah baik-baik. Tanpa drama, tanpa pengkhianatan. Hanya dua orang yang menyadari jalan hidup mereka menuju arah yang berbeda.
Sekarang ia berdiri di jalanan kampus dengan senyum yang sama yang Aluna ingat, sedikit canggung di ujungnya tapi tulus.
"Hei," sapa Bagas. "Aku tidak salah orang, kan?"
"Tidak," jawab Aluna, dan senyumnya keluar sebelum ia sempat memutuskan apakah akan tersenyum atau tidak. "Hei, Bagas."
Mereka berdiri dalam jarak yang sopan, dua mantan yang bertemu di tempat yang penuh kenangan.
"Kamu ngurus wisuda?" tanya Bagas, mengangguk ke arah map di tangan Aluna.
"Iya. Kamu?"
"Aku ngajar di sini sekarang. Asisten dosen." Bagas tertawa kecil. "Tidak bisa jauh dari kampus rupanya."
Aluna ikut tertawa, ringan dan tanpa beban, tawa yang sudah lama tidak terdengar natural dari tenggorokannya.
"Kamu baik-baik saja?" tanya Bagas dengan nada yang sungguh-sungguh, bukan basa-basi.
"Baik," jawab Aluna. "Kamu?"
"Baik juga." Jeda sebentar. "Aku dengar kamu sekarang tinggal di..." ia berhenti, seolah tidak yakin sebaiknya meneruskan atau tidak.
"Iya," jawab Aluna sebelum ia selesai. "Aku tinggal dengan seseorang."
Bagas mengangguk, tidak bertanya lebih.
Itu yang selalu Aluna suka dari Bagas. Ia tahu kapan harus berhenti.
"Boleh aku traktir kopi?" tawar Bagas. "Kantin masih ada yang jual kopi sachet tiga ribu perak. Kita bisa duduk lima menit."
Aluna hampir menolak secara otomatis. Reflek yang sudah terbentuk selama berbulan-bulan hidup dengan Arsen.
Tetapi ada sesuatu yang berhenti di tengah jalan.
Ini mantan pacar. Di kampus. Di siang hari. Lima menit.
Aku berhak melakukan ini.
"Boleh," ucap Aluna.
Mereka duduk di kantin tua yang masih sama seperti tahun-tahun lalu, dengan kursi plastik yang berderit dan kipas angin yang lebih berisik dari anginnya.
Kopi sachet tiga ribu perak rasanya jauh lebih sederhana dari semua minuman mahal di rumah Arsen.
Entah mengapa, hari ini itu terasa lebih enak.
Mereka bicara tentang hal-hal ringan. Tentang teman lama, tentang dosen yang masih mengajar, tentang rencana Aluna setelah wisuda yang bahkan ia sendiri belum terlalu tahu jawabannya.
Dua puluh menit berlalu seperti lima.
"Aku senang kamu kelihatan baik," ucap Bagas saat mereka berdiri hendak berpisah. "Aku pernah khawatir, waktu pertama dengar kamu..."
Ia berhenti lagi.
"Waktu kamu dengar aku apa?" tanya Aluna pelan.
Bagas menatapnya sebentar, lalu menggeleng pelan.
"Tidak ada. Tidak penting." Senyumnya kembali. "Jaga diri ya, Aluna."
"Kamu juga."
Mereka berpisah di depan kantin. Bagas berjalan ke arah gedung fakultas, Aluna berjalan ke arah parkiran.
Tidak ada yang istimewa.
Tidak ada yang perlu disembunyikan.
Hanya dua orang lama yang kebetulan bertemu dan berbagi dua puluh menit tanpa komplikasi.
Tetapi saat Aluna duduk di kursi belakang mobil, ponselnya bergetar.
Pesan dari Arsen.
"Kamu baik-baik saja?"
Tiga kata yang terlihat seperti perhatian biasa.
Tetapi Aluna tahu artinya. Arsen melihat lokasi nya tidak bergerak lebih lama dari yang seharusnya di sekitar kantin kampus.
"Baik. Baru selesai, mau pulang," balas Aluna.
Tidak ada balasan.
Biasanya Arsen selalu membalas dalam hitungan detik.
Keheningan itu lebih berbicara dari kata-kata mana pun.
Rumah terasa berbeda saat Aluna masuk.
Bukan dalam hal yang bisa ia tunjuk dengan jari. Bukan furnitur yang berubah atau lampu yang berbeda. Hanya atmosfer yang seperti tegang di sudut-sudutnya, seperti udara sebelum petir.
Bu Sinta menyambut di pintu dengan ekspresi yang hati-hati.
"Nona Aluna. Tuan Arsen ada di ruang kerja."
Cara Bu Sinta mengatakannya, dengan nada yang sangat netral dan sangat hati-hati, membuat bulu kuduk Aluna berdiri.
"Terima kasih, Bu Sinta."
Aluna naik ke lantai dua. Berdiri sebentar di depan pintu ruang kerja yang tertutup.
Dari balik pintu, tidak ada suara.
Keheningan total yang terasa lebih keras dari amarah mana pun.
Ia mengetuk.
"Masuk."
Ruang kerja Arsen selalu rapi. Selalu terkontrol. Setiap benda di tempatnya, setiap permukaan bersih, mencerminkan pria yang tidak pernah membiarkan kekacauan eksis di dekatnya.
Ruang kerja yang sekarang Aluna masuki bukan itu.
Tumpukan dokumen yang biasanya tersusun rapi di rak kiri berserakan di lantai. Beberapa map terbuka dan isinya tersebar. Gelas kaca yang biasanya ada di sudut meja tidak ada lagi di sana, dan saat Aluna melirik ke sudut dekat jendela, ia melihat serpihan beling yang sudah dikumpulkan setengah-setengah di pojok ruangan.
Arsen duduk di kursi kerjanya membelakangi pintu, menatap kota di luar jendela.
Punggungnya kaku. Bahunya tegang. Seluruh tubuhnya seperti kawat yang direntangkan terlalu kencang.
Aluna berdiri di ambang pintu, menatap serpihan beling itu, menatap dokumen yang berserakan, menatap punggung pria itu.
"Arsen," ucapnya pelan.
Tidak ada jawaban.
"Aku pulang."
Kursi berputar perlahan.
Dan saat Aluna melihat wajah Arsen, ada sesuatu yang mencekik di tenggorokannya.
Bukan karena Arsen tampak marah. Ia sudah pernah melihat Arsen marah.
Tetapi karena yang ia lihat sekarang berbeda. Matanya gelap dengan cara yang berbeda dari biasanya, bukan dingin dan terkontrol, tetapi panas dan tidak terkendali, seperti api yang sudah membakar lebih dari yang direncanakan.
"Siapa dia?" tanya Arsen dengan suara yang sangat rendah.
"Siapa?"
"Pria di kantin itu."
Aluna menarik napas.
"Mantan pacarku," jawabnya jujur tanpa berputar-putar. "Kami bertemu tidak sengaja. Dia mengajar di sana sekarang."
"Dua puluh tiga menit," ucap Arsen, matanya tidak berkedip. "Kamu duduk bersamanya dua puluh tiga menit."
"Kami minum kopi dan bicara tentang teman lama."
"Dua puluh tiga menit," ulang Arsen, seolah angka itu adalah sesuatu yang menyakitkan setiap kali diucapkan.
Aluna memilih untuk tidak mundur.
"Iya," ucapnya tenang. "Dua puluh tiga menit. Itu tidak salah, Arsen."
Sesuatu bergerak di rahang Arsen.
Ia bangkit dari kursinya, bukan dengan gerakan yang terburu-buru, justru dengan gerakan yang sangat terkontrol yang terasa lebih mengancam dari ledakan mana pun.
"Kamu pergi bersamanya tanpa memberitahuku."
"Aku tidak harus memberitahumu setiap langkah yang aku ambil."
"Di bawah atap yang sama denganku," lanjut Arsen seolah tidak mendengar, "kamu masih bisa bertemu mantan pacarmu diam-diam?"
"Tidak diam-diam," balas Aluna, suaranya mulai meninggi meski ia berusaha menahan. "Itu pertemuan tidak disengaja di kampus, bukan kencan rahasia. Perbedaannya besar."
Arsen berhenti tepat di depannya, jarak mereka hanya selangkah.
Matanya mencari wajah Aluna dengan tatapan yang terasa seperti jari yang mencengkeram, mencari celah, mencari kebohongan, mencari sesuatu yang bisa memvalidasi ketakutan yang sudah membakar di dadanya sejak tadi siang.
"Apakah kamu masih memiliki perasaan untuk dia?"
"Tidak," jawab Aluna langsung.
"Jangan berbohong padaku."
"Aku tidak berbohong," ucap Aluna dengan tegas. "Bagas adalah bagian dari masa laluku dan dia sudah selesai di sana. Tidak ada perasaan. Tidak ada yang perlu kamu khawatirkan."
"Maka mengapa kamu tidak langsung pergi setelah urusanmu selesai?"
"Karena aku memilih untuk duduk lima menit dengan teman lama!" suara Aluna naik sepenuhnya sekarang, dan ia tidak menahannya. "Karena aku manusia, Arsen! Bukan properti yang langsung kembali ke tempatnya setelah digunakan!"
Kata-kata itu mendarat dengan keras.
Arsen diam.
Seluruh ruangan diam.
Lalu Arsen berbalik, berjalan kembali ke mejanya, dan dengan satu gerakan menyapu sisa dokumen yang masih ada di permukaan meja ke lantai.
Bukan dengan teriakan. Bukan dengan kata-kata kasar.
Hanya satu gerakan yang terkontrol dan total.
Dokumen-dokumen itu berjatuhan dalam sunyi, dan suara kertas yang berserakan di lantai terdengar lebih keras dari ledakan mana pun.
Aluna tidak bergerak dari tempatnya.
Detak jantungnya kencang, tetapi kakinya tidak mundur.
"Kamu boleh marah," ucap Aluna dengan suara yang sudah kembali pelan. "Tapi menghancurkan ruangan ini tidak mengubah kenyataan bahwa aku tidak melakukan kesalahan hari ini."
Arsen berdiri membelakanginya, kedua tangannya bertumpu di meja yang sudah kosong, kepalanya tertunduk.
Napasnya berat dan terdengar jelas di ruangan yang sunyi.
"Aku tahu," ucapnya akhirnya, dengan suara yang sangat pelan sampai Aluna hampir tidak menangkapnya.
Aluna terdiam.
"Aku tahu kamu tidak melakukan kesalahan," lanjut Arsen dengan suara yang anehnya terdengar lelah. Bukan marah. Hanya lelah. "Tapi saat aku melihat lokasi kamu berhenti di sana, ada sesuatu yang mati di dalam dadaku dan aku tidak bisa mengontrolnya."
Aluna menatap punggung pria itu.
Pundak yang biasanya tegak itu sekarang sedikit melengkung, seperti beban yang tidak terlihat menimpanya.
"Siapa yang kamu khawatirkan?" tanya Aluna pelan. "Aku? Atau kehilangan aku?"
Hening panjang.
"Aku tidak tahu bedanya," jawab Arsen dengan suara yang retak di ujungnya.
Dan itu, lebih dari amarah apa pun, lebih dari serpihan beling di lantai, lebih dari dokumen yang berserakan, adalah hal yang paling menyedihkan yang pernah Aluna dengar dari pria ini.
Ia melangkah masuk ke ruangan, melewati kertas-kertas yang berserakan, berdiri di belakang Arsen.
Ia tidak memeluknya.
Tidak juga menyentuhnya.
Hanya berdiri di sana, cukup dekat agar terasa, cukup jauh agar jelas.
"Kamu perlu bicara dengan seseorang," ucap Aluna pelan. "Bukan aku. Seseorang yang profesional. Seseorang yang bisa membantumu memahami mengapa ketakutan ini terasa sebesar ini."
Arsen tidak bergerak.
"Bukan karena kamu gila," lanjut Aluna. "Bukan karena kamu lemah. Tapi karena cara kamu mencintai sekarang ini merusak kita berdua. Dan aku tidak ingin terus dirusak. Dan aku tidak ingin kamu terus merusak dirimu sendiri."
Keheningan yang panjang.
Lalu Arsen akhirnya berbalik, menatap Aluna dengan mata yang sudah kehilangan api amarahnya, hanya menyisakan kelelahan yang dalam.
"Kamu tidak akan pergi?" tanyanya, dan di balik kata-kata itu ada pertanyaan yang lebih besar, lebih takut, yang tidak ia ucapkan.
"Tidak malam ini," jawab Aluna jujur.
Bukan janji.
Bukan jaminan.
Hanya kebenaran untuk malam ini.
Dan Arsen, yang hidupnya selalu dibangun di atas kepastian dan kontrol, menerima ketidakpastian itu dengan diam yang terasa seperti penyerahan paling sunyi yang pernah ada.
Malam itu Aluna yang membersihkan serpihan beling di sudut ruangan sementara Arsen mengumpulkan dokumen yang berserakan.
Mereka bekerja dalam diam, berdampingan, tanpa menyentuh.
Ketika semuanya sudah rapi kembali, atau setidaknya cukup rapi untuk malam ini, Arsen duduk di kursi kerjanya dan Aluna duduk di sofa kecil di sudut ruangan.
"Aku akan cari psikolog," ucap Arsen tiba-tiba. Suaranya datar, seperti orang yang mengucapkan keputusan bisnis, bukan keputusan paling personal dalam hidupnya.
Aluna menatapnya.
"Baik," ucapnya.
"Bukan berarti aku mengakui ada yang salah denganku."
"Kamu baru saja menghancurkan setengah ruang kerjamu karena aku ngopi dua puluh tiga menit dengan mantan pacar," ucap Aluna tanpa ekspresi. "Ada yang salah, Arsen."
Arsen menatapnya dengan ekspresi yang antara tersinggung dan hampir ingin tertawa tapi tidak jadi.
Lalu ia mengangguk, pelan dan berat.
"Ada yang salah," ulangnya dengan suara yang sangat pelan.
Tiga kata yang mungkin adalah hal paling sulit yang pernah keluar dari mulut pria itu.
Aluna mengangguk balik.
"Besok kita cari," ucapnya. "Bersama."
Dan untuk malam itu, dua kata terakhir itu adalah satu-satunya hal yang terasa seperti arah yang benar.