Serial ini mengisahkan perjalanan Chen Feng, seorang pemuda yang menjadi satu-satunya keturunan keluarga pemburu naga setelah desa kecilnya di Tanah Seribu Pegunungan dibakar dan orang tuanya terbunuh oleh Sekte Ular Hitam. Dengan bimbingan Ye Linglong, putri dari klan pemburu naga terkemuka, Feng belajar mengendalikan kekuatan naga yang mengalir dalam dirinya—kekuatan yang tidak hanya berasal dari kemarahan akan kehilangan, melainkan dari kedamaian dan pemahaman tentang cinta serta tanggung jawab.
Melalui serangkaian ujian yang menguji keberanian, pengendalian diri, dan pemahaman tentang cinta serta masa lalu, Feng harus menghadapi dendam yang telah berlangsung berabad-abad antara keluarganya dengan Sekte Ular Hitam. Ia menemukan bahwa kekuatan sebenarnya bukanlah dari kemarahan atau kekerasan, melainkan dari kemampuan untuk menerima rasa sakit, menyatukan apa yang terpisah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Reijii, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 35: Lintasan Waktu Dan Janji Yang Abadi
SEBUAH ABAD SETELAH PEMBENTUKAN ALIANSI ANTAR ALAM SEMESTA
Sinar matahari pagi menyinari Kota Keseimbangan yang kini telah berubah menjadi metropolis megah yang melintasi batas-batas dunia. Arsitektur dari berbagai alam semesta berpadu harmonis—menara kristal yang bersinar lembut dari Dunia Biru berdiri berdampingan dengan bangunan kayu kuno yang diukir rumit dari Tanah Awal, serta struktur hijau yang hidup dari Tanah Hujan Emas. Di langit, kendaraan energi yang senyap melintas dengan lancar, sementara di jalanan, makhluk dari berbagai ras dan dunia berjalan bersama dalam kedamaian yang nyata.
Di pusat kota, sebuah monumen raksasa menjulang tinggi—Monumen Sejarah Keseimbangan. Di puncaknya, patung Feng dan Hei Yu berdiri berdampingan, masing-masing memegang pedang mereka yang legendaris, menghadap ke arah portal antar dunia yang tak henti-hentinya bersinar. Di bawahnya, relief batu menceritakan kisah perjalanan panjang mereka: dari pertempuran di kaki Gunung Tianwu, penemuan rahasia Tanah Awal, hingga pembentukan aliansi yang menjangkau seluruh alam semesta.
Di dalam Museum Warisan Naga, seorang pemuda berusia enam belas tahun bernama Kai berdiri terpaku di depan sebuah pameran utama. Di sana, di atas alas beludru ungu, terhampar Pedang Naga yang telah menjadi legenda. Bilahnya tidak lagi menyala dengan cahaya yang menyilaukan, melainkan memancarkan aura yang tenang dan mendalam, seolah sedang tidur namun tetap waspada. Kai adalah cucu cicit dari Feng Ling, dan dia memiliki mata yang sama persis dengan leluhurnya—mata yang penuh dengan rasa ingin tahu dan semangat keadilan.
“Pedang itu tidak pernah digunakan untuk membunuh tanpa alasan,” suara lembut terdengar dari belakangnya. Kai berbalik dan melihat seorang wanita tua dengan rambut putih yang diikat rapi, namun matanya masih tajam dan penuh kebijaksanaan. Itu adalah Nenek Mi, penjaga museum dan sejarawan terkemuka aliansi. “Ia digunakan untuk membelah ketidaktahuan dan menyatukan apa yang terpecah.”
Kai mengangguk perlahan, matanya tidak lepas dari pedang itu. “Aku selalu bermimpi bisa melakukan hal-hal yang dilakukan leluhur kita,” ujarnya dengan suara pelan. “Tapi dunia sekarang sudah begitu damai. Apakah masih ada tempat untuk pahlawan seperti mereka?”
Nenek Mi tersenyum dan menepuk bahunya. “Keseimbangan bukanlah sesuatu yang bisa dicapai sekali dan selesai, Nak. Ia seperti taman yang harus disiram dan dirawat setiap hari. Tantangan mungkin berubah bentuk, tapi kebutuhan akan hati yang berani dan bijak akan selalu ada.”
Tiba-tiba, alarm peringatan yang jarang berbunyi terdengar di seluruh kota. Bukan alarm perang, melainkan sinyal peringatan energi yang menunjukkan adanya gangguan besar di sektor terjauh dari Jaringan Alam Semesta—wilayah yang disebut “Zona Waktu yang Terlupakan”, sebuah area di mana aliran waktu menjadi tidak stabil dan jarang dijelajahi.
Di Ruang Kontrol Utama Aliansi, layar-layar besar menyala dengan data yang bergerak cepat. Hei Ran, kepala divisi eksplorasi dan cucu dari Hei Yan, sedang memantau situasi dengan wajah serius. “Kita mendeteksi anomali waktu yang sangat besar,” jelasnya kepada para pemimpin dunia yang hadir melalui komunikasi holografik. “Seolah-olah ada sesuatu yang sedang mencoba menerobos batas waktu dari masa lalu ke masa kini.”
“Apakah ini berbahaya?” tanya perwakilan dari Tanah Awal.
“Sangat berbahaya,” jawab ilmuwan senior dari Dunia Biru. “Jika aliran waktu terganggu, seluruh struktur alam semesta bisa runtuh. Masa lalu, masa kini, dan masa depan bisa bercampur aduk menjadi kekacauan.”
Kai, yang sedang menyelesaikan pelatihan kepemimpinan, secara tidak sengaja berada di ruang kontrol saat itu. Ketika dia melihat data di layar, dia merasakan getaran aneh di dalam dadanya—getaran yang sama yang dia rasakan saat berdiri di depan Pedang Naga. Tanpa sadar, dia melangkah maju.
“Sumber energinya terasa familiar,” bisik Kai, meski dia tahu itu mustahil. “Seolah-olah aku mengenalnya.”
Hei Ran menatap pemuda itu dengan heran, namun kemudian menyadari kemiripannya dengan Feng. “Kamu bisa merasakannya?” tanyanya. Kai mengangguk mantap. “Jika begitu, kamu mungkin memiliki peran dalam ini. Seperti leluhurmu yang bisa merasakan getaran dari jauh.”
Mereka memutuskan untuk mengirim tim penyelidikan khusus ke Zona Waktu yang Terlupakan. Tim ini dipimpin oleh Hei Ran sendiri, dengan Kai sebagai anggota khusus karena kemampuan intuitifnya. Sebelum berangkat, Kai pergi ke museum dan meminta izin untuk membawa Pedang Naga.
“Pedang ini memilih pemiliknya,” kata Nenek Mi sambil menyerahkan gagang pedang itu kepada Kai. “Jika ia bersinar saat kamu memegangnya, berarti ia mengakui kamu sebagai penerusnya.”
Saat jari-jari Kai menyentuh gagang pedang yang dingin, bilah itu tiba-tiba bersinar dengan cahaya ungu yang hangat dan kuat—sama cemerlangnya seperti pada masa kejayaan Feng. Nenek Mi tersenyum lega. “Pergilah, Nak. Lanjutkan warisan itu.”
Perjalanan ke Zona Waktu yang Terlupakan memakan waktu dua hari melalui portal khusus yang disiapkan untuk kondisi ekstrem. Saat mereka keluar dari portal, pemandangan di depan mereka membuat mereka tertegun. Ruang di sini tidak berbentuk, melainkan berupa kabut berwarna abu-abu yang berputar-putar, dengan potongan-potongan pemandangan dari masa lalu yang muncul dan menghilang seperti kilatan kilat—mereka melihat sekilas Desa Baik Bulan yang masih terbakar, pertempuran di kaki Gunung Tianwu, dan bahkan momen ketika Feng dan Hei Yu pertama kali bersatu.
“Di sana!” teriak Kai, menunjuk ke arah pusat kabut yang berputar paling kencang. Di sana, sebuah celah hitam pekat sedang melebar, dan dari dalamnya terdengar suara rintihan yang menyedihkan—suara yang terperangkap di antara waktu.
“Itu adalah sisa-sisa energi dari masa lalu yang tidak terselesaikan,” jelas Hei Ran. “Energi penyesalan dan kesedihan yang terakumulasi selama berabad-abad, kini mencoba menembus ke masa kini untuk mengubah sejarah.”
Kai merasakan panggilan yang kuat dari Pedang Naga. Dia tahu apa yang harus dilakukan. “Kita tidak bisa melawannya dengan kekuatan,” teriaknya di tengah gemuruh angin waktu. “Kita harus menenangkannya dengan penerimaan!”
Kai melangkah maju, diikuti oleh Hei Ran dan timnya. Dia mengangkat Pedang Naga tinggi-tinggi, dan cahaya ungunya menyebar luas, menembus kabut abu-abu itu. “Kami menerima masa lalu kalian!” seru Kai dengan segenap kekuatan hatinya. “Kami menghormati rasa sakit kalian, tapi kami tidak akan membiarkannya menghancurkan masa depan yang telah kami bangun dengan susah payah!”
Hei Ran dan timnya bergabung, melepaskan energi seimbang mereka untuk mendukung Kai. Cahaya ungu itu bertemu dengan kabut hitam itu, bukan untuk menghancurkannya, melainkan untuk memeluknya. Perlahan-lahan, kilatan-kilatan masa lalu yang mengerikan mulai berubah menjadi warna yang lebih tenang. Rintihan itu berubah menjadi desahan lega.
Celah hitam itu mulai menyempit dan akhirnya tertutup sepenuhnya. Kabut abu-abu menghilang, digantikan oleh langit yang jernih dan bintang-bintang yang bersinar damai. Zona Waktu yang Terlupakan kini menjadi tempat yang tenang, sebuah peringatan bahwa masa lalu harus dihormati, bukan diulang atau dihindari.
Ketika mereka kembali ke Kota Keseimbangan, mereka disambut sebagai pahlawan baru. Namun bagi Kai, perjalanan ini mengajarkan sesuatu yang lebih dalam. Dia menyadari bahwa warisan Pedang Naga bukanlah tentang pertempuran atau kekuatan fisik semata, melainkan tentang keberanian untuk menghadapi kebenaran, kebijaksanaan untuk memahami perbedaan, dan hati yang besar untuk menerima segala hal sebagaimana adanya.
Di Kuil Keseimbangan, Kai mengembalikan Pedang Naga ke tempatnya, namun kali ini, ia tahu bahwa pedang itu tidak hanya sekadar benda mati di museum. Ia adalah simbol dari janji yang abadi—janji bahwa selama ada hati yang peduli dan berani, keseimbangan akan selalu terjaga.
“Leluhur,” bisik Kai sambil menatap patung Feng dan Hei Yu. “Aku mengerti sekarang. Perjalanan ini tidak akan pernah berakhir. Dan aku siap untuk melanjutkannya.”
Di luar kuil, matahari bersinar terang, menyinari dunia yang damai dan makmur. Anak-anak bermain di taman, orang-orang dewasa bekerja sama untuk kemajuan bersama, dan di langit yang luas, bintang-bintang bersinar seolah tersenyum melihat generasi baru yang telah siap mengambil alih tanggung jawab. Warisan Pedang Naga telah berkembang menjadi sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar cerita—ia telah menjadi napas dari kehidupan itu sendiri, mengalir melalui setiap generasi, di setiap dunia, selamanya.