Ragnar Aditya van Der Veen—pria berdarah campuran Indonesia–Belanda—memiliki segalanya: karier mapan di Jakarta, wajah tampan, dan masa lalu yang penuh gemerlap. Namun di balik itu semua, ia menyimpan luka dan penyesalan yang tak pernah benar-benar sembuh. Sebuah kesalahan di masa lalu membuatnya kehilangan arah, hingga akhirnya ia memilih kembali pada jalan yang lebih tenang: hijrah, memperbaiki diri, dan mencari pendamping hidup melalui ta’aruf.
Di Ciwidey yang sejuk dan berselimut kebun teh, ia dipertemukan dengan Yasmin Salsabila—gadis Sunda yang lembut, sederhana, dan menjaga prinsipnya dengan teguh. Yasmin bukan perempuan yang mudah terpesona oleh penampilan atau harta. Baginya, pernikahan bukan sekadar cinta, tapi ibadah panjang yang harus dibangun dengan kejujuran dan keimanan.
Pertemuan mereka dimulai tanpa sentuhan, tanpa janji manis berlebihan—hanya percakapan-percakapan penuh makna yang perlahan mengikat hati. Namun perjalanan ta’aruf mereka tak semulus jalan tol.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Alvaraby, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Luka yang Tak Pernah Selesai
Angin sore di Ciwidey berembus lebih dingin dari biasanya. Kabut turun perlahan, menyelimuti kebun teh dengan warna abu-abu yang menenangkan sekaligus menyimpan rahasia. Yasmin duduk di beranda rumah kayu sederhana milik orang tuanya. Tangannya menggenggam tasbih kecil dari kayu cendana—oleh-oleh dari seorang jamaah umrah yang dulu pernah singgah di pesantren tempatnya belajar.
Sudah tiga hari ia memikirkan satu hal: pertemuan kedua dengan Ragnar.
Ia tidak menyangka lelaki itu akan kembali. Tidak menyangka pula bahwa setelah semua perbincangan tentang perbedaan budaya, tentang mantan yang belum sepenuhnya selesai, tentang dunia mewah yang sangat jauh dari kesehariannya—Ragnar tetap berdiri dengan niat yang sama.
Namun justru itu yang membuatnya takut.
“Min…” suara ibunya terdengar lembut dari dalam rumah. “Ayahmu ingin bicara.”
Yasmin menarik napas panjang, lalu masuk ke ruang tengah. Ayahnya duduk bersila di atas tikar pandan, wajahnya teduh namun terlihat lebih serius dari biasanya.
“Ayah sudah dapat kabar,” ucap beliau pelan. “Lelaki itu akan datang lagi minggu depan.”
Yasmin mengangguk.
“Min, ayah tidak melarang. Tapi ayah ingin kamu benar-benar paham. Hidup dengan orang seperti dia tidak mudah.”
Yasmin menunduk. “Yasmin tahu, Yah.”
“Dia kaya. Keluarganya beda budaya. Kau masih belajar. Dunia kalian berbeda.”
Kalimat itu seperti gema yang sudah berulang kali ia dengar dalam hatinya sendiri.
“Ayah takut kamu akan kehilangan dirimu sendiri.”
Yasmin terdiam. Itulah yang paling ia khawatirkan. Bukan tentang harta, bukan tentang perbedaan adat Maluku-Belanda dengan Sunda. Tapi tentang apakah ia akan tetap menjadi Yasmin jika kelak hidup dalam dunia Ragnar.
________________________________________
Di Jakarta, Ragnar berdiri di balkon apartemennya yang menghadap gedung-gedung tinggi. Lampu kota menyala seperti bintang buatan manusia. Ia memandang jauh, namun pikirannya tertuju pada hamparan kebun teh yang berkabut.
“Lo yakin mau lanjut?” suara Arkan, sahabatnya sejak kuliah, terdengar dari belakang.
Ragnar tersenyum tipis. “Kenapa semua orang nanya hal yang sama?”
“Karena kita kenal lo. Lo nggak pernah setengah-setengah. Tapi ini beda, Rag. Lo mau masuk ke keluarga pesantren. Lo mualaf baru tiga tahun.”
Ragnar tidak tersinggung. Ia tahu kekhawatiran itu tulus.
“Apa gue harus nunggu sepuluh tahun dulu biar dianggap pantas?” tanyanya pelan.
Arkan terdiam.
Ragnar menatap cincin kecil di jari manisnya. Bukan cincin pertunangan—hanya cincin polos yang ia pakai sejak pertama kali bersyahadat. Simbol janji pada dirinya sendiri bahwa ia ingin hidup dengan keyakinan baru secara utuh.
Namun ada satu bayangan yang belum sepenuhnya hilang.
Clara.
Nama itu seperti duri kecil yang sesekali menusuk ingatan. Mantannya yang dulu hampir menjadi istrinya. Perempuan Belanda yang telah bersamanya bertahun-tahun sebelum ia mengenal Islam.
Keputusan Ragnar menjadi mualaf adalah salah satu sebab terbesar hubungan itu runtuh.
Clara tak pernah benar-benar memaafkannya.
Dan entah mengapa, akhir-akhir ini Clara kembali menghubunginya.
________________________________________
Di Ciwidey, Yasmin menerima pesan dari nomor tak dikenal malam itu.
“Halo, ini Yasmin?”
Ia ragu membalas. Namun setelah istikharah singkat dalam hati, ia menjawab.
“Iya, siapa ini?”
Beberapa detik kemudian balasan masuk.
“Saya Clara. Saya ingin bicara tentang Ragnar.”
Nama itu membuat jantung Yasmin berdegup lebih cepat.
Ia belum pernah mendengar langsung dari Ragnar, tetapi ia tahu lelaki itu memiliki masa lalu. Namun tak menyangka masa lalu itu akan mengetuk pintunya secara langsung.
“Ada apa?” Yasmin membalas singkat.
“Saya hanya ingin kamu tahu… Ragnar tidak sesederhana yang kamu pikir.”
Pesan itu seperti batu yang dilempar ke danau tenang.
Yasmin memejamkan mata. Ia tidak ingin berprasangka. Tidak ingin menilai sebelum mendengar langsung dari Ragnar. Namun kalimat itu terus terngiang.
________________________________________
Hari pertemuan kedua akhirnya tiba.
Ragnar datang bersama ibunya—seorang perempuan berdarah Maluku-Belanda dengan postur tinggi dan aura elegan. Rambutnya disanggul rapi, dan ia mengenakan kebaya modern dengan sentuhan Eropa.
Yasmin menyambut mereka dengan anggun, mengenakan gamis putih sederhana dan kerudung krem.
Percakapan awal berjalan sopan.
Namun ketika pembahasan mulai masuk ke arah serius, ibunda Ragnar menghela napas pelan.
“Yasmin,” ucapnya lembut namun tegas, “Ragnar adalah anak sulung. Ia memegang banyak tanggung jawab keluarga. Hidupnya penuh tekanan. Apakah kamu siap mendampingi pria seperti itu?”
Yasmin menatap perempuan itu dengan tenang.
“Saya tidak tahu apakah saya cukup, Tante. Tapi saya ingin belajar.”
Jawaban itu membuat ruangan hening sejenak.
Ragnar menatap Yasmin dengan perasaan campur aduk—antara bangga dan takut.
Ia belum menceritakan tentang Clara yang kembali muncul. Ia belum menceritakan bahwa ada tekanan bisnis keluarga yang mengharuskannya menikah dengan wanita “setara”.
Ia belum menceritakan semuanya.
Dan itu membuatnya merasa bersalah.
________________________________________
Setelah pertemuan selesai, Ragnar meminta waktu berbicara berdua dengan Yasmin—dengan pengawasan dari jarak yang sesuai adat.
“Ada yang harus aku ceritakan,” ucapnya jujur.
Yasmin sudah menebak.
“Clara menghubungimu?” tanyanya pelan.
Ragnar terkejut. “Kamu tahu?”
“Dia juga menghubungiku.”
Ragnar menutup mata sesaat. Ia merasa situasi ini semakin rumit.
“Aku tidak pernah berniat menyembunyikan apa pun. Aku hanya… ingin memastikan semuanya benar-benar selesai.”
“Apakah sudah selesai?” tanya Yasmin, suaranya lembut tapi menusuk.
Ragnar terdiam.
Itulah jawaban yang paling jujur.
Belum.
Bukan karena ia masih mencintai Clara, tetapi karena ada urusan bisnis keluarga yang dulu melibatkan keluarga Clara. Jika ia menikah dengan Yasmin, beberapa kontrak besar bisa terancam batal.
Dan itu berarti kerugian miliaran rupiah.
Yasmin membaca keraguan di mata lelaki itu.
“Ragnar,” katanya pelan, “ta’aruf bukan tentang siapa yang paling kuat menahan masa lalu. Tapi siapa yang paling siap melepaskannya.”
Kalimat itu seperti tamparan halus.
Ragnar menatapnya lama. Perempuan ini bukan hanya sederhana. Ia kuat.
Namun apakah ia sanggup membawa Yasmin masuk ke dunia yang penuh intrik dan tekanan?
________________________________________
Malam itu, Yasmin kembali duduk di beranda. Langit Ciwidey bertabur bintang. Ia mengangkat tangan, berdoa dengan hati yang bergetar.
“Ya Allah, jika dia baik untuk agamaku dan masa depanku, mudahkanlah. Jika tidak, jauhkanlah dengan cara terbaik.”
Air mata jatuh tanpa suara.
Di sisi lain kota, Ragnar berdiri di ruang kerjanya, memandang foto lama bersama Clara yang belum sempat ia buang.
Ia mengambil foto itu, menatapnya lama, lalu merobeknya perlahan.
Namun teleponnya berdering tepat setelah itu.
Nama Clara kembali muncul di layar.
Dan di saat yang sama, pesan dari ayahnya masuk:
“Kita perlu bicara. Soal perjanjian lama dengan keluarga Van Der Meer.”
Ragnar membeku.
Van Der Meer.
Nama keluarga Clara.
Masa lalu ternyata bukan hanya tentang cinta.
Tapi tentang janji yang belum ditepati.
Dan Yasmin belum tahu bahwa ada sesuatu yang jauh lebih besar dari sekadar mantan yang belum selesai.
Kabut Ciwidey turun lebih tebal malam itu.
Seolah menyembunyikan rahasia yang belum siap terungkap.
Dan ta’aruf yang mereka niatkan karena Allah kini mulai diuji oleh dunia yang lebih kejam dari yang mereka bayangkan.