Tagline:
"Ketika Pahlawan jatuh ke Neraka, dia tidak berdoa untuk diselamatkan. Dia bersiap untuk mengambil alih Tahta."
Sinopsis Cerita:
Ye Chen, sang penyelamat Alam Roh Sejati, telah membayar harga termahal demi menyelamatkan dunia dari kehancuran. Akibat memaksakan kekuatan Lima Kunci dan menahan jatuhnya Pulau Langit,
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon hakim2501, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Bab 18: Arena Meteor dan Satu Jari Menembus Langit
Arena Meteor, tempat berlangsungnya tahap kedua ujian, adalah sebuah platform batu hitam raksasa yang melayang di atas kawah gunung berapi mati. Tidak ada pagar pembatas. Jatuh dari sini berarti jatuh ke dalam jurang kegelapan yang tak berujung di bawah Gunung Meteor.
Ratusan peserta yang lolos tahap pertama berdiri tegang. Angin dingin pegunungan menusuk tulang, tapi keringat dingin membasahi punggung mereka.
Tetua Jian Gu mendarat di tengah arena, jubah abu-abunya tidak bergerak sedikitpun meski angin bertiup kencang.
"Tahap Kedua: Pembuktian Pedang," suara Tetua Jian Gu bergema. "Di Sekte Pedang Bintang Jatuh, kami tidak peduli pada latar belakang atau kekayaan. Kami hanya peduli pada satu hal: Seberapa tajam pedangmu."
"Aturannya sederhana. Tantang siapa saja. Pemenang tetap berdiri, pecundang turun. Sepuluh orang terakhir yang berdiri di arena ini akan menjadi Murid Luar."
Sistem Battle Royale lagi? Tidak, ini lebih primitif. Ini adalah King of the Hill.
"Tapi," lanjut Tetua Jian Gu, matanya melirik ke arah Ye Chen. "Khusus untuk hari ini, karena ada seseorang yang memicu Resonansi Leluhur, aku memberikan hak istimewa pada peserta nomor 404, Ye Gu."
Semua mata tertuju pada Ye Chen.
"Ye Gu," kata Tetua itu. "Kau boleh memilih: Bertarung melawan sepuluh orang sekaligus, atau bertarung melawan satu orang yang kusutunjuk."
Ye Chen tersenyum tipis di balik tudungnya. "Saya orang yang efisien, Tetua. Saya pilih satu orang."
"Bagus. Kalau begitu..."
Tetua Jian Gu belum sempat menunjuk, tapi seseorang sudah melompat maju dengan aura membunuh yang meledak-ledak.
Zhuo Yun.
"Saya mengajukan diri!" teriak Zhuo Yun. Dia mendarat di tengah arena, menghunus pedang panjang yang terbuat dari Kristal Es Biru (Senjata Tingkat Bumi Puncak).
"Tetua, izinkan saya menguji 'kejeniusan' orang asing ini. Saya curiga dia menggunakan trik kotor untuk memicu resonansi tadi!"
Tetua Jian Gu menatap Zhuo Yun, lalu menatap Ye Chen. Dia mundur selangkah.
"Baiklah. Jika kau kalah, Zhuo Yun, kau didiskualifikasi selamanya."
Zhuo Yun menyeringai. "Saya tidak akan kalah dari pengembara miskin."
Ye Chen berjalan santai ke tengah arena. Dia tidak mencabut Pedang Naga Langit dari punggungnya. Tangannya kosong, tergantung lemas di sisi tubuh.
"Kau tidak mencabut pedangmu?" tanya Zhuo Yun, merasa dihina.
"Pedangku terlalu berat untuk leher tipismu," jawab Ye Chen.
"BAJINGAN SOMBONG!"
Zhuo Yun meledakkan Qi-nya.
Spirit Severing Tingkat 4 Awal.
Udara di sekitar arena membeku. Butiran salju mulai turun.
"Teknik Klan Zhuo: Badai Pedang Es Seribu Mil!"
Zhuo Yun mengayunkan pedangnya. Ratusan bilah es tajam terbentuk di udara, berputar membentuk tornado kecil yang mengarah ke Ye Chen. Setiap bilah es itu cukup tajam untuk memotong baja.
Ye Chen berdiri diam. Matanya menatap badai itu.
Dia teringat goresan di dinding ngarai tadi. Goresan yang sederhana, lurus, dan memutus segalanya.
"Niat Pedang bukan tentang bentuk," gumam Ye Chen. "Tapi tentang arah."
Ye Chen mengangkat tangan kanannya. Dia merapatkan jari telunjuk dan jari tengahnya.
Jari Pedang (Sword Finger).
"Mati kau!" Zhuo Yun mendorong badai esnya.
Ye Chen menusukkan jarinya ke depan.
Gerakannya pelan, seolah sedang menunjuk arah. Tapi di mata para ahli pedang di tribun, gerakan itu mengandung Niat Kehampaan.
Teknik Pedang Asura: Tusukan Satu Titik.
ZING!
Sebuah garis energi transparan melesat dari ujung jari Ye Chen. Garis itu sangat tipis, hampir tak terlihat.
Garis itu menembus tengah badai es Zhuo Yun.
CRACK!
Badai es itu... terbelah.
Seperti kain yang digunting, tornado es itu terpisah menjadi dua bagian, melewati sisi kiri dan kanan Ye Chen tanpa menyentuh jubahnya sedikitpun.
Garis energi jari Ye Chen terus melaju.
Zhuo Yun terbelalak. Dia mengangkat pedang kristalnya untuk menangkis.
TING!
Suara denting yang renyah.
Pedang Kristal Es milik Zhuo Yun—senjata pusaka klannya—patah menjadi dua bagian saat bersentuhan dengan energi jari Ye Chen.
Dan jari energi itu berhenti tepat satu milimeter di depan dahi Zhuo Yun.
Angin dari serangan itu menyibakkan rambut Zhuo Yun, dan setetes darah mengalir dari dahinya yang tergores angin tajam.
Zhuo Yun membeku. Kakinya gemetar. Matanya juling melihat kematian yang berhenti tepat di depan matanya.
Jika Ye Chen menambah tenaga sedikit saja, otak Zhuo Yun sudah bocor.
"Pedangmu bagus," kata Ye Chen, menurunkan tangannya. "Tapi pemegangnnya sampah."
Zhuo Yun jatuh berlutut. Pedangnya yang patah jatuh berdenting ke lantai batu. Mentalnya hancur total. Dia kalah... oleh satu jari?
"Pemenang: Ye Gu!" umum Tetua Jian Gu.
Suasana arena hening sejenak, lalu meledak menjadi bisik-bisik kagum.
"Satu jari?!"
"Dia mematahkan Senjata Tingkat Bumi dengan jari?!"
"Niat Pedangnya... itu level Master!"
Ye Chen berbalik, hendak meninggalkan arena. Ujian ini membosankan.
Namun, tiba-tiba, langit di atas Gunung Meteor berubah warna.
Awan putih yang biasanya menyelimuti puncak gunung tiba-tiba berputar, membentuk wajah raksasa yang terbuat dari awan dan cahaya bintang.
Tekanan spiritual yang agung dan purba turun, membuat semua orang di arena—termasuk Tetua Jian Gu—berlutut ketakutan.
Itu adalah Kesadaran Spiritual dari Leluhur Sekte.
"Anak muda..." suara itu bergema di dalam jiwa semua orang, tapi hanya Ye Chen yang bisa merasakan nada bicaranya yang ramah namun mendesak.
"Kau membawa kunci itu. Naiklah."
Sebuah tangga cahaya turun dari langit, berhenti tepat di depan kaki Ye Chen.
Tetua Jian Gu mengangkat kepalanya, terkejut. "Jalan Cahaya Leluhur?! Ye Gu... kau dipanggil langsung ke Puncak Terlarang?!"
Ye Chen menatap tangga itu.
Dia tahu ini berisiko. Menemui monster tua di sarangnya selalu berbahaya. Tapi Liontin Pedang dan Kunci Bulan (di dalam cincinnya) bergetar hebat.
"Sepertinya aku tidak bisa menolak," batin Ye Chen.
Dia menoleh ke arah Lilith.
"Tunggu di sini. Jika aku tidak kembali dalam tiga hari... lari."
Ye Chen melangkah naik ke tangga cahaya itu.
Dalam sekejap mata, dia ditarik ke atas, menembus awan, meninggalkan ribuan peserta ujian yang menatapnya dengan iri dan takjub.
Puncak Terlarang: Gua Bintang Jatuh.
Ye Chen mendarat di sebuah gua es yang sunyi di puncak tertinggi gunung. Di sini, tidak ada angin, tidak ada suara. Dinding gua dipenuhi kristal es yang memantulkan cahaya bintang meskipun hari masih siang.
Di tengah gua, duduk seorang pria tua yang sangat kurus, kulitnya keriput seperti kulit pohon tua. Rambut putihnya panjang menyapu lantai. Dia tidak bergerak, seolah sudah mati.
Tapi di pangkuannya, tergeletak sebuah benda yang membuat jantung Ye Chen berdegup kencang.
Sebuah Sarung Pedang Putih.
Pasangan dari sarung pedang hitam yang Ye Chen dapatkan di Menara Babel.
Pria tua itu membuka matanya. Matanya tidak memiliki pupil, hanya cahaya putih yang berputar.
Leluhur Bintang (Star Ancestor). Tingkat Kultivasi: Setengah Langkah Mahayana (Half-Step Mahayana).
"Kau datang, Pewaris Asura," suara pria tua itu tidak keluar dari mulutnya, tapi langsung muncul di otak Ye Chen.
"Anda tahu siapa saya?" Ye Chen waspada, tangannya siap memanggil pedang.
"Tentu saja. Pedang di punggungmu... itu adalah Hei Long (Naga Hitam). Pasangan dari Bai Long (Naga Putih) yang dulu dijaga oleh sekte ini sebelum dicuri oleh pengkhianat tiga ratus tahun lalu."
Leluhur Bintang menatap Ye Chen.
"Aku sudah menunggu lama. Menunggu seseorang yang bisa menyatukan kembali Kunci Langit dan Kunci Bulan."
"Kenapa?" tanya Ye Chen.
"Karena..." Leluhur Bintang mengangkat tangannya yang kurus, menunjuk ke dinding gua di belakangnya.
Es di dinding itu mencair, memperlihatkan sebuah lukisan dinding kuno.
Lukisan itu menggambarkan sebuah pintu gerbang raksasa. Dan di balik gerbang itu, ada gambar dunia yang hancur terbakar api hitam.
"Karena Gerbang Alam Dewa... sedang retak dari sisi lain," kata Leluhur Bintang dengan nada grim. "Para Dewa Palsu di sana sedang mencoba menerobos masuk ke dunia kita untuk memanen jiwa."
"Kunci-kunci itu bukan hanya untuk membuka gerbang bagi kita untuk naik. Tapi juga untuk Mengunci Kembali gerbang itu dari serangan luar."
Mata Ye Chen menyipit. "Maksudmu... tujuanku mengumpulkan kunci ini sebenarnya untuk menyegel dunia ini?"
"Atau membukanya dan menghadapi kiamat," jawab Leluhur. "Pilihan ada di tanganmu. Tapi sebelum itu..."
Leluhur Bintang melemparkan Sarung Pedang Putih itu ke arah Ye Chen.
Ye Chen menangkapnya.
"Gabungkan dengan pedangmu. Itu akan menstabilkan aura pembunuhmu dan memberimu akses ke Perpustakaan Terlarang di mana lokasi Kunci Bulan yang sebenarnya disembunyikan."
Ye Chen terkejut. "Kunci Bulan tidak ada di sini?"
"Kunci Bulan (Fisik) mungkin kau miliki. Tapi Inti Roh Bulan-nya... disembunyikan di Lautan Gletser Utara, dijaga oleh Leviathan Es Purba."
Leluhur Bintang menutup matanya kembali, kelelahan.
"Pergilah. Waktumu sedikit. Aku merasakan bayangan Kuil Dewa Iblis sedang bergerak menuju Utara. Mereka juga mengincar Inti Bulan."
Ye Chen menggenggam sarung pedang putih itu. Dia membungkuk hormat.
"Terima kasih, Senior."
Ye Chen berbalik. Dia mendapatkan petunjuk baru, perlengkapan baru, dan musuh lama yang masih mengejar.
Perburuan Inti Bulan di lautan es akan segera dimulai.
(Akhir - Bab 18)