NovelToon NovelToon
Shen Yu Jalan Melawan Langit

Shen Yu Jalan Melawan Langit

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Timur / Balas Dendam / Mengubah Takdir
Popularitas:4.4k
Nilai: 5
Nama Author: Sang_Imajinasi

Alam Atas (Tiga Puluh Tiga Surga) sedang menghadapi akhir dari usianya yang telah berjalan miliaran tahun. Energi Dao mulai membeku. Para Penguasa Purba menyebutnya Kalpa Angin Salju. Untuk bertahan hidup dari kiamat kosmik ini, para penguasa Alam Atas menanam "Ladang Dunia Fana" (seperti dunia asal Shen Yu) untuk memanen energi kehidupan.

Kedatangan Shen Yu (Ketiadaan) dan Lin Xue (Teratai Primordial) adalah anomali. Bagi Alam Atas, Lin Xue adalah kayu bakar abadi yang bisa menghangatkan mereka dari musim dingin kosmik, sedangkan Shen Yu adalah badai salju yang akan mempercepat kehancuran mereka.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Sang_Imajinasi, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Bab 6: Perjamuan Berdarah

Surga Pertama - Aula Utama Kota Patahan Es.

Darah Penguasa Kota terdahulu belum juga membeku di lantai es ketika Shen Yu duduk di singgasana yang diukir dari taring naga kosmik. Lin Xue berdiri di sampingnya, Qi di sekitarnya masih sedikit tidak menentu akibat pertempuran sebelumnya, namun wajahnya setenang permukaan danau.

Di bawah anak tangga, puluhan kultivator mantan penjaga dan orang tua Tuan Gua Beku berlutut dengan gemetar. Mereka adalah saksi pembantaian singkat namun mematikan yang baru saja terjadi. Di depan mereka, berdiri Mo Han, memegang erat segel kota yang bersinar biru redup. Wajah budak tua itu bercampur antara ketakutan yang mendalam dan perasaan euforia beracun karena sedikit kekuasaan yang baru kembali ke tangannya.

"Dengarkan baik-baik," suara Shen Yu menggema, dingin dan absolut, bergema di aula yang remang-remang itu. "Tuan lama kalian sudah kembali ke debu. Mulai saat ini, aku adalah hukum di kota ini. Dan hukumku sangat sederhana: patuh, atau menyusul tuannya yang lama."

Tak seorang pun berani mendongak. Auranya, meskipun ia baru berada di Tahap Awal Dewa Fana , begitu menekan, dipenuhi dengan Dao Ketiadaan yang menolak tatanan Alam Atas.

"Mo Han," panggil Shen Yu, tanpa mengubah posisinya.

Mo Han segera membungkuk hormat, sikap arogannya di masa lalu seolah tak pernah ada di hadapan Shen Yu. "Pelayan siap, Kaisar Malam."

"Hapus gelar itu. Di Alam Atas, aku adalah Shen Yu," potongnya tajam. "Gunakan segel itu. Perintahkan seluruh penjaga kota untuk membersihkan kekacauan ini. Tutup gerbang kota. Siapapun yang masuk atau keluar, laporkan padaku. Jika berita tentang kematian penguasa ini bocor sebelum aku mengizinkannya..." Shen Yu mencondongkan tubuhnya ke depan, "...aku tidak akan membunuh kalian. Aku akan membiarkan kalian membusuk di luar tembok selama Kalpa Angin Salju."

Kepanikan menyebar di antara para kultivator. Mereka tahu persis betapa tersiksanya membeku hidup-hidup di lautan salju.

"B-Baik, Tuan Shen!" seorang kapten penjaga yang gemetar akhirnya angkat bicara, segera berdiri dan mengomando anak buahnya. Dalam hitungan menit, mayat Tuan Gua Beku dan anak buahnya diseret keluar, dan lantai es dibersihkan dari sisa-sisa pertempuran.

Saat aula mulai sepi, Mo Han berjalan mendekat dengan hati-hati. "Tuan Shen... menyembunyikan ini tidak akan bertahan lama. Aliansi akan segera mengirim utusan untuk mengumpulkan setoran Kristal Dao dan... 'kayu bakar'."

"Biarkan mereka datang," jawab Shen Yu. "Kapan jadwal mereka?"

"Biasanya tiga hari dari sekarang," Mo Han menelan ludah. "T-Tuan, jika mereka menyadari bahwa Tuan Gua Beku sudah tewas..."

"Aku ingin mereka tahu," sahut Shen Yu tenang. "Tapi mereka akan tahu dari cerita yang kususun."

Shen Yu bangkit dari singgasananya dan berjalan menuruni tangga, mendekati Mo Han.

"Mo Han, apakah kau masih memiliki kebanggaanmu sebagai Patriark sekte masa lalu?"

Mo Han tertegun. Ingatan masa lalu, ribuan murid yang bersujud padanya, kekuatan yang bisa membelah gunung... semua itu sudah hancur dikunyah oleh cambuk tambang.

"Kebanggaan tidak membuat perutku kenyang atau melindungiku dari hawa dingin, Tuan Shen," gumam Mo Han pahit.

"Bagus," Shen Yu menyeringai, sebuah senyuman kejam yang membuat Lin Xue bahkan bergidik pelan. "Karena aku akan mengubahmu menjadi boneka paling hina, tapi paling berkuasa di Surga Pertama."

Shen Yu mengulurkan tangannya, Api Ketiadaan menari-nari di ujung jarinya. Dia menempelkan tangannya ke dada Mo Han.

Mo Han menjerit kesakitan saat api hitam itu merambat ke dalam meridiannya. Namun, rasa sakit itu hanya sesaat. Seketika, sisa-sisa luka Dao Es di tubuh budak tua itu menguap. Dantian-nya yang sebelumnya tersegel, perlahan terbuka kembali.

"Aku membebaskan meridianmu, tapi aku juga menanamkan benih Ketiadaan di jantungmu," kata Shen Yu santai, seolah baru saja memberikan pil penyembuh biasa. "Mulai sekarang, kau adalah 'Tuan' dari Kota Patahan Es."

Mo Han menatap kedua tangannya dengan takjub. Kekuatannya di Dewa Fana Tahap Menengah telah kembali sepenuhnya! Namun, sensasi terbakar di jantungnya mengingatkannya pada rantai tak kasat mata yang kini mengikatnya lebih erat daripada rantai besi di tambang.

"Kau akan memberitahu utusan Aliansi bahwa Tuan Gua Beku tewas karena memberontak, dan kau seorang pendatang baru telah memenggalnya demi kesetiaanmu pada Aliansi," Shen Yu memberikan instruksi. "Tawarkan mereka pajak dua kali lipat dan berikan mereka daftar fiktif tentang kultivator yang siap dijadikan 'kayu bakar'. Buat mereka merasa kau adalah anjing yang lebih patuh."

Mo Han akhirnya memahami rencana gila ini. Shen Yu tidak ingin menghancurkan sistem kota ini; dia ingin mengendalikannya dari dalam.

"Dan... Tuan Shen, bagaimana dengan kalian?" tanya Mo Han.

"Kami adalah 'tahanan' istimewamu," jawab Shen Yu, melirik Lin Xue. "Katakan pada mereka kau menangkap dua kultivator liar dengan aura yang sedikit murni. Aliansi terlalu serakah untuk menolak. Saat mereka lengah memeriksa 'tahanan' ini..."

"Kita serang mereka dari dalam," Lin Xue menyelesaikan kalimat Shen Yu, matanya memancarkan ketegasan yang sama dengan gurunya.

"Tepat." Shen Yu kembali ke singgasana. "Sekarang, kumpulkan semua sumber daya kota ini. Obat-obatan, Kristal Dao, dan informasi. Terutama, aku ingin tahu apa pun yang bisa kau temukan tentang faksi Kuil Pedang Salju Pucat dan Paviliun Cermin Bayangan."

Shen Yu memejamkan mata, membiarkan Dao Ketiadaan-nya menelan sisa-sisa rasa sakit di bahunya. Permainan di Alam Atas telah dimulai.

Dia bukan lagi pelarian. Dia adalah laba-laba yang mulai merajut jaringnya di tengah badai es.

Tiga hari kemudian.

Kota Patahan Es diselimuti ketegangan yang pekat. Gerbang kota, yang biasanya selalu sedikit terbuka untuk memungut pajak, kini tertutup rapat. Formasi pertahanan kota diaktifkan hingga tingkat maksimal.

Di dalam, Mo Han yang kini mengenakan jubah mewah peninggalan Penguasa Kota sebelumnya berdiri gelisah di halaman utama bangunan penguasa. Di belakangnya, puluhan penjaga bersiaga.

Di salah satu sel tahanan bawah tanah yang dingin, Shen Yu dan Lin Xue duduk tenang. Mereka telah dipasangi rantai es palsu yang bisa dipatahkan Shen Yu hanya dengan satu tarikan napas.

GELANDANGAN!

Suara ledakan keras terdengar dari arah gerbang kota. Tanah bergetar.

"Mereka datang," gumam Shen Yu di dalam sel.

Di halaman utama, pintu gerbang tulang besi didobrak terbuka. Tiga sosok berjubah perak, menunggangi Elang Es yang jauh lebih besar dari milik patroli perbatasan, mendarat dengan kasar.

Di depan mereka adalah seorang pria bertubuh kekar, auranya memancarkan panas yang aneh di tengah udara es ini. Dia adalah Utusan Yan, salah satu pengumpul pajak dari Aliansi Asal Leluhur, berada di batas Dewa Fana Tahap Puncak.

"Di mana babi tambun itu?!" raung Utusan Yan, melompat turun dari elangnya dan menatap Mo Han dengan garang. "Gerbang terkunci?! Apa Tuan Gua Beku mencoba memberontak?!"

Mo Han menekan rasa takutnya. Dia maju dan membungkuk dalam-dalam. "Utusan Yan yang terhormat... Tuan Gua Beku memang berencana memberontak. Dia menyembunyikan setengah dari Kristal Dao dan menolak menyerahkan 'kayu bakar' berkualitas."

Utusan Yan menyipitkan mata. "Lalu di mana dia sekarang?"

"Dia sudah kembali menjadi debu, Tuan," Mo Han menahan gemetar di suaranya. "Hamba, Mo Han, menganggap kesetiaan pada Aliansi di atas segalanya. Hamba memimpin pemberontakan kecil dan... menyingkirkannya. Kini, kota ini berada di bawah kendali Aliansi sepenuhnya."

Utusan Yan dan dua pengawalnya saling pandang, lalu tertawa keras. Tawa yang merendahkan.

"Anjing tambang mencoba menjadi penguasa kota? Lucu sekali!" Utusan Yan berjalan mendekat, mencengkeram kerah jubah Mo Han. "Dengar, budak. Kau bisa menyebut dirimu penguasa, tapi jika pajaknya tidak dua kali lipat dari biasanya, aku akan membekukanmu dan melemparmu kembali ke jurang!"

"H-Hamba sudah menyiapkan pajak dua kali lipat, Tuan!" Mo Han buru-buru menjawab. "Dan... hamba memiliki persembahan khusus. Dua kultivator liar yang baru tiba. Sang wanita... memiliki jiwa yang luar biasa murni."

Mata Utusan Yan langsung berbinar serakah. Jiwa murni adalah komoditas paling berharga di Alam Atas.

"Bawa aku kepada mereka!" Utusan Yan berkata dengan kasar, melepaskan cengkeramannya.

Mo Han memimpin ketiga utusan Aliansi memasuki lorong bawah tanah yang gelap. Jantungnya berdebar kencang saat langkah kaki mereka bergema. Ini adalah pertaruhan hidup dan mati. Jika Shen Yu gagal, Mo Han akan mati dengan cara yang paling mengerikan.

Mereka tiba di depan sel tahanan baja. Di dalamnya, Shen Yu dan Lin Xue duduk dengan kepala tertunduk.

Utusan Yan memerintahkan para pengawalnya untuk membuka pintu sel. Dia melangkah masuk, aura panasnya menekan udara dingin di dalam sel.

"Coba kulihat 'persembahan' ini," Utusan Yan menyeringai lebar, berjalan ke arah Lin Xue yang masih tertunduk.

Dia mengulurkan tangannya, mencoba meraih dagu Lin Xue.

Namun, sebelum tangannya menyentuh kulit gadis itu, Lin Xue mendongak. Mata ungunya memancarkan Api Teratai yang murni, bukan ketakutan, melainkan antisipasi mematikan.

Di saat yang sama, Shen Yu yang duduk di sebelahnya... menghilang.

Rantai es yang mengikat Shen Yu hancur berkeping-keping menjadi debu yang lenyap.

Utusan Yan terkesiap, insting tempurnya berteriak bahaya. Dia mencoba mundur, namun semuanya sudah terlambat.

Sebuah tangan yang sedingin kehampaan mencengkeram lehernya dari belakang.

"Aku punya tawaran pajak yang lebih baik," bisik Shen Yu tepat di telinga Utusan Yan, suaranya seperti bisikan pembawa kematian. "Nyawamu, untuk sedikit informasi."

1
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
bob: halo kak, kalau suka baca novel fantasi timur, coba baca novel judulnya " zaman para dewa" semoga kakak suka...
total 1 replies
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Rinaldi Sigar
lnjut
Rinaldi Sigar
lanjut
Bambang Widono
👍👍🙏🙏🙏🙏💯💯💯💯💯👍👍👍🙏🙏🙏
Bambang Widono
mantab lanjut Thor 👍👍💯💯💯💯👍👍🙏🙏🙏🙏🙏
aleena
semua karyamu pasti bagus bagus
💪💪💪
Sang_Imajinasi: terimakasih 🙏
total 1 replies
MyOne
Ⓜ️👣👣👣Ⓜ️
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!