NovelToon NovelToon
Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Teman Hidup, Bukan Pasangan Hidup?

Status: sedang berlangsung
Genre:Cinta Seiring Waktu / Cintapertama / Penyesalan Suami
Popularitas:2k
Nilai: 5
Nama Author: AkeilanaTZ

Hari pernikahan adalah momen paling membahagiakan bagi seorang wanita.
Setidaknya, itulah yang selalu kupercaya.
Aku menikah dengan pria yang kupikir telah kupahami.
Ia baik, bertanggung jawab, dan tidak pernah menyakitiku.
Namun sejak malam pertama, ada jarak yang tak mampu kujelaskan.
Kami berbagi rumah, berbagi meja makan, bahkan berbagi ranjang—
tetapi tidak pernah benar-benar berbagi kedekatan.
Ia tidak pernah bersikap kasar.
Ia hanya. terlalu hati-hati.
Terlalu jauh.
Dalam diam, aku mulai bertanya:
apakah aku istrinya,
atau hanya teman hidup yang kebetulan ia nikahi?
Dan ketika pernikahan ini hampir kehilangan maknanya,
ia harus memutuskan—
tetap berjalan setengah hati,
atau belajar mencinta dengan utuh.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon AkeilanaTZ, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

kebahagiaan yang retak

Bu RT.

Entah mengapa, firasat buruk langsung menjalar dari ujung kepala hingga kaki.

Aku meraih ponsel itu dengan tangan gemetar.

“Halo?”

Di seberang sana terdengar suara panik.

“Mala… kamu di mana, Nak?”

“Saya di rumah, Bu. Kenapa?”

Ada jeda. Suara napas berat.

“Ibumu… tadi sore sempat

pingsan.”

Darahku terasa surut.

“Pingsan? Sekarang bagaimana?”

“Kami sudah bawa ke rumah sakit. Tapi…”

“Tapi apa, Bu?”

Suara itu berubah lirih.

“Dokter bilang… kamu harus segera ke sini.”

Duniaku runtuh dalam satu detik.

Perjalanan ke rumah sakit terasa seperti mimpi buruk yang berjalan terlalu lambat.

Ashar menyetir dengan wajah tegang. Tangannya menggenggam setir lebih keras dari biasanya.

Aku tidak bisa berhenti berdoa disepanjang perjalanan ke rumah sakit.

Ibuku jarang sakit. Ia perempuan kuat. Sejak aku kecil, ia selalu terlihat tegar.

Mengurusku sendirian setelah ayah meninggal ketika aku masih bayi.

Ia tidak pernah menikah lagi.

Hidupnya hanya untukku.

Dan sekarang—

“Tidak apa-apa,” bisik Ashar, meski suaranya sendiri tidak terdengar yakin.

Aku hanya bisa memeluk diriku sendiri.

Sesampainya di rumah sakit, langkahku terasa limbung.

Bu RT berdiri di depan ruang ICU.

Wajahnya sudah menjelaskan semuanya sebelum ia sempat bicara.

Aku menggeleng pelan.

“Tidak…”

“Mala…”

Aku tidak mendengar kalimat berikutnya.

Kakiku terasa lemas. Jika bukan karena Ashar yang sigap menahan, mungkin aku sudah jatuh ke lantai.

“Ibu…?” suaraku pecah.

Dokter keluar beberapa menit kemudian.

“Kami sudah berusaha semaksimal mungkin. Serangan jantungnya cukup parah.”

Serangan jantung.

Aku bahkan tidak tahu ibuku punya riwayat penyakit itu.

“Kami turut berduka cita.”

Kalimat itu terdengar jauh.

Seperti bukan ditujukan padaku.

Ibuku.

Satu-satunya keluargaku.

Pergi.

Begitu saja.

Aku tidak ingat bagaimana aku bisa berdiri di depan ruang jenazah.

Tidak ingat bagaimana aku menandatangani dokumen.

Tidak ingat siapa saja yang datang memelukku.

Yang kuingat hanya satu—

Aku sekarang sendirian.

Benar-benar sendirian.

Sebagai anak tunggal dari seorang single mom, tidak ada saudara kandung. Tidak ada paman dekat. Tidak ada orang yang bisa mengambil alih.

Semua keputusan ada di tanganku.

“Mala,” suara Ashar terdengar lembut di sampingku, “aku di sini.”

Aku menoleh padanya.

Matanya merah, entah karena kurang tidur atau ikut menahan emosi.

“Aku tidak tahu harus bagaimana,” bisikku.

“Kita urus bersama.”

Kita.

Bukan kamu.

Bukan aku.

Tapi kita.

Dan untuk pertama kalinya sejak menikah, aku benar-benar merasa memiliki pasangan.

Hari-hari berikutnya berlalu dalam kabut duka.

Mengurus pemakaman.

Menghubungi tetangga.

Menentukan tempat peristirahatan terakhir ibu.

Aku hampir tidak tidur.

Tapi Ashar tidak pernah meninggalkanku sendirian.

Ia yang mengurus ambulans.

Ia yang berbicara dengan pengurus pemakaman.

Ia yang berdiri di sampingku ketika tanah pertama kali ditimbun di atas liang lahat ibu.

Tanganku gemetar ketika menaburkan bunga.

“Aku belum sempat membahagiakan Ibu,” bisikku dengan suara pecah.

“Kamu sudah membahagiakannya,” jawab Ashar pelan. “Kamu menikah.

Itu yang paling ia inginkan.”

Air mataku mengalir deras.

Aku teringat wajah ibu saat hari pernikahanku. Senyum bangganya. Tangis bahagianya.

Ia pergi setelah melihatku bersanding.

Seolah tugasnya telah selesai.

Malam setelah pemakaman, rumah ibu terasa berbeda.

Kosong.

Sunyi.

Tidak ada suara televisi menyala. Tidak ada aroma masakan sederhana yang biasa menyambutku.

Aku duduk di ruang tamu, memeluk foto ibu.

Ashar duduk di sampingku, tidak berkata apa-apa.

Dan justru diamnya itu terasa paling menguatkan.

“Aku sekarang benar-benar tidak punya siapa-siapa selain kamu,” kataku pelan.

Ia menoleh.

“Kamu punya aku,” jawabnya tegas.

Bukan kalimat manis.

Tapi janji.

Aku menyandarkan kepala ke bahunya.

Malam pertama kami kembali gagal.

Bukan karena ragu.

Bukan karena takut.

Tapi karena takdir merenggut kesempatan itu.

Dan anehnya, untuk pertama kalinya, aku tidak memikirkan soal itu.

Tubuhku terlalu lelah untuk memikirkan hasrat.

Hatiku terlalu hancur untuk memikirkan sentuhan.

Yang kubutuhkan hanya satu hal—

Seseorang yang tetap tinggal.

Dan Ashar tinggal.

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!