Randy, mahasiswa Teknik Mesin semester dua, punya segalanya: tinggi menjulang, senyum manis, motor Kawasaki Ninja yang gagah, dan kamera DSLR yang setia menemaninya berburu foto di sudut-sudut kota. Tapi di balik pesona itu, Randy tetap jomblo—lebih suka memotret penjual cilok atau suasana kumuh daripada nongkrong romantis. Cewek-cewek kampus gemas, tapi Randy selalu jaim, seolah menutup pintu hatinya.
Suatu malam, hidupnya berubah. Dalam mimpi yang terasa terlalu nyata, ia bertemu Ki Suromenggolo—kakek buyut tabib sakti yang mewariskan ilmu penyembuhan legendaris. Randy bangun dengan dada hangat dan perasaan aneh, seakan membawa kekuatan baru.
Di tengah hiruk-pikuk kota, persahabatan, godaan cinta, dan bahaya yang mengintai, Randy akan belajar bahwa menjadi “tabib tampan” bukan sekadar gelar. Ini adalah perjalanan tentang keberanian, tanggung jawab, dan hati yang selalu diuji oleh banyak perempuan yang diam-diam jatuh hati padanya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon jeffc, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Jejak di Dalam Foto
Randy memejamkan mata sejenak. Ingatannya melayang ke setahun yang lalu, saat ia touring ke Pelabuhan Ratu bersama komunitas Kawasaki Ninja. Saat itu ia sekamar hotel dengan Kusna, salah satu anggota komunitas Kawasaki Ninja yang tidak begitu dia kenal. Dia sebenarnya kurang nyaman, sekamar dengan orang yang tidak dikenalnya, tapi ya sudahlah.
Panitia touring itu benar-benar hebat dalam menentukan tempat-tempat yang dikunjungi seperti Pantai Batu Bintang yang cantik saat matahari terbenam, Pantai Karang Hawu yang ikonik dengan tebing karang, Pantai Citepus yang strategis, serta Vihara Nam Hai Kwan Se Im Pu Sa dan Pantai Istana Presiden.
Tak terasa dua hari di Pelabuhan Ratu yang disuguhi dengan pemandangan-pemandangan yang mencengangkan dan fotogenik itu akan segera berakhir. Malamnya di hotel Randy bekerja sampai larut malam memilah-milah foto-foto mana saja yang akan diupload ke Instagram dan dijual ke Shutterstock. Sungguh pekerjaan yang sulit, karena dia ada ratusan foto Pelabuhan Ratu, dan hampir semuanya indah!
Kusna menyaksikan Randy yang terus memelototi layar laptopnya.
“Nggak tidur, mas?” tanya Kusna, yang sudah menguap, tapi tetap mengikuti foto-foto yang sedang dipilah-pilah Randy. “Besok pagi, pulang ke Jakarta, nanti ngantuk di jalan, lho mas.”
“Nggak apa-apa, sudah biasa, kok,” jawab Randy tanpa melepaskan pandangan dari layar laptopnya. “Kalau sudah hobi, memang bikin lupa waktu.”
Lima belas menit kemudian dia merebahkan diri ke ranjang, ingin beristirahat sebentar. Laptopnya masih menyala, dan SD card masih tersambung. Namun saking lelahnya Randy terus ketiduran sampai pagi.
Dan selama dia tidur, dia sama sekali nggak tahu apa yang terjadi. Kusna melirik ke arah Randy yang sudah tertidur pulas. Dengkuran pelan terdengar dari ranjang Randy, dan dengan mengendap-endap Kusna perlahan bangkit, melangkah ke meja tempat laptop Randy masih menyala. Lampu layar memantul di wajahnya ketika ia memasukkan hardisk eksternal ke port USB. Diam-diam, Kusna meng-copy beberapa foto yang bagus ke hardisk eksternal yang dia bawa. Tidak banyak, hanya sekitar 10 foto saja, lalu dia juga tidur.
Esoknya, sebelum berangkat pulang ke Jakarta, Randy membereskan gadget-gadgetnya, laptop, SD card, kamera dll., tanpa sadar bahwa beberapa foto telah dicopy. Tak lupa dia mengupload beberapa foto yang dia anggap terindah ke Instagram.
“Ayo bangun, bangun,” panggil Nawawi salah seorang panitia. “Dalam sejam kita breakfast bersama, lalu kembali ke Jakarta.”
“Kita sudah bangun, lagi mberesein barang-barang,” teriak Randy dari dalam kamar sambil beberes dengan cepat-cepat. “Kusna lagi mandi, habis ini giliran gua mandi.”
“Sip!” kata Nawawi dari luar pintu. “Asal jangan mandi bareng, ya?”
“Emang gua jeruk makan jeruk?” jawab Randy.
“Bukan jeruk makan jeruk, tapi siapa tahu jeruk mandiin jeruk,” kata Nawawi terkekeh lalu ke kamar lainnya membangunkan penghuninya.
Setelah selesai mandi dan merapikan diri, Randy dan Kusna segera menyusul kawan-kawannya sesama anggota komunitas Kawasaki Ninja di restoran hotel yang tidak begitu jauh dari kamar Randy dan Kusna. Ternyata sudah banyak yang berkumpul di restoran itu. Randy hanya sarapan dengan roti tawar dan teh tawar.
“Sedikit amat lu makan?” kata Nawawi heran. “Kaya cewek lagi diet aja, luh?”
“Gua takut kebelet di tengah jalan, Wi,” jawab Randy. “Mana pom bensin jauh-jauh lokasinya.”
“Eh ada Randy sudah siap,” kata Billy yang baru saja tiba di restoran. “Lu sekamar sama siapa?”
“Sama Kusna,” jawab Randy sambil mengoles roti tawarnya dengan selai strawberry.
“Kusna apa Rina?” canda Billy sambil terkekeh.
“Wah, kalau sama Rina gua nggak ikut pulang deh,” balas Randy sambil tertawa pula. “Kalian jalan aja dulu.”
“Cakep-cakep juga foto-foto Pelabuhan Ratu yang barusan lu upload ke Instagram,” kata Ho Liang memuji.
“Kalau nggak cakep mana mau disamperin Randy,” timpal Billy.
Billy, Randy dan Ho Liang terbahak-bahak dengan candaan mereka di pagi hari yang ceria itu. Billy dan Ho Liang yang sok kegantengan minta foto waitress restoran yang cantik berfoto bersama. Dan Randy bersedia jadi fotografer mereka. Langsung foto itu diupload ke Instagram mereka dan banyak komen lucu-lucu berdatangan.
“Nggak laku di Jakarta, Billy dan Ho Liang harus berburu jodoh sampai Pelabuhan Ratu,” kata salah satu komentar.
Akhirnya rombongan kembali ke Jakarta, meninggalkan sejuta kenangan di Pelabuhan Ratu dengan segala keceriaan, tawa dan canda. Randy berboncengan motor, dan selama di perjalanan mereka bernyanyi riang dan bersenda gurau agar tidak ngantuk.
Randy termenung dan tersenyum kecut mengingat keceriaan komunitas yang seperti keluarga itu, tapi dia juga tidak menyangka bahwa acara kekeluargaan yang penuh canda dan tawa itu berbuah bencana bagi Randy. Dia lalu mengambil ponselnya dan menelpon Christian, “Chis, lu ada waktu siang ini? Kita ngopi-ngopi yuk.”
“Siap, lama juga kita nggak bertemu,” jawab Christian di seberang telepon.
Siangnya, Randy dan Christian bertemu di sebuah kafe dekat workshop motor komunitas Kawasaki Ninja, dan laptop Christian sudah terbuka lebar. Setelah berbasa-basi dan bercanda sebentar, Randy mengutarakan peristiwa tahun lalu di Pelabuhan Ratu dan kecurigaannya bahwa Kusna yang telah mencuri foto-fotonya dan dijual ke Shutterstock dengan harga murah.
Christian menunjuk ke layar laptopnya. “Buktinya sangat kuat, Rand. Di dalam setiap foto ada data dari kamera yang memotret. Data di foto itu cocok dengan kameramu.”
Wajah Randy berubah serius lalu mendekat ke Christian. “Dan itu artinya?”
“Artinya sangat jelas, bahwa foto itu memang diambil dari kameramu.”
Randy mengangguk, “Gue nggak mau masalah jadi besar, dan melibatkan yang berwajib tapi gue cuma pengen foto-foto gue balik aman dan Kusna mau belajar dari kesalahannya.”
Christian lalu menjelaskan langkah yang harus dilakukan. Randy perlu melaporkan pencurian foto itu ke Shutterstock sebagai pemilik asli karya tersebut. Ia harus menyertakan link foto asli miliknya di Instagram, serta link foto yang dipakai tanpa izin di akun Shutterstock milik Kusna. Selain itu, Randy juga perlu melampirkan bukti bahwa foto tersebut memang berasal dari kameranya, termasuk data asli yang sesuai dengan foto itu.
“Thanks berat, bro,” kata Randy. “Gak salah gua punya temen jago IT seperti lu.”
“Ah, soal kecil itu,” jawab Christian. Selanjutnya, Christian bahkan bersedia membantu Randy menyusun email ke infringementclaims@shutterstock.com, termasuk lampiran screenshot perbandingan kedua foto yang menunjukkan bahwa gambarnya sama persis sampai detail kecilnya.
Beberapa hari kemudian, datang respons dari Shutterstock. Setelah memeriksa bukti yang dikirim Randy, pihak Shutterstock memastikan bahwa foto-foto itu memang berasal dari kamera Randy. Lalu Shutterstock langsung menghapus semua foto Kusna dari platform, menutup akun contributor-nya, dan mengirim notifikasi bahwa akun tersebut diblokir permanen karena pelanggaran berulang.
Kemudian Randy mendapat email konfirmasi dari Shutterstock, “Kami telah mengambil tindakan terhadap akun StockMasterID87 yang terbukti melanggar dan menghapus konten yang melanggar sesuai undang-undang.”
Randy mengirim balasan dari Shutterstock itu, dan Christian membalasnya dengan emoticon jempol.
Langkah selanjutnya, Randy kemudian menghubungi Kusna via WhatsApp, “Kus, gua sudah melaporkan akun StockMasterID87 ke Shutterstock. Segera mereka melakukan investigasi dan terbukti beberapa foto adalah milik gua dan mereka langsung takedown foto-foto itu dan memblokir akun StockMasterID87. Kalau lu merasa bukan pemilik akun StockMasterID87 di Shutterstock, gua akan perpanjang masalah ini ke yang berwajib. Tapi kalau lu mengaku akun itu memang punya lu dan minta maaf secara terbuka beberapa sosmed, gua tidak akan perpanjang kasus ini.”