Di kota Valmere, nama Phantom dibisikkan seperti legenda.
Seorang kurir bayangan. Pembunuh yang tak pernah gagal.
Leon hidup di dunia yang gelap dan presisi—sampai satu malam peluru yang bersarang di tubuhnya memaksanya masuk ke sebuah klinik kecil di Distrik 6.
Di sana ia bertemu Alice Arden, seorang dokter yang tidak bertanya siapa dia, dan tidak takut pada darah yang dibawanya.
Namun ketika dunia bawah mulai memburu sesuatu di distrik itu, Leon menyadari satu hal yang berbahaya.
Target yang mereka cari…
Mungkin adalah satu-satunya orang yang memperlakukannya seperti manusia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nameika, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 13 — Predator
“Targetmu ada di dalam, bukan?”
Rook berdiri dengan sangat santai di tengah gang sempit Distrik 6 yang masih berkabut tipis. Satu tangannya dimasukkan ke dalam saku jaket kulit gelapnya yang tebal, sementara tangan lainnya menggantung bebas di samping pinggang, tak jauh dari posisi senjatanya. Senyumnya melengkung tipis, jenis senyum predator yang baru saja menemukan lubang persembunyian mangsa yang selama ini dicari-cari oleh seluruh hutan.
Leon tidak menjawab. Wajahnya tertutup oleh bayangan dari tepian topi jaketnya, menciptakan topeng stoik yang mustahil ditembus oleh tatapan mata biasa. Namun, otot-otot di kaki dan bahunya telah terkunci dalam posisi siaga penuh.
Udara pagi di antara bangunan-bangunan bata merah yang mengapit gang itu terasa membeku. Kelembapan dari kanal-kanal tua yang membusuk merayap naik, membawa aroma besi dan tanah basah. Di belakang Leon, pintu kayu Klinik Arden tetap tertutup rapat, menjadi satu-satunya pembatas antara dunia Alice yang tenang dan badai berdarah yang sedang bertumpu di depannya.
Lampu di dalam klinik masih menyala, memancarkan garis cahaya pucat dari celah pintu. Di sana, Alice mungkin sedang menata botol-botol antibiotik atau menulis laporan harian di atas meja kayu kecilnya. Ia tidak menyadari bahwa dua pembunuh paling mematikan di Valmere sedang berdiri hanya berjarak beberapa meter dari tempat ia bernapas.
Rook mengambil satu langkah maju. Sepatu bot militernya berderak di atas kerikil dan aspal yang retak. “Tenang saja, Phantom.” Ia mengangkat kedua tangannya sedikit, telapak tangan terbuka seolah-olah menunjukkan bahwa ia datang dengan niat damai yang palsu. “Aku tidak datang ke sini untuk mencuri kontrakmu. Aku punya kode etik sendiri dalam bisnis ini.”
Leon akhirnya membuka suara, nadanya sedatar permukaan es di musim dingin. “Bagus.”
Rook tidak segera beralih. Matanya yang tajam seperti elang kembali menatap pintu klinik dengan penuh minat. “Tapi aku harus mengakui, aku sangat penasaran.”
Leon tetap tidak bergerak, menjadi tiang pancang yang menghalangi jalan. Rook kembali menatap Leon, kali ini dengan kilat kegembiraan yang aneh di matanya. “Sang legendaris Phantom berdiri di depan sebuah klinik kumuh yang berbau pembersih murah, tepat seperti seorang penjaga pintu yang setia.” Rook tersenyum lebih lebar, memperlihatkan aura ejekan yang kental. “Itu adalah pemandangan paling menarik yang pernah kulihat sepanjang tahun ini.”
“Pergi,” jawab Leon pendek. Kata itu bukan sekadar permintaan, melainkan perintah yang mengandung ancaman kematian.
Rook tertawa kecil, suara tawanya kering dan parau, bergema di antara dinding gang. “Dingin sekali. Padahal aku datang dengan maksud baik.” Ia mengeluarkan sebatang rokok dari saku dalamnya dan menyalakannya dengan pemantik perak. Asap tipis segera membumbung, terangkat oleh angin pagi yang menusuk. “Aku hanya ingin bicara, sejawat.”
Leon tetap mematung, pandangannya terkunci pada setiap gerakan kecil Rook. “Bicara dari sana. Jarakmu sudah cukup dekat.”
Rook mengangkat alisnya, seolah terkejut dengan tingkat kewaspadaan Leon. “Baik, jika itu maumu.” Ia mengembuskan asap rokoknya ke samping, membiarkan kabut putih itu menyatu dengan udara dingin. “Kontrak besar, bukan? Helix tidak pernah main-main soal angka.”
Leon tidak memberikan reaksi sedikit pun. Nama korporasi raksasa itu seolah-olah hanya angin lalu baginya.
Rook melanjutkan bicaranya dengan nada yang lebih serius. “Nama Helix selalu menggantung di udara seperti pisau yang siap jatuh kapan saja. Mereka membayar sangat mahal untuk sesuatu yang tersembunyi di Distrik 6 ini. Sesuatu yang sangat spesifik.”
Leon menyipitkan matanya. “Dan?”
Rook menyeringai jahat. “Lucu sekali jika ternyata Phantom yang agung sedang berdiri membeku di depan tempat penyimpanan barang itu. Seolah-olah kau bukan lagi pemburunya, melainkan pelindungnya.”
“Kesimpulanmu terlalu cepat, Rook,” kata Leon dingin. “Kau mulai berhalusinasi karena udara pagi.”
Rook mengangkat bahu dengan santai. “Mungkin saja.” Ia membuang puntung rokoknya yang baru separuh ke tanah, lalu menginjaknya dengan ujung botnya hingga hancur. “Tapi aku tahu satu hal tentang orang-orang seperti kita. Kita tidak pernah membuang waktu di satu tempat jika tidak ada kepentingan yang sangat krusial.”
Leon menunggu, ia tahu Rook sedang menyusun jebakan logika. Rook menatap langsung ke mata Leon, seolah mencoba menembus visor kegelapan yang menghalanginya. “Jika Helix membayar tujuh juta dolar, maka siapa pun atau apa pun yang ada di dalam bangunan kayu tua itu sangatlah berharga. Nilainya cukup untuk mengubah peta kekuatan di kota ini.”
Leon tetap membisu. Kesunyian yang berat kembali jatuh di antara mereka selama beberapa detik. Hanya suara dengung kabel listrik di atas kepala yang memecah keheningan. Lalu, Rook tertawa pelan, sebuah tawa yang menandakan ia telah menemukan potongan teka-teki yang hilang.
“Ah, sekarang aku mengerti sepenuhnya,” gumam Rook.
“Apa?” tanya Leon datar.
Rook memiringkan kepalanya sedikit, meneliti postur tubuh Leon yang tidak biasa. “Kau belum menyelesaikan kontraknya. Padahal kau sudah berada di sini sejak semalam. Itu tidak efisien bagi seorang Phantom.”
Leon tidak bergerak seinci pun. Tangannya yang bersarung tangan hitam tetap berada di samping tubuh, siap meledak dalam aksi jika diperlukan.
“Itu berarti hanya ada dua kemungkinan bagiku,” Rook mengangkat dua jarinya ke udara. “Pertama, kau sedang menunggu waktu yang paling tepat untuk melakukan serangan bersih tanpa saksi.” Ia menurunkan satu jarinya. “Atau kedua...” Ia menjeda kalimatnya, menatap Leon dengan tatapan predator yang puas. “Kau ragu.”
“Kau terlalu banyak bicara, Rook,” desis Leon dingin. “Di duniaku, orang yang terlalu banyak bicara biasanya berakhir dengan mulut yang tersumbat timah.”
Rook tersenyum tanpa rasa takut. “Dan kau terlalu pendiam, Phantom. Itu tanda bahwa ada badai yang sedang kau tahan di dalam kepalamu.” Rook melangkah satu langkah lagi ke depan, menantang garis batas yang tak terlihat.
Leon langsung bergerak satu langkah ke depan, menghalangi akses ke pintu klinik sepenuhnya. Bahunya menegang, dan berat badannya berpindah ke kaki depan. Cukup untuk menunjukkan bahwa ia siap melakukan kontak fisik dalam sepersekian detik.
Rook berhenti mendadak. Ia tertawa lagi, kali ini lebih keras. “Lihat itu!” Ia menunjuk ke arah Leon seolah-olah baru saja membuktikan sebuah teori ilmiah. “Itu adalah gerakan refleks seorang pelindung. Kau tidak bersiap untuk menyerangku, kau bersiap untuk menghalangiku.”
“Langkah berikutnya akan membuatmu mati,” ancam Leon dengan suara rendah yang menggetarkan udara.
Rook tidak terlihat takut sama sekali. Sebaliknya, ia terlihat sangat tertarik dengan drama yang sedang berlangsung. “Phantom yang legendaris sedang melindungi seorang target. Ini adalah cerita yang sangat bagus. Aku mulai menyukainya.”
“Ini bukan ceritamu, Rook. Dan ini bukan panggungmu,” kata Leon dingin.
Rook mengangkat kedua tangannya lagi ke udara, mundur satu langkah perlahan. “Tenang. Aku tahu kapan harus menarik diri.” Ia memberikan tatapan terakhir pada gedung klinik itu sebelum mulai berjalan mundur beberapa meter menuju motor besarnya yang masih terparkir di ujung gang.
Ia berhenti sebentar di samping motornya, memegang helm hitamnya yang diletakkan di atas jok. Lalu ia menoleh kembali ke arah Leon. “Aku akan memberimu satu hari, Phantom. Anggap saja ini sebagai penghormatanku pada seniormu.”
Leon tidak menjawab, matanya tetap waspada memantau setiap inci pergerakan Rook.
Rook menyeringai. “Satu hari untuk menyelesaikan kontrakmu. Satu hari untuk membuktikan bahwa kau masih kurir yang sama yang dibicarakan di pelabuhan utara.”
“Atau apa?” tanya Leon pendek.
Rook menyalakan mesin motor besarnya. Raungan mesin yang berat seketika memecah kesunyian pagi di Distrik 6. Rook menatap Leon sekali lagi dari balik visor helmnya yang baru saja ia turunkan. “Atau besok pagi, tepat saat matahari terbit, aku yang akan masuk ke klinik itu sendiri.”
Mesin motor meraung lebih keras, seolah-olah sebuah monster sedang bersiap untuk menerjang. Rook menatap Leon dengan pandangan yang penuh dengan janji kekerasan. “Dan kau harus tahu satu hal, Phantom. Aku tidak sehalus dirimu dalam menangani target. Aku tidak keberatan meruntuhkan seluruh gedung itu jika perlu.”
“Coba saja,” tantang Leon dingin.
Rook tertawa di balik helmnya. Suara tawanya tenggelam oleh deru mesin. “Aku mungkin akan melakukan itu hanya untuk melihat bagaimana reaksimu.”
Rook memutar motornya, namun ia berhenti sejenak sebelum memacu gas. “Phantom,” panggilnya dengan suara rendah yang masih bisa tertangkap oleh telinga Leon. “Jika kau tidak sanggup membunuh targetmu karena alasan sentimental yang konyol...” Rook memutar gas lebih dalam. “Aku akan melakukannya untukmu dengan senang hati.”
Motor besar itu meluncur keluar dari gang dengan kecepatan tinggi, meninggalkan kepulan asap knalpot dan aroma karet yang terbakar. Suara mesinnya perlahan-lahan menghilang di jalan utama, digantikan kembali oleh kesunyian Distrik 6 yang mencekam.
Leon tetap berdiri di tempatnya selama beberapa menit tanpa bergerak. Punggungnya menghadap pintu klinik, sementara matanya menatap ujung gang tempat Rook menghilang.
Suara Gray muncul kembali di earpiece-nya, jernih dan penuh kewaspadaan. “Aku mendengar seluruh percakapan itu melalui mikrofon lingkungan. Sensor termalku mencatat detak jantungmu naik sepuluh persen saat dia menyebut nama Alice.”
Leon menjawab pendek, menarik napas panjang untuk menetralkan adrenalinnya. “Ya.”
Gray mengetik sesuatu dengan cepat di sisi lain sambungan. “Rook tidak bercanda, Leon. Dia punya reputasi untuk menepati ancamannya. Jika dia bilang besok pagi, maka jam dindingnya sudah mulai berdetak sekarang.”
“Aku tahu,” sahut Leon.
Gray terdiam sejenak, suaranya berubah menjadi pelan dan hampir terdengar penuh simpati. “Jika dia kembali besok, dia akan masuk ke klinik itu dengan kekuatan penuh. Helix mungkin akan memberinya kontrak cadangan jika kau dianggap gagal.”
Leon menatap pintu kayu Klinik Arden yang masih tertutup. Garis cahaya dari celah pintu tampak seperti satu-satunya harapan di tengah kegelapan ini. Gray bertanya dengan nada ragu, “Leon. Apakah kau akhirnya akan menyelesaikan kontraknya malam ini? Sebelum Rook atau orang lain datang?”
Leon menatap pintu itu selama beberapa detik. Ia teringat cara Alice menjahit lukanya, cara wanita itu tersenyum pada anak kecil pagi tadi, dan cara ia menolak uang tambahan karena "lantai bisa dipel". Leon akhirnya berkata pelan namun dengan kemantapan yang mutlak, “Tidak.”
Gray terdiam cukup lama. Beberapa detik berlalu sebelum ia memberanikan diri untuk bertanya, “Kenapa? Kenapa kau mempertaruhkan reputasimu dan nyawamu untuk ini?”
Leon melangkah perlahan menuju pintu klinik. Ia melepaskan sarung tangan hitamnya, menaruhnya di saku jaket. “Karena mulai sekarang, tugas itu telah berubah sepenuhnya, Gray.”
Gray bertanya dengan suara bingung, “Berubah menjadi apa? Kita kurir, Leon. Kita mengantar barang atau kita menghilangkan hambatan.”
Leon mengangkat tangannya, mengetuk pintu kayu itu dengan pola yang sama seperti biasanya: tiga kali ketukan pendek. Lalu ia berkata pelan, hampir menyerupai bisikan kepada dirinya sendiri, “Perlindungan. Alice bukan lagi targetku. Dia adalah paket yang harus kupastikan tetap hidup.”