NovelToon NovelToon
Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Void King Mentor: Legenda Di Balik Tiga Fajar

Status: sedang berlangsung
Genre:Fantasi Isekai / Action / Reinkarnasi
Popularitas:235
Nilai: 5
Nama Author: dhanis rio

bangkit kembali di dunia game, nama Arka adalah puncak dari segala kekuatan. Sebagai pemain peringkat satu berjuluk Void King, ia memiliki segalanya, namun terjebak dalam realitas game yang kini menjadi nyata setelah game tutup server.

Demi mewujudkan impian hidup tenang dengan menyembunyikan kekuatannya, Arka secara "tidak sengaja" memungut tiga petualang pemula. Elara, Kael, dan Jiro. Dengan niat egois agar ada orang lain yang bisa mengerjakan "tugas sulit" dan urusan merepotkan lainnya, Arka melatih mereka dengan metode neraka hingga mereka melampaui batas manusia.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon dhanis rio, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

04.TIGA FAJAR DAN GURU YANG PEMALAS

Aroma daging panggang yang gurih memenuhi kedai The Rusty Tankard di samping Guild. Di sebuah meja sudut, aku duduk menyilangkan kaki, menatap tiga remaja di depanku yang tampak canggung memegang peralatan makan mereka.

"Makan yang banyak. Otot dan otak butuh nutrisi kalau tidak mau mati konyol," kataku sambil mengunyah potongan daging besar. "Sambil makan, ceritakan padaku. Apa yang sebenarnya bisa kalian lakukan? Aku tidak butuh angka level, aku butuh tahu apa yang ada di tangan kalian."

Jiro meletakkan garpunya dengan lesu. "Aku pengguna pedang dua tangan, Guru. Tapi gerakanku lambat dan sering kehilangan keseimbangan."

"Aku pemakai busur pendek," sela Kael pelan. "Tapi aku sering panik saat monster mendekat."

"Aku penyihir air dan penyembuh dasar," Elara menunduk, meremas jubahnya. "Tapi mana-ku sangat kecil."

Aku mengangguk-angguk. "Lambat, penakut, dan lemah mana. Sempurna. Kita punya banyak ruang untuk perbaikan."

Selesai makan, aku kembali ke Guild. Tanpa membuang waktu, aku berjalan ke papan misi dan mencabut selembar kertas dengan cap merah menyala: Misi Peringkat A – Pembersihan Sarang Serigala Bayangan.

Aku meletakkan kertas itu di meja resepsionis. "Aku ambil ini. Daftarkan party baru atas nama 'Tiga Fajar'. Anggotanya mereka bertiga, aku pembimbingnya."

Resepsionis itu melotot, menatap lencana Level 10 milik Kael dan lencana Peringkat A di pinggangku bergantian. "Tuan Arka, Anda bercanda? Ini misi Peringkat A! Membawa mereka ke sana sama saja dengan mengirim mereka ke lubang kubur. Secara aturan, saya tidak bisa mengizinkan—"

"Biarkan saja."

Suara berat itu memotong pembicaraan. Baros, sang Ketua Guild, berdiri di balkon lantai dua sambil bersedekap. Seluruh aula Guild mendadak hening. Resepsionis itu menoleh dengan wajah bingung. "Tapi Ketua, ini menyalahi prosedur..."

Baros tidak menjawab dengan kata-kata. Dia menatapku sejenak, lalu memberikan sebuah jempol mantap ke arah resepsionis sebagai tanda persetujuan mutlak. Itu adalah perintah diam yang melegalkan kegilaan ini.

Resepsionis itu menelan ludah, tangannya gemetar saat memberikan stempel persetujuan. "B-baik. Misi disetujui. Semoga keberuntungan menyertai kalian."

Kami tiba di pinggiran Hutan Kelam. Sebelum masuk lebih dalam, aku berhenti dan menyentuh cincin perak di jariku.

Klik.

"Dengar, aku akan menurunkan levelku sedikit lagi agar setara dengan kalian," gumamku sambil memutar cincin hingga auraku terasa seperti petualang Level 10. "Ini agar kalian bisa melihat dengan jelas bagaimana cara bertarung yang benar sesuai level kalian."

Aku merogoh Inventory dan mengeluarkan tiga senjata tingkat rendah yang sudah berdebu di gudangku.

"Jiro, pegang Greatsword Obsidian ini. Kael, ini Busur Angin Senyap. Elara, Staf Kayu Giok. Ini senjata level rendah di duniaku, tapi bagi kalian, ini akan membantu menyeimbangkan kekurangan kalian."

Murid-muridku memegang senjata itu dengan tangan gemetar. Rasanya jauh berbeda dengan senjata besi karatan yang mereka punya sebelumnya.

"Perhatikan," kataku. Meski levelku sekarang setara dengan mereka, teknikku tetaplah puncak. Aku meminjam pedang Jiro.

"Jiro, pedang besar bukan soal tenaga, tapi soal momentum." Aku mengayunkannya dengan satu gerakan mengalir yang memotong udara hingga berdesing.

"Kael, jangan napasmu saat membidik. Biarkan busur ini menjadi bagian dari detak jantungmu." Aku menarik tali busur kosong, dan angin di sekitar seolah tersedot masuk.

"Dan Elara, jangan buang mana untuk membentuk sihir. Biarkan staf ini yang menarik mana dari alam." Aku mengetukkan staf ke tanah, dan embun di dedaunan mendadak berkumpul menjadi bola air yang padat.

"Paham? Bertarunglah dengan efisiensi, bukan emosi," kataku sambil mengembalikan senjata mereka. Aku memutar kembali cincinku sesuai petualang peringkat A agar tetap siaga.

Tiba-tiba, suara geraman rendah terdengar. Lima ekor Shadow Wolf level 50 muncul dengan mata merah berkilat. Kael langsung pucat, kakinya gemetar. "G-Guru... mereka terlalu kuat!"

Aku menepuk bahu Kael, memberikan senyum tenang. "Tenanglah. Ada aku di sini. Aku tidak akan membiarkan muridku mati sebelum mereka bisa membuatkanku kopi yang enak."

Setelah itu, aku melompat dengan ringan ke dahan pohon besar. Aku mengeluarkan sebuah apel merah, menyandarkan punggung, dan mulai mengunyah.

"Ayo, Tiga Fajar! Gunakan mainan baru kalian dan kalahkan mereka sesuai yang aku ajarkan!" teriakku dari atas pohon.

Pertarungan hidup mati dimulai, sementara sang legenda hanya menonton dari atas sambil menikmati gigitan apelnya.

1
dhanis rio
bagus ceritanya
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!