NovelToon NovelToon
Enam Serangkai

Enam Serangkai

Status: sedang berlangsung
Genre:Mengubah Takdir / Dunia Masa Depan / Action
Popularitas:830
Nilai: 5
Nama Author: istimariellaahmad

Di bawah terik matahari dan topi caping warna-warni yang merendahkan harga diri, Dewi Laras tak menyangka hari pertama ospek justru mempertemukannya dengan lima orang paling “ajaib” dalam hidupnya. Bagas si santai penuh akal, Juna yang cemas setengah mati, Gia si logis tanpa takut, Rhea si penyelundup biskuit profesional, dan Eno si dramatis penyelamat semut.
Sebuah hukuman kecil karena ponsel dan kekacauan konyol menjadi awal dari persahabatan yang tak terduga. Dari bangku kuliah hingga perjuangan skripsi, dari tawa karena dompet kosong hingga rahasia hati yang perlahan tumbuh, mereka berenam belajar bahwa takdir sering kali dimulai dari hal paling memalukan.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon istimariellaahmad, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Babak baru dan martabak kemenangan

Dua minggu setelah malam drama di parkiran itu, suasana kampus perlahan kembali normal. Berita tentang Pak Gunawan dan Hermawan (papanya Gia) jadi headline di mana-mana selama beberapa hari, tapi perlahan tertutup oleh berita viral lainnya. Yang tersisa hanyalah enam mahasiswa yang sekarang duduk di "Markas Besar" kantin dengan wajah yang jauh lebih tenang, meski kantong mereka jauh lebih kering.

"Oke, agenda hari ini: Laporan Keuangan Operasi Cuan," kata Gia Kirana sambil membuka buku catatan legendarisnya. "Kabar baiknya, Tante Maria—nyokapnya Bagas—udah boleh pulang dari rumah sakit besok."

"Alhamdulillah!" seru mereka barengan.

"Kabar buruknya," lanjut Gia, "beasiswa kita resmi dicabut karena kita dianggap 'memicu kegaduhan' di lingkungan kampus. Jadi, kita beneran harus kerja rodi semester ini."

Eno Surya yang lagi asyik nyemilin kerupuk langsung nyaut, "Tenang, Gi. Gue udah dapet kontrak tetap jadi maskot jerapah di event organizer langganan gue. Walaupun baunya tetep kayak kaos kaki lama, tapi gajinya naik dua ratus ribu!"

"Gue juga udah dapet beberapa klien tetap buat desain konten UMKM," tambah Dewi Laras sambil melirik Bagas Putra yang duduk di sampingnya.

Bagas sendiri sekarang kelihatan lebih segar. Beban di bahunya kayak udah luntur. "Gue juga udah mulai ngelatih basket lagi. Dan bokap gue... dia dapet apresiasi dari Polda karena berani bongkar kasus itu meskipun ditekan. Sekarang dia nggak perlu nunduk lagi kalau ketemu atasan."

Di tengah obrolan itu, Rhea Amara kelihatan agak beda. Dia lebih banyak diam dan sesekali curi-curi pandang ke arah Eno. Biasanya Rhea bakal jadi orang pertama yang ngeledek Eno, tapi hari ini dia malah sibuk ngelapin sisa bumbu kacang di meja dekat Eno.

"No, itu... di pipi lo ada sisa kerupuk," bisik Rhea sambil nyodorin tisu.

Eno melongo. "Hah? Tumben lo baik, Rhe? Biasanya lo foto dulu terus lo kirim ke grup buat bahan bully."

"Ih, orang niat baik malah dikatain!" Rhea cemberut, pipinya mendadak merah kayak kepiting rebus.

Juna Pratama yang dari tadi sibuk sama laptopnya langsung nyeletuk tanpa nengok, "Gue udah hitung algoritma gerak-gerik lo berdua. Ada kenaikan hormon sekitar 40% di antara meja nomor empat ini. Fiks, ada yang lagi kena backlash persahabatan nih."

"Apaan sih, Jun! Sok tahu lo!" seru Rhea makin panik.

Laras dan Bagas ketawa lihat pemandangan itu. Ternyata badai kemarin nggak cuma ngebawa masalah, tapi juga ngebuka perasaan-perasaan yang selama ini ketutup sama candaan garing.

"Eh, nanti malam kita syukuran yuk di rumah Laras?" ajak Bagas. "Gue yang bawa martabak. Martabak spesial, tanpa drama, tanpa interupsi penjahat."

"Setuju!" teriak Eno paling kencang. "Tapi gue pesen yang cokelat keju kacang ya! Jangan martabak telur, gue udah bosen sama telur gara-gara kateringnya Rhea."

Malam harinya, mereka berkumpul di teras rumah Laras. Lampu teras yang dulu kuning suram sekarang rasanya lebih terang. Ibu Laras juga udah kelihatan lebih ceria, beliau sibuk nyiapin teh anget buat "anak-anak asuhnya" itu.

Laras dan Bagas duduk agak menjauh dari kerumunan Eno yang lagi adu argumen sama Rhea soal rasa martabak paling enak di dunia.

"Gas," panggil Laras pelan.

"Ya?"

"Makasih ya udah nggak nyerah sama gue. Gue sempat mikir kita bakal beneran berakhir pas di rumah sakit itu."

Bagas natap Laras, terus dia megang tangan Laras—kali ini di depan teman-temannya tanpa rasa canggung lagi. "Gue yang makasih, Ras. Lo yang bikin gue sadar kalau keadilan itu harus diperjuangin, bukan cuma ditungguin. Dan... lo itu bukan bokap lo. Lo itu Dewi Laras, cewek yang paling berani yang pernah gue kenal."

"EHEM!" suara deheman keras dari Eno ngerusak suasana puitis itu. "Inget ya, di sini ada jerapah yang lagi jomblo dan ada ahli IT yang lagi nyari sinyal cinta. Tolong jangan bikin kita pengen balik jadi pelayan katering lagi demi gangguin kalian."

"Bawel lo, No! Makan tuh martabak!" seru Bagas sambil ketawa.

Di bawah langit malam yang cerah, mereka berenam akhirnya bener-bener ngerasa merdeka. Masalah finansial mungkin masih di depan mata, tapi buat mereka, selama ada martabak di meja dan teman-teman di samping, semuanya bakal baik-baik aja.

Happy reading sayang...

Baca juga cerita bebu yang lain...

Annyeong love...

1
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!