Isya adalah anak yatim piatu yang hidup sederhana bersama nenek dan adiknya. Sejak kecil ia dibekali ilmu agama, dan ketika kehilangan datang, ia dipaksa dewasa sebelum waktunya.
Ia sekolah sambil bekerja. Ia menjadi kakak, sekaligus ibu di rumah kecil yang penuh keterbatasan.
Banyak yang terpikat oleh wajahnya.
Namun yang membuat orang benar-benar jatuh hati adalah akhlaknya.
Ia tidak mudah didekati.
Bukan harta, bukan popularitas yang bisa mendapatkannya.
Hanya satu jalan.
Temukan dia dengan Bismillah.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Namira Ahsya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Chapter 7 — Pulangnya Nenek
Bel pulang sekolah akhirnya berbunyi.
Suara riuh para siswa memenuhi halaman sekolah. Isya merapikan bukunya, lalu berjalan keluar bersama Ayin.
Di depan gerbang mereka berhenti.
“Aku pulang dulu ya, Yin,” ucap Isya sambil tersenyum.
“Iya hati-hati ya, gula,” jawab Ayin menggoda.
Isya hanya tertawa kecil lalu melambaikan tangan.
Seperti biasa, sebelum pulang ke rumah Isya menyempatkan diri mampir ke tempat kecil di dekat jalan yang sering ia kunjungi.
“Mpuss… mpuss…”
Kuro langsung muncul dari balik semak kecil.
“Ini ada makanan lagi untukmu,” kata Isya sambil menaruh sedikit makanan di tanah.
Kuro mengeong senang.
Setelah memastikan kucing kecil itu makan dengan lahap, Isya berdiri dan melambaikan tangan kecil.
“Daaah Kuro… besok kita ketemu lagi ya.”
Ia pun berjalan pulang.
------------------------------------------------------------------------
Sesampainya di rumah, seperti biasa Isya langsung melakukan rutinitasnya. Ia menyapu halaman, merapikan rumah, dan membersihkan dapur.
Sementara itu Ba'daa sedang bermain di luar rumah.
Tiba-tiba anak kecil itu melihat sosok yang sangat ia kenal berjalan di ujung jalan.
Matanya langsung berbinar.
“NENEK!!!”
Ba'daa berlari sekencang mungkin.
Isya yang mendengar teriakan itu langsung keluar rumah.
Saat melihat sosok nenek benar-benar berdiri di depan rumah, wajah Isya langsung berseri.
“Nenek pulang!” serunya senang.
Ia berlari dan langsung memeluk neneknya dengan hangat.
“Masyaa Allah… nenek akhirnya pulang.”
Isya segera mengambil tas dan barang bawaan nenek.
Hari itu terasa seperti hari yang sangat baik.
Nenek baru saja pulang dari luar kota, dari desa tempat paman mereka tinggal—sebuah desa di daerah Gumay, Lahat.
Isya segera masuk ke rumah dan membuatkan minuman hangat kesukaan nenek, serta menyiapkan roti sederhana.
Mereka bertiga duduk bersama.
Nenek mulai bercerita tentang perjalanan di desa.
“Paman kalian sekarang punya kolam ikan patin sama ikan nila,” kata nenek.
“Wahh serius?” Ba'daa langsung antusias.
“Iya. Terus kebun duriannya lagi banyak buahnya. Pohon kopi juga sudah mau panen.”
Isya dan Ba'daa mendengarkan dengan penuh semangat, seolah-olah mereka ikut berada di desa itu.
“Sayang kalian masih sekolah, jadi belum bisa ikut ke sana,” lanjut nenek.
Kemudian nenek mengeluarkan sebuah surat.
“Ini ada surat buat Isya.”
Isya membuka surat itu perlahan.
Di dalamnya tertulis:
Assalamu’alaikum Isya. Apa kabar? Aku kangen. Kalau libur nanti jangan lupa main ke sini ya. Kita mandi sungai lagi seperti dulu.
Isya, di sini banyak yang nanya nomor HP kamu. Tapi kamu kan nggak punya HP. Hihi… nasib baik juga ya, jadi nggak diganggu buaya.
Ba'daa yang ikut membaca langsung mengangkat kepalanya.
“Kenapa kalau punya HP diganggu buaya?”
Isya tertawa kecil.
“iyaa buaya suka makan hp apalagi anak kecil.”
Ba'daa mengangguk polos.
“Ohhh… untung Ba'daa laki-laki besar.”
“Ahh ada-ada saja kamu ini,” kata Isya sambil mengusap kepala adiknya.
Isya lalu melipat surat itu dengan hati-hati.
Nanti malam ia akan menyimpannya di dalam buku hariannya.
------------------------------------------------------------------------
Waktu berjalan hingga sore.
Mereka berbincang hangat bersama di rumah sederhana itu.
Namun ketika malam tiba, Isya kembali bersiap untuk bekerja.
Nenek sudah tahu tentang pekerjaan Isya karena mereka sudah membahasnya minggu lalu.
Isya memakai masker seperti biasa agar tidak mudah dikenali orang.
Ia berjalan menuju restoran tempatnya bekerja.
Namun malam itu sedikit berbeda.
Saat Isya datang ke dapur, pak koki terlihat agak panik.
“Eh Isya… kamu nggak di dapur lagi.”
“Hah? Kenapa pak? Isya buat salah ya?”
“Bukan begitu. Kamu dipindahkan ke bagian kasir.”
“Kasir?”
“Owner restoran yang minta.”
Isya langsung gugup.
“Tapi Isya nggak tahu cara kerjanya pak…”
“Udah, kamu ke sana aja dulu. Nanti diajarin.”
Dengan langkah ragu, Isya menuju meja kasir.
Di sana ada seorang perempuan yang langsung tersenyum lebar.
“Hee… mau pesan apa buk?”
“Eh? Nggak… Isya nggak pesan apa-apa.”
“Teruuus?”
“Isya disuruh kerja di sini.”
“Siapa yang nyuruh?”
“Ower…”
Perempuan itu tertawa.
“Hahaha… sini sini. Kamu pasti pegawai baru.”
Ia mengulurkan tangan dengan ramah.
“Kenalin, aku Rara.”
Isya tersenyum kecil.
“Isya.”
“Masih muda ya. Aku panggil dek Isya aja ya?”
“Iya kak, nggak apa-apa.”
“Bagus. kalo gitu langsung kerja sya ok.”
Tiba-tiba ada pelanggan datang.
“Permisi, saya mau pesan Beef Steak Wagyu A5.”
"Sikat sya"
Isya langsung bingung.
“Hah… apa namanya?”
Rara langsung tertawa.
“Hehe maaf pak, ini pegawai baru.”
Lalu ia menjelaskan pada Isya dengan sabar.
“Kamu cuma tulis menunya. Ini daftar menu. Ini nomor dapur. Kalau sudah catat, telepon dapur dan bilang nomor meja.”
Isya mengangguk pelan.
“Mudah kan?”
“Iya kak… InsyaaAllah.”
Beberapa saat kemudian seorang pelanggan datang.
“Permisi, mau pesan.”
Isya langsung bersiap dengan gugup.
“Ah… baik kak. Mau pesan apa?”
Laki-laki itu tersenyum kecil.
“Hmm… saya mau pesan hatimu.”
Isya langsung menunduk melihat daftar menu di depannya.
“Hati…?”
Ia mulai mencari dengan panik.
“Ahh… mana ya… kok nggak ada…”
Isya semakin panik.
“Duhh gawat… nanti gaji Isya dipotong.”
Rara yang melihatnya langsung tertawa kecil.
“Isya… Isya…”
Isya masih sibuk mencari.
“Ah siap kak… tunggu dulu… ini lagi usaha…”
Rara menahan tawa.
“Bukan begitu! Menu hatimu itu nggak ada. Kamu lagi digombalin.”
Isya langsung terdiam.
Pelan-pelan ia melirik ke arah pemesan.
Tiba-tiba terdengar suara tawa dari belakang.
“Hahaha!”
Isya langsung membelalak.
“AYIN!!”
Ayin tertawa sambil mendekati meja kasir.
“Halo Isyaa… pesan hatimu dua ya.”
Isya langsung menghela napas panjang.
“Ayinn… ini kerjaan kamu ya!”
“Aku cuma mau pesan,” kata Ayin pura-pura polos.
Rara ikut tertawa melihat mereka.
Isya langsung berkata pada Rara.
“Oh iya kak… ini semutku.”
“Semut?” tanya Rara heran.
Ayin langsung menjawab cepat.
“Iya. Soalnya Isya itu gula.”
Rara tertawa.
“Ohh begitu… berarti kakak perangko.”
“Perangko?” kata Isya dan Ayin bersamaan.
“Iya… biar kakak lengket sama Isya, nggak lepas-lepas.”
Mereka bertiga tertawa.
“Udah deh Yin,” kata Isya sambil tersenyum.
“Mau pesan apa?”
Ayin pura-pura berpikir.
“Hmm… yang murah dan diskon aja ada nggak?”
“Air putih,” jawab Isya cepat.
“Hee dasar gula pelit.”
“Emm apa ya, pesan ini aja deh… dua.”
“Tiga dong!” kata isya cepat. “Isya kan juga mau.”
“Ahh dasar kamu… iya deh. Tapi jangan bayar di akhirat.”
“Tenang aja deh gk bayar di akhirat… orang situ yang bayarin.”
“Heyy dasar, emang bisa aja kamu ngelesnya, hihi.!”
Rara tertawa kecil.
“Oh iya kak,” kata Ayin.
“Aku sahabat nya Isya.”
“Salam kenal ya.”
Tak lama kemudian Ayin kembali ke tempat duduknya.
“Selamat kerja Isya,” katanya sambil melambaikan tangan.
“Hmm.”
Rara tersenyum melihat mereka.
“Enak ya punya sahabat.”
Isya mengangguk kecil.
“Iya kak. Dari kecil kami selalu bersama.”
“Pantesan akrab banget.”
Saat mereka sedang berbincang, tiba-tiba seorang laki-laki masuk ke restoran.
Isya langsung menyambut seperti yang diajarkan Rara.
“Selamat datang, Pak. Mau pesan apa?”
Isya memperhatikan wajah laki-laki itu sebentar.
Lalu matanya sedikit membesar seperti baru sadar.
“Wah… kamu yang kemarin ya.”
Laki-laki itu tersenyum kecil.
“Iya.”
Rara yang berdiri di samping Isya tiba-tiba berbisik panik.
“Isya… Isya…”
Isya menoleh.
“Kenapa kak?”
Rara semakin mendekat dan berbisik pelan.
“Itu owner restoran.”
Isya langsung kaget.
“Hah?”
Laki-laki itu hanya tersenyum santai melihat reaksi Isya.
“Nah sekarang lebih semangat ya. Sekarang kamu tidak pegang kantong plastik lagi, tapi pegang uang.”
Isya tersenyum malu.
“Hehe iya Pak… Alhamdulillah. Allah Maha Baik. Isya juga bisa ketemu Kak Rara.”
“Bagus. Semangat kerja ya.”
“Siap Pak.”
Owner itu pun pergi.
Rara langsung menatap Isya dengan wajah heran.
“Hee… kamu baru kerja sudah kenal owner?”
Isya menjawab polos.
“Iya kak. Dia yang kemarin Isya kasih sapu tangan.”
Isya tiba-tiba menepuk dahinya sendiri.
“Wah… rugi dong.”
Rara bingung.
“Kenapa rugi?”
Isya tertawa kecil.
“Itu sapu tangan Isya kasih ke orang kaya.”
“Heee Kirain apa hihi.”
Malam itu pekerjaan berjalan dengan lancar.
Tidak seperti kemarin, Isya tidak perlu lembur sampai larut malam.
Rara yang tahu Isya masih sekolah dan harus pulang berjalan kaki akhirnya menyuruhnya pulang lebih dulu.
“Udah pulang sana, Sya. Biar aman. Masih ramai juga.”
Isya tersenyum hangat.
“Terima kasih kak Rara.”
Isya pun berpamitan dan keluar dari restoran.
Malam itu langkahnya terasa ringan.
Di rumah ada nenek yang sudah pulang.
Dan itu membuat hati Isya terasa hangat.
. 𝚖𝚊𝚜𝚒𝚑 𝚒𝚗𝚐𝚊𝚝 𝚊𝚓𝚓 𝚛𝚞𝚙𝚊-𝙽𝚢𝚊𝚊 ,, 𝚢𝚊𝚗𝚐 𝚔𝚊𝚝𝚊𝚗𝚢𝚊 𝚗𝚍𝚊𝚔 𝚙𝚎𝚛𝚗𝚊𝚑 𝚕𝚒𝚊𝚝 ,, 𝚙𝚛𝚎𝚎𝚎𝚝 .
. 𝑖𝑡𝑢-𝐿𝑎ℎℎ 𝑚𝑎𝑛𝑢𝑠𝑖𝑎 ,, 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑠𝑒𝑛𝑑𝑖𝑟𝑖 𝑎𝑗𝑗 𝑛𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑎𝑢𝑢 𝑛𝑔𝑎𝑘𝑢𝑖𝑛 𝑎𝑝𝑎𝑙𝑎𝑔𝑖 𝑠𝑎𝑚𝑎 𝑜𝑟𝑎𝑛𝑔 𝑙𝑎𝑖𝑛𝑛 ..
𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝑤𝑎𝑛𝑖𝑡𝑎 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑝𝑢𝑛𝑦𝑎 𝑟𝑎𝑠𝑎 𝑚𝑎𝑙𝑢𝑢 ..
. 𝑠𝑒𝑏𝑎𝑖𝑘-𝑏𝑎𝑖𝑘 𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 𝐿𝑎𝑘𝑖-𝑙𝑎𝑘𝑖 𝑑𝑦𝑎𝑎-𝐿𝑎ℎℎ 𝑦𝑎𝑛𝑔 𝑚𝑒𝑛𝑢𝑛𝑑𝑢𝑘-𝐾𝑎𝑛𝑛 𝑝𝑎𝑛𝑑𝑎𝑛𝑔𝑎𝑛-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎𝑎 ..
𝐛𝐢𝐬𝐚 𝐛𝐚𝐜𝐚 𝐧𝐨𝐯𝐞𝐥 𝐬𝐚𝐦𝐛𝐢𝐥 𝐦𝐞𝐧𝐜𝐚𝐫𝐢 𝐢𝐥𝐦𝐮 ..
. 𝑠𝑢𝑘𝑎 𝑛𝑜𝑣𝑒𝑙-𝑁𝑦𝑎𝑎𝑎 . 😘
. 𝑚𝑒𝑠𝑘𝑖 𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ ,, 𝑡𝑖𝑑𝑎𝑘 𝑚𝑒𝑛𝑔ℎ𝑎𝑘𝑖𝑚𝑖 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑡𝑒𝑡𝑎𝑝 𝑑𝑖 𝑎𝑗𝑎𝑟𝑘𝑎𝑛 𝑑𝑒𝑛𝑔𝑎𝑛 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟 ..
. 𝑘𝑎𝑟𝑒𝑛𝑎 𝑘𝑒𝑠𝑎𝑙𝑎ℎ𝑎𝑛 𝑎𝑑𝑎 𝑏𝑢𝑘𝑎𝑛 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑏𝑒𝑛𝑎𝑟𝑘𝑎ℎ 𝑡𝑎𝑝𝑖 𝑢𝑛𝑡𝑢𝑘 𝑑𝑖 𝑝𝑒𝑟𝑏𝑎𝑖𝑘𝑖 ..
. 𝐬𝐞𝐝𝐢𝐡 𝐛𝐚𝐜𝐚-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚𝐚 ..
. 𝐊𝐞𝐬𝐚𝐲𝐚𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚𝐚 𝐚𝐤𝐮𝐮𝐮 ,, 𝐬𝐞𝐦𝐮𝐭-𝐊𝐮𝐮𝐮 ------ 𝐧𝐨𝐧𝐠-𝐍𝐲𝐚𝐚𝐚 𝐭𝐲 .
. 𝐍𝐚𝐦𝐮𝐧 𝐬𝐞𝐤𝐚𝐫𝐚𝐧𝐠 𝐬𝐮𝐫𝐚𝐡 𝐢𝐧𝐢 𝐦𝐞𝐧𝐣𝐚𝐝𝐢 𝐀𝐥𝐚𝐫𝐦 𝐡𝐢𝐝𝐮𝐩-𝐊𝐮𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐝𝐢 𝐭𝐮𝐧𝐠𝐠𝐮 𝐥𝐚𝐧𝐣𝐮𝐭𝐚𝐧-𝐍𝐲𝐚𝐚
. 𝐊𝐚𝐫𝐞𝐧𝐚 𝐝𝐢 𝐬𝐚𝐧𝐚-𝐋𝐚𝐡𝐡𝐡 𝐛𝐚𝐢𝐭-𝐛𝐚𝐢𝐭 𝐝𝐨'𝐚 𝐜𝐢𝐧𝐭𝐚-𝐊𝐮𝐮 𝐭𝐮𝐦𝐛𝐮𝐡 𝐮𝐧𝐭𝐮𝐤-𝐌𝐮𝐮𝐮 ..
. 𝐍𝐚𝐦𝐢𝐫𝐚 𝐀𝐡𝐬𝐲𝐚 . 🤭😘