Anela adalah janda muda beranak satu yang telah belajar bangkit setelah pernikahan pertamanya hancur karena pengkhianatan. Hidup mandirinya membawanya menjadi wanita dewasa yang kuat, anggun, dan memikat—dengan aura sensual alami yang membuatnya mudah menarik perhatian pria.
Rico adalah pembasket terkenal, tampan, kaya, dan dominan dalam cara yang tenang namun penuh karisma. Pertemuan mereka dimulai dari satu malam yang penuh ketegangan hasrat dan rasa penasaran yang sulit dijelaskan.
Apa yang awalnya hanya percikan gairah berubah menjadi hubungan yang semakin dalam—dipenuhi tarikan emosional, ketegangan hasrat, dan keinginan untuk memiliki satu sama lain di tengah dunia mereka yang berbeda. Namun cinta mereka harus menghadapi masa lalu, tekanan karir, dan kenyataan bahwa cinta panas tidak selalu mudah untuk dipertahankan.
Semakin mereka mendekat, semakin kuat pula rasa ingin memiliki… dan semakin berbahaya cinta yang mereka sembunyikan dari dunia.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Nina Sani, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAYANGAN MASA LALU YANG MUNCUL KEMBALI
Di parkiran mall, Anela akhirnya berhenti.
Tangannya memang masih gemetar waktu ambil kunci mobil. Tapi bukannya langsung masuk, dia malah berdiri bengong sambil natap lantai beton.
“Cakep banget sih dramanya, Nel,” gumamnya ke diri sendiri. “Kurang backsound sinetron aja.”
Tapi adegan itu tetap muter.
Rico.
Kemeja gelap. Lengan digulung. Bahu lebar yang semalam terasa hangat waktu dia deket.
Lalu wanita itu.
Dan ciuman di bibir. Tanpa ragu. Tanpa malu. Tanpa aba-aba buat jantung Anela yang jelas-jelas belum siap nonton episode begituan.
Dadanya sesak. Bukan lebay. Bukan posesif.
Cuma… ya ampun.
Luka lama yang dia kira sudah sembuh ternyata cuma pakai plester lucu, bukan dijahit beneran.
Bayangan akan masa lalu menyergap, dan nama itu muncul tanpa diundang.
Dimas.
Ia hampir ketawa kecil mengingat betapa polosnya dirinya dulu. Nikah umur 22 tahun, penuh mimpi dunia dongeng. Rumah kecil, suami penyayang, dan bayi yang lucu.
Memang masa lalunya sempat indah.
Dimas dulu menggendongnya waktu tahu dia hamil. Waktu itu Anela merasa jadi perempuan paling dicintai di dunia.
Sampai dia menemukan chat itu. Chat yang tidak seharusnya terjadi antara suami dan sahabatnya.
Yah... suaminya berhianat dengan sahabatnya sendiri.
Yang sering main ke rumah.
Yang sering pegang perutnya sambil bilang gak sabar ketemu “ponakan.”
Anela masih ingat rasanya.
Bukan marah yang meledak.
Tapi dingin. Kosong. Kayak air es dituangkan pelan-pelan ke dada.
Setelah Ziyo lahir, dia coba bertahan. Demi anak. Demi kenangan.
Tapi kepercayaan yang retak itu kayak kaca spion pecah. Bisa diganti, tapi tetap beda.
Akhirnya dia pergi.
Lima tahun berlalu. Ternyata luka itu masih ada.
Lima tahun dia belajar jadi versi dirinya yang lebih kuat. Lebih mandiri. Lebih selektif. Lebih susah jatuh.
Tapi semalam…
Astaga.
Semalam dia lupa jadi wanita kuat itu.
Dia jadi perempuan yang deg-degan cuma karena suara rendah Rico di telinganya.
Yang sadar betul bagaimana tangan pria itu menyentuhnya—pelan, percaya diri, bikin kulitnya panas tanpa perlu usaha keras.
Ia masuk ke mobil akhirnya, duduk di balik kemudi.
Air matanya turun juga. Tapi di sela tangis itu, dia malah ketawa kecil.
“Ya Tuhan, Nel. Belum jadian. Belum ada status. Belum ada janji. Udah patah hati duluan.”
Kesel? Iya.
Cemburu? Banget.
Berhak? Secara teknis… enggak juga.
Dan itu yang bikin makin ngeselin.
Rico nggak pernah janji apa-apa.
Nggak pernah bilang eksklusif.
Nggak pernah bilang dia cuma untuk Anela.
Tapi semalam cara dia menatapnya…
Cara dia mendekat.
Cara suaranya turun satu nada waktu bilang, “Kamu beda.”
Itu bukan tatapan pria yang sembarang.
Anela mengusap pipinya.
“Oke,” bisiknya pada bayangan dirinya di kaca spion. “Kalau dia mau masuk hidup kamu, dia harus lebih dari sekadar bahu bidang dan ciuman bikin lutut lemas.”
Ia menarik napas panjang.
Dia bukan lagi gadis 22 tahun yang akan bertahan demi mimpi.
Dia ibu dari Ziyo.
Dia perempuan yang sudah selamat dari pengkhianatan yang jauh lebih kejam dari sekadar ciuman di café.
Dan kalau Rico memang seterang itu…
Maka dia harus siap membuktikan kalau cahayanya bukan cuma buat dipamerkan.
Karena Anela tidak akan lagi terbakar hanya karena seseorang terasa hangat di kulitnya.
Tapi kali ini, di balik sisa air mata dan sisa panas di dada, ada satu hal yang berbeda.
Dia tidak hancur.
Dia hanya… hati-hati.
Dan entah kenapa, di sela kemarahannya, masih ada bagian kecil dari dirinya yang berbisik:
Kalau dia berani datang menjelaskan, mungkin… mungkin cerita ini belum selesai.
......