Hanya karena perbedaan gaya hidup yang kini tak lagi sejalan, Tiffany menceraikan suaminya demi menjaga citra sebagai seorang konglomerat.
Ia bahkan melupakan siapa yang telah berjuang bersamanya dari nol hingga mencapai posisi tersebut.
Hans Rinaldi tidak menyimpan dendam. Ia menerima keputusan itu dengan lapang dada.
Namun, setelah perpisahan mereka, Tiffany tetap menyeretnya ke dalam berbagai masalah. Hingga akhirnya, terungkaplah siapa sebenarnya sosok pria sabar yang selama ini telah ia buang.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon DityaR, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Pengecut Othan
“Apa-apaan ini? Kenapa dia bawa orang sebanyak itu?” Othan menelan ludah. Entah kenapa kepalanya terasa ringan.
Bukannya tadi mereka sepakat duel satu lawan satu?
Donio jelas melanggar aturan dengan menyeret satu geng penuh. Meski dalam hati terus mengumpat, Othan tak punya pilihan selain menghadapinya. Apa pun yang terjadi, dia tidak boleh kehilangan muka di depan Tiffany.
“Itu mereka. Kepung!”
Dengan satu lambaian tangan, para pengawal yang dipimpin Donio langsung bergerak cepat dan mengepung Othan, Tiffany, dan Rachel.
“Kalian mau ngapain? Aku peringatin ya, jangan berani sentuh aku. Papa aku Hendrick Karimi, presiden Karimi Pharmaceuticals!” Othan buru-buru mengancam begitu sadar dirinya kalah jumlah.
“Terus kenapa?” bentak salah satu pengawal. “Kamu tau siapa yang udah kamu ganggu? Dia anaknya Tuwn Langodai, pewaris Rumble Group!”
Ucapan itu langsung memicu kegaduhan.
“Tuan Langodai? Maksudnya Bimbo Langodai, Raja dari timur?”
“Pastinya!”
“Kasihan banget. Berani-beraninya cari gara-gara sama anaknya Tuan Langodai. Habis dia.”
Orang-orang mulai berbisik dengan wajah tegang.
“K—kalian anak buahnya Tuan Langodai?” Othan tergagap, jelas ketakutan.
Bimbo, yang dikenal sebagai Tuan Langodai, adalah Raja Dunia Bawah Pantai Timur yang terkenal kejam, hanya berada satu tingkat di bawah Tiga Penguasa Besar. Dia tak pernah memberi ampun pada siapa pun yang berani menyinggungnya. Di bawah komandonya ada ratusan orang yang ahli dalam pemerasan dan berbagai kejahatan lain.
Singkatnya, Bimbo adalah sosok penjahat paling ditakuti. Siapa pun yang menyinggungnya akan menghadapi akibat yang lebih buruk dari kematian.
"Gila, kali ini aku benar-benar salah langkah," pikir Othan sambil berkeringat dingin.
“Kenapa? Katanya tadi kamu pede banget. Sekarang takut?” Donio mendekat, sorot matanya penuh niat jahat.
“Ini cuma salah paham .…” Othan memaksakan senyum, nadanya sangat merendah.
“Salah paham apaan!” Donio meraung marah dan menampar Othan dua kali. Bekas jari merah langsung terlihat di pipinya.
Othan menahan rasa kesal dan tetap tersenyum kaku.
“Papa aku kenal Tuan Langodai. Bisa gak kamu lepasin kali ini? Nanti aku ganti rugi.”
“Kamu pikir kamu siapa? Kamu gak punya posisi buat nawar ke aku.” Donio menusuk dahi Othan dengan telunjuknya. Setiap dorongan membuat Othan mundur selangkah. Saat itu, Othan benar-benar tak berani melawan.
Rachel tak tahan lagi. “Hei, preman semua! Bangga banget ya ngeroyok orang?”
“Kenapa? Kamu marah?” Donio mendorong Othan ke samping lalu berjalan mendekati Tiffany dan Rachel dengan senyum licik.
“Ini wilayah keluarga Wiraningrat. Jangan coba-coba kelewatan!” Rachel memperingatkan dengan tegas.
“Kamu kira aku takut sama keluarga Wiraningrat?” Donio mencibir. “Lagipula, yang mulai duluan itu kalian. Aku cuma bela diri. Mau apa keluarga Wiraningrat?”
“Apa sih omong kosong kamu?” Rachel mulai panik.
“Hmph, kayaknya kamu belum ngerti situasinya. Biar anak buah aku yang bikin kamu sadar!” Donio memberi isyarat. Dua pengawal maju dengan sikap mengancam.
“Berhenti!” Tiffany tiba-tiba bersuara dingin. “Ini gak ada hubungannya sama dia. Lepasin dia.”
“Berarti kamu yang mau tanggung jawab?” Donio tertawa kejam. “Boleh. Aku lepasin dia, tapi malam ini kamu tidur sama aku. Kalau kamu bisa bikin aku puas, aku anggap semua ini gak pernah terjadi.”
“Kamu gak tahu malu!” Tiffany mengangkat tangan hendak menamparnya, tapi Donio lebih cepat menangkap pergelangan tangannya.
“Berani-beraninya kamu mau mukul aku lagi? Ikat dia!”
“Siap, Bos!”
Beberapa pengawal langsung bergerak dan mencengkeram Tiffany.
“Lepasin dia, dasar preman!” Rachel mencoba menolong, tetapi Donio tanpa ampun menendangnya sampai terjatuh.
“Pak Karimi … tolong selamatin dia!” rintih Rachel kesakitan, tak mampu berdiri. Tak berdaya, dia hanya bisa memohon pada Othan.
“Donio, kita omongin baik-baik. Kenapa harus libatin perempuan?” Othan berusaha membujuk. Demi Tiffany, dia terpaksa merendahkan diri.
“Sialan. Urusan aku sama kamu aja belum selesai, kamu udah mau jadi pahlawan?” maki Donio.
“B-bukan begitu. Gak perlu pakai kekerasan. Kita bisa selesain ini baik-baik,” ujar Othan sopan.
“Diam kamu!”
Tamparan keras Donio membuat Othan terhuyung dan jatuh ke lantai.
“Ngomong satu kata lagi, aku bunuh kamu.”
Othan langsung mengecil dan bungkam. Meski dia peduli pada Tiffany, keselamatannya sendiri tetap lebih penting. Tidak masuk akal cari mati demi seorang perempuan dengan menyinggung Tuan Langodai.
“Hmph. Ternyata kamu cuma pengecut!” ejek Donio. “Aku gak ngerti kenapa cewek-cewek ini masih mau nempel sama kamu.”
Othan merasa terhina, tapi dia tak bisa berbuat apa-apa.
“Kalian berdua, berhenti meronta. Bawa mereka. Malam ini aku mau senang-senang.”
Donio memerintahkan anak buahnya mengikat Tiffany dan Rachel lalu menyeret mereka pergi.
“Pak Karimi! Tolong kami!” teriak Rachel sekuat tenaga.
Namun Othan tetap menunduk tanpa reaksi. Sikap pengecutnya membuat orang-orang di sekitar hanya bisa menggeleng. Jelas sekali dia tak punya nyali untuk bertindak.
Saat semua orang mengira Tiffany tak akan bisa lolos dari nasib buruknya, tiba-tiba seseorang berdiri di depan Donio dan menghalangi jalannya.
“Kamu gak boleh sentuh dia.”
“Apa? kamu juga mau jadi pahlawan?” Donio mencibir.
“Aku saranin kamu lepasin dia sebelum semuanya makin runyam,” kata Hans dingin.
Donio tertawa meremehkan.
“Kalau aku nolak?”
“Kalau gitu, siap-siap aja masuk neraka.”