NovelToon NovelToon
2 Hari 1 Malam

2 Hari 1 Malam

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / TKP / Kriminal
Popularitas:3.3k
Nilai: 5
Nama Author: M. A. K

Serangkaian pembunuhan berantai dengan pola nyaris sempurna mengguncang kota. Tidak ada motif jelas, tidak ada jejak berarti—hanya detail yang tersusun terlalu rapi untuk disebut kebetulan.

Karina, penyelidik muda dengan insting tajam, ditugaskan memimpin kasus tersebut. Ketika seorang tersangka berhasil ditangkap dan situasi kembali tenang, semua orang percaya permainan telah berakhir.

Kecuali Karina.

Ada celah kecil dalam pola yang mengganggunya. Sebuah kemungkinan bahwa kebenaran belum sepenuhnya terungkap. Semakin ia menyelidiki, semakin ia menyadari bahwa kasus ini bukan hanya tentang menemukan pelaku—melainkan tentang siapa yang sebenarnya mengendalikan permainan.

Dan dalam permainan yang dibangun dengan presisi seperti ini, kemenangan mungkin hanyalah awal dari sesuatu yang lebih besar.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon M. A. K, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

Episode 31 - Garis Putus

Retakan dalam tim tidak muncul sebagai konflik terbuka.

Ia muncul sebagai jarak.

Dan jarak paling terasa dalam diam.

 

...----------------...

Antono berdiri lebih lama dari biasanya di depan papan kasus pagi itu. Foto-foto korban tersusun rapi. Benang merah masih menghubungkan Arga dengan tiga TKP pertama.

Namun TKP keempat tampak seperti titik asing yang memaksa garis-garis itu menegang.

Karina memperhatikan dari balik meja.

“Kamu melihat sesuatu?” tanyanya.

Antono tidak langsung menjawab. Ia tetap menatap papan.

“Simbol keempat… sudut lengkungannya berbeda 12 derajat dari tiga sebelumnya.”

“Sudah dibahas di rapat kemarin.”

“Sudah,” jawab Antono pelan. “Tapi perbedaan sekecil itu biasanya tidak terjadi tanpa alasan.”

Karina berdiri dan mendekat.

“Menurutmu ini pelaku berbeda?”

Antono akhirnya menoleh. Tatapannya tidak menantang. Tapi tidak lagi sepenuhnya mengikuti.

“Saya pikir kemungkinan itu lebih besar dari yang kita akui.”

Kita.

Kata itu tidak lagi terdengar menyatu.

 

...****************...

Siang hari, Antono meminta izin ke ruang tahanan.

Ia berdiri di hadapan Arga tanpa membawa berkas.

Tidak interogasi resmi.

Hanya percakapan.

Arga duduk dengan tenang, tangannya terlipat di meja logam.

“Banyak yang berubah di luar,” kata Antono.

“Biasanya begitu,” jawab Arga ringan.

“Korban keempat. Simbol berbeda.”

Arga tersenyum tipis.

“Saya dengar dari petugas. Mereka bicara terlalu keras.”

Antono memperhatikannya. Tidak ada kegelisahan. Tidak ada kepanikan.

“Kamu mau mengatakan sesuatu?”

Arga mencondongkan tubuh sedikit.

“Yang ingin saya katakan sudah saya katakan sejak awal.”

“Kamu tidak melakukannya?”

Arga mengangkat bahu. “Pertanyaannya bukan itu lagi, kan?”

“Lalu apa?”

“Pertanyaannya… apakah kalian siap mengakui jika salah.”

Kalimat itu tidak terdengar seperti pembelaan.

Lebih seperti pengamatan.

Antono menahan tatapan beberapa detik sebelum berdiri.

“Kita belum sampai sana.”

Arga tersenyum lagi. Kali ini lebih dalam.

“Justru menurut saya, kalian sudah.”

 

...****************...

Sore hari, dua anggota tim kembali melakukan pemeriksaan ulang saksi tanpa sepengetahuan Karina.

Antono tahu.

Dan kali ini ia tidak menghentikannya.

Ia ikut hadir.

Saksi yang dulu mengubah deskripsinya kini terlihat lebih mantap.

“Saya waktu itu ragu… karena Bu Karina bilang jamnya mati seminggu sebelumnya,” katanya pelan. “Saya pikir mungkin saya salah ingat.”

“Sekarang?” tanya Antono.

“Sekarang saya ingat lebih jelas. Wajahnya tidak sepenuhnya seperti foto Arga.”

Ruangan terasa lebih sempit.

Antono tidak menunjukkan reaksi besar.

Ia hanya mencatat.

Namun di dalam dirinya, satu garis mulai terpisah dari garis utama.

 

...----------------...

Karina mengetahui pemeriksaan ulang itu dari laporan yang tidak lagi langsung sampai ke mejanya.

Ia memanggil Antono.

“Kamu ikut pemeriksaan ulang?”

“Iya.”

“Tanpa koordinasi?”

“Kita perlu memastikan konsistensi.”

“Konsistensi atau koreksi?”

Antono terdiam sejenak.

“Kita tidak bisa mengabaikan kemungkinan bahwa kita terlalu cepat.”

Kita.

Kali ini terdengar seperti tuduhan halus.

Karina menatapnya lebih lama dari biasanya.

“Kamu meragukan keputusan saya?”

“Saya meragukan arah kita.”

Perbedaan kata.

Namun dampaknya jelas.

Ruangan itu terasa seperti dua orbit yang mulai menjauh.

 

...****************...

Malamnya, Antono kembali menemui Arga.

Bukan karena prosedur.

Karena rasa ingin tahu.

“Kamu tampak terlalu tenang,” kata Antono.

Arga tersenyum samar.

“Orang yang tidak memegang kendali biasanya lebih tenang daripada yang memegangnya.”

“Kamu menyiratkan sesuatu.”

“Tidak,” jawab Arga pelan. “Saya hanya mengamati.”

“Apa yang kamu amati?”

Arga menatap lurus.

“Bahwa ini bukan lagi tentang saya.”

Antono tidak menjawab.

Karena di dalam dirinya, ia mulai merasakan hal yang sama.

...****************...

Tekanan audit semakin keras keesokan paginya.

Karina dipanggil ke ruang komite.

Tidak ada nada marah.

Tidak ada tuduhan langsung.

Hanya pertanyaan-pertanyaan sistematis.

“Mengapa Anda mempertahankan penahanan meski bukti keempat ambigu?”

“Untuk stabilitas penyidikan.”

“Stabilitas atau reputasi?”

Jeda sepersekian detik.

“Stabilitas.”

Salah satu anggota komite menatapnya lebih tajam.

“Apakah Anda siap mempertimbangkan kemungkinan bahwa tersangka awal tidak relevan lagi?”

“Kemungkinan selalu ada,” jawabnya.

“Tapi apakah Anda mengakuinya?”

Hening.

Pertanyaan itu bukan tentang hukum.

Itu tentang ego.

Sore hari, keputusan turun.

Singkat.

Formal.

“Untuk menjaga objektivitas investigasi serta meredam spekulasi publik, Saudari Karina akan dibebastugaskan sementara dari penanganan kasus ini. Penanggung jawab baru akan ditunjuk.”

Dibebastugaskan sementara.

Kalimat yang terdengar netral.

Tapi terasa seperti pencabutan identitas.

Ia berdiri di ruangannya ketika surat itu dibacakan.

Antono berada di luar, mendengar kabar itu bersama anggota tim lain.

Beberapa terlihat kaget.

Beberapa… tidak terlalu.

Karina mengemasi berkas dengan gerakan stabil.

Tidak terburu-buru.

Tidak gemetar.

Antono akhirnya masuk.

“Bu…”

Ia tidak melanjutkan kalimatnya.

Karina menutup map terakhir.

“Jaga struktur kasusnya,” katanya pelan.

Antono menatapnya.

“Kita akan mengevaluasi ulang semuanya.”

“Kalian harus.”

Kata itu tidak terdengar marah.

Tidak terdengar kecewa.

Lebih seperti pernyataan bahwa fase ini memang akan datang.

Saat ia melangkah keluar dari ruang kerja, lorong terasa lebih panjang dari biasanya.

Tatapan-tatapan mengikutinya.

Bukan dengan permusuhan.

Dengan ketidakpastian.

Malam itu, ponselnya bergetar.

Ketika kamu dicopot dari papan, kamu akhirnya bisa melihat keseluruhan permainan.

Ia membaca pesan itu dalam diam.

Untuk pertama kalinya, ia tidak merasa marah.

Tidak merasa dipermalukan.

Ia merasa… terlepas.

Dan mungkin—

Justru itu yang paling berbahaya.

Karena sekarang, tanpa jabatan resmi.

Tanpa struktur formal.

Tanpa sorotan langsung.

Ia bebas bergerak.

Garis-garis sudah terpisah.

Dan Karina tidak lagi berdiri di tengah tim.

Ia berdiri di luar sistem.

Dan mungkin—

Lebih dekat dari sebelumnya pada kebenaran yang sebenarnya.

1
Amelia
Bab ini sangat menegangkan 😢
smg karina selamat. ternyata yg jahat org terdekat. Keren thor semangat y
Amelia
😱😱😱😱😱
Amelia
😱😱😱
Amelia
Udah terjawab. Jangan tamat dl dong
Amelia
Dari awal emang udah curiga sama orang ini. Semangat thor
Amelia
Antono😱
Amelia
Semangat ya author 👍
Amelia
Semangat up thor👍
Emily
Alur ceritanya seru. Penulisan juga udah rapi, kata2nya hampir nggak ada yg typo. Semangat ya
Delyana.P
Terjawab sudah. ternyata tebakan ku benar siapa yg jahat thor 😂 Karina ibumu dalam bahaya, buruan selamatkan 🤔
Dinda Wei
Next
Dinda Wei
Aduhh masih juga mikir Agra pelakunya. keburu kamu yang di gorok Antono 😂 aku ngarah ya sipelaku ya Antono 🤔
Dinda Wei
Polisinya persis di Konoha, mudah terkecoh wkwk
Dinda Wei
Kayaknya sengaja bikin agra di tahan trus pelaku bebas ngancem karin. artinya yg di buru pelaku itu ya karin, korban2 itu hanya pengalihan
Amiera Syaqilla
semangat author
Amelia
Agra harus bebas, takut banget Karina di habisin psikopat gila
Dinda Wei: yup 👍
total 1 replies
Amelia
Agra harus di lepas. Bisa jd skenario pelaku buat ngabisin karina. Jd nggak ada yg bantu karin. Waspada lah karinaa
Amelia
Kok aku curiga sama atasan karina ya. Mencurigakan 🤔
Dinda Wei: sepemikiran. Antono mencurigakan
total 1 replies
Amelia
Hati2 Karina, pembunuh sebenarnya masih berkeliaran di luar sana. Kamu pasti masuk targetnya juga
Dinda Wei: iya takut banget, pelakunya nyasar ke kariin😡
total 1 replies
Amelia
Next 👍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!