Saat Jepang berada diambang kepunahan karena krisis populasi, cinta bukan lagi pilihan, melainkan tugas negara yang menekan. Pemerintah membuat ulang kurikulum SMA bernama Sistem Dua Kekasih. Semua murid dipaksa berpasangan dengan lawan jenis, duduk berdampingan, tinggal bersama, dan semuanya dihitung berdasarkan poin.
Cerita berfokus pada Naruse Takashi, seorang remaja tanpa tujuan hidup yang hanya ingin mengabdi kepada seorang gadis biasa, yang dia percaya sebagai belahan jiwanya.
Kira-kira, siapakah yang akan menjadi belahan jiwa Naruse?
Genre: Drama, Psychological, Romance, School, System.
Catatan:
1. Cerita ini fiktif belaka.
2. Update satu Minggu 3-5 Kali.
3. Ada BAB Spesial tiap 20 BAB.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Yapari, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
BAB 16 — Ajakan Duel —
Padahal belum lama waktu istirahat tiba, dan Yagami-sensei baru saja keluar kelas... tapi sialnya ada dua orang yang langsung mendekat.
Tanpa perlu diperhatikan lebih lanjut, aku sudah tahu kalau mereka adalah Sera Nanashi dan juga Satoshi Akanji.
Mereka ini tak ada habisnya. Apalagi sampai menghadang jalanku dan Elena yang ingin bangkit dari kursi.
Agar tidak ada kesalahpahaman lagi, aku sebisa mungkin untuk tidak menatap gadis itu.
"Elena Miyazaki, ayo kita duel!"
Tak lama suaranya terdengar. Nadanya masih saja angkuh. Dia seperti tidak punya malu setelah apa yang terjadi sebelumnya.
Bahkan secara tiba-tiba, Elena diajak duel oleh gadis itu.
Seketika seisi kelas hening, dan banyak tatapan mata yang kembali mengarah ke sini.
Beberapa murid sampai mengurungkan niatnya untuk keluar kelas. Sudah jelas mereka penasaran.
Sementara itu, Elena tampak tenang. Meski ini sedikit diluar dugaanku, karena aku mengira dia akan gemetar.
"Duel?"
Dia merespons pelan, nadanya datar.
"Ya, duel! Aku masih tidak terima karena kau menamparku di Mall sebelumnya. Kau kira kau siapa berani melawanku?!"
"Tanganku yang melakukannya. Kalau mau marah, silakan marahi tanganku!"
"Hah?! Aku tidak bercanda, sialan!"
Nada gadis itu meninggi. Tapi anehnya, Elena tidak gentar.
"Aku juga tidak bercanda, kenapa kau marah?"
"Berisik! Kau itu samsakku, jadi jangan coba-coba melawanku!"
"Aku sudah mencobanya, tahu?"
"Kalau kau tidak mau kupermalukan seperti dulu, ikuti kemauanku!"
"Kalau aku tidak mau?'
"Akan kuberitahu betapa tidak bergunanya dirimu! Betapa kau tidak pantas mendapat apa-apa!"
Walau di dalam diriku merasa panas, aku hanya bisa menyimak. Dan aku belum ada niatan untuk ikut campur.
Mereka terus berbicara sesuatu yang sama sekali tidak bisa kumengerti. Kemungkinan mereka membicarakan tentang masa lalu mereka sendiri.
Mendengar interaksi mereka, aku jadi semakin yakin kalau Elena pernah dirundung oleh gadis itu. Sebelumnya aku sempat ragu karena dia tampak tidak memiliki trauma.
Namun, sekarang aku sadar. Traumanya tidak dipendam, tidak juga dikeluarkan. Karena itulah sisi defensifnya yang pesimis bisa muncul.
Ini bukan asumsi. Ini pola, sebuah pola yang ingin menghentikan kelanjutannya sendiri.
Agak sulit menjelaskannya. Tapi intinya begini, Elena sengaja menahan diri.
"Kita harus duel, Elena Miyazaki! Kau tidak boleh menolak, dan aku yakin kau tidak sebodoh itu untuk mengerti maksudku."
Gadis itu kembali menegaskan, dia begitu kekeh ingin berduel.
"Baiklah, aku terima."
Pada akhirnya, Elena menerima ajakan duelnya. Nadanya terdengar lirih. Dia mengepalkan salah satu tangannya dengan erat.
Aku hanya fokus menatap Elena kali ini, dan mengabaikan gadis itu sepenuhnya.
"Bagus, kita siapkan taruhannya dulu. Kalau aku menang, aku akan mengajukan dua hal. Pertama, aku ingin seratus poin pasangan. Lalu yang kedua, kita harus bertukar pasangan."
"Eh?"
Tubuh Elena tersentak begitu mendengar kata-kata gadis itu. Dia terdiam. Matanya bergerak kesana-kemari sampai akhirnya dia menatapku.
Mata kami pun bertemu, dan aku bisa melihat matanya yang sedikit berkaca.
Ah, sial.
Siapa sangka Sera Nanashi akan bilang begitu. Dia tidak terima karena tidak mendapat 100 Poin Pasangan sebelumnya, dan kini dia ingin mencurinya dari Elena. Ditambah lagi, dia menekannya dengan mempertaruhkanku seperti barang.
Posisiku jadi serba salah. Aku tidak bisa membantu Elena begitu saja karena dia pasti akan semakin merendahkan dirinya, tapi di sisi lain... keadaannya akan lebih parah jika tidak kubantu.
Apa yang harus kulakukan?
Melihat Elena yang seperti ini membuat darahku mendidih. Entah kenapa, rasanya begitu memancing emosiku untuk keluar.
Padahal aku tidak berniat untuk memberi pelajaran pada gadis itu dalam waktu dekat, tapi dia sendiri yang malah mempercepatnya.
Karena aku belum kepikiran apa-apa untuk saat ini, jadi akan lebih baik jika aku fokus ke Elena lebih dulu.
"Hah..."
Aku pun menghela napas panjang, mengalihkan perhatian mereka sepenuhnya ke arahku.
Kemudian aku mengelus kepala Elena sesaat untuk menenangkannya. Rambutnya begitu halus, dan kupikir malah aku yang jadi tenang.
Tidak, jangan begini.
Ada sesuatu yang harus kulakukan. Secara mau tidak mau, aku melepaskan tanganku.
Kini aku menatap Sera Nanashi setelah sebelumnya berusaha menghindarinya.
"Akhirnya kau menatapku, Naruse Takashi-kun. Senang rasanya bisa menjadikanmu milikku."
"Aku, jadi milikmu?"
"Ya, ketimbang bersama pasanganmu yang sekarang... kau lebih baik bersamaku. Dia itu tidak berguna, beban, bodoh, dan tidak pantas memilikimu."
"Hah?!"
Tahan...
Tenanglah, diriku!
Emosiku hampir saja meledak ketika mendengarnya menjelek-jelekkan Elena. Mulutnya gampang sekali bicara dengan angkuh.
"Tidak berguna, ya? Memangnya kau tahu apa?"
"Kau meremehkanku? Aku tahu banyak tentangnya!"
"Tidak, bukan itu maksudku."
"Terus apa?"
Aku menatapnya lekat-lekat. Alisnya naik, seringainya terukir jelas. Ingin sekali aku menghancurkan wajah sombongnya itu, tapi aku harus menahan diri.
Melakukan sesuatu tanpa rencana adalah sebuah kebodohan yang nyata. Jadi, aku tidak akan melakukan hal yang sama seperti yang dilakukan Sera Nanashi sekarang.
"Begini, apa kau serius ingin berduel dengan pasanganku?"
"Sangat serius."
"Kau masih punya waktu untuk menarik kata-katamu."
"Untuk apa aku melakukannya? Aku pasti mena—"
"Kau yakin?"
Aku mengeluarkan dua kata terakhir dengan begitu tegas dan dingin, lalu disusul oleh tatapanku yang semakin tajam.
Melihatku seperti ini, dia terdiam sesaat dan ragu untuk merespons.
Satu-satunya yang bisa kulakukan sekarang adalah membuat gadis itu berpikir dua kali. Dengan kata lain, ini rencana awalku.
Aku tahu dia tidak mudah goyah, tapi setidaknya keyakinannya berkurang. Sisanya aku akan menyerahkan ini pada Elena.
Tatapanku kini kembali ke arahnya. Dia tampak murung. Kepalanya sedikit tertunduk.
Aku pun memegangi tangannya, membuat sentuhan kecil yang bisa memengaruhinya.
"Elena, kau ingin kehilanganku? Aku akan kecewa padamu kalau begitu."
"Ta-tapi..."
Dia menatapku.
"Kau bisa selesaikan urusanmu sendiri, kan? Hadapi gadis itu, dan aku akan memberimu hadiah terbaik."
"Hadiah?"
Aku mendekatkan bibirku ke telinga Elena, berniat membisikinya sesuatu.
"Ciuman pertamaku."
Selesai mengatakan itu, sekarang aku menatap laki-laki yang menjadi pasangan Sera Nanashi ini.
Tubuhnya memang besar, apalagi otot-ototnya nampak kekar. Dia menatapku seperti ingin mengajakku berkelahi.
"Kau, Satoshi Akanji. Aku punya urusan denganmu, bisakah kita bicara empat mata?"
"Besar bicara juga kau! Aku tidak akan meninggalkan Sera-san."
Nadanya lumayan tinggi, sangat cocok dengan perawakannya yang kasar.
"Kalau kau tidak mau, pasanganku juga akan menolak ajakan duelnya."
"Kau ini bicara apa?"
"Maksudku, kau tidak punya pilihan untuk menolak."
Kini aku berdiri, setelah sekian lama ingin melakukannya akibat tertahan oleh mereka berdua.
Sementara itu, Elena masih duduk di tempatnya. Dia hanya melihatku sesaat, lalu tatapannya langsung beralih ke Sera Nanashi. Baguslah jika dia cepat mengerti.
Kakiku mulai melangkah keluar kelas, sembari mengabaikan banyaknya tatapan di sekitar termasuk tatapan milik Elena dan Sera Nanashi.
"Ikuti aku, apa kau belum mengerti juga? Dasar otak otot!"
"Apa kau bilang?! Berani sekali peringkat C sepertimu menghinaku yang peringkat B!"
"Berisik, cepatlah!"
"Aku akan menghajarmu saat kita cuma berdua nanti!"
Aku mengabaikannya dan terus melangkah. Dan aku merasakan ada satu sosok yang mengikutiku dari belakang.
Dengan begini, kuharap Elena bisa menyelesaikannya.