NovelToon NovelToon
Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Pria Yang Seharusnya Tidak Ada

Status: sedang berlangsung
Genre:Misteri / Action / Romantis
Popularitas:8.3k
Nilai: 5
Nama Author: Bang Chitholl

Di dunia yang dikendalikan elite global, Rafael Alkava tumbuh sebagai anak buangan yang seharusnya tidak pernah hidup. Tanpa mengetahui asal-usulnya, ia bangkit dari kemiskinan, menaklukkan dunia trading, dan berangkat ke Amerika demi mencari kebenaran tentang dirinya.
Namun langkahnya justru menyeret Rafael ke dalam konflik mafia internasional, konspirasi negara, dan organisasi bayangan yang menguasai dunia dari kegelapan. Perlahan, ia menyadari bahwa hidupnya adalah bagian dari perang lama yang belum pernah berakhir.
Ketika semua rahasia terbuka, satu pertarungan mematikan mengubah segalanya.
Rafael Alkava dinyatakan mati.
Tapi di balik kematian itu, sesuatu justru mulai terbangun—
dan dunia akan segera tahu bahwa kesalahan terbesar mereka adalah membiarkannya hidup.

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Bang Chitholl, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

The Harmony

Sore mulai merayap masuk melalui jendela besar—cahaya oranye keemasan yang melembutkan segala sudut tajam di ruangan.

Rafael dan Kimberly duduk berdampingan di ranjang rumah sakit, tubuh mereka menghadap ke jendela yang menampilkan Manhattan dalam balutan senja.

Kimberly tidak melepaskan tangannya dari tangan Rafael—jari-jarinya terjalin erat, seperti takut jika dia melepaskan, Rafael akan menghilang lagi seperti kabut pagi.

Rafael menatap tangan Kimberly yang menggenggam tangannya.

Tangan yang lembut tapi kuat.

Tangan yang pernah mengetik laporan keuangan berjam-jam, yang pernah menandatangani kontrak bernilai jutaan dollar, yang pernah memegang senjata saat situasi memaksa.

Perasaan bersalah menusuk dadanya seperti jarum yang perlahan tapi pasti.

Bukan bersalah dalam konteks romantis—hubungan mereka tidak pernah melewati batas profesional meskipun ada chemistry yang tidak bisa dipungkiri.

Tapi Rafael merasa beban yang dipikul Kimberly bertambah berlipat ganda karena ketidakhadirannya.

Kimberly sekarang menjabat sebagai CEO di AGE. Perusahaan yang Rafael bangun dari nol dengan keringat dan darahnya sendiri—sekarang hanya menjadi warisan.

***

Warisan yang harus dijaga oleh orang lain karena pewaris aslinya dinyatakan mati.

AGE bukan lagi perusahaan Rafael.

AGE adalah warisan Rafael.

Dan perbedaan antara keduanya sangat besar.

***

"Rambut lo, sekarang tumbuh panjang," suara Kimberly memecah keheningan.

Nada bicaranya ringan, tapi ada kekhawatiran yang tersembunyi di baliknya.

"Tubuh lo juga semakin kurus."

Rafael menoleh, menatap Kimberly yang masih fokus pada jendela.

" Lo harus makan lebih banyak," lanjut Kimberly.

"Dan potong rambut. Lo keliatan kayak orang yang baru keluar dari penjara isolasi."

Senyum tipis muncul di wajah Rafael. "Gue baik-baik saja. Malah, lebih baik dari sebelumnya."

Kimberly akhirnya menoleh, menatap Rafael dengan mata yang tajam—mata yang sudah terlatih membaca kebohongan dalam negosiasi bisnis.

"Lo nggak baik-baik saja," katanya datar.

"Jangan bohong sama gue."

Rafael tidak menjawab. Dia tahu tidak ada gunanya berbohong pada Kimberly.

"Maaf," katanya akhirnya, suaranya lebih pelan.

"Maaf karena lo harus menggantikan peran gue. Beban yang gue pikul seharusnya tidak—"

"Stop!" Kimberly memotong dengan tegas.

Tangannya menggenggam tangan Rafael lebih erat.

"Jangan minta maaf untuk hal itu."

Dia menggelengkan kepalanya—gerakan yang kuat, penuh keyakinan.

"Gue menggantikan peran lo karena gue mau. Bukan karena paksaan dari orang lain. Bukan karena kewajiban."

Matanya menatap langsung ke mata Rafael.

"Lagipula, tidak ada siapapun yang lebih pantas dari gue buat gantiin posisi lo."

Rafael merasakan sesuatu menghangatkan dadanya.

***

Pernyataan Kimberly bukan sekedar kata-kata kosong atau basa-basi untuk menghibur.

Itu adalah fakta.

Sejak AGE berdiri dari tanah kosong, Kimberly sudah berada di samping Rafael sebagai Executive Vice President.

Jabatan yang terdengar seperti asisten glorified, tapi sebenarnya jauh lebih penting dari itu.

Kimberly tidak hanya mengatur jadwal Rafael.

Dia mengambil keputusan saat Rafael tidak di kantor.

Dia yang menangani negosiasi dengan klien besar saat Rafael sedang fokus pada analisis market.

Dia yang memastikan operasional perusahaan berjalan lancar saat Rafael sibuk di ruang trading.

Tanpa Kimberly, AGE tidak akan pernah bisa tumbuh secepat ini.

Rafael tersenyum—senyum yang tulus, penuh rasa terima kasih yang tidak bisa diungkapkan dengan kata-kata.

"Terima kasih," katanya pelan.

Kimberly tidak menjawab. Dia hanya menggenggam tangan Rafael lebih erat.

Keheningan yang nyaman menyelimuti mereka untuk beberapa saat.

Suara kota di luar jendela terdengar samar—klakson mobil, sirene ambulans di kejauhan, bunyi helicopter yang melintas.

Lalu Rafael membuka mulut lagi. "Ryzen dan Zen," katanya.

"Gimana keadaan mereka?"

Kimberly tidak langsung menjawab.

Rafael merasakan perubahan—sekecil apapun itu.

Genggaman Kimberly sedikit melonggar. Nafasnya tertahan sejenak.

Matanya mengalihkan pandangan dari Rafael ke jendela.

Dia sedang berpikir. Atau lebih tepatnya, dia sedang mencari cara untuk tidak menjawab.

***

Rafael mengerutkan kening.

Kenapa Kimberly ragu?

Kenapa dia mencari alasan untuk tidak membahas Ryzen dan Zen?

Apa yang sebenarnya terjadi dengan mereka berdua?

Rafael ingin bertanya lebih jauh, ingin mendesak Kimberly untuk jujur, tapi sebelum dia sempat membuka mulut—

Bzzzt. Bzzzt.

Ponsel Kimberly bergetar di saku jaketnya. Dia mengeluarkannya dengan cepat—terlalu cepat, seperti orang yang mendapat penyelamatan dari pertanyaan yang tidak ingin dijawab.

Nama di layar: Seraph Vale.

Kimberly berdiri, berjalan agak menjauh dari Rafael—cukup jauh untuk memberi privasi, tapi tidak terlalu jauh.

"Ya?" suaranya kembali ke mode profesional—dingin, tegas, tanpa emosi.

Suara di seberang sana terdengar samar, tapi Rafael bisa mendengarnya dengan jelas.

Indra pendengarannya yang menguat membuat percakapan telepon terdengar seperti orang yang bicara di sebelahnya.

"Kimberly, kamu di mana?" suara wanita muda—energik tapi sedikit khawatir.

"Sebentar lagi ada meeting dengan Mahendra Grup. Mereka sudah menunggu di conference room."

***

Seraph Vale.

Rafael mengenali suara itu. Wanita berusia dua puluh tahun dengan pakaian yang lebih cocok untuk runway fashion show daripada kantor korporat.

Dress ketat, heels tinggi, makeup sempurna—lebih terlihat seperti model majalah daripada Executive Vice President.

Tapi jangan tertipu oleh penampilannya.

Seraph adalah salah satu orang paling cerdas yang pernah Rafael temui.

Dia ingat pertemuan pertama mereka—di mansion mewah pinggiran kota yang entah bagaimana Ryzen berhasil dapatkan.

Mansion yang menjadi markas sementara mereka saat merencanakan operasi melawan organisasi kriminal.

Seraph datang dengan dress merah menyala, tumit setinggi sepuluh sentimeter, dan senyum yang terlalu percaya diri.

Lalu dia berkata dengan santai—seperti sedang memesan kopi, bukan mengucapkan kalimat yang paling gila yang pernah Rafael dengar:

"Gue pengen punya anak dari lo."

Rafael hampir tersedak saat itu. Ryzen tertawa terbahak-bahak sampai perutnya sakit.

Zen hanya menggelengkan kepala dengan ekspresi yang mengatakan

"inilah alasan kenapa gue lebih suka bekerja dengan mesin daripada manusia".

Tapi di balik kegilaannya, Seraph membuktikan dirinya.

Saat tragedi tiga bulan lalu—saat Rafael harus menghadapi Lyra Vantross—Seraph juga ikut andil dalam pertempuran.

Dia ditugaskan melawan Adrax Kaine bersama Draven Czar dan Zen Feng.

Rafael tidak tahu detail pertempuran mereka. Tapi fakta bahwa Seraph masih hidup dan sekarang menjabat sebagai EVP menggantikan Kimberly membuktikan bahwa dia lebih dari sekedar wajah cantik.

***

"Batalkan meeting-nya," suara Kimberly tegas, tidak ada ruang untuk negosiasi.

"Jika memang tidak bisa dibatalkan, lo yang harus menanganinya."

"Tapi Kimberly—"

"Seraph," Kimberly memotong.

"Gue percaya lo bisa menangani Mahendra Grup. Lo sudah tahu semua poin-poin penting dalam aliansi kita. Gunakan itu."

Keheningan sejenak di seberang sana.

"Baiklah," jawab Seraph akhirnya.

"Gue akan handle ini."

Klik.

***

Bersambung...

1
Danil Septia n
lanjut thor
Arlen Mirza
lanjut Thor
Kurniawan Wawan
🥺🥺🥺
My Name Is Koplo
panjangin lagi min, nanti gua ngambek
ricky hayathe
mantap. lanjutin jga anak nya si rafael thot
mielle
keren bgt kalimatnya 😍
Bang Chitholl: makasih loh ya🙏
total 1 replies
ricky hayathe
smangat thorr
Arlen Mirza
dikit banget gila
Dandung Lamase
taek dikit bngtttt🤣
ricky hayathe
gacorrr
Arlen Mirza
kek terlalu dikit Thor
KIMI
mana nih
Bang Chitholl: apanya?
total 1 replies
Rifqi Ilham
Lanjutt thorr, jangan nanggung
KIMI: mn nih
total 1 replies
Arlen Mirza
dikit banget thorr
Bang Chitholl
buset dah kenapa pada ngamuk cok 🤣
Michael Bangun
kambing lah
KIMI
monyet lh Thor🤣🤣
Dandung Lamase
chitol taek suka bngt gantungggg🤣
My Name Is Koplo
yang panjang thor
Kurniawan Wawan
lanjut thor😍😍
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!