Hanie, seorang gadis blasteran Indo-Melayu, yang menjadi koban ego para siswa di masa sekolahnya. Baginya, Devian Azka adalah sebuah mimpi ngeri.Orang yang memiliki mata cokelat indah, tetapi kepribadiannya menyebalkan, dan seorang pengecut yang rela menindas demi memuaskan egonya, telah menyakiti Hanie
Namun, itu hanya kisah silam dan takdir tidak pernah salah.
Tiga tahun kemudian, di tempat kuliah yang sama mereka bertemu lagi.Dengan sifat Hanie yang mulai dingin dan Devian Azka yang memohon maaf atas dosa-dosanya dulu.Devian Azka yang berdiri di depan Nur sekarang itu bukanlah lagi anak berandalan yang brengsek seperti dulu.Dia kini adalah pria dewasa yang bisa membesarkan salah dan benar. Baginya hanya Hanie jiwa nya.
Apakah bisa Hanie memaafkannya atau kebencian dan kekecewaan lebih besar di hatinya?
Nantikan kisah lanjutnya di "Our Hurt Story"
Selamat membaca dan mohon dimaafkan atas segala kekurangannya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon zaniera99, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
Episode 15:Apa ini kutukan?
Sejak hari di mana Kak Qasrina secara terangan memilih Amani dan meninggalkanku,aku tidak lagi banyak bicara. Di dalam Bilik 7, aku menjelma bagaikan bayang-bayang yang melintas tanpa suara. Aku masuk ke kamar, mandi, salat, lalu tidur. Tidak ada lagi usaha dariku untuk berbicara dan memberi kepercayaan kepada sesiapa, tidak ada lagi sapaan ceria yang biasanya kulontarkan. Aku juga tidak lagi memedulikan jelingan tajam atau bisik-bisik Syasya di kelas. Aku telah menarik diriku sepenuhnya dari mereka.Bahkan seluruh manusia di hidupku.Hambar.Dan aku mulai pudar.
Malam itu, setelah lampu asrama dipadamkan dan kegelapan mulai menyelimuti setiap sudut ruangan, aku tidak langsung memejamkan mata. Aku menunggu mereka tidur. Dengan gerakan yang sangat pelan agar tidak menimbulkan bunyi yang bisa membangunkan mereka, aku menghamparkan sejadah di sudut bilik yang paling gelap, jauh dari jangkauan cahaya lampu koridor yang menyelinap masuk melalui celah pintu.
Aku tahu, waktu di mana semua orang tengah terlelap adalah waktu yang paling sunyi,dan itulah waktu yang paling tepat bagiku untuk mengadu kepada satu-satunya yang peduli dengan diriku selain aku sendiri.
Aku bersujud, dan aku membiarkan dahi ini menempel lama sekali pada permukaan sejadah yang jangan bagiku.
"Ya Allah... aku penat.Bantu aku,Aku mohon."
Hanya empat kata itu yang mampu kubisikkan dalam hati. Namun, di balik empat kata itu, tersimpan ribuan luka yang tak mampu kujelaskan dengan kalimat puitis mana pun. Air mataku menitis dan mulai mengalir, jatuh satu demi satu, meresap ke dalam kain sejadah yang kini mulai terasa lembap. Aku merasa seolah-olah duniaku sudah benar-benar runtuh, tidak ada lagi tanah yang stabil untuk kupijak. Di sekolah aku dirundung habis-habisan oleh Arif dan Devian Azka, sahabat yang dulu kuanggap teman kini mengkhianatiku, senior yang sangat kupercayai rupanya bermuka dua, dan ketika aku pulang ke rumah, aku tetap menjadi orang yang selalu disalahkan.
Aku duduk di antara dua sujud dengan dada yang sesak karena isak tangis yang kupaksa untuk tetap diam tanpa pengetahuan sesiapa. Dalam keheningan malam itu, sebuah kesadaran menghantamku dengan sangat keras. Aku menyadari satu hal selama ini aku terlalu sibuk mencari sosok 'pelindung' di antara sesama manusia. Aku menggantungkan seluruh harapanku pada orang lain.Dan aku lupa hanya Dia yang selalu ada...
Aku mencari Amani untuk mendapatkan pengakuan. Aku mencari Syasya agar aku tidak terlihat sendirian. Aku mencari Kak Qasrina sebagai tempat sandaran emosional. Aku bahkan sanggup melakukan apa saja, menjadi pengikut yang setia, atau hanya diam meski hati tersakiti, asalkan mereka tidak meninggalkanku. Aku rela menjadi bayang-bayang mereka hanya demi sebuah rasa aman yang semu.
Tapi akhirnya? Mereka semua meninggalkanku juga. Saat aku tidak lagi memiliki apa-apa,bahkan aku seakan hilang diriku sendiri mereka membuangku seolah aku hanyalah sampah yang mengotori jalan mereka menuju popularitas. Saat aku benar-benar jatuh dan membutuhkan tangan untuk bangkit, tangan-tangan yang dulu kupegang itu justru mendorongku lebih dalam ke jurang.Meninggalkanku yang jauh tenggelam dalam.
"Mungkin Kau ingin aku mencari Mu,Maafkan aku ya Allah," bisikku perlahan, suaraku bergetar di tengah keheningan Bilik 7.
Aku mengangkat kedua tanganku, berdoa dalam kegelapan yang pekat. Kali ini, doaku berbeda. Aku tidak lagi meminta agar Arif berhenti merundungku. Aku tidak lagi meminta agar Kak Qasrina kembali bersahabat denganku. Aku tidak lagi mengemis simpati dari manusia yang sudah memalingkan wajah mereka dariku.
Aku hanya meminta satu hal,aku meminta Tuhan untuk menguatkan hatiku. Aku memohon agar diberikan ketabahan yang luar biasa supaya aku tidak menyerah, supaya aku tidak menyerah terlalu awal di permulaan kehidupanku.Kerana aku belum sempat membuktikan bahwa aku bisa berdiri tegak dan berhasil dengan diriku sendiri. Aku ingin membuktikan bahwa Nur Hanie yang mereka hina ini mampu menjalani hidup ini semampunya.
Aku merogoh saku kain mukenaku, mengeluarkan cermin kecil yang selalu menemaniku. Dalam samar-samar cahaya bulan yang masuk melalui jendela asrama, aku menatap pantulan wajahku sendiri. Mataku sangat sembab, kulit wajahku tampak pucat pasi di bawah sinar rembulan yang pucat pula.
"Hanie... kamu harus kuat. Kalau seluruh dunia membuangmu, kamu jangan pernah membuang dirimu sendiri," kataku pelan, menatap tajam ke dalam mata di pantulan cermin itu.
Cermin itu seolah bersetuju dengan ku. Ia adalah saksi betapa hancurnya aku, namun ia juga akan menjadi saksi bagaimana aku akan menyatukan kembali kepingan-kepingan jiwaku. Aku menyadari bahwa harga diriku tidak ditentukan oleh seberapa banyak teman yang kumiliki di kelas, atau seberapa sering Kak Qasrina mengajakku makan bersama. Harga diriku ada pada kemampuanku untuk bangkit setelah setiap kali dijatuhkan.
Malam itu, aku melipat sejadah dengan sebuah perasaan yang sangat berbeda dari biasanya. Rasa sakit itu memang masih ada, berdenyut di dalam dada, namun rasa 'sesak' yang mencekik itu kini berkurang sedikit demi sedikit. Aku merasa lebih ringan. Aku menyadari satu kebenaran mutlak iaitu manusia bisa berkhianat, manusia juga sangat bisa berubah hati demi popularitas dan kenyamanan pribadi, tetapi Tuhan tidak akan pernah mengatakan bahwa aku 'melelahkan' atau 'risih' ketika aku datang membawa tumpukan duka untuk diadukan.
Aku cuba menghadapi hari esok dengan semangat dan jiwa yang baru.Aku berbaring di atas tempat tidurku, menarik selimut hingga ke dada. Aku memejamkan mata rapat-rapat. Pikiranku melayang pada setiap kesedihan yang telah kulewati, dan akuakan berusaha bahwa hari hari berikutnya tidak akan lagi diisi dengan air mata atas kebodohan orang lain.
Aku tahu, besok pagi saat aku bangun, Devian Azka mungkin masih akan menulis kalimat ejekan di papan tulis dengan mata hazel-nya yang dingin itu. Arif mungkin masih akan menyindirku dengan kata-kata tajam. Syasya mungkin akan tetap berpura-pura tidak mengenalku. Dan Kak Qasrina mungkin akan berjalan melewati tempat tidurku sambil tertawa dengan Amani tanpa melirikku sedikit pun.
Namun, besok aku akan bangun sebagai Nur Hanie yang baru. Nur Hanie yang mungkin masih berjalan sendirian di lorong sekolah, namun Nur Hanie yang sudah mulai memahami siapa yang benar-benar patut dia percayai. Aku tidak lagi membutuhkan validasi dari mereka yang bermuka dua. Aku adalah pejuang di duniaku sendiri.Dan aku akan berusaha untuk duniaku sahaja tanpa mempedulikan hal bodoh itu.
Ketika fajar mulai menyingsing nanti, aku akan melangkah keluar dari Bilik 7 dengan kepala tegak. Bukan karena aku sudah tidak punya masalah, tapi karena aku sudah tahu ke mana harus membawa masalah itu. Dinding yang kubangun di hatiku kini bukan lagi dinding untuk bersembunyi, melainkan benteng untuk melindungi apa yang masih tersisa dari jiwaku.
"Terima kasih, Ya Allah, karena sudah menjatuhkanku sekeras ini, agar aku tahu bahwa hanya Kau tempatku kembali," gumamku terakhir kali sebelum akhirnya aku tertidur dengan nafas yang jauh lebih tenang dibandingkan malam-malam sebelumnya.
Aku sadar, perjalanan ini masih sangat jauh. Masih banyak duri yang harus kuinjak. Tapi malam ini, di sudut gelap Bilik 7, seorang Nur Hanie telah belajar bahwa kesendirian bukanlah sebuah kutukan, melainkan ruang untuk menemukan kekuatan sejati yang selama ini tersembunyi di balik tangisan.