NovelToon NovelToon
Pamanku Ternyata Jodohku

Pamanku Ternyata Jodohku

Status: sedang berlangsung
Genre:Dosen / Pernikahan Kilat / Nikahmuda
Popularitas:2.3k
Nilai: 5
Nama Author: EILI sasmaya

Namaku Valerie. Hidupku adalah sebuah kompetisi yang sudah ditentukan kekalahannya bahkan sebelum dimulai. Di rumah ini, aku hanyalah bayangan dari Kakakku yang seorang dokter muda sukses. Orang tuaku menganggapku investasi gagal; mereka mengirim Kakak ke sekolah elit, sementara aku cukup di sekolah pinggiran karena dianggap hanya membuang-buang uang.
Muak menjadi sampah di mata mereka, aku memilih pergi. Aku terjun ke dunia malam, bergaul dengan mereka yang juga merasa terbuang. Meski aku dikelilingi botol minuman dan asap rokok, aku masih punya satu prinsip: aku tidak akan membiarkan diriku hancur sepenuhnya. Aku tetap menjaga harga diriku di tengah liarnya jalanan.
Namun, kebebasan ternyata berasa hambar sampai malam itu tiba. Di sebuah kelab yang bising, aku bertemu dengan Revan, adik angkat Ibu yang sudah bertahun-tahun menghilang untuk mengejar karier dosennya. Saat orang tuaku bahkan tidak sudi mencariku,pria yang terpaut sepuluh tahun dariku inilah yang justru menarikku keluar

Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon EILI sasmaya, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri

BAB 20: INTENSITAS TATAPAN

​Sepuluh Menit Kemudian – Di Dalam Studio

​Pintu studio tiba-tiba terbuka dengan suara yang cukup keras. Bukan dibanting, tapi dibuka dengan wibawa yang membuat seisi ruangan mendadak hening. Revan melangkah masuk dengan beberapa berkas di tangannya.

​"Pak Revan?" dosen senior jurusan Seni yang sedang mengajar terkejut. "Ada apa, Pak? Kelas Hukum sudah selesai?"

​"Saya mencari Saudari Valerie," ucap Revan pendek. Suaranya dingin, seolah-olah suhu di studio lukis itu mendadak turun drastis.

​Julian, yang masih berdiri di podium sebagai model, menyapa dengan santai. "Wah, Pak Revan. Anda ingin ikut menggambar anatomi juga? Saya sedang jadi modelnya."

​Revan melirik Julian dari ujung kaki hingga ujung kepala dengan tatapan menghina yang sangat halus. "Saya tidak tertarik menggambar objek yang... kurang substansial. Saya di sini karena ada berkas 'Riset' yang harus ditandatangani segera oleh asisten saya."

​Mata Revan beralih pada Valerie. "Valerie, ikut saya ke kantor sekarang."

​"T-tapi Pak, kelasnya belum selesai," cicit Valerie.

​"Ini mendesak," potong Revan, nadanya tidak menerima bantahan.

​Di Koridor Gedung Hukum

​Valerie hampir harus berlari kecil untuk menyamai langkah lebar Revan. Begitu mereka masuk ke kantor pribadi Revan yang sunyi, Revan langsung mengunci pintu dan berbalik. Ia tidak meletakkan berkas itu, melainkan melemparnya ke meja dengan kasar.

​"Jadi... kau lebih suka menggambar anatomi Julian daripada mencatat pasal di kelasku?" tanya Revan. Suaranya rendah, namun penuh tekanan.

​"Mas, dia sendiri yang menawarkan diri! Aku tidak bisa menolak karena dosen Seni mengizinkannya," bela Valerie.

​Revan melangkah maju, memerangkap Valerie di antara tubuhnya dan pintu kayu kantornya yang besar. Ia menumpukan kedua tangannya di pintu, mengurung Valerie sepenuhnya.

​"Dia menatapmu seperti itu di depan semua orang, Erie. Dan kau hanya diam?" Revan membungkuk, wajahnya sangat dekat hingga Valerie bisa merasakan deru napas suaminya yang memburu. "Apa kau lupa siapa yang setiap malam memelukmu sampai kau tertidur? Apa kau butuh aku yang menjadi model anatomi untukmu di apartemen agar kau berhenti menatap pria lain?"

​Valerie tersipu hebat, wajahnya memanas. "Mas, kau kekanak-kanakan sekali. Kau itu dosen senior, pengacara hebat..."

​"Aku suamimu," potong Revan tegas. "Di luar gedung ini, aku adalah pria yang bisa menghancurkan siapa pun yang menyentuh milikku. Dan Julian sudah sangat dekat dengan batas kesabaranku."

Revan kembali fokus pada Valerie. Ia menjauhkan sedikit wajahnya, namun tangannya masih mengunci posisi Valerie di antara tubuhnya dan pintu. Tatapan matanya yang tadi tajam karena cemburu, mendadak melunak, berubah menjadi binar hangat yang hanya ditunjukkan di balik pintu tertutup ini.

"Tugasmu malam ini: hapus semua bayangan anatomi pria itu dari kepalamu, Erie," bisik Revan lembut. Jemarinya merapikan anak rambut Valerie dengan gerakan yang begitu manis, jauh dari citra dosen pembantai nilai yang dikenal publik. "Aku tidak suka berbagi fokusmu dengan siapa pun, bahkan untuk alasan seni sekalipun."

Valerie baru saja hendak membalas dengan sebuah senyuman kecil ketika telinga tajam Revan menangkap suara langkah kaki yang terhenti tepat di depan pintunya. Langkah itu ringan, namun penuh keraguan, ciri khas seseorang yang sedang mengintai.

"Sahabatmu ada di luar," gumam Revan, seketika mengubah ekspresinya kembali menjadi formal dan dingin dalam hitungan detik. Ia menjauhkan diri, memberi ruang bagi Valerie untuk bernapas.

"Karin?" Valerie membelalak panik.

Revan merapikan kerah kemejanya, lalu mengangguk kecil ke arah pintu. "Kembalilah ke kelasmu. Aku tidak ingin dia mulai membuat teori konspirasi yang lebih gila lagi jika kau terlalu lama di sini."

Valerie dengan cepat merapikan rambut dan bajunya, lalu membuka pintu dengan gerakan yang diusahakan sealami mungkin. Benar saja, Karin berdiri di sana, pura-pura sibuk menatap papan pengumuman di dinding koridor, namun matanya langsung menyambar sosok Valerie begitu pintu terbuka.

"Oh! Sudah selesai 'risetnya', Val?" tanya Karin dengan nada yang dibuat-buat santai, namun matanya menyelidik ke arah dalam ruangan di mana Revan tampak sibuk kembali dengan tumpukan berkas di mejanya.

Valerie menarik napas panjang dan menarik tangan Karin. "Ayo, Karin. Kita harus kembali ke studio sebelum sesi anatomi selesai."

Selama berjalan menyusuri koridor panjang gedung Hukum menuju gedung Seni, Karin tidak membiarkan Valerie tenang sedetik pun. Ia mencecar sahabatnya itu dengan rentetan pertanyaan yang membuat Valerie kewalahan.

"Val, jujur padaku. Sejak kapan kau jadi asisten risetnya?" tanya Karin, langkahnya dipercepat untuk menyeimbangkan posisi. "Aku sudah satu tahun lebih di kampus ini, dan semua orang tahu Pak Revanza itu pria paling anti-sosial. Dia tidak pernah punya asisten dari kalangan mahasiswa. Dia melakukan semuanya sendiri! Bagaimana bisa kau yang anak Seni tiba-tiba terpilih?"

"Itu... itu karena proyek kolaborasi yang dibilang Pak Julian kemarin, Karin," elak Valerie, mencoba tetap tenang.

"Tapi Pak Julian baru mengumumkannya kemarin, dan Pak Revan bertingkah seolah kau sudah bekerja untuknya selama berbulan-bulan!" Karin berhenti mendadak, memegang bahu Valerie dan menatapnya tajam. "Bagaimana bisa orang setertutup itu mengizinkanmu masuk ke kantor pribadinya? Tadi itu pintu terkunci, kan? Kenapa harus dikunci kalau cuma bahas statistik?"

"Hanya... untuk privasi data, Karin. Pak Revan sangat ketat soal kerahasiaan dokumennya," Valerie mencoba tersenyum kaku.

Karin menggeleng-gelengkan kepalanya, masih tidak habis pikir. "Tetap saja aneh. Iblis itu tidak punya asisten, Val. Dia bahkan jarang menatap mahasiswanya lebih dari dua detik. Tapi padamu... dia tadi menjemputmu ke studio Seni seperti seorang suami yang sedang menjemput istrinya karena cemburu!"

Valerie tersedak salivanya sendiri mendengar kata 'suami'. "Cemburu? Kau bicara apa, sih? Dia cuma... dia cuma disiplin soal waktu kerja asistennya."

"Mencurigakan. Benar-benar mencurigakan," gumam Karin sambil menyipitkan mata. "Penyelidikan Hari ke-3: Puzzle-nya semakin aneh. Kenapa asisten riset harus punya aroma parfum yang tertinggal di baju yang sama dengan parfum bosnya?"

Karin mengendus bahu Valerie dengan cepat, membuat Valerie refleks melompat mundur. Valerie menyadari, berurusan dengan kecurigaan Karin jauh lebih sulit daripada menghadapi ujian lisan di kelas Revan.

Valerie melangkah masuk kembali ke studio lukis dengan jantung yang masih berdebar akibat interaksinya dengan Revan di kantor tadi. Namun, harapannya untuk mendapatkan ketenangan seketika pupus. Di atas podium, Julian masih berdiri kokoh dalam posisinya sebagai model, namun ada yang berubah, intensitas tatapannya.

Begitu Valerie duduk di bangku sketsanya, mata Julian langsung mengunci pergerakan gadis itu. Ada kilat ambisi yang terpancar dari mata dosen muda itu.

​Bagi Julian, hidup selalu terasa mudah. Dengan wajah yang sering disebut mirip aktor Italia, karier cemerlang di usia muda, dan karakter humoris yang membuatnya menjadi primadona di setiap kampus tempatnya mengajar, Julian terbiasa dipuja. Namun, Valerie berbeda. Sejak pertemuan pertama, gadis ini menatapnya seolah ia hanyalah objek benda mati di dalam ruangan. Tidak ada kekaguman, tidak ada pipi yang merona, apalagi usaha untuk mencari perhatiannya.

​Menarik, batin Julian. Baginya, Valerie bukan sekadar mahasiswi cantik, tapi sebuah tantangan intelektual dan emosional yang baru. Semakin Valerie mengabaikannya, semakin Julian merasa harus memiliki perhatian gadis itu.

1
Nur Mei
semangat ngetiknya kak😁
EILI sasmaya: Terimakasih, 🥰
total 1 replies
sweet chil
tetap semangat Thor .. 🌹
NovelToon
Novel sejumlah besar sedang menunggu Anda baca! Juga ada komik, buku audio, dan konten lain untuk dipilih~
Semua konten GRATIS! Klik di bawah untuk download!