Shaira Aluna Maheswari bertemu Raven Adhikara Pratama di masa remaja, saat hidup belum sepenuhnya rapi dan perasaan masih mudah tumbuh tanpa alasan. Hubungan mereka tidak pernah berjalan lurus. Datang, pergi, lalu kembali di waktu yang selalu terasa salah.
Setiap pertemuan selalu meninggalkan rasa, setiap perpisahan menyisakan luka yang belum benar-benar sembuh.
Di antara pertemanan, cinta yang tumbuh diam-diam, dan jarak yang memaksa mereka berpisah, Shaira belajar bahwa tidak semua kisah harus berakhir bersama. Beberapa hanya perlu dikenang sebagai bagian terbaik yang pernah singgah.
Best Part adalah cerita tentang cinta yang tidak selalu memiliki akhir bahagia, namun cukup berarti untuk dikenang seumur hidup.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Kiadilkia, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
20 - Perhatian Itu Bernama Kamu
..."Cinta tidak selalu tentang hal istimewa, tapi tentang memilih orang yang sama-setiap hari, dengan cara yang paling sederhana."...
Happy Reading!
...----------------...
Bel istirahat berbunyi. Kelas tetap riuh dengan suara tawa, langkah kaki, dan obrolan teman-teman. Shaira duduk di bangkunya sambil membuka tas, menyiapkan buku pelajaran berikutnya.
Raven muncul dari kantin dengan senyum tipis, membawa kotak kecil di tangan. Ia menunduk sebentar sebelum menaruh susu Ultra Milk Stroberi dan sebungkus roti di atas meja Shaira. Jari-jarinya sempat menyentuh tepian meja saat menaruh kotak itu, lalu ia menarik tangannya kembali, matanya sekilas menatap Shaira untuk memastikan reaksinya.
Shaira menatapnya sebentar, terkejut tapi penasaran.
"Susu... Stroberi?"
Raven hanya mengangguk, singkat.
"Minum," katanya, seperti biasa. Tindakan sederhana, tanpa banyak kata-namun jelas menunjukkan perhatiannya.
Shaira meneguk susu itu pelan, matanya berbinar. Pipi sedikit memerah, bibirnya menekuk saat rasa manis itu menyentuh lidahnya. Ia menatap Raven sekilas, senyumnya menahan geli karena perhatian sederhana itu terasa hangat.
Raven selalu ingat hal-hal kecil yang membuatnya senang, sama seperti dulu ketika mereka masih dekat di kelas satu SMA. Tidak ada kata-kata berlebihan, hanya perhatian sederhana yang terasa hangat.
Di sebelahnya, Nara menepuk bahu Shaira sambil menahan tawa.
"Eh, kalian tuh makin lengket aja. Gue bisa kecipratan nggak nih?"
Shaira tersipu, buru-buru membalas.
"Nara, jangan gitu dong. Tapi ya... semoga lo juga dapet pacar deh."
"Doain yang bener," balas Nara cepat.
Fadly ikut nimbrung sambil menepuk meja Shaira.
"Liat tuh. Raven sok cuek banget, padahal diam-diam paling perhatian."
Arkan mengangguk setuju, gumamnya pelan tapi jelas terdengar.
"Cuek tapi perhatian. Kombinasi nyebelin."
Keno ikut menimpali sambil melirik Raven.
"Serius deh, kalian berdua tuh nggak berubah. Masih sama kayak dulu."
Nafiz terkekeh dari bangku seberang.
"Dari dulu juga gitu. Raven nggak pernah banyak gaya, tapi kelihatan banget bedanya ke Shaira."
Semua mata refleks tertuju ke Raven.
Raven mendecak pelan, agak risih.
"Apaan sih. Kalian ribet banget."
"Tuh kan," sahut Arkan cepat. "Bukti."
Shaira terkekeh, menatap Nara.
"Kalian nih kayak komentator olahraga aja."
"Ya jelas," balas Nara sambil tersenyum nakal. "Couple kelas kita, masa nggak dikomentarin."
Raven cuma menggeleng, tapi sudut bibirnya terangkat tipis. Ia tidak membantah, tidak juga menjelaskan-seperti biasa, memilih diam.
Shaira tersenyum sambil menggigit rotinya pelan. Suasana kelas tetap riuh, penuh canda, tapi terasa hangat. Bukan karena komentar teman-temannya, melainkan karena Raven ada di dekatnya-dengan caranya sendiri, selalu memperhatikan perhatian kecil yang ia sukai.
...----------------...
Bel pulang berbunyi. Suara kursi bergeser dan langkah kaki memenuhi lorong sekolah. Satu per satu siswa keluar kelas, membawa lelah yang ringan dan obrolan yang tidak terlalu penting.
Shaira menyusul Raven ke parkiran. Mereka tidak terburu-buru, hanya berjalan berdampingan, menyelinap di antara keramaian yang mulai menipis. Motor Raven melaju meninggalkan halaman sekolah, membelah jalan sore yang masih kering.
Belum jauh dari sana, langit berubah. Gerimis turun pelan, hampir tak terasa. Shaira mengira itu hanya sebentar-sampai tetesannya semakin rapat dan hujan turun lebih deras dari perkiraannya.
Raven mengurangi kecepatan, lalu menepikan motor di depan sebuah warung kecil yang sudah tutup. Pintu besinya diturunkan setengah, atap sengnya cukup rendah untuk melindungi mereka dari hujan.
Mereka turun dari motor dan berdiri berdekatan di bawah atap sempit. Shaira menunduk, membiarkan air hujan mengenai ujung jaketnya, sesekali menyingkirkan tetes di rambut. Raven menatapnya sebentar, tangannya menyentuh jaketnya pelan, memastikan ia tetap kering di bawah atap seng.
Shaira tidak mengeluh. Ia hanya tersenyum kecil, menatap jalanan yang mulai basah, air hujan memantul di aspal dan dedaunan di pinggir jalan. Ada rasa tenang yang sulit dijelaskan. Seolah hujan ini sengaja datang untuk memberi mereka waktu-sedikit lebih lama, tanpa harus pergi ke mana-mana.
Raven melirik Shaira sekilas. Matanya menangkap tetes hujan yang menempel di ujung rambutnya.
"Seru juga ya," ucapnya pelan, suara hampir tenggelam oleh rintik hujan. "Kehujanan gini."
Shaira menoleh, senyumnya mengembang, bibirnya sedikit basah oleh tetes hujan yang menempel. Ia menyesuaikan posisi tubuh, mencondongkan bahu sedikit ke arah Raven, tapi tetap menjaga jarak sopan.
"Iya. Malah enak." Ia berhenti sebentar, memutar rambutnya yang sedikit basah ke belakang telinga, lalu menambahkan, lebih jujur, "Bisa lebih lama bareng kamu."
Raven terkekeh kecil, ujung bibirnya menekuk. Ia menoleh, jarinya sesekali menyentuh punggung Shaira-sekadar sentuhan ringan saat ia menyesuaikan posisi helmnya. "Kalau gitu, kita harus sering-sering kehujanan."
Beberapa menit berlalu begitu saja. Mereka berdiri diam, tubuh hampir sejajar, bahu tak sengaja bersinggungan. Mata mereka tertuju pada air yang jatuh di atap seng, menetes perlahan ke tanah, membentuk pola kecil di genangan. Tangan Shaira menggenggam ujung jaket Raven dengan lembut, cukup untuk merasakan keberadaan satu sama lain.
Tidak ada percakapan panjang. Tidak perlu. Kedekatan itu tersirat dalam setiap gerakan kecil-napas yang seirama, tatapan sekilas, gesekan ringan tangan di jaket.
Saat hujan mulai mereda, Raven menoleh ke arah motor dan mengangguk. "Udah agak reda." Ia meluruskan posisi helm, tangan menempel sebentar di bahu Shaira untuk menuntunnya naik.
Mereka kembali naik. Jalanan masih basah, memantulkan cahaya lampu kendaraan yang lewat, kilauan hujan menempel di visor helm Raven. Angin sore menyapu wajah mereka, dingin tapi tidak menusuk. Shaira mencondongkan tubuh sedikit, menyelaraskan ritme dengan gerakan motor, tangannya tetap memegang jaket Raven-kadang di sisi, kadang tanpa sengaja menyentuh pahanya. Tidak erat, tidak berlebihan. Cukup untuk merasa dekat, cukup untuk tahu bahwa ia aman.
Dan untuk saat itu, cukup.
...----------------...
Beberapa hari kemudian, kebiasaan itu tetap berulang. Pulang bareng, menyusuri jalan yang sama, dengan ritme yang hampir selalu serupa. Sore itu, angin terasa lebih dingin dari biasanya. Jalanan lengang, suara mesin motor menjadi satu-satunya bunyi yang menemani. Tetesan embun mulai menempel di helm Shaira, dan ujung jaketnya sedikit basah.
Di tengah perjalanan, Raven tiba-tiba bersuara. Nadanya datar, tapi jujur. Matanya tetap lurus ke depan, tangan satu memegang setang, tangan satunya sesekali menyesuaikan posisi helm.
"Kamu tahu nggak," katanya pelan, "aku sering nahan diri."
Shaira menoleh sekilas, tubuhnya menyesuaikan posisi di belakang Raven. Rambutnya sedikit tertiup angin.
"Nahan apa?"
"Tangan aku," jawab Raven singkat, jarinya menekan ringan di setang motor. "Setiap kamu cuma pegang jaket."
Shaira diam. Tangannya refleks mengerat sedikit di jaketnya, jari-jari menekan kain jaket Raven. Napasnya hangat, sedikit tersengal karena angin sore yang menembus celah helm.
"Kadang pengen narik tangan kamu," lanjut Raven, suaranya tetap datar tapi nada lembut terselip di ujung kata. "Biar meluk. Tapi aku tahan."
Ada jeda. Angin menyapu helm mereka, rambut Shaira sedikit menempel di pipinya. Tangan Raven sesekali menyentuh pinggangnya, bukan sengaja, tapi ketika ia menyesuaikan posisi tubuh Shaira, sentuhan itu cukup terasa.
"Nanti kalau aku peluk, kamu kaget?" Shaira menyelutuk, mencondongkan tubuh sedikit ke belakang. Suaranya hampir tenggelam oleh desiran angin.
"Enggak," jawab Raven cepat. "Malah mau. Aku suka."
Jawabannya sederhana. Tidak dilebihkan. Matanya tetap lurus ke depan, tapi sudut bibirnya menekuk tipis, membentuk senyum samar yang hanya bisa dirasakan Shaira lewat posisi helm dan ritme tubuhnya di motor.
Shaira menoleh sekilas melalui visor, jantungnya berdetak lebih cepat. Tangannya sedikit mengerat jaket Raven, menyesuaikan setiap lekuk pinggangnya ketika motor berbelok. Sesekali jarinya menyentuh tangan Raven yang tidak sengaja terbuka di sisi tubuhnya, cukup untuk merasakan kehangatan. Ada jeda kecil, hanya suara angin dan helm yang berdesir, tapi cukup membuat keduanya terasa dekat.
Sejak hari itu, kebiasaan mereka berubah pelan-pelan. Tidak drastis. Tidak dipaksa. Saat Shaira masih ragu, ia mulai melingkarkan tangannya di pinggang Raven, tangan mengitari sedikit di bawah jaket, menempel tapi tidak menekan. Tidak erat, tidak dramatis-hanya cukup untuk menunjukkan ia ada di sana.
Dan setiap kali Shaira kembali hanya memegang jaket, tangan Raven akan secara refleks mencari genggaman itu. Ia menggenggam pelan, jari-jari menempel di punggung Shaira, menetap sampai mereka tiba di tujuan. Tidak dilepas di tengah jalan, cukup untuk memberi rasa aman.
Shaira jarang menoleh. Tapi ia tahu-di balik helm itu, Raven pasti tersenyum. Sesekali ia merasakan tarikan ringan di pinggangnya, bukti kehadiran Raven yang tak perlu kata-kata.
...----------------...
Suatu malam, ponsel Shaira bergetar. Pesan dari Raven muncul di layar.
"Sayang, mau temenin aku malam ini?"
Shaira menatap layar ponselnya beberapa detik lebih lama dari seharusnya.
Belakangan, panggilan mereka memang berubah perlahan. Di chat atau di telepon, sayang mulai muncul tanpa dibicarakan. Tidak direncanakan. Tidak disepakati. Datang begitu saja, dan entah bagaimana terasa pas. Shaira mengakuinya-ia suka.
Namun ada batas yang mereka pahami tanpa perlu dibahas. Saat bertemu langsung, mereka tetap sederhana. Tidak ada panggilan berlebihan yang terucap. Mereka masih memakai aku-kamu, masih saling memanggil nama seperti biasa. Mungkin karena terdengar canggung. Mungkin juga karena rasanya terlalu ramai jika diucapkan langsung.
Shaira menggeser ponsel sedikit, lalu membalas.
"Sekarang? Ngapain?"
"Ngeprint tugas," jawab Raven. "Sekalian cari camilan malam."
Tidak ada ajakan yang dilebih-lebihkan. Tidak ada alasan yang dipaksa terdengar penting. Shaira membaca pesannya sekali lagi, lalu mengetik balasan singkat.
"Aku siap-siap dulu ya."
Balasan Raven datang cepat.
"Iya, sayang."
Shaira tersenyum kecil sebelum meletakkan ponsel.
Malam itu mereka tidak melakukan hal istimewa. Hanya berkeliling sebentar, mampir membeli camilan, lalu singgah ke tempat print yang hampir tutup. Tidak ada obrolan berat. Tidak ada rencana panjang. Mereka hanya duduk bersebelahan, berbagi waktu, dan merasa-cukup.
Sejak malam itu, Raven semakin sering mencari alasan untuk menghabiskan waktu bersama Shaira. Kadang keliling kota tanpa tujuan jelas. Kadang membeli makan malam atau camilan. Kadang benar-benar hanya untuk mengurus hal-hal kecil yang sebenarnya bisa ditunda.
Kegiatannya sederhana. Tapi justru di situlah nyamannya. Tidak ada drama. Tidak ada tuntutan. Tidak ada usaha untuk membuat segalanya terlihat spesial.
Shaira menyukainya. Meski sesekali ia merasa heran. Mereka sudah bertemu hampir seharian di sekolah-satu kelas, satu ruang, ritme yang sama. Tapi bagi Raven, sepertinya itu belum cukup.
Maka malam menjadi caranya. Tenang. Sederhana. Dan hanya untuk mereka berdua.
...----------------...
..."Raven — tetap di dekatmu, dengan caraku sendiri."...
Baca nya bikin nyesek diri ini ke inget someone/Cry/