Lyra Graceva hanyalah seorang sekretaris teliti yang hidup dalam bayang-bayang trauma ibunya dan status "anak haram". Namun, dunianya runtuh sekaligus bangkit saat bosnya yang obsesif, Sean Nathaniel Elgar, menjeratnya dalam sebuah pernikahan kontrak yang berubah menjadi kepemilikan mutlak. Di balik gairah panas dan sikap posesif Sean, tersembunyi rahasia kelam masa lalu yang melibatkan kedua orang tua mereka. Lyra yang awalnya rapuh, bertransformasi menjadi "Ratu" yang dingin demi membalaskan dendam ibunya dan mengungkap kebenaran tentang asal-usulnya, sementara Sean bersumpah akan menghancurkan siapa pun—termasuk keluarganya sendiri—demi menjaga Lyra tetap di sisinya.
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon Ariska Kamisa, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
19. Kebenaran yang Terdistorsi
Lampu di ruang kerja pribadi Sean temaram, hanya menyisakan sorotan tajam ke arah kursi di mana Gunawan Wijaya duduk dengan tubuh gemetar. Di hadapannya, Sean berdiri tegak bak malaikat maut, melempar tumpukan foto kusam dan dokumen medis lama ke atas meja kayu ek yang mahal.
"Jelaskan padaku, Gunawan," suara Sean rendah, namun getarannya sanggup merontokkan keberanian siapa pun di ruangan itu. "Bagaimana rasanya menghancurkan hidup seorang wanita suci hanya untuk memuaskan nafsu mabukmu tiga puluh tahun lalu?"
Gunawan menatap foto Hana muda. Matanya membelalak, napasnya tersengal seolah oksigen di ruangan itu mendadak hilang. "Hana... kenapa kau punya foto ini? Dan apa maksudmu dengan menghancurkan?"
"Jangan berpura-pura amnesia!" Sean mencengkeram kerah baju Gunawan, mengangkat pria tua itu hingga ujung sepatunya nyaris tak menyentuh lantai. "Kau memerkosanya di Rumah Sakit Medika! Kau membuatnya kehilangan kewarasan dan mengandung anak yang sekarang menjadi istriku!"
"Apa?! Tidak mungkin!" Gunawan berteriak parau, wajahnya pucat pasi. "Aku... aku memang melakukan kesalahan fatal malam itu. Aku mabuk berat, aku lepas kendali. Tapi aku sudah bertanggung jawab, Sean! Aku menikahi wanita itu! Aku menjadikannya nyonya di rumahku!"
Sean tertawa sinis—sebuah tawa yang sarat akan kebencian murni. "Menikahinya? Hana membusuk di klinik rehabilitasi jiwa selama puluhan tahun karena trauma yang kau tanamkan! Jika dia di sana, lalu iblis mana yang kau nikahi selama ini, hah?!"
Tubuh Gunawan mendadak lemas. Cengkeraman Sean terlepas, membiarkan pria tua itu jatuh terduduk dengan bunyi debum yang keras.
"Istriku... Ibu Celia..." Gunawan bergumam linglung. "Dia bilang... dia adalah perawat yang bersamaku malam itu. Dia bilang dia hamil anakku karena kejadian itu. Dia menunjukkan semua bukti medis padaku!"
"Kau dibodohi oleh ambisimu sendiri, Gunawan," desis Sean, matanya berkilat tajam. "Istri kesayanganmu itu adalah wanita licik yang memanfaatkan kondisi mabukmu. Dia tahu kau menodai Hana, maka dia menyingkirkan Hana ke kegelapan, lalu merayap ke tempat tidurmu untuk mengaku sebagai korban. Dia mencuri identitas Hana agar bisa menjadi nyonya di Wijaya Group."
"T-tidak... Jadi selama ini..." Air mata penyesalan mulai mengalir di wajah keriput Gunawan. "Aku menghabiskan tiga puluh tahun hidupku dengan wanita yang mencuri penderitaan korbanku? Aku memanjakan ular, sementara Hana... Hana menderita sendirian?"
"Dan putrimu, Celia, adalah replika sempurna dari kelicikan ibunya," Sean berbalik membelakangi Gunawan, menatap lampu kota di balik jendela besar. "Kau mencoba menjodohkan Celia denganku, padahal kau punya utang darah pada istriku—putri kandung Hana yang sebenarnya kau hancurkan."
Gunawan menutup wajahnya dengan kedua tangan, terisak hebat. "Aku monster... Aku benar-benar monster. Aku mencari Hana di dalam ingatanku yang kabur, tapi istriku selalu meyakinkanku bahwa Hana sudah mati setelah menerima uang tutup mulut... Dia membohongiku!"
"Penyesalanmu tidak ada harganya bagiku," Sean berkata dingin tanpa menoleh. "Kau akan tetap membayar. Aku akan menyeret istrimu ke pengadilan atas penipuan dan penculikan. Dan kau... kau akan menyerahkan seluruh sahammu di Wijaya Group kepada Lyra. Itu adalah kompensasi kecil untuk hidup ibunya yang kau hancurkan."
Sementara itu, di klinik yang sunyi, Edward Elgar masih setia berada di samping tempat tidur Hana. Ia mengganti kompres di dahi wanita itu dengan gerakan yang sangat lembut—sebuah kontras dari sosok kepala keluarga Elgar yang biasanya kaku. Kirana memperhatikan dari ambang pintu dengan perasaan yang berkecamuk.
"Kau tidak perlu melakukan ini, Edward. Ada perawat yang bisa melakukannya," ujar Kirana lirih.
Edward menoleh, memberikan senyum tipis yang penuh kesedihan. "Ini hal terkecil yang bisa kulakukan, Kirana. Aku gagal menjagamu, dan aku bahkan tidak tahu bahwa sahabatmu menderita separah ini. Biarkan aku menebus sedikit saja dosaku."
Kirana berjalan mendekat, duduk di kursi seberang Edward. "Kenapa baru sekarang? Setelah puluhan tahun kau membiarkanku berjuang sendirian..."
"Aku tidak pernah benar-benar pergi, Kirana. Setiap malam aku menyebut namamu dalam diam. Mengetahui bahwa kau membesarkan Lyra—yang bukan anak kandungmu—dengan penuh kasih sayang meski kau sendiri terluka... itu membuatku sadar betapa pengecutnya aku dulu karena menyerah pada tekanan orang tuaku."
Kirana menunduk, air matanya jatuh ke daster Hana. "Aku merasa bersalah pada Lyra, Edward. Aku membiarkannya dihina, membiarkannya merasa tidak berharga demi melindungi rahasia ini. Dan sekarang... dia terjebak dengan putramu. Aku takut sejarah akan berulang."
Edward meraih tangan Kirana. Kali ini, Kirana tidak menariknya. "Sean tidak sepertiku, Kirana. Dia jauh lebih kuat. Dia mencintai Lyra dengan cara yang mungkin terlihat menakutkan, tapi dia tidak akan pernah melepaskannya. Tidak seperti aku yang pengecut."
"Itulah yang kutakutkan," bisik Kirana. "Cinta yang terlalu besar bisa menjadi jerat yang mematikan."
Tiba-tiba, Hana bergerak dalam tidurnya, menggumamkan kata-kata yang membuat keduanya tersentak. "Matahari... jangan pergi... harimau itu... dia menjaga matahari..."
Kirana menatap Hana dengan iba. "Dia selalu bicara tentang harimau. Dulu aku pikir itu adalah sosok pria yang menyakitinya. Tapi sekarang aku mulai berpikir... mungkinkah harimau itu adalah Sean dalam penglihatannya?"
Edward menghela napas panjang. "Jika Sean adalah harimaunya, maka dia adalah harimau yang akan menjaga matahari itu dari kegelapan yang dulu kuciptakan. Biarkan mereka, Kirana. Biarkan anak-anak itu menyembuhkan luka yang kita tinggalkan."
Di luar, di balik pintu kamar yang sedikit terbuka, Lyra mendengar setiap patah kata pembicaraan mereka. Hatinya perih, namun ada kelegaan yang mulai merayap di dadanya. Rahasia besar itu akhirnya terungkap.
Ponselnya bergetar. Sebuah pesan singkat dari Sean masuk:
"Kebenaran sudah di tanganku, Lyra. Wijaya Group runtuh malam ini. Kembalilah padaku—bukan sebagai sekretaris, bukan sebagai tawanan, tapi sebagai penguasa tunggal di hidupku. Aku mejemputmu di klinik dalam sepuluh menit."
Lyra memejamkan mata, menyadari bahwa pelariannya telah usai. Sang harimau telah membersihkan duri di jalannya, dan kini saatnya ia kembali ke sangkar emas yang entah mengapa, kini terasa seperti satu-satunya tempat teraman di dunia.
Rame sih ....
shack... shick.... shock..
cepet terungkapnya ... jebreet jebret...