Zevanya Putri Wiratmadja. Putri tunggal seorang konglomerat kaya di Kotanya. Hidupnya sangat sempurna karena memiliki keluarga harmonis dan juga kakak laki-laki yang tampan. Namun siapa sangka? Diam-diam Vanya malah menyukai kakak angkat laki-lakinya itu.
Saat Vanya dengan nekat akan menyatakan perasaannya, kakak laki-lakinya malah mengenalkan seorang wanita yang ia claim sebagai pacarnya.
Di tengah kekacauan hatinya, Vanya bertemu dengan laki-laki menyebalkan yang makin membuat kacau hari-harinya.
Akankah Vanya memilih untuk melupakan kakaknya? Ataukah Vanya lebih memilih untuk memperjuangkan cintanya? Atau malah pindah haluan dan memilih laki-laki menyebalkan yang sayangnya sangat tampan itu?
ikuti terus kisahnya
Karya ini diterbitkan atas izin NovelToon A19, isi konten hanyalah pandangan pribadi pembuatnya, tidak mewakili NovelToon sendiri
33. Vano vs Raza
Pukul 6 kurang Vanya sudah selesai bersiap. Pagi ini ia sangat bersemangat setelah tadi malam bertemu dengan Fian dan meluruskan hampir setengah masalahnya.
"Raza gimana ya? Masa gw tiba-tiba jauhin dia, mana baru tadi malem di traktir lagi" oceh Vanya sambil bercermin.
"Liat nanti aja deh"
****
Vanya baru saja sampai di sekolahnya. Gadis itu langsung menuju ke kantin untuk sarapan.
"Mau sarapan apa nona?" tanya Joko dengan sopan. Jam masih menunjukkan pukul 06.15 sehingga keadaan kantin pagi ini masih sangatlah sepi.
"Nasi goreng sosis aja Pak. Minum nya susu coklat ya, dingin aja. Kayaknya seger" ucap Vanya.
"Boleh non. Ditunggu ya" Pak Joko pun meninggalkan Vanya untuk membuatkan menu makanan yang gadis itu minta.
Vanya menunggu sambil memainkan ponsel Android nya. Seperti biasa, jika sedang di sekolah ponsel mahalnya ia tinggal di kamar kostnya.
Tiba-tiba notif pesan muncul dari Fian, senyum tipis terbit dari bibirnya.
Fian : Jangan lupa sarapan ya Van. Kakak ngga mau denger kamu pingsan lagi.
Vanya : Iya kakak sayang
Fian : Untung jauh
Vanya : Kak Fian semangat kerja nya. Takut nanti tiba-tiba aku kuras isi dompetnya
Fian : Nah, ambil semua. Kalo mau buat kamu aja
Vanya : Duh, belum jadi pacar aja udah se royal ini
Vano tiba-tiba saja datang dan langsung duduk di depan nya. Laki-laki itu datang sendirian.
"Chatan sama siapa tuh sampe senyum-senyum gitu kayak orang lagi kesambet" celetuk Vano dengan tatapan tak suka.
"Kepo banget sih lo! Lagian lo ngapain duduk di depan gw? Tuh, tempat duduk masih banyak" Vanya menujuk keseluruhan isi meja kantin yang memang kosong karena hanya ada mereka berdua saja di sana.
"Ya gw maunya disini" wajah Vano langsung berubah tengil.
"Jauh jauh lo sana! Gw enek liat muka elo" ucap Vanya dengan nada galak.
"Pagi-pagi udah galak aja neng" goda Vano. Laki-laki itu menatap Vanya dengan intens.
"Alamak najisnye" ucap Vanya sambil bergidik ngeri. Vano yang melihat itu langsung mengulum senyumnya menahan gemas.
Pesanan nasi goreng Vanya telah datang dan diantar langsung oleh Pak Joko.
"Silahkan mbak Vanya" ucap Pak Joko. Karena melihat orang lain di dekat Vanya, Pak Joko langsung pamit untuk kembali ke dapur.
"Emang nya nggak boros apa kalo tiap hari lo sarapan sama makan siang di kantin? Bukan nya lo anak kost ya?" tanya Vano penasaran.
Vanya yang malas menanggapi pertanyaan laki-laki di depan nya itu memilih untuk memakan sarapan nya saja.
"Van" panggil seseorang dengan nada lembut.
Vanya menolehkan kepalanya ke sumber suara. Raza berdiri di samping Vanya sambil menampilkan senyum manisnya.
"Aku boleh duduk disini?" tanya laki-laki itu.
Vanya pun menganggukkan kepalanya tanda setuju. Raza lalu duduk tepat di samping Vanya. Vano yang melihat itu langsung menampilkan raut wajah tak suka nya.
"Sok banget pake aku-kamu. Kayak udah jadian aja" sindir Vano.
"Kenapa jadi lo yang sewot? Lo siapanya Vanya emang?" tanya Raza. Kedua laki-laki itu saling melemparkan tatapan tajam.
"Lah? Emang bener kan yang gw bilang? Emang kalian udah resmi jadian? Belum kan?" kini Vano menatap Raza sambil bersedekap dada seolah menantang.
"Lo tuh kenapa sih? Lo suka sama Vanya? Kalo emang iya buktiin dong. Kita bisa bersaing secara fair. Apa emang lo nya aja yang pengecut?"
Vanya hanya diam saja melihat dua laki-laki itu saling berdebat. Kini nasi gorengnya sudah habis tanpa sisa. Tinggalah es susu coklat yang tinggal separuh gelas saja.
"Maksut lo apa hah! Siapa yang pengecut anjing!" Vano bangkit dari duduknya lalu menuju ke arah Raza dan menarik kerah seragam laki-laki itu.
"Kalo buka pengecut apa dong? Dulu gw liat kayaknya kalian nggak akur. Terus kenapa sekarang lo kayak nggak suka kalo gw deketin Vanya?" Raza yang terkenal anak baik-baik dan tidak suka berkelahi kini tampak membalas dengan menarik juga kerah seragam Vano. Kedua laki-laki itu saling menatap tajam bagai laser yang siap melubangi sasaran nya.
"Hei hei hei! Kalian berdua apa-apaan sih? Ini masih pagi woi" Tian datang lalu mencoba memisahkan keduanya. Seperti biasa jika ada Tian sudah pasti ada Lea juga tentunya.
"Buset nih anak malah santai banget minum es. Liat noh ada cowok lagi berantem di depan elo anjir. Astaga Vanya, gw nggak abis deh pikir sama lo" Lea menepuk pelan dahinya. Lea juga menggelengkan kepalanya beberapa kali saking gemasnya dengan sahabat gila nya itu.
"Minggir yan! Gw mau ngehajar cowok sok ganteng ini" Vano mencoba mendorong Tian yang menghalangi tubuhnya.
"Cih, Lo pikir gw takut sama cowok pengecut kayak elo!" sentak Raza sambil berdecih sinis.
"Wah, lo nantangin gw? Ayo sini lo gw hajar" Vano masih mencoba mendorong Tian karena ia ingin berlari dan menghajar Raza yang menatapnya dengan tatapan menantang. Namun Radit yang baru saja datang ikut menghalangi niatnya.
"Vano! Lo apa-apaan sih! Jangan bikin masalah disini!" sentak Radit memperingati Vano.
"Ini pihak sekolah kemana sih? Kok nggak ada satupun guru yang dateng" omel Tian. Kantin yang tadinya sepi langsung ramai karena perkelahian Vano dan Raza. Mereka semua ingin melihat si anak baru dan anak baik-baik berkelahi.
"Vanya, cepet telpon salah satu pihak sekolah!" perintah Lea.
Bukan nya melakukan apa yang Lea perintahkan, Vanya malah mendekati kedua laki-laki yang hampir saja berkelahi itu. Vanya berdiri diantara mereka berdua sambil bersedekap dada.
"Kalian berdua udah mengganggu jumat pagi gw yang tenang ini. Kalo kalian masih mau lanjut, silahkan! Kalo perlu gw panggilin wasit buat kalian tanding" Vanya menatap Raza dan Vano secara bergantian.
"Dia duluan Van, yang mulai" Raza berusaha membela dirinya.
"Ya, gw tau. Tapi lo bisa kan nggak perlu nanggepin cowok sinting ini" Vanya menatap Vano dengan tatapan meremehkan.
"Gw masih waras Vanya" sambar Vano yang masih saja di pegangi oleh Radit dan Tian di kedua sisi lengan tangan nya.
'Ni anak suka beneran apa ya sama tuh cewe. Vano kan emosian, bisa-bisanya dia nggak marah sama ucapan Vanya. Ya walaupun emang bener sih Vano ini sinting kayaknya' batin Tian.
"Whatever. Sekarang lo berdua balik ke kelas masing-masing apa milih gw suruh baku hantam aja sekalian hah?"
"Yaudah Vanya. Aku ke kelas dulu ya" raut wajah Raza sudah kembali ramah seperti biasa. Panggilan aku-kamu dari Raza membuat seisi kantin seketika langsung heboh. Bahkan beberapa yang masih merekam memiliki ide untuk menyebarkan berita ini di forum gosip sekolah.
"anjir si Vanya pake pelet apaan yak"
"Iya tuh. Bisa-bisanya Raza sama Vano cowok terganteng di sekolah berantem cuman gara-gara dia"
"Sok cantik banget deh jadi cewek"
"Surya juga ngejar-ngejar dia loh katanya"
"Cantik sih, pinter sih. Tapi kalo miskin mah buat apa"
"Mendingan gw kemana-mana. Bokap gw anggota Dewan"
"Kok Lea sama Rain mau ya temenan sama orang misqueen kayak dia?"
"Ih najis banget kalo gw mah"
Bisik-bisik itu terdengar ke telinga Vanya dan Lea. Namun Vanya mencegah sahabatnya untuk membalas.
"Ayo ke kelas. Kita tunggu Rain aja. Tumben tuh anak jam segini belum dateng" Vanya melihat ke arah jam tangan di pergelangan tangan kiri nya yang menunjukkan pukul 06.45
Lea pun menuruti Vanya dan meninggalkan area kantin setelah memberi kecupan jarak jauh untuk kekasihnya yang langsung di tangkap oleh Tian lalu di masukkan ke dalam saku seragam seolah kecupan itu terlihat dan bisa di pegang.
"Kalo gw denger lagi ada yang ngejelekin Vanya, orang itu akan berurusan langsung sama gw!" ancam Vano tak main-main.
Vano menatap ke arah semua murid yang berada di sana satu persatu. Seketika nyali semua murid disana kecuali Radit dan Tian pun menjadi ciut karna ancaman Vano.
"Udah ayo kita ke kelas juga. Nanti waktu istirahat gw pengen ngomong sama kalian berdua" ucap Radit dengan wajah serius.
Tian dan Vano pun menurut saja dan mengikuti langkah Radit menuju kelas mereka. Murid yang lain pun ikut membubarkan diri karena tontonan seru mereka sudah selesai.